2. Pengejaran

1375 Words
"Hari ini kita pesta! Akhirnya Kalea putus dari Adam!" "Woe woe Kalea putus! Kalea putus!" "Kalea?! Seorang Kalea yang itu? Yang bahkan meninggalkan ujian universitas untuk menemani Adam yang hanya sakit flu?!" "Ya Kalea yang itu. Yang dimarahi profesor karena terlambat kelas hanya demi membawakan baju olahraga Adam setahun yang lalu." "Iya iya, kudengar Kalea juga menjilat sepatu Adam yang kotor karena hujan." "Ya, benar. Kalea memang secinta itu pada Adam. Cintanya mengalahkan kisah romansa Romeo dan Juliet." "Hanya saja...." "Hanya saja?" "Bertepuk sebelah tangan." "Hahahahaaa" Kalea tidak menyangka di pestanya sendiri ia malah menjadi bulan bulanan dan bulian. Lima teman baiknya tidak berhenti mengolok kebodohannya selama lima tahun belakangan ini sejak ia kenal dan dijodohkan dengan Adam. "Kal, lo oke gak? Kalau enggak gua suruh temen temen berhenti." Anin menyenggol siku Kalea. Yang disenggol hanya cegukan, wajahnya sudah merah padam dengan tatapan yang nyaris kosong. Bahkan mungkin kepalanya juga tak kalah kosong dari ekspresinya saat ini. Kalea melambaikan tangan. Tidak masalah dengan semua olokan yang ditujukan padanya. "Gapapa gapapa, gua gapapa. Toh emang fakta." jawab gadis itu pasrah, dengan suara tak jelas setelah menghabiskan hampir dua gelas besar alkohol sendirian. Kalea menutup wajahnya menggunakan segelas whisky dengan tingkat alkohol tinggi. Seluruh teman teman partner kuliah yang selama ini merasa terganggu dengan obsesi Kalea pada Adam ikut merayakan kebebasan gadis itu atas perasaannya sendiri. "Kal, sekarang lo tahu kan kalau lo udah berlebihan banget? haha oon!" "Shut up! shut up and up ur glass! Gua gila kemarin, diguna-guna, makanya kebelet nikah." Kalea menggeser gelasnya, kini ia langsung meneguk alkohol dari botolnya. "Ouhh Girl, no no, jangan berlebihan. Gua tau ini hari kebebasan lo. Tapi jangan sampai muntah, okay? Gak ada lagi pangeran berkuda putih yang bantuin lo bangun dan gendong lo ke tempat tidur." Kalea tertawa, "Yeah, dan gua nanti bisa jalan sendiri... ke tempat tidur sendiri... dan mengurus diri sendiri tanpa bantuan pangeran berkuda putih milik Cinderella lain." "Right girl, that's should u do." Setelah berpesta hingga tengah malam, Kalea yang tumbang duluan akhirnya terbangun diantara tubuh pemabuk teman temannya. Gadis itu merasa sesak karena sedari tadi ternyata kaki Anin menindih lengannya. Kalea mendorong tubuh Anin menjauh, juga dengan limbung mencoba berdiri menyingkir dari ruangan berbau alkohol ini. Jam menunjukkan pukul 01.00. Ponsel Kalea yang sedari tadi ia abaikan ternyata sudah penuh oleh panggilan tak terjawab dari nomor yang tak dikenal. Nomor yang pagi tadi masih ia simpan dengan nama "Sayang" kini sudah ia hapus permanen. Selang 3 detik, nomor tak dikenal itu menelepon lagi. Kalea mengangkatnya. "Aku salah Kalea, ayo kita bicara." Belum juga mendekatkan ponsel ke telinga, Kalea sudah menyesal mengangkatnya. "Iya lo salah, tapi udah gak ada yang perlu kita bicarakan." Itu dari mantan kekasihnya. Dari Adam. Kalea lupa tentang itu karena sibuk dengan 'pesta' kebebasannya. Adam pasti tidak akan melepaskannya dengan mudah. Karena tentu saja, soal 'putus pertunangan' tidak akan semudah itu untuk kedua belah pihak. Bahkan orang tua Kalea saja tidak setuju. "Enggak, Kalea. Kita perlu bicara. Ini bukan masalah Annie, aku akan mencari cara lain untuk mendapatkan donor ginjal. Kita perlu bicara masalah kita, aku tadi tidak berfikir jernih dan bicara ngawur padamu. Ayo kita bertemu dan menyelesaikan kesalahpahaman ini." Kalea menghela napas panjang. Melangkahkan kakinya menuju luar bar. Gadis itu ingin menghirup udara segar untuk menetralkan mabuknya. "Ini bukan kesalahpahaman. Lo ngerti bahasa manusia gak sih? Aku bukan cuma ngajak putus tapi batalin pertunangan kita. Harusnya lo paham kalau aku one million percent serius." Di seberang telepon sana terdengar nafas gusar Adam. Kalea yakin, papanya lah yang mendesak Adam untuk mempertahankan hubungan yang sampah ini. "Aku kesana sekarang." tegas Adam kemudian. "Hah?! Emangnya lo tau gua dimana?" Mata Kalea melotot. Menguap sudah rasa mabuk yang sejak tadi membuat kepalanya berat. Bahkan Kalea kini sudah tidak memperhatikan bahasanya. Dulu, Adam selalu kesal jika Kalea menggunakan bahasa 'lo-gua' saat bicara dengannya. "Tunggu saja. Jangan kemana mana." telepon ditutup. Yeah, Kalea benar benar lupa satu hal penting. Bahwa dulu, diantara dirinya dan Adam tidak ada rahasia dan privasi apapun. Bahkan Kalea sendiri yang dulu memasangkan aplikasi 'cinta' supaya mereka bisa memantau keberadaan satu sama lain. Saat mengecek ponselnya, Kalea tahu hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk Adam sampai di bar ini. Apalagi di jam 01.00 pagi, tidak akan ada macet dan sialnya tidak ada taksi juga yang lewat. Memesan ojek online pun tidak akan sempat. Kalea juga tidak bisa menyetir karena tidak yakin dengan kesadarannya setelah menghabiskan tiga botol alkohol sendirian. Maka dari itu satu satunya hal yang bisa Kalea lakukan sekarang adalah menghadapi Adam dengan berani. Gadis itu mengepalkan tangan, membulatkan tekadnya untuk menolak ajakan balikan Adam dengan tegas agar Adam tahu bahwa diantara mereka sudah benar benar berakhir. ~~~ Kalea berdiri di depan bar yang mulai sepi. Udara malam terasa dingin, atau mungkin karena efek alkohol yang sudah menguap dari tubuhnya. Ia baru saja mematikan ponsel ketika suara langkah kaki kasar yang sangat dikenalnya terdengar dari arah seberang jalan. Adam. Pria itu berjalan cepat, mengenakan kemeja hitam yang digulung hingga siku. Wajahnya gelap, rahangnya mengeras, dan matanya, yang terlihat lelah karena tidak tidur, menatapnya dengan kemarahan dan obsesi yang sama besar. “Kalea.” suara Adam memanggil berat, penuh tekanan. Kalea menyilangkan tangan di depan d*da. “Udah kubilang, gak ada yang perlu dibicarakan.” “Kita sudah lima tahun bersama,” Adam mendekat, tak mempedulikan nada sinis Kalea. “Lima tahun! Lo pikir semuanya bisa selesai hanya dengan satu surat pembatalan perjodohan?” Kalea menatapnya dingin, bahkan kini Adam menggunakan kata yang tidak ia suka. Baiklah Kalea tidak akan menahan diri. “Lima tahun itu bukan cinta, tapi delusi satu arah. Dan gue udah sadar sekarang. Gak ada yang bisa dipertahanin lagi.” Adam mengusap wajahnya yang kebas. Kali ini ia benar benar melihat Kalea seperti sosok yang berbeda. Kalea yang biasanya berbicara lembut dan takut menyinggungnya kini dengan berani menentang dan meninggikan suara. “Kalea... tolong,” suara Adam merendah. “Aku... aku panik tadi pagi. Annie sakit, dan dokter bilang kamu bisa menyelamatkannya. Jadi tanpa sadar aku salah bicara padamu. Aku minta maaf Kalea, aku hanya takut kehilangan sahabat masa kecilku." “Dan lo gak takut kehilangan gue?” suara Kalea pecah. “Adam gua... uh... aku ada di sampingmu selama lima tahun! Lima tahun aku jadi pelayan, pengantar makanan, babysitter, bahkan jadi orang yang 24 jam ada untukmu! Tapi kamu malah mau mengorbankanku demi sahabat masa kecilmu itu?! Hah leluconmu lucu sekali." Kalea menarik napas panjang. Akhirnya ia mengatakannya meskipun dengan suara yang bergetar. Adam menghela napas keras. “Aku bisa menjelaskannya Kalea. Bukan seperti itu maksudku-” “GAK USAH!” Kalea menepis tangan Adam yang terulur. “Gak ada yang bisa dijelasin. Kita... putus. Pokoknya kita udah selesai!" Adam diam. Hening sesaat, sebelum wajahnya berubah. Matanya menajam, dan senyum dingin muncul di bibirnya. “Jadi gitu ya? Sekarang udah berani ngelawan?” “Gue bukan b***k lo, Adam.” Dan saat itulah... Adam kehilangan kesabaran. Tangannya meraih lengan Kalea dengan kasar. Gadis itu terhuyung, reflek menendang kakinya dan melawan sekuat tenaga. “Lepasin!” teriak Kalea. Tapi Adam justru membentak, “Kalau kau gak nurut, Kalea... aku bisa bikin hidupmu lebih buruk dari neraka.” Kalea membeku. Ketakutan lama yang terkubur kembali mencuat. Tangannya gemetar. Kakinya mulai mundur perlahan. “Sialan lo...” bisiknya pelan, dengan refleknya Kalea menendang sel*ngkangan Adam. Saat Adam mengaduh, pegangannya terlepas. Kalea langsung lari, membuang sepatu hak tingginya. Kakinya telanjang menapaki jalanan malam ibu kota yang basah oleh embuh dingin. Nafasnya sesak, langkahnya terhuyung. Kepalanya masih berdenyut karena alkohol. Tapi ia tidak peduli. Instingnya mengatakan bahwa ia harus kabur sekarang. Adam mengejarnya dari belakang, napasnya berat, penuh amarah. “Aku gak akan biarkan kamu pergi begitu aja, Kalea!" suara Adam terdengar menakutkan penuh amarah. Kalea berbelok cepat ke arah gang kecil di samping bar. Tidak memikirkan ke mana arahnya, hanya menjauh dari Adam. Ia melangkah masuk ke gang gelap itu, dan... Buntu. “Sh*t... sh*t...” Ia membalikkan badan, dan melihat siluet Adam semakin dekat. Jantungnya hampir berhenti. Langkah mundurnya terhenti di dinding beton. Napasnya tercekat. “Enggak... jangan kesini...” bisiknya panik. Lalu tiba-tiba... Seseorang muncul dari balik bayangan. Seorang pria tinggi menjulang, dengan hoodie hitam, wajahnya sebagian tertutup bayangan lampu jalan yang redup. Ia melangkah maju, begitu dekat. "Hei, mau kubantu?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD