Di ruang keluarga terlihat pria berumuran 26 tahun yang sedang sibuk mengetik sesuatu di laptop.Dia aidytama dokter spesialis anak pendatang baru di salah satu rumah sakit di kotanya.Tubuh tinggi tegap dan wajah manisnya yang kadang membuat orang berpikir dua kali jika pria itu bukan dari negara korea hanya mata elangnya yang mempercayakan bahwa dia benar benar dari negara indonesia.
"Sayang,sudah di lanjutin besok lagi.ini sudah malam" ucap wanita paruh baya yang tak lain adalah mamanya.aidy menoleh lantas tersenyum ke arah sang mama.
"Ya ma tinggal sedikit lagi" jawabnya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.mamanya mengelengkan kepalanya anaknya itu sangat keras kepala persis seperti suaminya.
"Ya sudah mama ke kamar,jangan larut malam tidurnya ingat besok"
"oke ma.." mamanya beranjak dari ruangan itu dan kini tinggallah dia seorang diri di temani secangkir coklat hangat kesukaannya.tidak lama kemudian dia merenggangkan otot ototnya dan memberesi kertas kertas yang berserakan dan juga menutup laptopnya.
"sudah selesai dan aku harus cepat cepat tidur"
Dia meminum coklatnya dengan sekali tegukan dan membawa mug yang kosong itu ke dapur untuk di cuci.setelah selesai aidy bergegas ke kamarnya dan mengistirahatkan tubuhnya.tak sampai satu jam aidy terbangun dengan nafas terengah dan keringat yang membasahi wajahnya.
"aneh.sebenarnya siapa gadis kecil itu?!" gumamnya pelan.aidy mengelap keringatnya dengan tangan gemetar dia sampai merinding jika mengingat anak kecil itu bukan mimpi buruk tapi telah membuatnya benar benar ketakutan.
"Mimpi gadis kecil itu lagi?" tanya prasetyo sang papa yang entah sejak kapan pria itu telah berdiri di sampingnya.aidy mengangguk membenarkan ucapan sang papa.
"Apa kamu setiap malam bermimpi seperti itu?" lagi lagi aidy mengangguk.
"tapi akhir akhir ini tidaklah sering seperti dulu" melihat wajah frustasi anaknya sang papa sangat prihatin entah dosa apa yang telah aidy perbuat hingga mengalami mimpi aneh.
"ini di minum dulu" ucap papanya lantas menyerahkan gelas berisi air putih dan aidy langsung menerimanya dan meneguknya sekali tegukan.
"sekarang tenangkan dirimu,kalau sudah tenang tidurlah.besok jadwal penerbangan pagi jadi kamu harus tetap isgirahat biar tidak bangun kesiangan." ucap papanya.
aidy hanya bisa terenyum simpul mendengar ucapan papanya.setelah beberapa tahun dia habiskan di luar negeri untuk melanjutkan kuliahnya aidy akan kembali ke negara kelahirannya dengan menyandang gelar dokter spesialis anakseperti yang di impikannya.setelah terlihat tenang papanya pamit untuk kembali ke kamarnya.sebelum melangkah aidy memegang tangan papanya hingga membuat pria itu beehenti melangkah dan mengernyit.
"hemm pa apakah aku punya saudara kembar?" mendengar pertanyaan aidy papanya tertawa pelan ada ada saja pertanyaan anaknya itu.
"pertanyaanmu ngawur.ya gak lah dy mau kembar di mana wong keluarga kita tidak punya gen kembar" ucap papanya jeda." kenapa tanya seperti itu?" tanya papanya.
"Rasanya aneh,si gadis itu mirip sekali denganku" mendengar jawaban aidy prasetyo semakin berpikiran buruk dan sekejap langsung di tepisnya pikiran itu.karena tidaklah mungkin anaknya memiliki seorang putri apalagi selama kuliah di indonesia aidy tidak terlihat sama sekali mempunyai seorang kekasih.
"kalau di pikirin terus kamu bakal tidak bisa tidur malam ini aidy.tenangkan dirimu dan istirahatlah" papanya sendiri tidak tau harus mengucapkan apa mendengar penjelasan aidy.setelah itu papanya bergegas keluar dan meninggalkan aidy yang masih berkelana tentang mimpinya itu.
***
"bu va pengen esklim,boleh ya ibu?" rayu gadis kecil itu yang sambil menyeret tangan kurus ibunya.lia tersenyum tidak biasanya anak gadisnya itu meminta sesuatu.
"Boleh tapi harus janji dulu ya." gadis kecil itu tersenyum lebar sambil mengangguk menunggu ucapan ibunya "sudah beli es cream va harus minum obat ya sayang." deva terdiam memikirkan syarata ibunya.
"va bosen bu minum obat telus.." ucap deva kembali murung senyum tadi yang sempat merekah kini hilang.lia tau jelas anaknya sangat tidak berselera jika menyangkut sirup ataupun obat yang sering di resepkan dokter setiap bulannya.tapi bagaimanapun lia hanya bisa merayu itu juga demi kesehatan deva dengan penyakit yang sudah mengerogotinya sejak deva berumur 20bulan.
" sayang biar tetep sehat va harus minum obat,bukankah begitu kata bu dokter?"
"va gak sakit bu,coba liat va bu.." jawab deva merajuk.
gadis kecil di depannya itu berputar putar seakan meyakinkan bahwa dirinya sehat dan tak butuh obat.
"va tidak sayang sama ibu dan ingin membuat ibu sedih?" ucapan lia selalu seperti itu jika deva sudah mulai protes.jika sudah mendengar lia berbicara seperti itu dengan wajah sedihnya deva akan berubah menjadi gadis kecil yang mencoba menenangkan menghamburkan dirinya untuk memeluk lia.
" maafin va,va janji bakal minum obat setelah ini.ibu gk boleh sedih ya"ucapnya lirih sambil memeluk lia erat.lia tersenyum dan bersyukur gadis kecilnya sama sekali tidak membuatnya repot untuk sekedar merayu untuk meminum obat.
Di umurnya yang kini 3 tahun lebih deva menjadi lebih dewasa dari anak seumurannya mungkin karena hanya rekan rekan lia yang menjadi teman deva setiap harinya.lia melepas pelukannya dan mengelus pipi tirus gadis kecilnya pelan.
"ibu udah maafin va sekarang ayo kita beli es cream..."seru lia sambil menggandeng deva keluar.
setelah mengunci kamar kontrakannya mereka bergegas menuju kedai es cream terdekat dengan berjalan kaki.hari minggu ini sangat cerah begitupun dengan suasana hatinya yang mencoba membiarkan untuk hari ini saja dia tidak ingin memberatkan pikirannya dulu cukup bagaimana caranya membuat buah hatinya tersenyum sepanjang hari.
Mereka menyusuri jalan trotoar sambil bersenandung ria lia ikut tersenyum melihat deva tersenyum.mungkin karena jarangnya mereka keluar rumah setiap hari libur sehingga membuat gadis kecilnya sebahagia hari ini.Setelah menempuh perjalanan 15menit akhirnya mereka sampai sengaja lia duduk di luar agar deva bisa menikmati kendaraan yang lalu lalang di jalanan.
" va mau pesan es cream yang biasa apa mau yang lain?" tanya lia.yang di tanya hanya fokus melihat lihat buku menu yang sudah di sediakan di meja itu.
terlihat pelayan kedai itu menghampiri keduanya dan menanyakan pesanan mereka.
"sebentar ya mbak,anak saya lagi milih.." pelayan itu hanya mengangguk dan tersenyum.deva mendonggak ke arah ibunya dan terlihat murung.
"loh kenapa sayang?" tanya lia khawatir.
"kalo va pesen yang lain nanti uang ibu abis.." ucapnya sedih.mendengar ucapan deva lia tersenyum dan merangkul anaknya sayang.lia melepas pelukannya dan di ciumnya gadis kecil itu dengan lembut.
" uang ibu banyak kok.sekarang va mau es cream yang mana,tuh lihat kakak cantiknya nunggu dari tadi kasian kan?" Deva tersenyum dan kembali antusias menunjukkan gambar es cream ke arah pelayan itu.
"Dua ya mbak.."
"Ada lagi kak?" lia mengeleng."Baik kak kalau begitu tunggu 10 menit pesanan akan sampai " lanjut pelayan itu dan pamit untuk ke dalam.
lia terasa kembali ke masa lalu di mana tempat ini adalah tempat favorit lia dan ayqh deva.tak ada yang berubah kecuali halamannya yang kini di penuhi berbagai bunga membuat para pembeli nyaman dan betah berlama lama.
senyum deva semakin mengembang tak sabar menanti es cream pesanannya.setetes air mata jatuh mengingatkan juga bahwa ini memang kesalahannya telah menerima pria pengecut itu hingga hidupnya sensara.
"Andai bukan karena kebodohan ibu nak,kamu tidak akan lahir dan menanggung sakit seperti ini"
lia mengeleng deva adalah penyemangatnya dan juga harta satu satunya.dia tidak menyesal telah mengandung dan mempertahankan deva karena jika bukan karena gadis kecilnya itu lia tak bisa membayangkan akan seperti apa hidupnya.setelah memutuskan menerima dan menikah lia pamit kepada ibu panti untuk mengikuti suaminya.ya dia hanya anak yatim piatu yang sejak lahir sudah berada di panti asuhan.
mengingat itu lia ingin sekali menemui ibu irma wanita yang telah mengasihi dan merawatnya dari sejak bayi menghambur pada wanita baik hati itu dan menceritakan segala gundah dan masalah hidupnya.tapi inilah lia perempuan yang hanya bisa memendam segalanya sendiri dan tak ingin merepotkan orang lain apalagi tak ingin mendapat belas kasihan karena hidupnya yang sebatang kara bersama gadis kecilnya.
lia mengerjab,tangan mungil yang mulai kurus itu menghapus air mata yang membasahi pipinya.deva memandangnya sedih tidak pernah sekalipun lia menangis di depan deva dan baru kali ini dia tak menyadari bahwa dia bukanlah ibu yang kuat.mengerjab sekali lagi dan di peganglah erat tangan mungil itu.
"ibu menangis,apa va nakal?"tanyanya dengan bibir mencebik siap menangis.di kecupnya tangan mungil itu lalu mencoba tersenyum agar gadis kecilnya itu tidak jadi menumpahkan air matanya.
"gak kok ibu gak nangis,cuma kelipan tadi" jawab lia sambil mengerjab dan mengucek matanya.di tatapnya sang ibu dengan lekat mencari kejujuran disana.lia menghembuskan nafasnya lelah ini yang tidak bisa di hindari sifat deva sama persis dengan sifat lelaki itu mencari kebenaran dengan cara menatap lawan bicaranya.berbanding terbalik dengan dirinya yang mudah percaya dan ini akibatnya di tinggal tanpa kabar selama hampir 5 tahun.
"apa es creamnya mahal?" tuhkan apa kata lia." ayo kita pulang aja bu gak papa kok" gadis kecil itu turun dari kursi kayu dan menarik lia untuk beranjak pulang.lia melepas pegangan tangan kecil itu dan mengangkat deva untuk di dudukkan kembali ke kursi tadi.
lia bersyukur deva paham betul dengan keadaan mereka tapi untuk hari ini saja dia akan menuruti apa kemauan gadis kecilnya itu.wajah mungil nan cantik itu semakin menampakkan rasa sedihnya tatkala melhat senyum ibunya.
" ibu beneran gak bohong,tadi itu cuma kelipan coba liat mata ibu merah kan?"ucap lia sambil mengucek matanya.deva diam sambil mengamati lia mencari kebenaran dari ucapan ibunya itu.Dalam hati lia berdoa semoga deva percaya dia tidak mau menghilangkan kebahagiaan yang sejak tadi pagi anak itu tampakkan.
"lagian apa gak kasian sama kakak cantik tadi,tuh liat kakak cantik udah bawa pesanan kita" lia menunjuk ke arah pelayan itu yang kini sudah berdiri dan menaruh pesanan mereka di meja.deva menghembuskan nafasnya kasar lalu tersenyum.
" oke va percaya tapi ibu gak boleh kelipan lagi ya" mendengar ucapan deva lia tertawa sehingga para pengunjung menoleh ke arahnya.sadar jadi pusat perhatian lia mendekap mulutnya dan menunduk malu.dia bahkan tidak menyadari pelayan tadi telah kembali ke dalam.
"janji,sekarang va makan es creamnya ya dan setelah ini ibu mau ajak va ke taman" deva mengangguk dan melonjat kegirangan.
Andai waktu bisa di putar kembali lia akan menghalangi kepergian lelaki itu agar hidup rumah tangganya bahagia dan membesarkan buah hati mereka bersama.dan pada kenyataannya kita akan kembali ke qodratnya lelaki itu akan tetap pergi walau saat itu lia mencoba menghalangi.
dia hanya berdoa semoga ketika bertemu keadaan tidak akan merubah segalanya menjadi runyam,kendati bahwa kehadiran deva tanpa sepengetahuan lelaki itu diam diam membuat lia resah dan gelisah.seakan tau bahwa nanti cerita baru akan menghiasi kehidupan mereka antara di akui atau sebaliknya.
###
assalamu alaikum..
pengen cerita sedikit,sebenarnya cerita ini pernah saya publikasikan di WP pada tahun 2016 lalu. karena aplikasi di hapus dan waktu di instal kembali ada masalah pas mau masuk ke akun,jadi terpaksa cerita saya off.
setelah beberapa tahun ini terbengkalai saya pikir sayang kalau tidak di lanjutin.jadi di sinilah sekarang saya mencoba mempublikasikan disini masih dengan judul yang sama dan tentu cerita sedikit berbeda dari rencana awal saya.
kenapa saya cerita? cuma berjaga jaga takut nanti akan ada yang salah paham dan bertanya tanya"kok ceritanya sama ya kayak di WP" mungkin inilah lebih baiknya di sampaikan di awal.😊
terima kasih..
wassalam..