Sudah seminggu sejak kejadian memalukan itu.
Sejak Kalea berdiri di ruang makan besar itu dan dengan dramatis memeluk lengan Elric, mengumumkan cintanya, dan mengklaim adik Adam sebagai pilihannya.
Tapi sekarang, Elric malah menghilang.
Tak ada pesan. Tak ada telepon. Bahkan tak ada reaksi terhadap dua pesan panjang penuh rasa bersalah yang Kalea kirim malam itu.
“Apa dia membenciku? Apa Elric menganggapku gadis aneh dan tidak mau berurusan denganku lagi." Kalea bergumam, ia diliputi perasaan yang membingungkan. Di sisi lain ia ingin bertemu untuk meluruskan tindakan frontalnya tapi di sisi lain ia juga merasa malu dan tidak tahu harus mengatakan apa.
Kalea tak sanggup lagi menunggu balasan. Tapi juga tak sanggup berhenti berharap.
Aneh. Ia bahkan belum mengenal Elric dengan baik. Tapi hatinya... merasa seolah Elric sudah mengisi ruang yang tak pernah ia sadari.
Kalea pun mengirim pesan ketiga, sekaligus ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa itu akan menjadi pesan terakhir.
Jika Elric tidak membalas artinya ia tidak mau berhubungan lagi dengan Kalea dan Kalea harus mencari cara lain atau mungkin malah pria lain untuk terlepas dari status calon istri Adam.
'Kita harus bertemu, aku harus mengembalikan jaket dan sepatumu. Besok, jika kamu tidak membalas pesanku aku akan datang ke rumahmu.' -Kalea
~~~
Hari ke sembilan.
Kalea nekat berkunjung ke rumah Adam untuk menemui Elric. Ia menggunakan alasan mengembalikan charger Adam yang pernah ia pinjam dulu untuk datang kembali ke rumah itu. Sembari Kalea berharap Elric akan datang dengan mengejutkannya seperti saat makan malam keluarga.
Namun sejak masuk rumah itu, yang ia temukan hanyalah Adam dengan senyum palsunya dan sikap manis yang terasa dibuat-buat.
“Terima kasih sudah datang, Kalea,” sambut Adam dengan mata bersinar, “aku senang kamu datang… berarti kamu masih mikirin aku, kan?”
Kalea memasang senyum muak.
"Enggak, tolong jangan salah paham. Aku cuma mau ngembaliin charger doang."
"Bukannya itu cuma alasan ya? Padahal dulu aku bilang nggak usah dikembaliin." Adam tersenyum penuh kemenangan. Adam pasti berfikir bahwa Kalea modus dan sedang mengharap maaf untuknya.
"Jangan salah paham lebih jauh, Adam. Gue cuma nggak mau ada barang lo yang tertinggal di rumah gue." Kalea menggunakan bahasa yang Adam tidak suka.
"Kalau gitu artinya aku harus berusaha lebih keras lagi supaya kamu luluh. Baik, tidak masalah. Terima kasih sudah mengembalikan chargerku. Jika butuh apa apa kamu selalu boleh meminjam barang milikku apapun itu, Kalea."
Kalea tersenyum muak. Sebenarnya ia ingin menampol wajah sok baik Adam dan lekas pulang. Tapi ia tidak mau membuang kesempatan terakhir untuk bertemu Elric. Karena jika tidak sekarang, jika tidak dengan charger ini sebagai alasan, Kalea tidak akan bisa dan tidak akan mau menginjakkan kaki di rumah ini lagi.
Adam mengajaknya duduk, menyajikan teh kesukaan Kalea, membicarakan topik-topik ringan, dari film, musik, hingga pernikahan yang 'mungkin masih bisa dibicarakan kembali'. Pembicaraannya berlangsung sepihak. Fokus Kalea sama sekali tidak ada di obrolan mereka.
Kalea terus melihat ke sekelilingnya, barang kali tiba tiba Elric lewat. Tapi sudah menunggu lama, harapan itu tidak terwujud. Bahkan ketika Kalea memberanikan diri untuk bertanya, Adam hanya menjawab pendek “Nggak tahu, Elric memang suka keluyuran. Dia bukan laki laki yang baik, Kalea. Aku tahu waktu itu kamu cuma bercanda, jadi jangan buat aku mikir yang enggak enggak soal kamu dan Elric."
Yeah, Kalea juga tidak mengharapkan Adam menjawab pertanyaannya dengan jujur.
Tapi dengan ini Kalea menyimpulkan jika Adam dan Elric sama sekali tidak akur.
"Lo gak bikin masalah sama Elric kan?"
"Kenapa kamu mikir gitu? Kamu mengenalku Kalea, aku tidak mungkin melakukan hal yang jahat."
Kalea memutar mata jengah. Karena ia kenal dengan Adam makanya ia yakin Adam pasti melakukan hal yang jahat.
Kalea tidak tahan. Bagaimana mungkin ada orang yang tidak tahu diri dan tidak tahu malu sepertinya?!
"Mungkin Elric bertemu dengan teman temannya atau malah ikut kencan buta. Siapa tau dia ingin punya pacar yang bisa dijak kencan satu malam. Bagaimanapun Elric hidup di luar negeri yang pergaulannya lebih bebas."
Kalea tidak menanggapi kalimat Adam yang menjelekkan Elric. Gadis itu akhirnya hanya memainkan game di ponselnya untuk mencegah bosan.
Satu jam, batas bertahan Kalea mengobrol dengan Adam di rumahnya adalah satu jam.
Itu juga batasnya bisa menunggu Elric tanpa merasa emosional. Sekarang Kalea tahu, ia pulang dengan perasaan campur aduk. Elric tidak menemuinya, Elric tidak peduli padanya. Elric tidak butuh penjelasan dan tidak mau berurusan lagi dengannya.
Kalea sudah menyerah mengharapkan Elric mau membantu untuk kedua kalinya.
~~~
Keesokan harinya.
Kampus sedang ramai. Hari ini ada kuliah tamu dari alumni yang jadi CEO muda sukses tema kuliahnya 'Bisnis Masa Depan dan Inovasi Teknologi.'
Kalea duduk di barisan tengah. Mencoba fokus pada pemateri yang belum juga muncul.
Lalu seseorang dengan tubuh tinggi dan bau parfum gentle khas laki laki tiba tiba duduk di sebelahnya tanpa permisi. Padahal kursi di sebelah Kalea sudah ia beri tanda dengan sebotol air mineral untuk Anin, sahabatnya yang izin terlambat.
Inilah yang Kalea tidak sukai saat kuliah tamu bersama dengan mahasiswa dari kampus lain. Beberapa mahasiswa laki laki biasanya sering modus. Apalagi yang jurusan teknik, mungkin karena hanya ada sedikit gadis di kelasnya.
"Maaf, tapi tempat duduk anda sudah milik teman saya. Anda bisa pindah ke tempat lain." Kalea berseru, tanpa menoleh. Ia sedang tidak dalam mood baik untuk bertengkar adu mulut dengan mahasiswa lain yang tidak ia kenal.
"Ah begitu ya, tapi saya ingin duduk di sini. Bagaimana jika teman anda saja yang mencari tempat lain?"
Diam.
Deg!
Meskipun sudah terasa begitu lama tidak bertemu, Kalea masih mengingat frekuensi suara laki laki yang bicara dengannya ini. Suaranya rendah, renyah, dan susunan katanya sangat menyebalkan.
"Elric?"
Rambutnya kini berwarna hitam. Wajahnya lebih pucat dari biasanya, tapi tetap memikat. Ia mengenakan kemeja gelap yang rapi, celana panjang, dan ekspresi... seperti tidak terjadi apa-apa sepuluh hari yang lalu.
"Loh Kalea? Kebetulan sekali. Aku dengar kampus ini sering kedatangan pembicara keren. Aku penasaran." Suaranya ringan. Seolah baru semalam mereka terakhir berbicara.
Kebetulan? Elric adalah tukang bohong besar. Jelas jelas ini bukan kebetulan!
Kalea meremas lengannya sendiri. Ia sedang badmood belakangan ini. Bahkan mungkin hari ini puncaknya karena kemarin ia habis membuang waktu satu jam bersama Adam.
Demi seseorang...
Seseorang yang seolah tak merasa berdosa karena hilang tanpa kabar.
"Pesanku... Apa tidak masuk? Atau kamu salah memberiku nomor telepon?" Kalea bertanya pelan, namun ia tidak bisa menahan getaran dalam suaranya. Ia begitu merasa emosional sekarang. Antara kesal, bingung, tapi juga lega karena Elric secara mengejutkan datang menemuinya.
"Tidak kok, nomorku tidak salah dan pesanmu masuk."
Jawaban Elric yang santai dan seolah bukan apa apa itu membuat tingkat rasa marah Kalea memuncak.
Tapi gadis itu tetap berusaha mengendalikannya.
Ya, mereka tidak dalam hubungan apapun. Tentu saja Kalea tidak punya hak untuk menuntut kabar dari Elric.
"Lalu kenapa kamu tidak membalas pesanku?" Kalea bertanya. Ia akhirnya menoleh pada lelaki di sampingnya ini. Sedikit mendongak untuk menatap matanya.
Mata gadis ini berkaca kaca.
"Aku sibuk. Ada... urusan pribadi." Elric menjawab pelan, tanpa mengalihkan pandangan dari mata berair Kalea.
"Urusan pribadi?" Kalea mengulang pelan. "sepuluh hari gak ada kabar, itu ‘urusan’?"
Elric menatap ke depan. Senyum tipis terbentuk. "Kamu kangen, ya?" berusaha mencairkan suasana dengan bercanda.
"Nggak!" Kalea menjawab lugas.
Elric menggaruk tengkuk. Kini merasa canggung. Kalau nggak kangen ya sudah, nggak perlu langsung dijawab setegas itu juga.
"Aku khawatir..." gumam Kalea kemudian.
Sepersekian detik, terlihat kilatan dari mata Elric. Kilatan dari jantungnya yang tiba tiba berdetak kencang.
Khawatir? Kalea? Kepadanya?
"Kupikir terjadi sesuatu. Kupikir di suatu tempat Adam melakukan hal buruk padamu gara gara aku. Aku benar benar takut... jika sesuatu buruk terjadi karena kebodohanku." Kalea menutup wajahnya. Tidak bisa mengerem air matanya yang jatuh juga suara isakannya yang tak sengaja lolos terdengar.
Mereka langsung menjadi pusat perhatian. Di kelas yang padat ini, suara isakan Kalea terdengar sangat asing. Para mahasiswa semester akhir di kelas ini langsung berbisik bisik.
Apakah putus? Apakah pertengkaran kekasih? Apakah yang laki laki ketahuan selingkuh?
Kira kira begitu isi bisikan bisikan tak berdasar itu.
Elric jadi bingung sendiri. Sebentar lagi kuliah tamu akan dimulai, lalu Kalea tidak ada tanda tanda berhenti menangis. Elric pun dengan pertimbangan matang memapah Kalea, membawanya keluar ruangan.
Meski Elric tidak tahu alasan Kalea menangis. Ia hanya tahu bahwa Kalea menangis untuknya. Dan ini salahnya karena tidak memberi kabar.
Elric membawa Kalea duduk di kursi dekat mesin minuman otomatis. Ia membeli dua kaleng teh hangat yang tersedia di sana. Memberikannya satu pada Kalea, dan duduk di dekat gadis itu.
Elric memberikan sapu tangan yang selalu ia bawa. Tidak protes saat sapu tangannya digunakan Kalea untuk membersihkan ingus.
"Kalau sudah selesai bilang aja. Nanti kita keluar, aku traktir makan enak sebagai permintaan maaf." ujar Elric, pasrah.
Ia tidak pernah menghibur orang yang menangis jadi yang bisa ia lakukan hanya menemani Kalea dan menunggu.
Kalea sendiri sebenarnya tidak tahu kenapa ia menangis. Ia hanya merasa perasaannya sudah memuncak hari ini dan tiba tiba kedatangan Elric boom! seperti orang yang menekan tombol meledaknya.
Tapi ia senang karena Elric datang menemuinya. Kalea akan menjelaskan kesalahpahamannya dan mereka bisa memulai rencana untuk menjauhkan Adam dari Kalea.
Karena kalau Elric sepertinya tidak masalah.
"Elric, kamu dulu pernah bilang tidak suka dengan gadis berd*da rata, apa itu masih berlaku?"