Bab 3. Senyuman Jahat

1426 Words
Bab 3. Senyuman Jahat Bayangan dimasa lalu entah mengapa tak mau pergi ... Bayangan itu akan selalu hadir menyapa ... Bagaimanapun cara ... Takkan dapat terhapus ... Andai ... Andai raga bisa kembali pada waktu itu ... Ingin ku sirnakan bayangan kelam karena keluguan diri ... Namun waktu tetap berada ditempatnya ... Entah sampai kapan kelam itu terhapus ... Mungkin sampai diri terkubur ... ** "Kak Risma, dimana pakaian dalam ku." Teriakan Vera menggema memekakkan telinga, aku sudah yakin diri ku pasti akan jadi bahan pelampiasan kemarahannya. Hampir setiap hari dia selalu memarahiku. Seharusnya yang lebih muda menghormati yang lebih tua. Namun hal itu tak berarti dirumah ini. Aku tergopoh-gopoh mendatanginya sambil menggendong Alisa ku. Kulihat lemari pakaian Vera sudah diobrak abrik olehnya. Aku mendesah, pekerjaan ku akan bertambah. "Ada apa, Ver kamu teriak teriak seperti itu?" ucapku lirih. Aku baru saja beristirahat setelah semua pekerjaan rumah ku selesaikan. Setelah ini aku masih harus berkutat di kebun Ibu, setelah Alisa kuberi makan dan kutidurkan. "Kamu kalau kerja gimana sih kak Risma. Pakaian dalam ku kemana semua. Kamu ambil ya!" serunya menuduhku. Aku menggeleng cepat, tidak mungkin aku mengambil celana dalam miliknya. "Vera. Kenapa kamu bertanya perihal pakaian dalam mu pada kakak. Seharusnya barang pribadimu kamu sendiri yang menyimpan. Tolong Vera kakak mohon sama kamu. Kamu cuci sendiri pakaian dalam mu. Selama ini pakaian dalam bekas kamu datang bulan selalu kamu suruh kakak yang mencuci, apa kamu gak malu? Kamu yang datang bulan dan kakak yang harus mencuci dalaman kamu!" "Oh gitu. Harusnya kakak sadar, kakak disini cuma numpang. Jadi sekarang pakaian dalam ku yang hilang kakak sembunyiin gitu buat balas dendam sama aku. Balikin daleman aku Kak, Risma," katanya semakin menuduh dan memojokkan ku. Dia menarik narik pakaianku sesukanya, karena ulahnya Alisa menjadi menangis. Tangisan Alisa semakin kencang. Karena sudah tidak sanggup aku menarik tangan Vera secara kasar agar dia tidak menarik lagi pakaian ku. "Aduh ... Berani kamu sama aku ya Kak!" serunya dengan tatapan tajam. "Kamu yang salah Vera, sudah menuduh kakak sembarangan. Lihat Alisa menangis karena ulah kamu." Mendengar suara tangisan putriku dan suara gaduh kami berdua, mertuaku datang dan terkejut melihat baju baju Vera yang sudah berantakan. Dia menatap ku sengit seakan aku pengemis jalanan yang merusak pemandangan matanya. "Ada apa ini Risma. Kamu selalu membuat keributan di rumah ini. Kamu dan anak kamu selalu membuat masalah!" ucapnya dengan nada naik beroktaf oktaf. Hatiku mencelos entah mengapa saat itu aku merasa takut padanya. "Bu, Alisa bukan cuma anak ku. Tetapi dia juga anak Bang Denis cucu Ibu!" kata ku protes, mendengar aku menjawabnya dia semakin gusar. "Heh! Aku heran sama Denis, kenapa dia mau nikahin kamu? udah miskin dan gak punya keterampilan apa apa. Asal kamu tahu Risma, Denis itu terpaksa nikahin kamu karena dia galau ditinggal kekasihnya menikah. Kekasihnya dinikahi pria lain dengan mahar besar. Denis gak punya uang buat bayar itu perempuan. Makanya dia nikahin kamu karena nikahin kamu gak perlu pake duit cuma seperangkat alat sholat doang." Wanita setengah baya itu tertawa mengejek menatapku dan Alisa, sungguh sangat sakit hatiku menerima perlakuan mereka kepadaku. "Eh Kak. Jangan banyak berharap kalau Bang Denis itu ngebelain kamu. Di rumah ini Bang Denis cuma patuh sama Ibu. Bisa dicoret dia dari daftar penerima warisan kalau gak patuh sama Ibu." Tawa Vera semakin menjadi diikuti tawa mertuaku. Mataku tak terasa berkabut karena embun yang hendak keluar. Buram pandanganku karena genangan air itu keluar tanpa permisi. Mereka tertawa puas diatas penderitaan ku. Aku masih berdiri tergugu karena cemooh Ipar dan mertuaku. Anakku yang meminta diturunkan dari gendongan segera ku turunkan karena aku memang sudah lelah. Alisa diam dengan sendirinya karena lelah menangis. "Vera kamu kenapa kok bertengkar sama Risma. Baju kamu kok berantakan?" Tanya Ibu mertuaku pada Vera, dia melirik pakaian yang berhamburan itu. "Pakaian dalam Vera hilang beberapa buah Bu, pasti Kak Risma yang mengambil diakan gak punya daleman kayak Vera, daleman dia udah pada longgar dan koyak semua." Cacinya padaku dia juga mengarahkan telunjuknya padaku. "Risma balikin pakaian dalam anakku dasar maling!" Ibu Kini menuduhku, padahal mereka tidak punya bukti. Suara derap langkah perlahan menghampiri kami. Wajah sengit Ibu perlahan sirna melihat anaknya Sari datang bersama Ari dan Dita cucu Ibu dari Sari. Anak pertama Ibu ini selalu merepotkan dirinya. Suami pengagguran dan malas bekerja. Sari selalu meminta modal pada Ibu untuk berjualan namun hasilnya tak pernah ada. Ibu mertuaku memiliki usaha sembako yang cukup ramai pembeli. Disamping enam rumah kontrakan hasil peninggalan suaminya. "Ada apa ribut ribut nih?" tanya Sari pada kami semua. Ku lirik dia sudah membawa pakaian yang sudah diikat kain jarik. Setumpuk pakaian itu pasti hendak dia cuci namun tenagaku lah yang diharapkannya. "Pakaian dalam Vera hilang Mbak Sari dan Kak Risma yang mengambil." Tuduh Vera. Mereka semua menatapku dengan tatapan kebencian. "Pakaian dalam kamu terselip di kakak. Kemarin kakak buru buru bawa pakaian. Oh ya Risma jangan lupa kamu cuci kan pakaian ku sekalian. Aku sibuk mau antar barang ke pelanggan. Ingat disetrika dan disusun rapi nanti malam aku ambil," ucap Sari ringan. Dia menatap ku dengan pandangan meremehkan, aku mendesah pelan mengikuti kemauan mereka. "Kak cuci juga pakaian dalam yang aku rendam bekas datang bulan ku. Ngerti!" Vera tanpa merasa bersalah karena menuduhku malah semakin menjadi menyuruhku melakukan pekerjaan yang tak semestinya kulakukan dan mertuaku tersenyum jahat seakan senang aku diperlakukan seperti itu. "Ya sudah, Ibu mau balik ke toko. Ingat ya Risma, jaga anak kamu. Kalau sampai membuat kotor atau memecahkan salah satu guci kesayanganku. Aku tak akan mengampuni mu," katanya dengan sengit sebelum pergi berlalu. Sungguh perih kurasakan sampai ke ulu hati. Perlakuan mertua dan Ipar ipar sangat keterlaluan belum lagi Bang Denis yang tak pernah membelaku. Inginku berlari pergi namun masih ku tutupi luka ini aku bertahan semata karena Alisa yang masih butuh keluarga utuh. Kejadian itu masih terpatri rapi di memori ku. Masih banyak kejadian demi kejadian yang ku alami karena ketidak adilan yang kudapatkan dari keluarga yang seharusnya membimbingku namun malah melukai ku. ** Aku memandang mereka dengan tatapan meremehkan. Mereka berdua Denis dan Vera duduk santai di kafe ku. Mata Bang Denis dan Vera menatap takjub Kafe milikku yang dihiasi dekorasi yang indah dan mahal. Mereka berdua duduk dihadapan ku. Di sampingku dua pengawal setia mendampingiku. Dua Bodyguard ku menatap tajam Denis dan saudaranya. Aku menyeruput ice blend salah satu menu favorit kami di kafe ini. Jenis minuman yang sangat digemari, terutama kalangan remaja dan anak muda. Minuman ini terbentuk dari: es batu yang dihancurkan hingga halus biasanya menggunakan mesin blender, dan dicampurkan dengan kopi, perasa minuman (flavor powder) atau sirup beraroma, sehingga menciptakan rasa minuman yang nikmat dan memberi sensasi dingin. Vera menelan ludahnya melihat aku dengan nikmat menyeruput minumanku. "Sepertinya minumannya enak Kak," katanya akhirnya menyerah ingin merasakan sensasi menyeruput ice blend. "Minuman ini harganya mahal. Kau tak akan mampu membayar." Aku tersenyum mengejeknya. Denis menahan amarahnya begitupun Vera. "Aku tak punya banyak waktu. Apa yang kalian mau dariku." "Risma. Kami minta tolong Ibu butuh perawatan yang baik dan uang buat operasi agar dia bisa kembali pulih. Berikan bantuan mu pada kami. Aku dan Vera akan mengikuti kemauan kamu. Tapi mohon selamatkan Ibu Risma." Denis memelas. Wajahnya dibuat sememprihatinkan tidak segarang dulu. Begitupun Vera dia selalu menatapku dengan sengit kali ini dia terlihat menyedihkan. "Baik. Tetapi kamu harus menandatangani surat perceraian kita dan harus ada hitam diatas putih kalau kalian akan menjadi babu ku dan menuruti semua perintahku sampai uang yang kalian bayar itu lunas. Sebagai jaminan aku akan mengambil motor kamu dan Vera," jataku santai namun perkataanku mengundang amarah mereka. "Tidak bisa seperti itu, Risma, kami butuh motor untuk bekerja dan Vera juga perlu untuk kuliah!" kata Denis tak terima. Dia mengepalkan tangan tanda marah pun dengan Vera dia melihat ku dengan pandangan tidak suka. "Di mana mana pinjam uang harus ada jaminan. Aku tahu sifat kalian, mendzolimi dan menipu orang adalah karakter kalian. Kalau tidak mau aku juga tidak bisa memaksa." "Baiklah Risma, kami menurutimu. Kapan uang nya kami terima?" Denis akhirnya mengalah. Vera tampak tidak terima. Dia cemberut dan menatap sinis diriku. "Tapi Bang, Vera gak bisa kalau gak ada motor. Jalan kaki lelah dan naik bis itu panas." "Sabar Vera, ini semua demi Ibu." Kini aku yang tertawa jahat, aku sebenarnya malas berurusan dengan mereka. Namun Denis selalu mengganggu, bila uang untuk berobat Ibunya tak didapatkannya, dia akan terus menagih dengan segala cara. Hatiku terasa sakit demi Ibunya dia rela melakukan segala cara namun dia tak pernah berkorban apa apa untukku. Denis dan keluarganya adalah benalu egois. "Baiklah, aku ingin melihat dulu hasil pekerjaan kalian. Piring kotor di kafe sangat bertumpuk. Kalian berdua cuci piring dan membersihkan sampah serta Kafe ku. Setelah itu barulah kita membicarakan masalah uang," kataku memandang Denis dan Vera bergantian. Aku tahu hati mereka bergemuruh karena amarah namun mereka harus menekannya karena membutuhkan uang untuk Ibu mereka. Mereka masih diam mematung dan menatapku gusar, aku menyeringai menatap keduanya. "Kenapa malah diam. Ayo kerjakan!" Perintahku. Denis dan Vera bangkit dari duduk nya dan menuju dapur untuk mencuci setumpuk piring kotor.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD