6. Terasa berat

1194 Words
"Nama saya Fitria Az-Zahra biasa di panggil Pipit di kampung." Laki-laki yang duduk di pinggir dekat dinding itu mengamati gadis yang duduk di tengah meja. Dulunya meja itu kosong, dan sekarang terisi kembali. Oleh guru honorer baru itu. Muhammad Jaka Sofyan. Itu nama laki-laki tadi. Ia guru pegawai negeri. Baru satu tahun ini dia diangkat jadi pegawai. Dulu dia juga guru honorer. Usianya sekarang beranjak 24 tahun, dan dia masih lajang. Seminggu kemudian, dia tidak sengaja menabrak guru baru itu. "Maaf! Saya gak sengaja," katanya. Sambil membantu guru baru itu menyusun bukunya yang berceceran di lantai. "Gak apa-apa pak. Ini salah saya juga, gak hati-hati pas jalan," gadis itu masih menunduk. Saat mengembalikan bukunya ke gadis tadi, Jaka tidak sengaja memegang tangan gadis yang bernama Pipit itu. Jaka dapat merasakan, tangan gadis itu lembut. "Makasih, yah pak. Kalo begitu saya permisi," ucap Pipit. Jaka masih memperhatikan Pipit dari jauh. Entah kenapa Jaka tertarik sama gadis ini. Dari mulai hari itu, Jaka mulai mendekati Pipit perlahan-lahan. Beralasan dengan pelajaran anak-anak. Bertepatan Pipit mengajar di kelas anak murid kelas XI A. Dia wali kelas di kelas tersebut. Jaka mulai berani mengajak Pipit makan siang bersama. Ia berharap Pipit tidak risih saat ia dekati. "Belum pulang, Pit?" tanyanya. Karena dia masih melihat Pipit duduk di dekat halte sekolah. Pipit menggeleng pelan. "Angkot nya belum lewat, pak." jawabnya. "Mau saya anterin, gak?" Jaka bertanya. Dalam hatinya berharap Pipit menerima ajakannya. "Emangnya gak repotin bapak?" tanyanya tidak enak. Lagipula Pipit sudah lama menunggu angkot di sini. "Saya gak merasa di repotkan," jawab nya sambil menggeleng. "Mau gak, Pit. Ayo saya antar," ujarnya lagi. Saat melihat Pipit mengangguk rasanya hati Jaka berbunga-bunga. Saking bahagianya. Jaka mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Menikmati waktu ini, waktu ia membonceng Pipit. Wanita pujaan hati. "Pit. Kamu udah makan siang belom?" tanyanya sedikit berteriak. Pipit menjawab ragu. "Belom, pak. Rencananya saya mau masak di kos-kosan saya." "Gak usah masak, Pit. Kita makan siang di tempat langganan saya! Saya traktir kamu." Pipit semakin merasa tak enak. "Loh, gak usah, pak. Saya gak enak sama, bapak." jawabnya. "Santai aja, Pit. Gak usah merasa gak enakan. Saya ikhlas, kok," sahut Jaka sambil terkekeh. Tak berapa lama motornya berhenti di tempat makan pinggir jalan. "Gak apa-apa, kan, kita makan di sini?" tanya Jaka. Takut Pipit merasa kurang nyaman. Pipit tertawa pelan. "Saya udah merasa senang, pak. Di traktir sama, bapak. Jadi, gak masalah makan di manapun," jawabnya. Jaka terpana melihat tawa itu. Untuk pertama kalinya, Jaka merasa dia jatuh sejatuh nya ke gadis ini. "Kamu duduk di situ dulu! Saya mau pesan makanan kita," tunjuk Jaka ke salah satu bangku yang kosong. Pipit mengangguk. Dia menduduki bangku kosong tadi. Tak berapa lama Jaka datang dengan kedua tangannya membawa dua piring, berisikan makanan. "Disini makannya harus pesan ke orangnya langsung, Pit. Beda kayak di restoran mahal, mah. Kita harus mesan sama pelayannya dulu, terus pesanan kita di bawain." jelas Jaka. Dia meletakkan piring berisi nasi pauk di depan Pipit. "Saya suka makan di sini, karena kita bebas milih lauk pauk sesuai keinginan kita," tambah Jaka lagi. Pipit hanya manggut-manggut. Matanya berbinar melihat makanan di depannya ini. Berisi beberapa lauk yang menggugah selera. Keduanya sibuk dengan makanan masing-masing. "Makasih, yah, pak. Udah traktir saya sekaligus mau anterin saya." ucap Pipit, dia tersenyum tipis kearah Jaka. Mereka sekarang sudah sampai di depan kos-kosan Pipit. "Iya, sama-sama. Saya juga seneng, kamu nerima ajakan saya. Padahal saya mikir kamu nolaknya mentah-mentah. Eh, nyatanya enggak," ungkap Jaka cengengesan. Pipit tertawa lagi. Membuat Jaka semakin terpana. Kenapa wanita di depannya ini sangat cantik, apalagi di selingi tawa anggunnya. "Pit!" panggil Jaka. "Iya, pak?" Jaka terlihat ragu. "Boleh saya minta nomer telepon kamu?" Pipit terdiam. "Kalo boleh tau, buat apa, yah, pak?" Pipit bertanya. Jaka bergumam. Otaknya terus berpikir untuk mencari alasan yang logis. "Nanti kalo ada masalah pelajaran di sekolah, kita bisa saling sharing satu sama lain," jawab Jaka setelah lama berpikir. Semoga kali ini, Pipit tidak bertanya curiga lagi. "Oh, gitu." Pipit mengeja nomer telepon nya dan Jaka langsung mengeluarkan handphone nya dan mencatat nomer telepon Pipit. "Makasih, yah!" Dan Pipit hanya tersenyum menanggapi hal itu. Kalian tidak tau. Dia hari itu Jaka sangat bahagia, karena sudah bisa mendapatkan nomer telepon sang pujaan hati. Sekaligus dia bisa makan siang bareng Pipit. Hari-harinya begitu indah. Di temani Pipit yang sudah masuk ke dalam hidupnya. Tapi semua berubah saat di hari pernikahan mereka. Untuk pertama kalinya Jaka menangis. Di hari bahagai mereka, dia harus kehilangan sang pujaan hati untuk selama-lamanya. Jaka menatap sendu kearah kursi kosong di tengah. Biasanya Pipit duduk di sana. Sambil bercanda ria dengan guru-guru lainnya. Pipit semoga kamu tenang di sana. Saya di sini tetap mencintai kamu. Meski pun pengganti mu sudah ada, tapi rasa ini sulit saya hilangkan. Karena bagi saya, kamu itu cinta pertama untuk saya. Jaka berdiri. Dia harus mengajar lagi. *** "Bu, Pipit!" Puspa menoleh ke belakang kendati mendengar seseorang memanggil nama sahabatnya. Ketika ia berbalik, Puspa melihat gadis berseragam SMA berdiri beberapa jengkal darinya. Dapat Puspa lihat gadis itu memperhatikannya dari atas hingga ke bawah. "Bukan bu, Pipit." gumam gadis itu demikian. Puspa mengernyit apa gadis ini mengenal almarhumah Pipit? Atau jangan-jangan gadis ini adalah murid Pipit dulunya. "Maaf, bu, saya salah orang. Saya pikir tadi ibu itu adalah guru saya, soalnya gaya fashion kalian hampir sama." gadis itu menunduk sopan kearahnya. Sembari menatap tak enak kearah Puspa. Sebelum pergi dari sana, gadis tersebut kembali menunduk sopan. "Maaf ya, bu, saya permisi dulu." "Tunggu!" Puspa mencekal tangan gadis SMA itu. "Kamu kenal sama Pipit, sahabat saya? Dia dulu guru di SMA Lencana." jelas Puspa. Melirik seragam yang dikenakan gadis tadi. Si sana ada bertuliskan nama SMA Lencana. Dugaan Puspa benar saat gadis tadi mengangguk."Iya, bu. Jadi, ibu sahabatnya bu, Pipitnya?" tanya gadis tu kembali. Puspa diam tak menjawab, namun gadis berseragam SMA itu kembali melanjutkan perkataannya. "Kalau boleh tau, bu, Pipit kemana nya bu? Udah hampir dua minggu gak ngajar. Saya jadi kangen sama omelannya kalau saya ketahuan bolos." gadis itu kemudian mendengus geli di akhir kalimat nya. Tanpa menyadari, Puspa tercekat mendengar itu. Melirik sekitar akhirnya Puspa membawa gadis berseragam SMA itu duduk di salah satu kursi tepat di bawah pohon rindang, sehingga mereka bisa berteduh di bawah sana. "Jadi, bener kamu muridnya Pipit?" tanya Puspa lagi, memastikan. "Iya, bu, kenalin saya Lala. Murid ternakal kalau kata bu, Pipit." Lala pun terkekeh saat mengingat, kejadian di mana dia diomelin habis-habisan dengan gurunya yang bernama Pipit itu. Kening Puspa mengernyit. "Tapi kenapa jam segini berkeliaran? Padahal setau saya ini masih jam mengajar," Lala mendengus pelan. "Saya bolos bu," akunya dengan wajah tak bersalah. Malah sekarang dia kelihatan murung. "Bosen di kelas kalau gak ada bu Pipit mengajar." curhat Lala. Lagi dan lagi, Puspa tercekat. Kehilangan Pipit masih belum ia duga. Berusaha ikhlas, agar sahabatnya tenang di sisi-Nya. Puspa memilin ujung jilbabnya, tersentak saat gadis bernama Lala tadi kembali menanyakan keberadaan Pipit. "Oh, iya, saya lupa. Ibu tau, bu, Pipit kemana?" Lala bertanya dengan sorot mata berbinar. "P-pipit dua hari yang lalu meninggal dunia di kampung." "Hah?!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD