Jarak mereka amat dekat, namun terasa amat jauh. Atharik sudah mengoptimalkan langkahnya. Namun ia urung jua sampai pada Athala. Athala menatap saudara kembarnya dan anggota keluarga yang lain. Bocah itu tersenyum. Tersenyum di antara hantaman rasa sakit yang menyerang tanpa ampun. Jemari Athala menyembul dari balik selimut yang menutupi tubuhnya. Meminta Atharik untuk menggenggam jemarinya. Hanya jari-jari ini yang terlihat. Jari-jari dengan luka-luka. Atharik tak bisa membayangkan seperti apa kenampakan di dalam selimut sana. Tangis Atharik pecah. Kenapa? Kenapa tiba-tiba seperti ini? Semalam ia masih tidur dengan Athala. Semalam Athala masih memeluknya, memberi semangat untuk olimpiade. Tadi pagi Athala membuat sarapan untuknya sebelum berangkat ke Orlando. Dan A

