3. Lelaki misterius

1128 Words
Mata Kalea membelalak, bukan Adam yang ada di depannya. "Aku bisa membantumu. Ya atau tidak? waktu kita tidak banyak." Pria itu bertanya tegas, memberi Kalea dua pilihan. Di balik cahaya remang gang buntu, Kalea bisa melihat bayangan Adam yang hampir tiba. Dengan nafas masih memburu Kalea akhirnya mengangguk. Ia lebih takut pada Adam sekarang daripada siapapun. Pria misterius itu menunjukkan senyuman layaknya iblis yang sudah diberi izin. Seringaiannya terlihat sedikit menyeramkan di bawah sinar rembulan. Tiba tiba, ia lebih mendekat. Meraih pinggang Kalea dan menariknya ke dalam dekapan yang dalam. *Cup Bibirnya menyentuh dengan lembut. "Umh!" Kalea masih setengah syok mengepalkan tangan. Berusaha mendorong d*da bidang lelaki itu. "Diam..." lelaki itu berbisik dengan suara yang datar tapi meyakinkan. Meraih dagu Kalea agar jika dilihat dari belakang akting mereka terlihat meyakinkan. Meskipun bagi Kalea itu sama sekali bukan akting. Ciuman itu nyata adanya. Ciuman yang asing... tapi anehnya terasa penuh perlindungan. Adam yang baru tiba, berhenti di mulut gang. Matanya menyipit melihat dua sosok yang berpelukan dan berciuman di kegelapan. “Bukan Kalea...,” gumamnya. “Dia gak mungkin kaya gitu." Adam mundur, menahan rasa jijik dan merinding, lalu berbalik keluar gang. Ia kehilangan jejak Kalea. Kalea yang sebenarnya masih terperangkap dengan keterkejutannya di gang buntu bersama pria asing yang tidak ia kenal. Hening kembali menguasai tempat itu. Hanya deru nafas dari keduanya yang beradu teratur. Pria misterius perlahan menjauhkan bibirnya. Wajah mereka masih dekat. Nafas mereka bertemu di udara dingin. Dan Kalea... mendadak lupa cara bicara. “Kamu siapa?” bisiknya, gemetar. Pria itu tersenyum kecil. “Pertama tama ucapkan terima kasih. Aku sudah membantumu." Ia menurunkan hoodienya, menampakkan rambut blonde dan mata tajam yang memantulkan cahaya lampu redup gang buntu. Lelaki itu mengusap bibirnya yang basah, yang membuat Kalea melotot. Bibir Kalea terasa aneh setelah ciuman yang... Yang hei! itu first kiss nya! Bukan lagi rasa lega karena akhirnya ia bebas dari Adam, tapi rasa marah langsung memenuhi perasaan Kalea. Ia merasa tidak terima ciuman pertamanya diambil secara sepihak oleh orang asing. "Membantu?! Kau bilang membantu?! Kurasa kau hanyalah laki laki m***m yang sedang memanfaatkan gadis yang kesulitan!" teriak Kalea tepat di depan wajahnya. Nafas gadis itu masih memburu. Antara karena kelelahan berlari dan terkejut tiba tiba saja first kiss nya dicuri oleh orang tak dikenal. "Aku tidak terpikirkan cara lain." jawab lelaki itu santai, tak merasa bersalah sama sekali. Seolah mencium gadis asing tak dikenal adalah hobi anehnya. "Tidak terpikirkan cara lain?! Orang normal bukannya akan ngajak berantem cowoknya ya daripada melakukan pelec*han pada wanita lemah?!" Pria di depan Kalea tertawa datar mendengar protes gadis itu. "Ah kurasa ada yang salah dengan otakmu, Nona. Aku tidak mau adu pukul karena bisa rumit urusannya jika aku terlibat masalah dengan anak sulung perusahaan ternama. Aku hanya mencari cara untuk menyelesaikannya dengan sedikit mudah. Soal ciuman tadi aku minta maaf jika kamu tidak suka, tapi aku tidak bermaksud melakukan hal buruk seperti pelec*han padamu. Dan jujur saja aku tidak tertarik dengan wanita berd*da rata sepertimu." Demi apapun Kalea kehabisan kata kata. Setelah mengambil first kiss nya, sekarang pria di depannya malah dengan enteng mengomentari fisiknya?! "Kamu benar benar kurang ajar..." Kalea bergumam. Ia langsung memeluk dirinya sendiri, melindungi bagian tubuhnya yang mungkin bisa dilihat pria asing ini. Karena Kalea dari bar, tentu saja ia sedang memakai pakaian seksi seperti kekurangan bahan. Baju tanpa lengan dan celana pendek sep*ha. Bahkan dari tingginya dan kedekatan mereka, pria di depannya ini memang bisa melihat segalanya dari tubuh Kalea. "Aku tidak-" kalimatnya terhenti. Lelaki itu melihatnya sepintas, lantas melepaskan hoodienya dan ia lemparkan pada Kalea. Tidak hanya itu, lelaki itu juga melepas sepatu yang ia kenakan dan ia letakkan di depan kaki gadis itu yang lecet karena berlari tanpa alas. "Setidaknya berterima kasihlah untuk ini." Ah Kalea baru sadar jika kakinya sakit. Gadis itu juga baru sadar tubuhnya kedinginan. Ia juga gemetaran karena takut. "Aku akan mengantarmu sampai ke depan. Apa ada orang yang bisa kau hubungi?" Kalea mengusap air matanya yang jatuh. Kemudian mengangguk. Mulai memakai hoodie dan sepatu yang diberikan padanya. "Bagus, hubungi sekarang. Aku akan memantaumu dari jauh sampai keluargamu datang." Lelaki itu menggiring Kalea keluar dari gang buntu sembari menjaga jarak aman supaya gadis itu tetap merasa nyaman. "Kau sebenarnya siapa... Kau seolah olah membantuku karena tahu siapa aku atau Adam... kau tadi bilang tidak mau berkelahi dengan laki laki yang mengejarku karena tahu dia putra sulung dari pemilik perusahaan ternama. Bagaimana kau tahu?" Kalea akhirnya bertanya, setelah duduk di kursi depan bar sambil menunggu kakak laki-lakinya datang menjemput. Lelaki asing itu berdiri tak jauh darinya, bersandar tiang lampu, menatap ke depan dengan ekspresi datar. Rambut blondenya terlihat mencolok di kegelapan malam. Belum sempat mendapat jawaban, mobil hitam mewah yang Kalea kenal sudah menepi di depan bar. Seorang pasangan laki laki dan perempuan langsung turun dari mobil dan menghampirinya. "Kau bilang tadi pergi main ke rumah teman, kenapa jadi ke tempat seperti ini, Kalea?!" laki laki itu langsung marah padanya. Suaranya meninggi, tapi Kalea tahu bahwa itu adalah bentuk rasa khawatirnya. Kalea hanya diam dan menatap dengan mata berkaca kaca. "Aduh ngomelnya nanti saja di rumah, sayang. Ayo kita bawa Kalea pulang dulu." yang perempuan, kakak ipar Kalea menengahi. Kalea dibawa masuk ke dalam mobil. Sebelum pintu mobil tertutup, Kalea sempat menoleh pada tiang lampu dekat kursi ia duduk tadi. Lelaki aneh itu sudah pergi. Lelaki yang tiba tiba membantunya, yang juga meminjamkan hoodie dan sepatu miliknya, lelaki yang secara misterius datang sekarang juga pergi dengan misterius. Daripada penasaran siapa dia, sebenarnya Kalea lebih penasaran tentang apa tujuannya. Kenapa lelaki misterius itu membantunya dengan cara yang aneh begitu. Kalea menyentuh ujung bibirnya. Ia masih ingat dengan sangat jelas sensasi lembut saat first kiss nya dicuri. Bahkan di kehidupan yang sebelumnya Kalea belum melakukannya. "Kalea, ayo... Kau melihat apa? Tidak ada siapapun di sana." Kalea mengangguk. Dengan cepat masuk ke dalam mobil. "Papa dan mama akan sangat marah kalau tahu kau datang ke bar. Padahal kau tidak perlu putus jika akhirnya depresi seperti ini." Kalea mengacak rambutnya frustasi. Terlepas dari betapa penasarannya Kalea tentang lelaki misterius tadi, ada kesalahpahaman yang harus ia selesaikan segera. "Kak, aku datang ke bar bukan karena frustasi putus dari Adam. Tapi untuk pesta merayakan kebebasanku setelah putus! Lagian yang bikin aku kaya gini ya Adam. Tadi Adam datang, bilang tidak mau putus dan mengejarku." "Kalian seperti anak kecil saja tengah malam main kejar kejaran." Demi apapun di dunia ini Kalea benar benar tidak suka dengan bagaimana keluarganya sangat menyukai Adam. Tidak ada yang berfikir bahwa Adam bisa melakukan hal buruk pada Kalea. "Itu bukan kejar kejaran romantis seperti yang kakak pikirkan!" "Ya ya Kalea, besok biar Adam sendiri yang menjelaskan. Soal surat pembatalannya, untung keluarga Adam tidak tersinggung. Besok kita bicarakan lebih lanjut di makan malam keluarga. Hari ini kau menginap dulu di rumah kakak."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD