"Abang lama banget, untung aku masih punya satu lagi," keluh gadis remaja saat membukakan pintu untuk sang Kakak yang hanya mengela napas sembari menuntun masuk motor matic peninggalan sang ayah. Agar memastikan keamanan, satu-satunya kendaraan yang keluarga mereka miliki.
"Bunda mana, Ndah?" Tanya Adhi sembari melepas jaket yang dikenakannya, setelah meletakkan helm di atas meja.
"Di dapur, lagi manasin makanan pas tadi aku bilang Abang udah mau sampai rumah," lapor Indah, sembari mencium punggung tangan kakaknya yang sudah mendudukkan diri di sofa yang bahkan busanya tampak di beberapa sudut mencuat keluar. Indah bahkan sering mengeluh sakit punggung dan p****t jika berlama-lama duduk di sofa warna merah yang sudah memudar, "pesanan aku mana?" Todongnya dengan menengadahkan tangan.
"Adek, Abangnya pulang bukannya diambilkan minum malah direcokin?" Tegur wanita paruh baya yang tiba-tiba ikut bergabung. Menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah putrinya yang hanya menggaruk pipi dan meringis canggung.
"Kan Abang nggak minta, Bun," elak Indah dengan bibir mencebik.
"Ya kamu harus inisiatif. Terus tadi kenapa marah-marah sama Abang?"
"Nggak marah, Bun. Cuma minta pesanan aku sama Abang."
"Pesanan apa?" Diah mengerutkan kening bingung karena tak tau apa yang tengah di minta Indah pada Adhi yang justru tampak santai menyandarkan punggung di sandaran sofa.
"Biasa Bun, buat tamu bulanan." Jawab Indah yang diangguki paham oleh bundanya, "mana Abang?" Tagihnya lagi dengan nada merajuk yang membuat sang kakak mengela napas panjang sebelum kemudian menegakkan posisi duduknya.
"Itu di bagasi motor, buka aja bagasinya. Ambil sendiri sana, Abang udah mager."
Menggerutu kecil, Indah membuka jok motor dan mengambil bungkusan plastik berisi pesanannya, "ih, kok nggak ada sayapnya? Kan tadi pas telepon Abang udah bilang, beli yang ada sayapnya," kesal gadis itu sembari menatap kakaknya yang hanya bisa memijit pelipis.
"Habis," jawab Adhi singkat yang rupanya tak bisa membungkam kecerewetan adiknya.
"Kalau habis ya beli yang merek lain, Abang," ucap Indah gemas, "kan banyak merek lain yang ada sayapnya."
"Percuma," balas Adhi yang membuat kening adiknya mengkerut bingung.
"Kok percuma?"
"Iya, misal Abang belikan merek lain yang ada sayapnya. Kamu pasti tetap ngomel."
"Ih, sok tau."
"Bukan sok tau, Dek. Itu pengalaman."
"Kapan?"
"Bulan lalu, kamu juga sama minta dibelikan merek yang biasa kamu pakai dan ada sayapnya. Tapi habis, jadi Abang belikan merek lain yang penting ada sayapnya. Pas sampai rumah, apa? Ya, sama, kamu ngomel-ngomel kaya sekarang."
"Masa sih?" Tanya Indah yang mencoba mengingat peristiwa yang kakaknya katakan. Sayangnya, sifat pelupanya membuat gadis itu kesulitan untuk mencangkul memori bulan lalu. Jangankan bulan lalu, beberapa hari saja ia bisa lupa, "memang iya, Bun?" Tanyanya pada sang Bunda yang duduk di samping kakaknya yang tengah berwajah masam padanya.
"Iya, dan akhirnya kamu merengek minta di antar ke mini market itu buat beli merek yang kamu mau. Padahal sedang hujan waktu itu. Besoknya, kamu pilek."
"Kali ini Abang nggak mau antar, ada banyak barang elektronik yang harus Abang servis." Jelas Adhi yang berusaha agar tak meledakan tawa saat melihat wajah keruh adiknya. Selain berprofesi sebagai montir di sebuah bengkel, ia juga menerima servis barang-barang elektronik milik tetangga sekitar rumahnya. Seperti tv, kipas angin, juga yang lainnya. Hasilnya lumayan untuk menambah pendapatan.
"Makan dulu, Bunda udah hangatkan lauk tadi."
Menganggukkan kepala patuh, Adhi meraih jaket yang sebelumnya ia letakkan di lengan sofa, "iya Bun, tapi mau mandi dulu. Nggak tahan, gerah banget."
"Yasudah, jangan tidur larut terus, kalau kamu sakit gimana?" Sebagai orang tua tunggal, setelah suaminya tiada beberapa tahun lalu, Diah mencemaskan Adhi. Putra sulungnya yang menjadi tulang punggung keluarga. Diah sempat ingin berjualan, tapi ditolak keras oleh anak-anaknya. Terutama Adhi yang meyakinkannya jika mereka tak akan kekurangan. Setidaknya, mencukupi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah Indah. Terlebih, kondisi Diah sendiri memang tidak terlalu kuat untuk melakukan aktivitas berat. Hanya saja, ia merasa tak tega pada putra sulungnya itu.
"Nggak kok Bun, hari ini cuma benerin kipas anginnya Bu Nur, sama magic com punya Bu Neneng." Jelas Adhi yang tak ingin Bundanya khawatir. Meski sebenarnya, masih ada beberapa elektronik yang harus ia tangani. Tapi mungkin akan Adhi kerjakan setelah shalat subuh nanti.
"Ish! Abang ngeselin Bun," adu Indah saat rambutnya yang sebatas bahu di acak-acak oleh Adhi yang hanya tertawa-tawa karena berhasil membuat kesal adiknya.
Mengela napas, Diah menggelengkan kepala melihat anak-anaknya yang kadang seperti Tom and Jerry. Tapi disudut hatinya ia merasa bahagia dengan kebersamaan putra-putrinya di tengah kesederhanaan keluarga mereka.
"Sudah, jangan merajuk terus. Katanya mau kerjain tugas? Tadi ribut nunggu Abangmu pulang karena titipan kamu itu," tunjuk Diah pada bungkusan plastik yang berada di dalam dekapan putrinya, "sekarang udah dapat, jadi kerjakan tugasnya."
"Iya Bunda," jawab Indah patuh, mengendapkan kekesalannya sekaligus keinginan merengek pada kakaknya agar bersedia mengantarkan ke mini market untuk membeli barang yang ia inginkan. Jika saja bisa, ia pasti tinggal meminta izin pergi dan berangkat sendiri. Sayangnya, Indah tak bisa mengendarai motor meski pernah diajari oleh kakaknya yang ia buat frustasi.
"Nanti Bunda antar s**u coklat ke kamar kamu ya," ucap Diah sembari membenahi rambut Indah yang tadi di acak-acak oleh Adhi. Sebelum kemudian menatap kepergian putrinya yang memeluk singkat dan akhirnya masuk ke dalam kamar.
Adhi baru saja selesai membersihkan diri, tubuhnya sudah terasa lebih segar setelah sebelumnya lengket oleh keringat. Menyugar rambutnya yang masih setengah basah. Pria itu menarik kursi dan duduk di meja makan, "kenapa repot-repot Bun? Aku bisa ambil sendiri makanannya," Adhi tak ingin jika sang Bunda menyiapkan hal-hal yang ia bisa kerjakan sendiri. Bukannya tak tau terima kasih, ia hanya tak ingin jika Bundanya kelelahan.
"Kalau hanya menyiapkan makan buat kamu, Bunda nggak mungkin repot. Orang sama anak sendiri," ucap Diah sembari meletakkan mangkuk berisi sop buntut yang masih mengepulkan uap panas, "tadi Ratih datang, antar ini buat kamu," ucapnya setelah mendudukkan diri di samping Adhi yang baru selesai mencentong nasi.
"Ratih ke sini?" Tanya Adhi cukup terkejut karena kekasihnya itu tak mengatakan apa pun padanya.
"Iya, tapi cuma sebentar. Nganterin sop buntut buat kamu aja. Katanya lagi ada saudara dari kampung yang lagi main ke rumah orangtuanya. Jadi nggak bisa mampir buat nemenin Bunda ngobrol-ngobrol atau masak bareng kaya biasa."
Menganggukkan kepala, Adhi mulai menyantap makanannya setelah selesai membaca do'a. Hanya seorang diri, karena adik dan bundanya sudah lebih dulu makan. Ia memang meminta agar mereka tak perlu menunggu untuk makan bersama. Mengingat, ia kadang pulang terlambat.
"Dhi," panggil Diah pelan sembari menatap putranya yang tengah makan dengan begitu lahap. Membuatnya begitu senang, meski hanya mampu memberikan hidangan sederhana.
"Hm?" Adhi hanya bisa menjawab dengan gumaman karena mulutnya masih penuh oleh makanan.
Mengela napas, Diah menggelengkan kepala pelan. Setelah berpikir, mungkin sekarang bukan saat yang tepat mengobrolkan masalah ini dengan putranya, "bukan apa-apa, lanjutkan makan saja."
Menelan cepat, Adhi meneguk air putih dan meletakan kembali gelas yang kini isinya sudah menyusut setelah ia teguk, "kenapa Bun? Masa sama anak sendiri aja sungkan."
"Bukannya sungkan, tapi Bunda pikir, sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat membicarakan masalah ini sama kamu. Apalagi di saat sedang makan seperti sekarang."
"Sekarang atau nanti kayaknya sama aja, Bun. Yang ada Bunda bikin aku penasaran. Makan juga kepikiran."
"Ck, lebay kamu."
"Loh, Bunda sekarang ngomongnya gaul begitu?" Kekeh Adhi yang mendapat tepukan pelan di bahu tegapnya.
"Ketularan adik kamu, kalau telepon suaranya sampai kedengaran satu rumah. Terus sering teriak lebay, lebay, gitu. Bunda sampai penasaran apa artinya dan tanya sama Indah."
Untuk sesaat, keduanya menikmati tawa hangat bersama. Sebelum Adhi akhirnya kembali menanyakan apa yang sedang mengusik pikiran sang Bunda, "jadi, tadi mau tanya apa?"
"Kamu serius sama Ratih?" Tanya Diah akhirnya, melempar pertanyaan yang ia tak tau akan membebani putranya atau tidak. Tapi sebagai seorang ibu, ia ingin melihat putra sulungnya itu segera berkeluarga. Bukannya memaksa, tapi ia bisa merasa jika sebenarnya Adhi sudah memikirkan hal ke arah sana. Tapi tanggung jawab yang diemban sebagai tulang punggung, membuat putranya itu seolah meragu. Bukan ragu menikahi kekasih yang sudah dipacari sedari SMA. Tapi ragu karena takut tak bisa fokus pada dirinya dan Indah.
Setelah terdiam sejenak, mendapat pertanyaan yang sebenarnya sudah Adhi duga, tapi tetap membuatnya bimbang. Pria itu kemudian meletakkan sendok dan menatap wajah sang Bunda, "tentu saja aku serius, Bun."
"Ratih, akhir-akhir ini sering mengungkapkan kegelisahannya, karena Abang belum juga ada tanda-tanda ingin meminangnya." Jawab Diah yang terpaksa memberitahukan hal yang mengusik perasaan Ratih, wanita muda yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri. Gadis sederhana, tapi pintar dan juga cekatan. Ia akan tenang jika putranya bisa bersama Ratih. Apalagi sudah mengenal gadis itu sedari lama. Meski beberapa kali hubungan Ratih dan Adhi sempat mengalami putus sambung. Putranya juga tak pernah menjalin hubungan dengan wanita lain selain Ratih.
"Aku ingin menikahi Ratih, tapi mungkin dua tahun lagi, tidak dalam waktu dekat, Bun."
"Kamu masih ragu? Tapi kamu juga harus ingat, Ratih seorang perempuan yang sudah berusia sangat pantas untuk menikah. Keluarganya juga pasti ingin kepastian dalam hubungan kalian."
"Bukan seperti itu," elak Adhi, karena ia tak pernah ragu untuk membangun rumah tangga dengan kekasih yang sudah ia pacari sedari masih mengenakan seragam putih abu-abu.
