Tiga hari sebelum nya.
Napas Pipit yang tadi berderu tenang, kini ia malah terlihat kesusahan bernapas. Pipit langsung berlari masuk ke kamar, menghiraukan tatapan aneh dari beberapa tetangga yang lagi duduk kerja di rumahnya. Begitu sampai di kamar, Pipit cepat-cepat mencari alat pembantu untuknya bernapas. Inhaler. Gadis itu sibuk mengacak isi laci serta isi lemarinya. Begitu alat yang ia cari ketemu, langsung saja mendekat kan ke dalam mulutnya. Perlahan rasa sakit di d**a itu menghilang, napasnya pun mulai teratur.
Tangan Pipit bergetar begitu juga kakimya yang terasa jeli. Dia duduk di pinggiran kasur, mencoba mengontrol dirinya sendiri. Pipit ingin menyerah rasanya, tapi mengingat kebahagiaan keluarga serta calon suaminya. Pipit ingin bertahan lebih lama lagi, dia ingin merasakan kebahagiaan di dalam rumah tangga dengan lelaki yang ia cintai. Meskipun sebentar, tak apa Pipit masih bisa bersyukur akan hal itu.
Tepat seminggu tinggal di kota waktu itu. Pipit jatuh sakit dan berakhir di rawat ke rumah sakit. Pipit tidak tau dia sakit apa, yang ia ingat sebelum jatuh pingsan. Pernapasannya terganggu serta rasa sesak di d**a membuat ia tak kuasa menahan sakit. Tepat hari itu pula, kata dokter ia mengidap sakit asma. Tentu saja ia terkejut karena selama ini dia merasa baik-baik saja. Tetapi dokter kembali menjelaskan kalau penyakit asma bisa menyerang manusia secara tiba-tiba. Misalnya terlalu banyak beraktivitas fisik, udara dingin, bulu binatang dan sebagainya menyangkut datangnya penyakit asma.
Pipit jadi teringat, waktu ia kuliah dulu. Pipit sangat sering terkena udara malam. Bukan tak sengaja hanya saja kebiasaan barunya yang tiba-tiba datang. Dia suka udara dingin karena menurutnya itu bisa menghilangkan rasa stress ya di saat tugas kuliah menyerang. Dan kebiasaan itu masih ada sampai sekarang. Namun, dokter menjelaskan lagi, kalau penyakit asma ini belum jelas penyebabnya apa.
Mulai hari itu Pipit sering kambuh ketika dia kebanyakan beraktivitas dan banyak pikiran. Dan bodohnya Pipit tidak mengatakan penyakitnya ini kepada bunda, ayah maupun Puspa. Dia terlanjur takut, takut keluarganya khawatir dan pasti menyuruhnya berhenti bekerja di kota sebagai guru.
Pipit menekan dadanya kembali. Dia benci jadi selemah ini. Pipit mendongak, menatap langit-langit kamar.
"Tuhan! Kasih waktu sedikit saja kepadaku agar bertahan lebih lama lagi. Itu saja yang ku minta kepadamu." lirihnya pelan. Semakin kuat menekan d**a tak kala merasakan rasa sakit itu menyerang lagi. Napasnya tersengal-sengal, hingga tak berapa lama jatuh diatas kasur kendati pingsan di sana. Lelah menahan rasa sakit yang ia rasakan.
Sebelum benar-benar gelap itu mengendalikan dirinya. Dalam hati Pipit terus berdoa. "Jangan sekarang, ku mohon." Gelap pun menyerang. Gadis malang itu jatuh pingsan sendirian di dalam kamar, tanpa satu orang pun yang menyadari.
***
Masa kini, sehari setelah meninggalnya Pipit.
Puspa sedari tadi menunduk. Matanya membengkak, akibat menangis dari kemarin. Hatinya masih tidak percaya akan kepergian Pipit yang secara mendadak.
“Gimana, Nak. Kamu setuju?” Bunda bertanya. Mereka habis merunding.
Puspa menggeleng kecil. “Puspa gak mau,” katanya. Ia mulai terisak. Siapapun di posisinya pasti tidak mau. Menjadi mempelai pengganti sang wanita.
“Tapi sayang. Ini permintaan terakhir Pipit. Bunda gak bisa tenang sebelum mengabulkan permintaan anak bunda.” Bunda mengusap punggung Puspa.
Bunda juga tau, kalo Puspa berat melakukan ini. Mata Bunda sama bengkaknya seperti mata Puspa. Hanya saja air mata bunda seperti sudah habis karena menangis semalaman.
“Bunda mohon, Nak. Kabulkan permintaan Pipit. Anak bunda, kalau enggak bunda kecewa sama kamu.”
Puspa langsung mendongak kemudian menggeleng. Dia tidak mau membuat bunda kecewa. Baginya, ayah dan bunda Pipit adalah orangtuanya setelah ibu dan ayahnya.
Keluarga Pipit sangat banyak membantu nya. Bunda, ayah dan Pipit mampu mengeluarkan dia dari zona keterpurukan ketika kedua orangtuanya meninggal. Dikarenakan kecelakaan.
“Bunda ...."
Puspa menghambur ke pelukan sang bunda. Menangis di sana. Setelah merasa tangisan mereda. Puspa melerai pelukan dan menunduk lagi.
Dengan senggukan di berkata. “Puspa bersedia menggantikan Pipit sebagai mempelai wanita nya.”
Semua orang tersenyum haru. Selain Jaka, pria itu hanya diam. Dan membuka suaranya ketika ijab qobul di mulai.
Hari itu semua merasa sedih sekaligus bahagia. Akhirnya permintaan terakhir Pipit di kabulkan.
Saat kata sah di sebutkan. Hati Puspa berdesir. Dia di tuntut duduk di dekat suaminya. Keduanya bahkan tidak memakai baju pengantin. Cincin sederhana tersemat di jari manis Puspa. Bahkan cincin itu punya mertua perempuan. Tidak sempat membeli cincin baru lagi. Mereka hanya sempat mengurus buku nikah dan sebagainya, dalam satu hari. Sungguh dadakan.
Tangan Puspa gemetaran hendak mencium tangan Jaka. Dengan mata tertutup Puspa mencium tangan Jaka dengan khidmat. Setelah itu dia merasakan keningnya di kecup. Dan Jaka menaruh tangannya di atas kepala Puspa, sembari berdoa. Di dalam hati Puspa mengaminkan semua doa yang di baca oleh sang suami.
Akhirnya ia sudah sah menjadi seorang istri. Dari Mas Jaka, guru pegawai negeri. Mengajar satu sekolah di tempat Pipit bekerja dulu.
Keluarga Mas Jaka menginap di rumah Puspa. Meski hanya tersedia dua kamar saja. Mertua Puspa tidak masalah. Bunda sama ayah sudah pulang sore tadi.
Malam harinya setelah makan malam bersama. Puspa di sibukkan mengepak semua barang-barang nya. Besok ia akan di bawa ke kota oleh sang suami. Meski dia belum siap meninggalkan kampung halamannya, Puspa harus siap.
Puspa melirik kearah Jaka. Suaminya tidak pernah mengeluarkan sepatah kata pun, usai akad tadi. Wajah datar nya yang Puspa liat. Tidak ada senyum bahagia terpancar dari sana. Puspa tau kalau Mas Jaka juga terpaksa dalam pernikahan ini.
Setelah mengepak sebagai baju-bajunya. Puspa berjalan mendekati kasur miliknya. Suaminya duduk bersandar di sana, sambil mengotak-atik handphone. Puspa tidak tau apa yang di kerjakan suaminya disana.
Canggung.
Puspa mau membuka kerudungnya, tapi ia tahan. Merasa tak enak dengan suaminya. Dia duduk di pinggir ranjang sambil menunduk. Merasa kasur bergerak, Puspa menoleh ke samping. Dia lihat Jaka mulai berbaring sambil membelakanginya.
Ia menghela napas. Ikut berbaring, membelakangi Jaka. Lagi pula dia tak tau harus mengapai. Mereka tidak kenal dan di takdirkan menikah.
Pernikahan yang tak pernah di Inginkan sama sekali.
Tapi Puspa tau, di balik semua ini ada hikmahnya dari sang Kuasa. Puspa cuman perlu menjalaninya saja dan menerimanya lapang d**a.
Pagi harinya.
Puspa memeluk erat tubuh bunda. Berat rasanya meninggalkan wanita hebat satu ini.
"Baik-baik di sana, ya. Jaga kesehatan, ikutin apa yang di katakan suami kamu. Jadi istri yang penurut dan sholehah. Jangan pernah membangkangnya. Karena ridho suami juga ridhonya Allah." Bunda mengurai pelukan, membelai pipi Puspa lembut.
"Kalau udah sampai, jangan lupa telepon bundanya!" Puspa mengangguk, tersenyum kecil kemudian memeluk tubuh bunda lagi.
Kini Puspa beralih ke ayah. Memeluk tubuh lelaki tangguh itu sebentar. Ayah juga berujar. "Terima kasih, nak. Sudah memenuhi permintaan Pipit. Kamu tetap jadi putri kita, datanglah ke kami. Kalau kamu ada masalah, kami dengan senang menerima kamu. Karena kamu sudah seperti putri ayah, sama kayak Pipit." Ayah tidak menangis, tapi Puspa tau dari sorot mata ayah. Di sana ada kesedihan yang terpendam.
Sekarang gantian Jaka pamitan ke ayah dan bunda. Lelaki itu baru saja menutup pintu bagasi mobilnya. Memberikan senyumam tipis ke ayah sama bunda.
"Kita pamitnya bun, yah." katanya.
Bunda mengangguk, mengusap kepala Jaka sebentar yang kini sedang menyalim tangan kanannya.
"Tolong jaga anak bunda, ya."
Jaka mengangguk pelan. "Iya, bund."
Beralih ke ayah. Pria paruh itu menepuk bahu Jaka pelan. "Ayah tau kamu itu laki-laki yang baik, tapi tolong janji sama ayah. Jaga Puspa di sana, karena bagi ayah dia sama kayak Pipit. Jangan kecewain ayah, nak."
"Jaka gak bisa janji yah, karena Jaka juga manusia suka khilaf. Tapi Jaka bakal berusaha nepatin janji yang ayah kasih ke Jaka." balas Jaka tenang. Ayah paham, mempersilahkan sedua penganti baru itu masuk ke dalam mobil.
Jaka membuka pintu di samping kursi pengemudi, menyuruh Puspa masuk kedalam.
"Puspa pergi dulu, bun, yah." pamit Puspa untuk terakhir kalinya, berbalik untuk masuk ke dalam mobil. Sebelum benar-benar masuk ke mobil. Puspa menoleh ke belakang, tersenyum kearah bunda dan ayah. Dan terakhir menatap rumah peninggalan kedua orangtuanya.
Bu ... yah ... Puspa pamit.