"Kenapa kau di sini?!" suara tajam Adam tidak hanya menginterupsi lelaki yang baru saja duduk itu tetapi juga pembantu yang sedang menyiapkan sepiring makanan untuknya.
Tatapan Adam bukan hanya sekedar tidak suka, tapi sudah terlihat begitu penuh kebencian. Selaras dengan itu, orang tua Adam juga terlihat tidak nyaman. Benar benar situasi yang ganjil untuk Kalea. Hal seperti ini tidak pernah terjadi di kehidupan yang sebelumnya.
"Aku makan. Kau tidak lihat?" lelaki misterius itu menjawab sarkastik. Lalu mulai menyendok nasi.
"Kau kan bisa makan di kamarmu!" Adam tidak bisa menahan nada tinggi dalam suaranya.
"Aku juga bisa makan di sini." lagi lagi, bertolak belakang dengan emosi Adam yang seperti siap meledak, lelaki misterius itu nampak tenang dan santai. Tidak terbawa suasana tegang yang Adam ciptakan.
Adam hampir berdiri dan seakan hendak menggunakan kekerasan untuk mengusir lelaki itu jika tidak segera ditahan oleh ibunya. Ibu Adam dengan sedikit tekanan meminta Adam untuk duduk tenang. Mengode dengan mata, bahwa ada tamu sekarang, jangan buat keributan.
"Dia anak lelaki kedua kami. Memang attitude nya kurang baik karena selama ini tinggal di luar negeri untuk kuliah." mama Adam menjelaskan dengan lebih baik.
Yang dikenalkan sebagai anak kedua dengan attitude kurang baik tidak bergeming. Hanya tersenyum singkat. Senyum yang penuh arti tapi juga terasa ganjil.
Kalea sendiri langsung saling pandang dengan orang tuanya. Ini hal baru yang mereka tahu setelah lebih dari lima tahun kenal keluarga Adam. Bagaimana mungkin mereka tidak pernah menceritakan anak laki laki yang umurnya terlihat dekat dengan Adam ini seolah ia tidak ada. Anak kedua keluarga ini?! Malah selama ini mereka pikir Adam adalah anak tunggal.
"Elric, perkenalkan dirimu dulu." mama Adam berbicara dengan nada datar.
Lelaki misterius itu meletakkan sendok dan garpunya.
"Saya Elric Adnan Vernando. Anak bungsu keluarga ini. Sudah 5 tahun saya tinggal di Amerika, kuliah jurusan bisnis dan teknologi. Untuk pertanyaan lain akan saya jawab setelah makan."
"Itu tidak sopan, Elric!" papanya berseru tegas. Kali ini menunjukkan emosinya.
"Tidak apa apa, Pak. Tidak apa apa. Sepertinya Nak Elric sangat lapar." pak Mahesa menengahi. Tidak ingin ada keributan lebih lanjut akibat kedatangan putra kedua yang sedikit tidak sopan.
Kalea mengerjap. Benar benar lelaki yang aneh. Penyelamatnya tadi malam ternyata putra kedua dari Corp Group?! Tidak, dia adalah adik Adam! Tentu saja dia mengenal Adam. Jadi tadi malam, itu bukanlah ketidaksengajaan?
Kalea meremas tangan. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan. Tapi pria itu bilang untuk bertanya setelah ia selesai makan.
"Lebih baik kita keluar saja, berbincang di taman. Mari, biar kami siapkan teh dan kopi." nyonya rumah memberikan arahan yang logis.
Semuanya sepakat untuk berdiri. Adam pun merasa puas dengan saran ibunya. Meninggalkan Elric, sang pengganggu, adalah pilihan yang tepat.
"Aku di sini saja."
Kini hampir semua kepala, kecuali Elric, tertoleh ke arah Kalea.
"Aku penasaran dengannya, aku ingin bertanya soal bagaimana kuliah di Amerika. Aku akan menunggunya selesai makan." jelas Kalea menjawab tatapan penuh tanya kedua orang tuanya.
Tidak ada yang bisa menentang keras kepala Kalea. Kedua orang tuanya juga takut gadis itu membuat masalah lain yang membuat malu mereka, jadi untuk hal sederhana seperti ini mereka terpaksa mengiyakan.
Sedangkan yang lain, tetap pergi ke taman termasuk Adam. Bagi Adam, tanpa kehadiran Kalea, ini adalah kesempatan untuknya mendesak orang tua Kalea agar segera memilih tanggal pernikahan. Menjerat Kalea dalam jeruji pernikahan agar gadis itu tidak bisa main main lagi dengannya. Baru obrolan soal donor ginjal bisa Adam lakukan lagi setelah Kalea menjadi miliknya.
Semuanya pergi ke taman yang terletak di halaman rumah. Taman dalam ruangan yang indah penuh bunga sangat cocok dengan tema obrolan 'pernikahan' yang ingin dilontarkan Adam.
Sedangkan Kalea ditinggal sendiri berdua dengan lelaki misterius itu. Yang kini ia tahu namanya, Elric Adnan Vernando. Nama yang mudah diingat dan sejujurnya sesuai dengan fisik menawannya.
"Jadi, mau tanya apa? Soal kuliahku ya." Elric meletakkan sendok dan garpunya. Ia sudah selesai makan. Tatapannya lurus langsung menembus ke wajah Kalea yang tiba tiba saja memerah karena teringat kejadian tadi malam.
"Kamu... Kamu tidak lupa yang kamu lakukan tadi malam kan?!" Kalea langsung menembak pertanyaan tanpa basa basi lagi. Ia bahkan tidak mau pura pura bertanya soal kuliah Elric di Amerika seperti alasan yang ia bilang ke orang tuanya.
"Soal jaket dan sepatuku yang harus kamu kembalikan atau soal ciumannya?" ia balik bertanya, dengan sangat santai.