"Apa karena Bunda dan Indah?" Tanya Diah yang kali ini membuat Adhi terdiam. Mengela napas, ia usap lembut bahu putra sulungnya yang tampak menunduk dengan tatapan menerawang, "kami tidak mau menjadi beban untuk kamu, Nak."
"Bunda bicara apa?" Adhi keberatan jika sang Bunda berpikir seperti itu. Mana mungkin ia menganggap Bunda dan adiknya sebagai beban? Mereka adalah anugerah yang selalu ingin ia jaga.
"Bunda hanya tidak mau, kamu terlalu fokus memikirkan kami, sampai lupa dengan kebahagiaan kamu sendiri."
"Aku sedang mengumpulkan uang Bun. Ingin memberikan yang terbaik untuk Ratih saat melamarnya nanti. Meskipun, mungkin hanya dalam acara sederhana. Karena itu yang bisa aku berikan."
"Bunda mengerti, dan akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu, juga Indah."
Menganggukkan kepala, Adhi menggumamkan terima kasih, "Bunda benar, selama ini, selalu Ratih yang berusaha untuk mengerti aku. Jadi kali ini, aku yang harus mengerti dia."
"Bunda senang mendengarnya. Ratih juga bilang, dia nggak keberatan tinggal di rumah ini nantinya. Bunda tentu saja senang karena bisa mendapat teman di rumah. Tau sendiri kan, adik kamu lebih suka main ponsel di kamar." Ucap Diah dengan wajah yang ia buat seperti tengah merajuk, dan berhasil membuat Adhi terkekeh, "habiskan makanannya. Maaf ya, gara-gara obrolan ini, Bunda jadi ganggu kamu makan."
"Nggak apa-apa, Bun. Aku justru berterima kasih karena dapat pencerahan."
"Yasudah, Bunda mau nonton tv. Bentar lagi sinteron kesukaan Bunda tayang," ucap Diah sembari bangkit dari duduknya. Mengelus lembut surai hitam putra sulungnya, ia kemudian beranjak pergi.
Meninggalkan Adhi yang terdiam sesaat memikirkan kata-kata sang Bunda tadi. Ia jadi merasa bersalah pada kekasihnya karena tak tau, jika selama ini, Ratih memendam keresahannya seorang diri.
Mengela napas, Adhi kemudian melanjutkan makannya. Ia harus segera bekerja, menyelesaikan barang-barang milik tetangga yang dipercayakan padanya untuk dibetulkan. Jika selama ini fokus utamanya hanya pada sang Bunda dan Indah. Ia juga harus mengikut sertakan Ratih. Yang selama ini, tanpa sadar, selalu dikesampingkan olehnya.
Usai makan, dan menunaikan ibadah shalat magrib. Adhi mulai berkutat di salah satu sudut kamarnya yang ia gunakan sebagai tempat kerja untuk menservis barang-barang elektronik milik tetangganya. Mengingat, tak ada tempat lain di rumahnya yang bisa ia gunakan sebagai tempat kerja. Lagipula kamarnya tak terlalu sempit, jadi bisa ia manfaatkan sebagai tempat kerja.
Di sebuah meja kayu, terdapat beberapa peralatan yang biasa Adhi gunakan untuk menservis. Di atasnya ada sebuah kipas angin duduk berukuran sedang, serta magic com yang akan ia servis. Ada juga televisi tabung yang ia letakkan di atas lantai. Televisi tersebut baru Adhi selesaikan kemarin malam. Dan besok pagi akan ia antarkan pada pemiliknya saat berangkat kerja nanti. Mengingat, rumah pemilik tv tersebut satu arah dengan jalan menuju tempat kerjanya.
Adhi baru saja mendudukkan diri di kursi dan bersiap memperbaiki kipas angin terlebih dahulu. Tapi suara ponsel miliknya yang berteriak lantang meminta perhatian, membuat pria itu urung untuk memulai pekerjaannya.
Kening pria itu mengernyit bingung, siapa kira-kira yang menelponnya?
Ah, mungkin Ratih. Kekasihnya itu kadang mengubunginya hanya untuk berbincang mengenai keseharian masing-masing saat tak bisa bertemu karena kesibukan mereka berdua. Tapi jika tau Adhi sedang menyervis, dengan pengertian, Ratih hanya akan mengajak bicara sebentar.
Beranjak dari tempat duduknya, Adhi berjalan menuju tempat tidur karena ponsel miliknya diletakan di atas tempat tidur.
Adhi yang nyaris mengangkat panggilan, menhana jempolnya, saat melihat nomor asing yang kini tertera di layar ponsel yang layarnya sedikit retak karena sempat terjatuh cukup keras. Randi sudah sering berceloteh dan memintanya untuk mengganti ponsel dengan yang lebih bagus dan canggih. Tapi tak Adhi tanggapi. Baginya, selama masih bisa digunakan. Maka tak ada niat untuk membeli ponsel baru.
Meski ragu, Adhi akhirnya mengangkat panggilan tersebut, "halo?" Tak ada suara dari seberang sambungan. Membuat Adhi menjauhkan ponsel dari telinga kanannya untuk memastikan apakah masih tersambung atau sudah terputus. Karena ia tak mendengar suara apa pun. Tapi layar ponselnya memperlihatkan jika masih tersambung, "halo?" Cobanya sekali lagi yang tetap tak mendapat sahutan. Mulai kesal karena mungkin dirinya saat ini tengah dikerjai, Adhi kembali buka suara, "jangan pernah hubungi gue, hanya untuk lelucon menyedihkan seperti ini. Siapa pun lo di sana, tolong ingat itu baik-baik, mengerti?!"
"T—tunggu!"
Adhi nyaris memutuskan sambungan, tapi kemudian mengurungkan niatnya saat seseorang akhirnya menjawab dari seberang sambungan. Keningnya mengernyit bingung saat suara wanita yang tertangkap pendengarannya.
"Lo siapa? Dan buat apa telepon gue malam-malam begini?" Ucapnya dengan nada tak bersahabat. Salah sendiri, siapa suruh sudah membuatnya kesal dan merasa dipermainkan. Padahal, saat awal ia masih bicara baik-baik.
"A—aku, minta maaf sudah mengganggu. Dan, nggak ada niat buat mengerjai kamu. Tadi itu, aku masih terlalu gugup." Ucap orang tersebut yang membuat Adhi kian bingung. Karena ia benar-benar tak bisa menebak siapa yang menghubunginya saat ini? Adhi tak memiliki teman wanita selain saat di sekolah dulu, tapi tak akrab dan sekadar tau wajah serta namanya. Itu pun karena satu kelas. Di luar itu, hanya Ratih yang dekat dengannya. Atau mungkin, wanita ini salah satu tetangganya yang ingin menyervis barang elektroniknya yang rusak? Sepertinya itu lebih masuk akal.
"Anda siapa?" Tanya Adhi dengan bahasa yang lebih formal. Jika benar ini salah satu calon pelanggannya, bisa saja lebih tua darinya. Itu akan jadi masalah karena sudah berbicara tak sopan.
Setelah hening beberapa saat, dan hanya elaan napas yang tertangkap pendengaran Adhi. Seseorang di seberang sambungan itu akhirnya kembali buka suara, "a—aku, Kei," jawabnya sedikit terbata.
"Kei?"
"Ya?"
"Kei siapa?"
"Kamu ... Lupa lagi?" Tanya sosok tersebut dengan nada kecewa.
"Maaf sebelumnya, kita pernah bertemu?"
"Kan tadi siang kita ketemu. Kamu kenapa lupa terus? Biasanya muka cantik aku susah untuk dilupakan!" Rajuk wanita itu dengan suara lebih lantang. Tidak seperti saat di awal-awal yang mirip seperti suara curut kejepit pintu.
Tunggu!
Tadi, siang?
Adhi mencoba untuk mengingat soal tadi siang. Lalu sosok wanita yang sempat membuat heboh tempat kerjanya kini bercokol dalam ingatan.
Astaga ... Mau apalagi wanita itu?
Dan setelah tau tempat kerjanya, sekarang ia tau nomor ponselnya?
Siapa sebenarnya dia?
Kenapa selalu tau semua tentangnya?