Bab 2. Kalian Ingin Menjadi Bahuku?
Masihkah ada cinta dalam jiwa....
Jika sudah ternoda oleh penghianatan....
Masihkah ada kekuatan untuk bertahan....
Jika cinta disalahartikan untuk menyakiti...
Sejatinya cinta adalah rasa....
Bentuk kekuatan dalam diri untuk saling menghormati....
**
Aku menatap dalam dalam Bang Denis yang sudah mengubah dunia ku menjadi seperti ini. Tidak tahukah dia bagaimana aku mendapatkan kekayaan ini. Ini semua butuh perjuangan. Perjuangan yang menyakitkan. Bila membuka lembaran perjuanganku sungguh hati ini akan tergores kisah pahit setelah aku lari dari rumah mertua kejam dengan hanya membawa photo anakku sebagai penghibur ku. Lukaku berada di rumah neraka itu saja sudah sangat menyakitkan untuk diingat bagaimana aku mengingat hal pahit itu lagi. Oh sungguh memilukan.
"Risma, tega sekali kau menyuruh aku suamimu sendiri menjadi babu kamu."
Suaranya nyaring menggema memekakkan telingaku. Aku menatap datar laki laki tak tahu diri ini. Entah bermodalkan keberanian dari mana atau memang dirinya tak tahu malu, begitu datang langsung meminta uang padaku. Aku menatapnya dengan kebencian berlipat lipat.
"Suami? kamu punya kaca di rumah. Atau kamu sudah begitu miskin sehingga tidak punya harga diri lagi untuk datang kesini dan meminta uang padaku."
"Aku memang masih suami kamu Risma dan kita belum bercerai."
Dengan lantang kata kata itu keluar dari mulutnya, bila aku tidak punya harta belum tentu aku akan diakui oleh nya dan keluarganya.
"Selama lima tahun kamu gak pernah nafkahi aku. Kamu dan keluargamu sudah membuat hidupku menderita. Keluar kamu dari rumah aku. Kamu tidak bidoh kan dan tahu dimana letak pintu keluarnya." Kataku dengan tatapan merendahkannya. Sudah cukup dia menyakiti aku, namun perasaan membalas dendam ini begitu kuat datang karena dirinya hidupku menjadi hancur. Aku memanggil Satpam. Satpam ku datang untuk mengusirnya. Dengan langkah terburu Satuan Keamanan ku datang dan sudah berdiri di belakang Bang Denis.
"Ada masalah apa Bu?" tanya Pak Darma yang memang menjadi ketua Satuan Keamanan dari tiga orang Satpam yang ku pekerjakan.
"Suruh gembel ini keluar dari rumahku!" seruku padanya. Bang Denis yang terlihat menahan amarahnya ku perlakukan seperti itu.
"Risma, ingat dari harta kamu ini masih ada bagian ku karena aku masih suamimu!" ucapnya meninggi dan berharap lebih. Aku menghembuskan nafas berat. Menghadapi manusia licik harus juga dengan kelicikan.
"Baik, kamu mau harta dan aku mau Alisa kembali. Bisa kamu hidupkan Alisa ku lagi. Dasar pembunuh!"
Suaraku nyaring memaki laki laki tak tahu diri itu.
"Risma, aku minta maaf sama kamu. Alisa meninggal karena kecelakaan dan itu diluar kuasaku. Sekarang yang sudah terjadi tidak lah bisa diulang lagi. Ibu sekarat Risma dan kita belum terlambat menolongnya. Kasihani Ibu Risma. Aku mohon padamu."
Dia menangis disana. Bang Denis berharap aku kasihan padanya, namun aku sama sekali tidak ada rasa Iba pada laki laki seperti itu. Pak Darma mendekati Bang Denis agar mau dibimbing keluar dari rumah ku. Bang Denis merasa tidak suka dan menepis tangan Pak Darma dari pundaknya.
"Silahkan keluar Pak. Nyonya Risma tak bersedia diganggu lagi," ucap Pak Darma tegas ke Bang Denis.
"Lepaskan saya Pak. Saya masih mau berbicara dengan istri saya!" ucapnya menepis tangan Satpam ku.
Mendengar penuturannya, aku langsung melayangkan tanganku ke wajahnya. Tamp*ran keras mengenai wajahnya. Tanganku sendiri rasanya begitu sakit karena telah melakukan hal itu namun dia memang pantas menerimanya bahkan pukulan yang paling menyakitkan sekalipun sangat pantas dia dapatkan.
Bang Denis memegangi pipinya yang ku tampar dengan keras.
"Jangan pernah ucapkan aku adalah istrimu. Bahkan didalam mimpimu aku bukanlah istrimu."
"Risma berani kau se-kasar ini padaku."
Bang Denis mengepalkan tangannya, Rahangnya mengeras karena dia begitu marah aku menampar keras wajahnya. Aku bisa melihat sendiri wajahnya memerah. Dia hendak membalas pukulanku, namun Pak Darma dengan sigap menyelamatkanku. Tangan Bang Denis tidak mampu menyentuhku, justru tangannya lah yang ditekan kebelakang oleh Satpamku.
"Jangan membuat keributan di rumah Nyonya mari keluar atau saya panggil Polisi!"
Satpam ku menarik Bang Denis keluar dari rumahku secara paksa. Mau tak mau Bang Denis harus angkat kaki dari rumahku. Sebelum pergi dia masih melayangkan ancaman padaku.
"Awas kau Risma, ini belum selesai. Aku tak akan biarkan kamu merendahkan ku seperti ini."
**
Aku menghembuskan nafas berat berkali kali. Aku meletakkan tangan kananku diatas dahiku. Nyeri di kepala begitu kuat menyerang. Membuat aku tak bisa fokus mengurus masalah pekerjaanku, pikiranku bercabang cabang. Namun fokus ku masih memikirkan masalah Bang Denis dan keluarganya. Bagaimanapun keluarga neraka itu tak akan dengan mudah melepaskan diriku, apalagi aku sudah diatas angin seperti sekarang ini.
"Bu kita ada meeting dengan klien sebentar lagi," ucap Hani Sekretaris ku.
Dia memberikan jadwal yang harus ku kerjakan hari ini. Aku mendesah pelan, aku hampir melupakan sesuatu yang penting. Aku berniat membangun usaha tekstil tak jauh dari rumahku. Usaha kecil kecilan saja yang memanfaatkan jasa dan tenaga Ibu ibu di kompleks perumahan sekitar tempat tinggal ku. Bila direncanakan dengan matang keterampilan Ibu Ibu itu bisa menambah pundi pundi keuanganku bila sukses dan berhasil. Tentunya aku tidak melakukan hal ini sendiri, sudah pasti mendapat bantuan suntikan dana disana sini. Hasil produksi yang dihasilkan bisa dilempar ketoko ku dan toko lainnya. Bisnis online juga menjanjikan, keuntungan yang besar sudah ada didepanku.
Aku sepertinya tahu bagaimana cara mengerjai Bang Denis dan keluarganya itu, aku menyeringai mendapat ide baru.
"Baik, Hani terima kasih sudah mengingatkan," ucapku pada sekretaris ku.
**
Aku lelah sekali hari ini, aku sudah bekerja keras seharian dan aku yakin hasil pekerjaanku sudah maksimal. Aku berhasil meyakinkan klien agar dapat bekerja sama membangun proyek baru untuk mendapat keuntungan besar.
Usaha pertama sudah selesai, usaha selanjutnya akan mengikuti, aku juga harus berpikir keras bagaimana membangun kafe ku agar selalu ramai. Ide ide kreatif harus kupikirkan. Fokus ku saat ini adalah bekerja dan bekerja, urusan keluarga Bang Denis sudah tak ku pedulikan lagi.
Supir pribadiku menepikan mobilku, diikuti mobil Bodyguard yang setia mendampingi. Aku menyewa dua orang Bodyguard untuk mengawal ku, karena Denis dan keluarganya pasti tidak semudah itu melepaskan ku.
Ketika mobil hendak memasuki pelataran halaman rumah mewahku. Tiba tiba Bang Denis dan Vera sudah berada didepan mobilku. Aku benar benar shock melihat dua gembel itu sudah didepan mobilku.
Para Satpam ku dengan sigap memegangi mereka berdua, aku tersenyum puas melihat kesakitan di wajah Bang Denis dan Vera. Benar benar niat yang besar bagi mereka untuk tidak melepaskan ku.
Pintu gerbang mewah sudah ditutup. Aku keluar dari mobil dan kulihat mereka berteriak teriak disana memanggil manggil namaku.
"Risma ... Buka pintu .... ada yang akan ku bicarakan padamu. Tolong Risma. Bukalah pintu," ucap Bang Denis dengan suara keras.
Tangannya menggerak gerakkan pagar rumahku dengan kasar, diikuti Vera. Aku melangkah dengan elegan ke arah mereka diikuti dua Bodyguard ku. Ku lirik dua pengawalku seorang wanita dan seorang pria terlatih. Aku yakin Bang Denis dan Vera akan menelan ludah melihat para pengawalku.
"Apa yang kalian mau dariku, Hah?!" Kataku dengan wajah ku naikkan keatas.
"Risma, Ibu perlu biaya buat operasi, Aku sudah bingung mencari dana kemana lagi. Kamu kan tahu penghasilanku sebagai tukang ojeg dan kurir gak seberapa. Tolonglah bantu Ibu Risma," katanya dengan suara memelas.
Aku tersenyum miring kearahnya, baru tadi malam dia mengancam ku dan karena ancamannya aku harus menyewa pengawal untuk mendampingiku. Sekarang dia datang lagi padaku.
"Kalian tahu, rumahku bukan yayasan sosial buat meminta bantuan. Lagian Ibu kalian sudah tua, ya wajar aja orang tua itu sakit sakitan. Itulah balasan buat orang tua kejam seperti Ibu kalian."
Denis tampak menahan amarahnya. Begitupun dengan Vera, dia seperti tidak sanggup berkata kata.
"Baiklah sekarang kalian bisa pergi dari sini. Kalau butuh apa apa ada Polisi yang bisa menolong serta yayasan sosial, kalian sudah tahu alamat nya bukan?"
Aku menaikkan alisku sambil membalik badanku. Mereka masih terdiam mematung di tempat. Aku berjalan santai hendak memasuki rumah mewahku.
"Kak Risma aku setuju menjadi Babu di rumahmu, kak. Tolong bantu Ibu dan aku juga butuh uang buat melanjutkan kuliah. Aku mohon kak. Aku akan menjadi Pembantu dan tinggal di rumah mu."
Aku membalik badanku. Senyum miring nan mengejek masih menghiasi wajahku.
"Kau adalah anak yang pemalas menjadi babu di rumahku tidak bisa bersantai pagi jam 04.00 dini hari kau harus bangun dan mengerjakan seluruh pekerjaan. TINGGAL DIRUMAH KU? enak sekali dirimu. Rumahku bukan panti sosial untuk menampung para gembel seperti kalian. Kalau mau menjadi babu ku keluarga kalian harus mengikuti aturan ku!" seruku dengan senyum penghinaan.