Wajah Kalea memanas. Ia tidak menyangka bagi Elric ciuman itu bisa diucapkan dengan begitu mudahnya.
Dan tunggu, itu memang intinya tapi bukan soal itu!
"Jadi sebenarnya tadi malam kamu sudah tahu siapa aku?"
"Tentu saja. Mana mungkin aku tidak tahu gadis yang dijodohkan dengan kakakku."
"Tapi kenapa kau malah melakukannya?!"
Elric menautkan tangannya. Mencondongkan tubuhnya ke depan seakan sedang fokus menerka nerka maksud pertanyaan Kalea.
"Aku hanya menyelamatkanmu." jawabnya, logis.
Kalea mengacak rambutnya frustasi. Ia tahu itu, tapi bukan itu maksudnya. Elric menatapnya bingung, sungguh tidak paham.
"Tadi malam, kenapa kamu bisa ada di sana, kenapa tepat sekali kamu bisa menyelamatkanku di gang itu?!"
"Karena aku mengikuti Adam. Aku menemukan jalan pintas lain untuk sampai lebih cepat ke gang buntu itu dari pada Adam." Elric menjawab seadanya.
"Kenapa kamu mengikuti Adam?!" Kalea bertanya lagi.
Elric terlihat terdiam sejenak. Seolah menimbang jawaban paling aman yang bisa ia lontarkan.
"Iseng."
Gadis itu menepuk keningnya.
"Iseng? Hanya karena iseng?! Jangan bilang kau mencuri first kiss ku juga karena iseng?!"
"Aku sudah bilang kemarin kalau aku tidak terpikirkan cara lain." Elric menjawab seadanya lagi. Mengulang jawabannya yang kemarin. Konsisten.
Dan Kalea lagi lagi seperti kemarin. Tetap tidak puas dengan jawaban Elric. Ekspresi Kalea sangat jujur. Dan Elric bisa membacanya.
"Memangnya kamu pikir kenapa? Jangan jangan kamu berfikir aku menciummu karena suka pada pandangan pertama atau seperti pangeran penyelamat di kisah cinta klise novel murahan begitu? Hal seperti itu tidak akan terjadi di dunia nyata." jawaban Elric begitu menohok. Tanpa pertimbangan sama sekali.
"Aku tidak berfikir begitu!" Kalea berseru keras hingga berdiri dari duduknya. Ia tidak terima dengan tuduhan Elric.
Tapi di sisi lain...
Sepertinya yang dibilang Elric benar.
Hanya saja, muka songong nya yang mirip Adam itu menyebalkan.
"Bagus kalau tidak. Jadi yang kemarin clear kan? Bisa diterima?" Elric menegaskan.
Kalea meliriknya. Jujur saja, meskipun Elric adalah adik Adam, ia terlihat berbeda. Elric jauh lebih tampan, dari permainan kata katanya ia juga terlihat cerdas.
"Usiamu berapa?" Kalea bertanya lagi.
"24 tahun. Kamu?" Tidak disangka Elric balik bertanya.
"22 tahun. Aku kuliah semester akhir. Ngomong ngomong aku tidak pernah tahu tentangmu. Adam maupun orang tuamu tidak pernah cerita kalau mereka punya anggota keluarga lain."
Elric tersenyum tipis. Senyuman yang seakan penuh arti.
"Karena aku kuliah di luar negeri. Beasiswa. Mungkin mereka lupa."
Lupa?! Hei mana mungkin ada orang tua yang melupakan anaknya?!
"Dan juga tidak penting membicarakan anak lain di depan calon menantu keluarga ini."
Lagi lagi Kalea merasa Elric selalu memberikan jawaban yang 'masuk akal' tapi tidak jujur. Kalea tidak bisa protes. Itu juga bukan urusannya tentang kenapa Elric bisa dilupakan oleh keluarganya sendiri.
"Lalu berarti sekarang kuliahmu sudah selesai?"
Elric mengangguk kecil. Melihat jam tangannya. Kalea tahu ia akan segera pergi karena sudah selesai makan.
Tapi Kalea memiliki perasaan untuk tidak melepaskan Elric. Banyak yang ingin ia obrolkan. Baginya Elric ini adalah entitas yang tidak dikenal, yang tidak ada di kehidupan masa lalunya.
"Apa kamu akan kembali ke Amerika?" Kalea bertanya lagi.
"Bisa iya bisa tidak. Tergantung."
Jawaban yang aman lagi.
"Tergantung apa?"
"Tergantung situasi."
"Situasi bagaimana yang membuatmu tidak perlu kembali ke Amerika?"
"Entahlah mungkin kalau aku tiba tiba dapat pacar di sini." Elric tersenyum misterius, menjawab asal.
Kalea melebarkan mata. Apa Elric sedang mengetesnya? Kenapa jawabannya mengarah ke hal itu?
"Tidak mungkin orang sepertimu tidak punya pacar." celetuk Kalea.
"Memangnya menurutmu aku orang yang seperti apa?" Elric balas bertanya, senyuman tipisnya masih terkembang di wajahnya yang menawan.
"Orang yang aneh. Tapi penuh daya tarik. Kamu terlihat cerdas dan fakta kamu mendapat beasiswa kuliah di Amerika itu jadi validasinya. Lalu fisikmu itu keterlaluan, hei kau pasti jadi model di Amerika?! Dan..." Kalimat Kalea menggantung. "Dan ci... ciumanmu tadi malam. Itu benar benar mengganggu. Kamu pasti berpengalaman!"
Melihat wajah memerah Kalea membuat Elric tidak bisa menahan tawanya.
"Kamu berfikir begitu? Haha... Padahal itu juga ciuman pertamaku. Sepertinya aku punya bakat."