6. Pilihan Kalea

1416 Words
Belum sempat Kalea menanggapi jawaban menyebalkan Elric, orang tuanya sudah kembali dari taman dengan wajah yang sumringah. Kalea pikir mungkin karena pembicaraan bisnisnya berjalan lancar. Tapi wajah senyum penuh kemenangan Adam di belakang membuat Kalea curiga. Apalagi dengan sangat tiba tiba Adam mempercepat langkahnya dan langsung memegang tangan Kalea dengan lembut, seolah penuh kasih sayang. "Kalea, pacarku... kami sudah membicarakan soal tanggal pernikahan kita. Aku berhasil membujuk ayahmu supaya mempercepatnya tapi sepertinya om khawatir kuliahmu tidak selesai. Jadi sudah diputuskan kalau pernikahannya akan diadakan tepat di hari kelulusanmu." Hah? Kalea memasang tampang cengo. Ia harap ia salah dengar sekarang. Tapi wajah lega orang tuanya dan wajah Adam yang begitu antusias membuat Kalea sadar bahwa ini sudah diputuskan. Tidak mau! Kalea ingin berteriak begitu. Tapi ia tidak bisa. Ia harus punya alasan yang logis untuk menolaknya. Gadis itu memutar otaknya dengan kecepatan cahaya, memerasnya dengan maksimal dan mencari trik apa yang bisa digunakannya untuk kabur dari situasi ini. Sesuatu yang bisa merubah keputusan dari dua keluarga ini. Dan Adam... Jangan dengan lelaki kejam ini... Kalea mohon. Ia tidak mau menghadapi akhir tragis hampir mati di gudang penuh tikus. Kalea menatap nanar mengingat kejadian di kehidupan sebelumnya, lalu ujung matanya menangkap sesuatu. Seseorang... yang sudah berdiri dari kursinya karena sudah tidak ada yang hendak ia lakukan lagi. Kalea langsung mengibaskan tangan Adam. Dan berlari ke arah seseorang yang dianggap 'orang asing' di rumahnya sendiri. Seluruh pasang mata mengikuti arah lari Kalea. Gadis itu, dengan tubuh kecilnya, jika dibandingkan dengan Elric, bersembunyi sambil memegang lengan Elric. "Kamu ngapain?" Elric bertanya cepat. Ia rasa ada yang salah di sini. Kenapa gadis yang baru saja dilamar malah berlari dan bersembunyi ke arahnya. "Aku..." suara Kalea meninggi. "Aku suka dengan dia!" teriaknya. Pernyataan tak berdasar Kalea membuat seluruh orang di rumah ini tercengang. Begitupun dengan Elric yang mendelik dan menoleh cepat ke arah sang gadis. "Aku... Maaf Adam... sepertinya aku sudah tidak mencintaimu lagi jadi aku ragu, kurasa aku tidak bisa menikah denganmu." Kalea mengusap ujung matanya yang berair. Elric tahu itu air mata tipuan, air mata buaya gadis yang hendak menyeretnya ke masalah yang rumit. "Kalea! apa yang kau katakan?!" Livia berseru tertahan. Ia sudah sangat malu dengan cara Kalea memutuskan pertunangannya kemarin dan sekarang gadis itu malah membuat ulah yang lebih memalukan lagi. Kalea mencengkeram ujung kaos lengan Elric. Gadis itu merasa panas sekarang, panas karena malu. Ia bahkan tidak berani mendongak untuk melihat bagaimana ekspresi Elric. Tapi kepalang tanggung. Hanya ini yang terpikirkan oleh otaknya. "Aku jatuh cinta pada pandangan pertama padanya. Maaf Adam maaf... tapi bagiku menikah tanpa cinta itu tidak mungkin. Elric... bukankah dia juga anak keluarga ini? Dia juga bisa jadi calon yang cocok untukku. Dan sejujurnya dari segi fisik dan kecerdasan kurasa Elric lebih baik. Apa papa dan mama tahu? Elric ini lulusan universitas terkenal di Amerika dan dia mendapat beasiswa karena kecerdasannya. Dia benar benar calon yang sempurna untuk aku yang kurang pintar, kan?" Kalea berusaha keras menahan suaranya tetap stabil. Supaya, meskipun terdengar kekanakan, ia tetap bisa meyakinkan semua orang. "Kamu ini bicara ngawur apa..." Elric bergumam pelan, berbisik ke arah Kalea. Ia pun tidak kalah terkejut dari semua orang yang ada di sini. Tiba tiba saja diseret oleh drama aneh gadis ini. Tapi... Raut wajah Adam sekarang merah padam. Seakan menahan malu, dan juga terlihat sangat marah sampai giginya bergemeletuk. Hei itu sangat menarik bagi Elric. "Apa maksudmu Kalea? Lebih baik dariku? Anak ini?!" Suara Adam menggelegar, menunjuk tepat di depan wajah Elric. Tidak hanya Adam yang tersulut emosi oleh pernyataan Kalea. Kedua orang tua Adam juga begitu. Mereka yang selama ini tidak pernah melihat keberadaan Elric merasa tidak terima dengan pernyataan Kalea. Papa dan mama Kalea yang bisa mengendus bau 'masalah' langsung mendekat ke anak gadisnya dan menyeretnya menjauh. Kalea menggeleng kuat kuat, gadis itu memeluk erat lengan Elric seakan tidak mau dipisahkan. "Aku tidak mau! Pokoknya aku maunya dijodohkan dengan Elric. Aku sukanya dia Pa, Ma... Aku ingin menikah dengan lelaki pilihanku sendiri. Sudah cukup aku diatur atur sejak kecil. Aku sudah dewasa sekarang. Biarkan aku memilih." Air mata Kalea berderai. Gadis itu mengingat kehidupan tragisnya agar bisa mengeluarkan air mata secara alami. Jawaban Kalea yang sebenarnya hanya 'ngasal' karena panik malah menyentuh relung rasa bersalah kedua orang tuanya. "Ini pertama kalinya aku menginginkan sesuatu... ini terkait masa depanku... Kenapa... kenapa bahkan aku tidak boleh memilih lelaki yang kucintai..." suata Kalea memelan... berseru parau. Seluruh orang yang melihatnya, kecuali Elric, pasti merasa bersimpati dengan kalimat yang gadis malang itu ucapkan. "Kalea..." Livia memanggil pelan. Sekarang anak gadisnya terlihat ketakutan, bersembunyi di balik tubuh Elric yang sedari tadi hanya berdiri pasrah. Sedangkan Adam. Ia seakan merasa dejavu. Dejavu bahwa hal seperti ini pernah terjadi dahulu. Ia menatap penuh amarah Elric, kedua tangannya mengepal erat bahkan kukunya sampai tertancap ke telapak tangannya. "Ma, kalau Kalea sudah memutuskan mau bagaimana lagi. Ini bukan hal yang bisa dipaksakan." Pak Mahesa menengahi. Ia akhirnya mengalah. Dari awal kelemahannya adalah Kalea. Pak Mahesa tidak bisa melihat Kalea yang menangis. Apalagi jika menyangkut masa depannya dan orang yang anaknya cintai. "Aduh, tapi Pa... Kalea itu masih polos. Dia mungkin hanya merasa suka dengan wajah nak Elric. Kalea terlalu sembrono." Livia menentang. Wanita itu tetap berfikir bahwa Adam adalah pilihan terbaik untuk anak gadisnya. "Elric juga anak dari keluarga ini, Ma. Papa yakin Elric juga bisa menjaga Kalea seperti Adam. Elric pasti juga lelaki yang baik, karena Kalea sudah memilihnya. Tapi itupun jika Nak Elric bersedia." Ah benar juga. Kalea tahu bahwa intinya adalah keputusan lelaki ini. Seluruh drama memalukan ini tidak akan berguna jika Elric menolak. Seluruh pasang mata kini terarah pada lelaki berambut blonde itu. Elric sejenak melirik ke arah keluarganya, pada Adam dan kedua orang tuanya. Ia bisa membaca ekspresi itu. Ekspresi yang mengatakan supaya ia menolak, ekspresi marah yang meminta Elric untuk enyah, pergi, dan tidak ikut campur. Ha! Ini kesempatan. Elric tersenyum penuh arti. Lelaki itu meraih tangan Kalea yang masih memegang lengannya. menautkannya, membawa Kalea lebih mendekat. "Baru pertama kali ada gadis yang mengatakan bahwa ia menyukai saya setulus ini. Kalau begitu saya pun mungkin akan mencobanya. Saya rasa, saya juga tertarik pada Kalea. Tapi, apakah saya boleh menggantikan posisi kak Adam hanya karena Kalea memilih saya? Jika kak Adam tidak keberatan, demi kebahagiaan Kalea... saya meminta izin untuk berada di sisinya." kalimat yang dilontarkan Elric terdengar begitu tulus dan bertanggung jawab. Ia seperti lelaki yang tidak mau melihat seorang gadis merasa malu dan berusaha melindungi harga dirinya. Tapi di mata dan telinga Adam, Elric sekarang sedang mengajaknya berkelahi. Dari bahasa tubuh saja, Adam sudah hampir meledak dibuatnya. Jika tidak ditahan oleh ibunya, mungkin Adam sudah menarik kerah baju Elric, membantingnya, dan memukulinya karena menghancurkan rencananya yang sudah ia bangun selama 5 tahun. Pak Mahesa tersenyum lega mendengar jawaban Elric. Kemudian ia memutar badan ke arah kedua orang tua Adam. "Maafkan anak gadis saya yang terlalu ceroboh. Tapi soal perasaan, saya benar benar tidak bisa memaksanya." Kehilangan kesempatan dan kata kata untuk menolak, akhirnya kedua orang tua Adam tidak punya pilihan selain mengangguk. "Mau bagaimana lagi... Kalea masih muda. Dia berhak memilih." Adam menahan diri untuk tidak menggeram mendengar jawaban papanya. Meskipun Adam sendiri tahu bahwa memang tidak ada kalimat yang lebih baik dari itu untuk situasi tak terkendali ini. "Maafkan Kalea ya, Nak Adam." Sedetik kemudian Adam langsung mengubah ekspresinya. "Saya baik baik saja, Om. Tapi maafkan saya juga saya tidak bisa menyerah pada Kalea. Sepertinya saya harus berusaha lebih keras meluluhkan hati Kalea lagi." Tubuh Kalea menegang saat tatapan Adam menajam ke arahnya. Elric mengeratkan genggaman tangan, seakan memberi pesan pada Kalea untuk tidak gentar terhadap pilihannya. "Kalau nak Adam tidak menyerah, biarlah Kalea yang memutuskan di akhir nanti. Karena siapapun yang dipilih Kalea kami tetap merasa tenang jika itu berasal dari keluarga ini." "Benar, mari kita tetap menjalin hubungan baik, Pak Mahesa." Kalea mengigit bibir bagian dalamnya. Apakah ia harus bersyukur sekarang? Ia sudah bisa kabur dari situasi 'tanggal perjodohan'. Tapi sekarang ia berada dalam situasi 'memilih jodoh'. Diantara semua pria di dunia ini, Kalea tidak tahu kenapa pilihannya hanya terbatas pada dua bersaudara dari keluarga ini. Kalea mendongak, menatap wajah Elric yang selalu terlihat tenang. Tangan Elric masih menggenggamnya. Tangan yang besar dan sedikit kasar karena kapalan. Ah tapi tetap saja, dia memang punya wajah yang bisa dipamerkan. "Kamu berhutang penjelasan padaku." Elric berseru lirih, hanya Kalea yang mendengarnya. Glek! Kalea rasa ini bukanlah solusi. Bagaimanapun Elric adalah adiknya Adam. Bagaimana jika mereka punya sifat yang mirip? Ahh bukankah ini namanya keluar kandang singa masuk mulut buaya?!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD