9. Kesepakatan

1474 Words
"Elric, kamu dulu pernah bilang tidak suka dengan gadis berd*da rata, apa itu masih berlaku?" "Ya begitulah. Kenapa?" "Jadi kalau padaku, kira kira berapa persen kemungkinan kamu bisa suka aku?" Elric menggaruk tengkuk. Tiba tiba saja mendapat pertanyaan yang mirip dengan pernyataan cinta. "lima persen." Elric menjawab setelah berfikir sejenak. Meskipun menohok, tapi itu jawaban yang Kalea inginkan. Artinya, Elric adalah orang yang tepat untuk sandiwara menjauhkan diri dari Adam! "Tapi menurutmu aku cantik nggak?" Kalea kembali bertanya. Kali ini tanpa arti, pertanyaan iseng saja. Elric menatapnya lama. Sejujurnya wajah seperti Kalea sudah biasa ia lihat di kelasnya sewaktu kuliah di Amerika. Mata almond yang terlihat besar dan dihiasi bulu mata panjang dan alis yang melengkung indah, pipi tirus, kulit putih kemerahan, hidung mancung tapi kecil, rambut panjang sedikit bergelombang, bibir tipis dan merah alami, serta tubuh yang kecil yang ia pikir jika dipeluk sedikit erat bisa hancur dengan mudah. "Secara teori, kamu cantik." jawab Elric. Memang inilah laki laki misterius yang ia kenal, Elric ini selalu menjawab dengan menyebalkan pertanyaan sederhana, tapi Kalea tidak bisa membencinya. "Jangan secara teori, tapi menurutmu. Aku ingin tahu pendapatmu secara subyektif." Elric menunjukan jempolnya. "Cantik." "Berapa persen? Apa aku tipemu?" Kalea mendesak lagi. Ekspresi Elric sama sekali tidak berubah, datar saja padahal mendapatkan pertanyaan yang harusnya bisa membuat sedikit bersemu malu. "Tipeku kan gadis berd*da besar. Kamu gak masuk kriteria." Dan jawaban menyebalkannya selalu tepat sasaran. Membuat Kalea langsung insecure dengan tubuhnya yang seperti anak kecil. Kalea ingin memukul Elric sekarang. Perubahan ekspresi Kalea membuat Elric tertawa. Bisa bisanya gadis itu memanyunkan bibirnya sambil melihat bawah, ke tonjolannya yang rata. Kalea mendongak. Menatap Elric. Karena dia makin tampan saat tertawa, jadi Kalea urung memukulnya. "Ayo kita pergi cari makan, Nona. Dan ceritakan tentang rencanamu melibatku di ruang makan sepuluh hari yang lalu." Elric mengulurkan tangan. Dengan senang hati, jika itu tangan Elric, Kalea menyambutnya. "Sebenarnya aku sudah mau menjelaskan di malam itu juga melalui chat atau telepon, tapi kamu tidak membalas pesanku. Memangnya sesulit itu ya membaca lalu mengetik balasan? gak bakal sampai 5 menit, selesai." Elric mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Menjawab tanpa kata kata. Ponsel keluaran terbaru dengan harga yang masih sangat mahal. Kalea yang sering mengikuti tren ponsel tahu sekali harganya dan ponsel itu layarnya retak parah. Hingga dihidupkan saja tidak bisa. "Kok bisa sampai seperti ini? Jatuh?" Kalea bertanya. "Iya, begitulah." "Ponselnya saja yang jatuh atau kamu juga?" Kalea bertanya. Ia melihat lurus ke wajah Elric. Berusaha membaca ekspresinya. "Hanya... ponselnya. Jangan khawatir." Dan tentu saja Elric tidak mengatakan yang sebenarnya. Lelaki 24 tahun itu hanya tersenyum tipis. Memastikan bohongnya tidak ketahuan. "Kalau gitu nanti kita mampir ke konter saja buat diperbaiki. Apa di sini ada data yang penting? Ah tapi seharusnya ganti LCD tidak perlu sampai hapus data. Eh tunggu, 10 hari yang lalu ponselmu mu rusak? Kenapa tidak langsung diperbaiki?!" tanya Kalea menyadari sesuatu. "Aku kepikiran untuk beli baru saja setelah menemuimu. Lalu langsung meminta nomor teleponmu lagi." "Cih dasar orang kaya." Kalea menyindir. Padahal orang tuanya juga kaya, tapi uang jajan Kalea tidak sebanyak itu sampai lebih memilih beli baru daripada memperbaiki LCD ponsel keluaran terbaru. ~~~ Setelah selesai makan dan membeli ponsel baru (yang harganya membuat Kalea tak habis pikir dan jadi bertanya tanya berapa uang saku Elric), Elric membawa Kalea ke taman bunga yang tidak jauh dari rumah makan. Ia rasa lebih menyenangkan bicara di depan bunga bunga mawar yang mekar daripada di depan tumpukan piring kotor. Ngomong ngomong sejak tadi mereka sebenarnya berangkat menggunakan sepeda ontel. Elric tidak terbiasa menyetir mobil, ia membawa kebiasaannya saat masih tinggal di Amerika. Kemana mana dengan sepeda ontel yang baru ia beli. Kalea bersyukur ia punya tubuh yang kecil, jadi tidak merasa bersalah karena duduk dibonceng di belakang. Elric terlihat tidak kesulitan mengayuh pedalnya. Mereka duduk di salah kursi taman bunga yang ada di tengah taman, memastikan di sekitarnya tidak ada siapapun. Kalea duduk di sebelah Elric, ada jarak satu setengah jengkal diantara keduanya. "Jadi pertama tama karena kamu bilang sudah membaca chatku kamu tahu kan kalau aku sejujurnya merasa bersalah karena tiba tiba melibatkan mu." Kalea membuka obrolan tentang kejadian sepuluh hari yang lalu di ruang makan rumah Adam. "Iya, aku sudah memafkanmu soal itu. Lalu sekarang lanjutannya bagaimana?" Elric ingin langsung ke intinya. "Nah itu masalahnya. Karena waktu itu kamu mengiyakan pernyataan cintaku bahkan sampai bilang mau menggantikan posisi Adam, orang tuaku jadi berfikir bahwa kamu lagi nge ghosting aku selama sepuluh hari ini. Kamu di-cap sebagai laki laki yang kurang baik sekarang di keluargaku." Kalea menghembuskan nafas lelah. Menceritakan tentang desakan orang tuanya akan lelaki yang ia pilih. Elric mengangguk angguk. Itu masuk akal. "Jadi sekarang kita resmi jadi pasangan?" tanya Elric kemudian. "Iya pasangan, tapi pura pura aja sampai Adam nyerah. Lagian aku bukan gadis tipemu. Dan meskipun kamu tipeku, aku sejujurnya tidak mau berurusan lagi dengan laki laki dari keluarga Corp Group, aku tidak mau jadi adik iparnya Adam. Pokoknya aku gak mau sama siapapun dari keluargamu. Titik. Mau itu saudara lain yang tiba tiba muncul, atau sepupumu, atau bahkan supir pribadimu. Aku tidak bakalan mau." tegas Kalea panjang lebar. "Baiklah terserah. Bukan masalah. Lalu aku dapat apa dari hubungan pura pura ini?" Kalea menggaruk pipi. Yeah, tentu saja ia tidak berencana memanfaatkan Elric secara cuma cuma. "Meskipun bagimu tidak banyak, aku akan membayarmu dengan 40% uang jajanku tiap bulan. Segini" Kalea menjelaskan. Menunjukkan nominal uang yang memang benar bagi Elric itu sedikit. Elric menutup mulutnya. Menahan tawa, gadis yang bahkan masih kuliah ini mau menyewanya sebagai pacar pura pura dengan bayaran UMR. Manisnya... "Apa kurang?" Kalea bertanya ragu ragu. Agak kesal dengan ekspresi Elric yang seolah mengejek nominal yang ia tawarkan. "Bagaimana jika kita saling memanfaatkan saja? Bagiku uang bukan masalah. Aku tidak butuh uangmu." "Saling memanfaatkan bagaimana?" tanya Kalea, agak waspada. Ia tidak mau kalau FWB (Friend with benefit) dimana ia menggunakan tubuhnya untuk membayar Elric. "Sederhana, sebenarnya tujuan kita mirip. Kamu ingin pura pura berhubungan denganku supaya Adam melepaskanmu sedangkan aku suka melihat Adam kesal. Bagiku itu seperti hiburan, jadi mari kita lanjutkan tanpa transaksi receh ini." Transaksi receh? Kalea menarik lagi ponselnya. Menyembunyikan nominal uang yang ia tawarkan pada Elric. Ia jadi malu sekarang. "Kalau gitu kamu gak dapat untung apa apa dong? Hubungan pura pura ini kan cuma demi tujuanku." "Aku dapat kepuasan. Kamu cukup berperan jadi dirimu sendiri sebagai kekasihku. Dan kita berdua akan membuat Adam kebakaran jenggot setiap kali bermesraan." "Tapi aku tidak mau sampai berhubungan s*ksual ya!" Kalea menegaskan satu hal. Elric mengerjapkan matanya. Padahal ia sama sekali tidak berfikir kesana. "Tenang saja, Kalea. Sudah kubilang seleraku itu yang d*danya besar. Kalau gadis yang seperti anak anak kaya kamu gini, aku tidak akan bisa berfikir kotor." Elric menepuk nepuk kepala Kalea, seperti Kalea adalah kucing kecil di matanya. Yang tidak bisa ia lihat dengan nafsu buruk lelaki. Kalea menepis. Kesal. Lagi lagi bicara soal ukuran d*da yang membuatnya merasa insecure. Tapi ini bagus. Elric setuju dan gratis lagi! Mereka akan menjadi pasangan pura pura yang saling menguntungkan. Hanya saja, dari lubuk hati terdalam Kalea harus memantapkan niatnya. Gadis itu melirik ke samping, melihat wajah Elric yang tersenyum tipis. Kalea berdoa dalam hati, semoga ia tidak jatuh cinta dengan pesona wajah tampan dan misterius dari saudara Adam ini. "Ngomong ngomong apa kamu tidak penasaran kenapa aku membatalkan perjodohan ku dengan Adam?" Kalea bertanya. Karena sedari tadi Elric tidak menyinggung poin penting itu. "Aku penasaran, tapi aku bisa menebaknya." "Ihh sok tau banget. Memangnya karena apa? Kalau salah kamu harus mentraktirku makan lagi ya." Elric tersenyum tipis. Tidak masalah. Toh ia memang harus mengajak Kalea keluar kencan supaya akting mereka meyakinkan. "Karena Adam menunjukkan dirinya yang sebenarnya padamu? Mungkin dia yang kasar dan suka memaksa, atau mungkin dia yang tergila gila dengan sahabat masa kecilnya, hm Annie ya namanya. Aku lupa." Mata Kalea membulat sempurna. Bagaimana Elric bisa tahu?! Bukankah dia ada di Amerika selama ini. Elric adalah entitas tak terduga yang muncul di kehidupannya yang sekarang. Di kehidupan yang sebelumnya, Elric ini tidak ada. Ia benar benar tidak ada dalam ingatan Kalea. Karena itu Kalea penasaran. Siapa, kenapa, dan untuk apa Elric tiba tiba muncul seperti seorang tokoh yang begitu misterius. "Bagaimana kamu tau dengan tepat Elric? Apa kamu juga..." Mengulang waktu? Kalea ingin menanyakan itu. Tapi ia tiba tiba merasa kepalanya pusing. Melalui sebuah mimpi yang terus terulang, Kalea tahu bahwa ia tidak boleh membicarakannya sampai ia tahu kenapa semesta mengirimnya ke masa lalu dengan ingatan masa depan. Apakah hanya untuk mengubah takdir hidupnya sendiri yang mati di gudang penuh tikus dalam keadaan mengenaskan setelah terperdaya oleh cinta palsu Adam. Atau untuk tujuan lain yang lebih besar. "Kenapa, Kalea? Kepalamu sakit?" Elric bertanya khawatir, meskipun nadanya datar seperti biasanya. Kalea menggeleng. Matanya menyiratkan ketakutan dan rasa penasaran akan sosok Elric. Kenapa Elric tiba tiba datang ke hidupnya, apa dia ada hubungannya dengan takdir aneh yang menimpa Kalea?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD