7. Jangan berharap.

1065 Words
Di tangan Puspa penuh dengan belanjaan. Dia baru saja pulang dari Indomie, berbelanja kebutuhan mereka berdua. Setelah selesai berbincang dengan Lala — murid Pipit — Puspa langsung memilih pulang. Meninggalkan gadis itu sendirian di sana, Puspa hanya tak ingin bercerita lebih panjang lagi, hal itu nanti bisa berpengaruh dengan dirnya sendiri. Kepergian Pipit sangat menorehkan luka di sisi hatinya. Begitu hendak mendorong pagar rumah — karena dia tadi berjalan dari depan komplek perumahan setelah turun dari angkot — gerakan Puspa terhenti saat mendengar suara ribut dari depan rumahnya. Suara tersebut berasal dari rumah tetangga Puspa di depan sana. Hampir saja Puspa hendak memekik saat melihat seorang pria paruh baya memukul anak remaja yang masih menggunakan baju seragam SMA nya. "Bolos terus, bolos?! Apa cuman itu yang bisa kamu lakukan?! Selain buat saya malu? Apa yang kamu bisa lakukan, selain buat masalah terus?! Keluar masuk club, main sama teman-teman nakal kamu itu?! Saya bosen liat kamu. Pergi sana!" Puspa menatap prihatin kepada cowok remaja tersebut. Apalagi wajahnya penuh dengan lebam. Puspa hendak menolong, tapi ia takut ikut campur terlalu jauh. Namun, ia tak tahan saat pria tadi terus-menerus melayangkan pukulan juga tendangan ke remaja tadi. Itu anak atau binatang? Di perlakukan sekejam itu. Saat melihat pria paruh tadi masuk ke dalam rumah. Barukah Puspa bergegas mendatangi remaja itu, setelah meletakkan belanjaannya di dekat pagar rumah. "Kamu gak apa-apa, dek?" tanya Puspa khawatir. Membantu remaja tadi untuk duduk. Puspa meringis saat melihat luka di sekujur tubuh anak laki-laki ini. Remaja itu hanya menggeleng, hendak berdiri tapi tak bisa karena kakinya terasa sakit. "Jangan di paksain kalau gak bisa," larang Puspa kemudian. "Sini saya bantu berdiri," dengan cekatan Puspa menuntut remaja itu berdiri. Meski masih remaja tubuh laki-laki ini sangat berat, hingga Puspa harus mengeluarkan tenaganya ekstra. "Makasih," lirih anak itu. Mengambil tas nya yang di ambilkan Puspa barusan. "Iya, kamu mau kemana ini?" tanya Puspa. Mereka masih berduru di depan rumah anak laki-laki yang Puspa bantu sekarang. Anak laki-laki menggeleng pelan. "Saya gak tau mau kemana." gumamnya, kemudian meringis saat tak sengaja menyentuh luka di sudut bibirnya. "Mending sekarang kamu ke rumah saya dulu, biar saya obatin luka kamu." Puspa pun menuntut anak remaja tersebut. Hingga sampai di depan teras rumah. Puspa mendudukkan remaja tadi di kursi yang kebetulan ada di sana. Mungkin Jaka yang menyediakan nya, entahlah Puspa pun tidak tau. Puspa bergegas memasuki rumah. Tak berapa lama kembali dengan kotak PK3 di tangannya. "Sini, saya obatin." Namun, anak lelaki itu menolak. "Gak usah, bu. Saya udah biasa dapat luka begini," tolaknya. "Tapi luka kamu bisa infeksi kalau gak di obatin sekarang juga." Puspa tetap keukeuh mengobati nya. Membuat remaja itu hanya pasrah. Membiarkan Puspa mengobati lukanya. "Nama kamu siapa?" tanya Puspa masih fokus mengobati luka di kening anak lelaki itu. "Sani," jawabnya. Kembaki meringis saat Puspa menekan lukanya terlalu kuat. "Oh, Sani." Puspa mengangguk mengerti. Hendak bertanya lagi, tapi di urungkan nya. Merasa tidak ada hak untuk bertanya. "Nah, Sani. Sekarang sudah selesai." Puspa tersenyum, menempelkan plaster luka di sudut kening Sani yang luka tadi. "Sekali lagi, makasih, bu." "Sama-sama. Sesama makhluknya kita harus tolong menolong." balas Puspa sekenanya. "Sekali lagi, terimakasih bu. Saya permisi dulu, bisa kacau nanti kalau ayah saya lihat saya ada di sini." pamitnya, mulai merangkul tasnya di sisi bahu kirinya. Puspa terus memperhatikan punggung remaja yang bernama Sani itu. Tertegun sebentar, entah masalah apa yang di hadapin anak itu. Tapi Puspa harap, Sani bisa menyelesaikan nya dengan kepala dingin. Melihat kejadian tadi, Puspa menebaknya, mungkin hubungan Sani dan ayahnya tidak baik. Begitulah terkadang permasalahan di keluarga. Pasti ada masalah yang menimpa. Puspa hanya bisa berharap, Sani bisa berbaikan lagi dengan ayahnya. *** Makan siang sudah tertata rapi di atas meja. Namun, Jaka tak kunjung juga pulang. Membuat hati Puspa gelisah, dia sudah susah payah menyiapkan makanan ini untuk Jaka semuanya. Beharap Jaka menyukainya dan itu bisa jadi awal mula, Puspa mengambil hati Jaka. Dia hanya ingin mereka menjalani pernikahan ini, selayaknya suami istri sesungguhnya. Meski cinta belum ada diantara keduanya, tidak salahkan Puspa membuka hati untuk Jaka? Lagi pula, Jaka itu suaminya. Dia berhak mencintai Jaka begitu juga Jaka, berhak mencintainya. Suara mobil masuk ke perkarangan rumah, membuat Puspa tersentak. Buru-buru ia berdiri dari duduknya. Berlari kecil hendak membukakan pintu. Puspa pun langsung memasang senyum seceria mungkin, menyambut kepulangan sang suami. "Assalammualaikum." "Waalaikumsalam, mas. Udah pulang." Puspa mengambil tas yang Jaka bawa. Kemudian mencium tangan sang suami, seperti bagaimana istri harus menghormati suaminya. Bukan kehangatan yang Puspa dapat, Jaka hanya bergumam membalas ucapannya. Sementara lelaki itu langsung pergi dari hadapan Puspa. Melihat itu, Puspa langsung menyusul sang suami. "Mas mau mandi? Kalau gitu aku siapin airnya dulu, ya." tawar Puspa. Bergerak hendak menuju kamar mereka. Namun, terhenti dan berbalik kearah Jaka lagi. "Atau mas, mau makan dulu?" tanyanya lagi. Kini keduanya berada di ruang keluarga. Jaka sedang sibuk membuka sepatunya, kembali menghiraukan pertanyaan dari Puspa tadi. "Mas?" "Hm." "Mas mau mandi atau makan dulu?" dengan sabar Puspa kembali bertanya. Tersenyum tipis melihat reaksi yang Jaka berikan. Lelaki itu langsung menatapnya tajam. "Kamu berisik!" katanya pelan. Wajah datar masih terpasang di mimik wajahnya. "Cukup diem aja, saya udah merasa tenang." lanjutnya lagi. Jaka berdiri, membuka dua kancing kemejanya paling atas. "Saya mau mandi dulu dan kamu gak perlu siapin airnya. Karena saya masih punya tangan, masih bisa ngerjainnya sendiri." setelah mengucapkan itu Jaka berlalu. Sampai beberapa langkah kemudian Jaka kembali berhenti. "Pesan saya cuman satu. Jangan pernah berharap dari pernikahan ini. Karena hati saya sudah mati ketika Pipit meninggal kan saya, begitu saja." Dan usai itu, Jaka pergi menaiki tangga menuju kamar mereka. Meninggalkan Puspa yang kini tertunduk dalam, menggenggam kuat tas milik Jaka. Hati siapa yang tak sakit mendengar ucapan dari suaminya tadi? Mau bagaimanapun Puspa juga manusia yang juga punya hati. Dan mudah sekali tersakiti dengan kata-kata tajam seperti tadi. Lain halnya dengan Jaka. Lelaki itu menghela kasar, merasa sangat keterlaluan kali. Karena sikapnya barusan. Tidak, Jaka tidak membenci Puspa. Hanya saja dia tidak kuat berdekatan dengan Puspa, karena kemiripannya dengan Pipit. Jaka terkadang heran kenapa Puspa dan Pipit seperti saudara kembar. Mulai dari gara pakaian mereka terlihat sama. Sampai gerak gerik berjalan mereka pun hampir sama. Dan itu membuat Jaka gila. Dia terus merasakan keberadaan Pipit ketika berdekatan dengan Puspa. Hampir saja membayangkan Puspa itu adalah Pipit. Ia hanya takut, bayang-bayang Pipit akan menghantuinya setiap hari. Di bawah guyuran air, Jaka memejamkan mata. Sampai kapan dia terus begini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD