5. Jadi Istri

1062 Words
Mobil milik Mas Jaka terparkir di depan rumah bertingkat dua. Tidak mewah namun sederhana. Kedua sejoli itu turun. Puspa mengeluarkan kopernya juga satu tas besar miliknya. Setelah kedua masuk ke dalam rumah. Mas Jaka berdehem pelan. “Saya tau, kita terpaksa menikah karena permintaan Pipit. Jadi, tolong kerjasama nya. Kamu pasti tau, kalo di hati saya masih ada nama Pipit tersemat di sana. Jadi, jangan pernah berharap lebih dengan saya!” Puspa menunduk. Dia mengerti akan ucapan dari Mas Jaka. “Iya, Mas!” jawabnya. Lagi pula dia harus menjawab apa selain, iya. Mereka tidak mencintai satu sama lain. “Kamar kita ada di atas. Kita tidak akan pisah kamar ataupun ranjang, seperti novel-novel yang sering di baca Pipit!” Puspa mengangguk lagi. Setelah melihat Mas Jaka menaiki tangga. Barulah Puspa bernapas lega. Entah kenapa berdekatan dengan Mas Jaka, hawa di sekitar Puspa berubah jadi panas. Suara klakson dari luar terdengar. Puspa bergegas menuju sana. Ia tersenyum melihat mobil truk yang membawa mesin jahitnya. Puspa bersyukur karena Mas Jaka masih mengizinkan menjahit, di sini. Rencananya Puspa akan membuka usaha jualan online di salah satu aplikasi. “Makasih, yah, Mang!” ujarnya. Setelah mesin jahit miliknya di turunkan dan di masukkan ke dalan rumah. “Sama-sama, Neng! Kita pamit, ya.” Kedua bapak-bapak tadi pergi keluar. Usai mendorong mesin jahitnya ke sudut ruangan. Puspa menatap ragu ke lantai atas. Dia perlu berbenah sekarang juga. Bajunya bau begitu badannya yang terasa lengket. Jarak tempuh dari kampung ke kota sangat jauh. Butuh beberapa jam sampai ke sini. Setelah memantapkan hati, Puspa menarik kopernya serta menggandeng tasnya. Sesampai di lantai atas, mata Puspa menyapu sudut ruangan. Hanya ada satu kamar di sini. Begitu hendak membuka pintu, seseorang membuka nya telebih dahulu. Terlihat Mas Jaka sudah siap dengan baju koko miliknya. Demi apapun Mas Jaka terlihat lebih menawan sekarang. Tampannya berkali-kali lipat. “Saya ke mesjid dulu, sebentar lagi azan zhuhur,” ujarnya. Puspa mengangguk kaku. Saat Mas Jaka berlalu di depannya. Puspa dapat mencium wangi badan khas suaminya. Puspa terbuai. Beberapa detik dai menggeleng cepat. Ingat Puspa! Mas Jaka itu pria di cintai sahabat mu. Jangan sampai kamu terbuai dan jatuh cinta sama Mas Jaka! Sorenya. Puspa panik! Dia tidak melihat mesin jahitnya di tempat semula tadi. Dia merutuki diri sendiri dalam hati. Karena tertidur setelah zhuhur. Bahkan dia tidak sempat memasakkan makan siang buat Mas Jaka. Ia seperti istri durhaka sekarang. Ini sudah lewat ashar. Dan ia baru bangun tidur. Usai menunaikan kewajibannya, Puspa turus kebawah. Dan panik seketika setelah melihat mesin jahitnya hilang. Dia berjalan ke sudut rumah. Mencari mesin jahitnya. Saat hendak keluar rumah. Ia tidak sengaja bertabrakan dengan Mas Jaka. Seperti suaminya itu baru pulang dari mesjid. Puspa menunduk takut. “A-anu, mas. Maaf Puspa ketiduran jadi, gak sempet masak makan siang, buat Mas.” cicitnya pelan. Mas Jaka menatap Puspa diam. Kemudian dia berdehem pelan. “Gak apa-apa, saya sudah pesan go-Food tadi.” Dia berjalan melewati Puspa. Di belakang Puspa masih menunduk sambil mengikuti sang suami. Dia ingin menanyakan sesuatu lagi. Tapi ragu. “I-itu, mas. Mas liat gak, mesin jahit ku ada dimana?” tanyanya. Ia masih setia menunduk dari tadi. Dan Mas Jaka tidak mempersalahkan hal itu. “Saya taruh di kamar sana!” tunjuk mas Jaka ke ruangan, yang ada di bawah pinggir tangga. “Kamu bisa jadikan ruangan itu, sebagai tempat jahit kamu,” ucap mas Jaka lagi. Tidak tau kalau Puspa sekarang tersenyum tipis. Saat Mas Jaka nenaiki anak tangga pertama. Puspa bersuara. “Makasih, Mas!” Dan Mas Jaka hanya mengangguk sebagai jawaban. Puspa berlari kecil, membuka ruangan yang tunjuk mas Jaka tadi. Dia dapat melihat mesin jahitnya di sana. Di letakkan tepat di depan jendela. Sehingga Puspa dapat melihat tanaman di halaman rumah mereka. Pokoknya Puspa harus merawat rumah ini sebaik mungkin. Sebagai tanda terimakasih ke Mas Jaka karena sudah memberikan fasilitas dia untuk menjahit. Keesokan paginya. Selesai sholat subuh, Puspa langsung berkutat di dapur. Hari ini, sudah menjadi hari keduanya sebagai istri Mas Jaka. Puspa harus menjadi istri yang baik buat suaminya. Walaupun pernikahan mereka ini tidak diinginkan dari keduanya. Puspa hanya mengabulkan permintaan terakhir Pipit. Pukul setengah tujuh, Mas Jaka sudah duduk anteng di meja makan. Menghiraukan kesibukan Puspa. Dia sendiri pun sibuk. Karena hari ini dia mulai masuk mengajar lagi. Lagipula ngapain dia di rumah? Mau berduaan dengan istrinya? Kalau saja itu Pipit, Jaka dengan senang hati melakukannya. Pipit …. Satu nama perempuan yang tidak akan bisa Jaka lepas dari hatinya. Nama Pipit sudah sangat melekat di sana. Tidak ada seorangpun yang bisa menggantikan posisi Pipit dari tahta di hatinya ini. Hanya Pipit seorang yang akan ada di sana, selamanya. “Sarapan dulu, mas.” Jaka tersentak dalam lamunan. Meletakkan handphonenya di atas meja. Menatap Puspa sebentar. “Saya masuk kerja hari ini,” katanya kepada Puspa. Puspa tersenyum kecil. “Iya, mas.” Setelah mengambilkan makanan untuk sang suami. Puspa pun kembali mengambil makanan buat dirinya sendiri. Keduanya tidak lagi membuka suara. Hanya dentingan sendok, garpu berlawanan dengan piring. Jaka meminum air putih tandas. Mengucapkan alhamdulilah untuk sarapan pagi ini. Ia mulai mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompet. Kemudian mendorongnya uang itu ke dekat Puspa. “Ini belanja untuk satu bulan ke depan. Pandai-pandailah mengaturnya,” ucap Mas Jaka. Pria itu berdiri. Menyandang tas yang biasa ia gunakan untuk mengajar. “Saya pergi, assalammualaikum.” Jaka berlalu begitu saja. Meninggalkan Puspa yang terdiam melihat uang di berikan Jaka tadi. Sejurus kemudian perempuan itu berlari menyusul Mas Jaka. Suaminya itu baru saja hendak memasuki mobil. “Mas!” panggilnya. Berlari kecil untuk mendekati Jaka. “Ada yang kelupaan,” ujarnya. Mengambil tangan Jaka dan menciumnya secepat kilat. Bagi Puspa ini adalah salah satu momen suami istri yang sangat romantis bagi Puspa. Yaitu mencium tangan suami, ketika mau berangkat bekerja. Jaka tersentak. Dia menatap datar kearah Puspa. Ia masuk ke dalam mobil begitu saja. Jaka menghembuskan napas berat. Sial! Kenapa dia malah melihat wajah Pipit di sana. Lagian kenapa Puspa dan Pipit hampir terlihat mirip. Padahal mereka bukan saudara kandung. Apa karena keduanya bersahabatan dan selalu pergi bersama-sama ketika dulu. Hanya saja perbedaan mereka berdua terlihat ada. Puspa tidak banyak cakap. Sedangkan Pipit malah kebalikannya. Sejak mengenal Pipit, Jaka tau kalau perempuan itu tidak bisa diam sedikitpun. Cenderung aktif. Jaka mengusap wajahnya kasar. Mulai menghidupkan mesin mobilnya. Meninggalkan pekarangan rumahnya yang tidak terlalu luas. Namun, sederhana ketika di lihat. Puspa kembali masuk ke dalam rumah saat melihat mobil suaminya sudah pergi melesat jauh. Hari ini dia akan memulai menjahit kembali. Mewujudkan cita-citanya, yaitu menjual pakaian hasil jahitannya secara online.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD