Kalea tidak bisa menahan protesnya saat ia tahu bahwa mobil milik papanya berbelok ke arah rumah besar bak istana dengan pagar yang menjulang tinggi. Rumah yang begitu familiar untuk Kalea, yang dulunya sering ia datangi untuk sekedar bersapa ria dengan orang tua pemilik rumah.
"Ih kok kesini sih, Pa! Katanya mau makan malam bareng."
"Iya Kalea, di sini tempat makan malam barengnya. Sama keluarga Adam."
"Kamu sudah dandan cantik gini kan sayang kalau nggak ketemu Adam." mamanya menimpali.
Kalea mengerucutkan bibir. Ia benar benar jengkel dengan kedua orang tuanya yang sama sekali tidak mendengar ceritanya tadi malam. Mereka malah menganggap bahwa Adam ingin membawa Kalea pulang karena khawatir, padahal jelas jelas tadi malam Adam berniat menyakiti gadis itu.
Jika tidak ada penyelamat misterius itu...
Kalea memegang bibirnya sejenak. Ia tidak tahu apa yang mungkin Adam lakukan karena emosi pada perkataan Kalea.
"Gak baik berantem lama lama karena kesalahpahaman, ayo kita masuk."
Mobil sudah terparkir, Kalea digandeng tangan mamanya dan masuk ke rumah besar itu.
"Ma, Kalea kan udah cerita kalau Adam itu minta Kalea buat donorin ginjal. Dia gak bercanda, Ma. Mama tega anak mama diperlakuin kaya barang gitu?"
"Adam sudah cerita, dia cuma main main sama kamu. Kamunya malah nganggep serius kaya anak kecil, malah ngambek marah gak jelas."
Kalea benar benar keliru, seharusnya ia tidak langsung pergi pesta dengan teman temannya. Seharusnya ia menjelaskannya dulu ke orang tuanya. Gadis itu sama sekali tidak kepikiran Adam akan curi start dan mengambil hati kedua orang tuanya. Ia pikir kemarin Adam akan fokus merawat Annie yang sakit, tidak malah membuang waktu untuk memutar balikkan fakta cerita ke kedua orang tuanya.
'Dasar laki laki b*jingan licik!' Kalea mengepalkan tangannya erat. Tapi tetap saja tidak bisa menolak pegangan kedua orang tuanya yang menggiringnya masuk.
"Adam itu sayang sama kamu." pernyataan pak Mahesa, papa Kalea, benar benar membuat Kalea mau muntah. Entah sedramatis apa Adam menceritakan kejadian singkat di rumah sakit kemarin.
Bagaimanapun juga Kalea tahu bahwa Adam maupun keluarganya tidak akan melepaskan keluarga Kalea karena mereka sedang melakukan bisnis bersama sebagai klien dan konsultan keuangan.
"Papa sama mama kan bisa bisnis aja bareng keluarganya Adam tanpa melibatkan aku. Aku kan gak harus menikah, kalian juga bisa tetap berbisnis." Kalea menghentikan langkah kakinya. Terasa berat masuk ke dalam rumah yang di kehidupan sebelumnya pernah menjadi penjara untuknya.
"Kalea sayang, ini bukan hanya tentang bisnis. Ini tentang kamu. Papa dan mama cuma bisa percayain kamu ke Adam, anak keluarga baik baik yang bisa diandalkan."
Kedua mata Kalea menatap nanar. Ya, beginilah pandangan orang tuanya pada Adam. Bagi kedua orang tua Kalea, Adam adalah lelaki dewasa yang mampu menjaga Kalea-nya yang pembuat ulah dan masih kekanakan.
Tapi mereka sungguh tidak tahu. Mereka tidak tahu apa yang pernah terjadi di kehidupan sebelumnya saat Kalea menuruti mereka dan menikah dengan Adam.
Mereka tidak tahu... dan karena di kehidupan kali ini belum terjadi, Kalea tidak bisa bilang atau ia akan diseret ke rumah sakit jiwa.
"Lagian kamu udah kenal Adam 5 tahun. Sudah sejak usiamu 17 tahun loh. Masa cuma kerena kesalahpahaman kamu ngirim surat pembatalan pertunangan. Aduh Kalea, jangan bikin malu lagi. yuk ah." Mamanya, Livia, setengah menyeret tangan Kalea menuju ruang makan megah di rumah bak istana itu. Sedangkan Mahesa mendorong pelan bahu putrinya agar terus maju.
Kalea tidak bisa menghindari makan malam dua keluarga ini.
Sialnya juga ia belum kepikiran cara untuk kabur ataupun mencegah agar Adam tidak cari muka.
Begitu mereka masuk ke dalam rumah, tuan rumah langsung berlarian menyambut. Mereka memasang wajah seolah kedatangan malaikat dari surga. Tersenyum begitu lebar dan menyapa sangat ramah.
"Kalea astaga... Tante sudah lama tidak melihatmu, kamu semakin cantik saja. Sudah besar sekarang. Aduhai, Adam pasti senang karena calonnya tumbuh dengan mempesona seperti ini."
Kalea menahan mulutnya yang hampir mengucapkan sumpah serapah. Ia ingin bilang di depan wajah ibu Adam kalau putranya itu dengan kurang ajar dan tidak tahu malunya meminta Kalea mendonorkan ginjal untuk kekasihnya yang sakit.
"Mari om, tante. Kami sudah menyiapkan menu yang om dan tante sukai. Dan tentu saja tak lupa makanan kesukaan Kalea, beberapa tadi aku sendiri yang memasaknya khusus untukmu." Adam mengulurkan tangan. Kalea menatap jijik. Ia jijik dengan tampang sok-nya yang seolah melupakan kejadian kemarin.
Livia menyenggol siku Kalea yang sama sekali tidak bergerak di depan uluran tangan Adam.
"Terima kasih ya, Adam sudah menjaga Kalea selama ini. Maaf kalau anaknya masih kaya anak kecil, Kalea memang agak dimanja karena putri bungsu kami." Livia menggenggam erat lengan putrinya, ia angkat dan arahkan agar menyambut uluran Adam.
Adam langsung menggenggamnya. Dalam sepersekian detik sengaja mengeratkan dan membuat Kalea merasa sakit. Seolah menegaskan pada gadis itu untuk tidak bermain main sekarang.
"Tidak masalah, Tante. Wajar kok, bagi saya Kalea memang masih seperti gadis kecil dan akan selalu menjadi gadis kecil yang saya lindungi. Lagipula Kalea belum lulus kuliah, mungkin karena pergaulannya. Om dan Tante juga tidak bisa selalu mengawasinya karena sibuk bekerja."
Kalea melotot tajam. Berani sekali b*bi ini mengomentari pergaulannya.
"Adam pengertian sekali ya."
Adam tersenyum lembut. Basa basi di ruang tengah diakhiri dengan pujian itu. Dan Kalea benar benar muak, ingin muntah sekarang. Perutnya mual. Ia merasa takut. Bagaimana jika kehidupan kedua ini sia sia... Bagaimana jika semua terulang lagi seperti rekaman kaset rusak.
"Hari ini jangan mempermalukan dirimu sendiri. Kita selesaikan masalahnya sendiri, jangan libatkan orang tua." Adam berbisik pada Kalea di sampingnya setelah memastikan bahwa para orang tua sudah jalan duluan di depan.
"Dari awal yang ngelibatin orang tua itu elo! Ngapain lo cerita yang enggak enggak ke orang tua gue?!" Kalea balas berbisik, tapi dengan nada tajam menahan marah. Gadis itu juga berusaha melepaskan tangannya yang digenggam erat oleh Adam.
"Karena kamu mengirim surat pembatalan ke meja rapat papaku. Kamu duluan yang berulah, Kalea."
Kalea mengalihkan wajah, tidak bisa mengelak.
"Tapi kan elo sendiri juga bilang mau memutuskan pertunangan kita saat di rumah sakit. gue cuma melangkah duluan dengan surat pembatalan. Karena tau lo bakal bilang kaya gitu demi Annie!"
"Berhenti ngambek tidak jelas karena hal sepele begitu, Kalea. Kamu sendiri tahu aku bilang begitu karena emosi."
Kalea menghentakkan tangannya. Ia sudah cukup muak adu mulut tidak penting dengan Adam. Gadis itu menyusul kedua orang tuanya, lalu duduk di kursi yang paling jauh dari Adam.
Acara makan malam bersama terasa menyesakkan untuk Kalea meskipun di depannya terhidang hampir seluruh makanan kesukaannya. Gadis itu hanya mengambil steak separuh di piring dan makan dengan cepat. Pembicaraan tentang pertunangan juga belum terjadi, kedua orang tuanya sedang membicarakan bisnis tekstil mereka yang berada di Kanada.
Baru setelah selesai makan, orang tua Adam yang menyinggung pertama.
"Kalau begitu bukankah lebih baik segera dilangsungkan saja? Adam juga sudah mulai belajar bekerja. Mungkin beberapa tahun lagi saat saya pensiun Adam-lah yang menggantikan saya berbincang bisnis ini dengan Pak Mahesa."
Kalea melotot. Ia sudah kebanyakan melotot karena kesal hari ini sampai takut bola matanya keluar.
HEI APANYA YANG DILANGSUNGKAN?! OGAH!
"Kalau saya sih oke saja, Pak. Tapi papanya Kalea ingin setidaknya Kalea lulus dulu. Biar jadi sarjana dulu, biar setara dengan Adam." Livia yang menjawab celetukan itu.
"Aduh... menjadi sarjana untuk perempuan tidak penting, Bu. Yang penting bisa dandan, bisa melayani suami saja sudah cukup. Kalea akan jadi nyonya rumah juga, tidak perlu jadi sarjana dulu. Sayang, gak dipakai nanti ilmunya. Kalau cuma buat setara, yang penting kan setara cintanya."
Demi Tuhan Kalea ingin melempar garpu di tangannya ke orang yang bilang sarjana untuk perempuan tidak penting. Seolah pendidikan tinggi hanya untuk lelaki saja. Begini begini, meskipun hanya dari kampus biasa, Kalea lulus ujian masuk tanpa menggunakan uang maupun koneksi tahu!
"Iya, om, tante. Saya juga tidak masalah. Malahan kalau Kalea sudah jadi istri saya, saya bisa membantunya supaya cepat menyelesaikan studinya. Jadi Kalea bisa cepat lulus dan fokus jadi nyonya rumah."
Sekarang Kalea ingin melempar pisau ke wajah Adam.
"Wah lagi makan bersama ya? Kok aku nggak dipanggil?"
Seluruh wajah tertoleh ke asal suara dari seseorang yang tiba tiba datang dari tangga lantai atas.
Selain mencuri perhatian dengan kalimatnya yang tiba tiba. Ia juga memiliki fisik yang tidak bisa diabaikan. Seorang lelaki dengan fisik yang tinggi, ramping, layaknya model terkenal. Wajahnya sangat tampan, dan rambutnya blonde? Sangat jarang laki laki cocok dengan warna rambut itu. Mungkin karena kulitnya putih pucat yang membuatnya sangat menyatu dengan penampilan bak pangeran Yunani kuno itu.
Hanya, bukan itu saja yang membuat Kalea tercengang. Terlepas dari betapa menakjubkan fisik lelaki di depannya. Kalea sungguh tahu siapa dia.
Tidak, Kalea tidak tahu namanya. Tidak pula tahu siapa identitasnya.
Hanya saja...
Dia itu kan yang kemarin malam! Meskipun remang karena hanya diterangi lampu jalanan dan pandangan Kalea mengabur karena mabuk dan tangis.
Tapi Kalea yakin dia adalah pria itu!
Pria yang...
Kalea menyentuh bibirnya.
Lelaki itu turun dengan santai ke bawah, duduk di salah kursi di samping Adam.
"Bisa tolong siapkan makanan buatku? Aku belum makan dan sepertinya acara makan makannya sudah berakhir. Mungkin kedua orang tuaku lupa karena aku tidak pernah ada di rumah sebelumnya." ujarnya kemudian dengan sangat santai.
Seolah pandangan tak suka itu sudah biasa ia terima. Lelaki itu kemudian menatap lurus ke arah Kalea yang sama sekali tidak melepaskan pandangannya. Tersenyum manis seperti pada orang yang pertama kali ia temui. Seolah lupa tentang kejadian tadi malam.