Tiga belas

1522 Words
Flashback on Fajrin dengan semangat untuk kembali memulai penelitiannya. Di sana ada Farhan yang selalu setia menemani dirinya, memulai penelitian sejak aeal pertama kali Fajrin merencanakan hal itu. "Kau tau Farhan, jika kita bisa melakukannya, maka kita akan bisa menyelamatkan dunia. Bahkan jika kau mau, kau bisa menjadi peramal masa depan suatu saat nanti, dengan begitu, kau akan memiliki banyak uang, uang yang tak pernah terpikirkan oleh mu akan menghampiri diri mu" ucap Fajrin sambil tertawa puas. "Dan kau, kau akan menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Aku tau diri mu Fajrin, kau akan selalu membantu orang lain tanpa imbalan apapun. Dari yang aku tau, kau adalah orang yang sangat dermawan. Bukan hanya aku saja yang mengatakan hal itu, tapi semua orang yang mengenal mu pasti memuji mu" kata Farhan memuji Fajrin bak seorang penjilat. "Ya, tapi aku juga harus memikirkan masa depan keluarga ku. Walau aku orang yang suka menolong orang lain, tapi aku juga harus bisa membahagiakan keluarga ku. Aku harus memikirkan masa depan ku bersama istri dan anak ku nantinya. Orang baik bukan berarti tak membutuhkan uang Farhan, aku juga harus memikirkan jaminan hari tua ku dan jaminan masa depan untuk anak ku, dan salah satu dari itu adalah uang. Setidaknya aku hanya perlu secukupnya saja, untuk ku bersama istri dan anak ku, selebihnya aku hanya untuk membantu. Dan kau tau Farhan, sudah berkali-kali aku katakan dan bahkan aku tidak akan pernah bosan untuk mengulanginya. Tetaplah ada di sisi ku dan berjuang bersama ku. Aku yakin kalau suatu saat nanti,kita akan sukses bersama. Dengan memulai hal sulit seperti ini, aku yakin kita akan mendapatkan hasilnya bersama-sama. Berjanjilan untuk tidak meninggalkan ku dalam situasi apapun, karena aku juga akan melakukan hal yang sama." kata Fajrin tulus, karena sejak awal memang tujuan utamanya adalah membantu orang-orang setelah mencukupi kebutuhan masa depan istri dan juga anak-anaknya. Semua hampir selesai, apa yang telah mereka kerjakan selama bertahun-tahun, kini akan memberikan hasil. Hasil yang akan membuat keduanya puas dan bangga, atau justru hasil yang akan mengecewakan keduanya. Di sebuah perusahaan kecil, tempat di mana Fajrin dan juga Farhan bekerja, mengadu nasib bersama untik bisa memberi makan anak dan istrinya. Tanpa sepengetahuan Fajrin, perusahaan memutuskan untuk mengirim salah satu dari mereka untuk melanjutkan perusahaan cabang di Bali, sementara Farhan mendapatkan bocoran akan hal itu. Aku tidak akan membiarkan Fajrin pergi ke Bali dan mendapatkan pangkat itu, akulah yang pantas untuk menjadi menejer dan meninggalkan Fajrin di sini sebagai staff biasa sampai dia menua. Aku yakin, Fajrin tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya. Jika mendapatkan tawaran ini, Fajrin pasti akan meninggalkan ku di sini, dan aku tidak akan pernah membiarkan dia sukses seorang diri. Bangkin dan sukses bersama, atau tinggalkan jika ingin sukses. aku tidak yakin dengan ucapannya untuk berjuang bersama, lebih baik aku tinggalkan dia daripada dia meninggalkan ku, batin Farhan. Farhan menghalalkan segala cara untuk membuat Fajrin tidak bisa bekerja, bahkan ia dengan sengaja memberikan obat pencuci perut kepada Fajrin saat mereka sedang minum sebelum mereka mulai bekerja. "Argh perut ku" ucap Fajrin tak mampu menahan sakit di perutnya. "Ada apa Fajrin? Apa kau sedang sakit?" tanya Farhan pura-pura tidak tahu. "Sepertinya ada yang bermasalah dengan perut ku" ucap Fajrin mencoba untuk menahan rasa sakit di perutnya. "Kalau begitu aku akan meminta izin kepada pak Hendrawan. Aku akan mengantar mu ke rumah sakit" ucap Farhan yang di jawab dengan anggukan oleh Fajrin. Berhasil mendapatkan izin pulang untuk Fajrin, Farhan juga mendapatkan izin untuk mengantar Fajrin dengan catatan ia harus kembali karena ada yang perlu di bicarakan oleh Hendrawan. "Cepatlah kembali karena ada yang ingin saya bicarakan" ucap Hendrawan. "Baik pak, saya akan segera kembali. Farhan tersenyum penuh kemenangan saat keluar dari ruangan Hendrawan, namun ia kembali memasang wajah paniknya saat bertemu dengan Fajrin. Dengan sangat cepat, Farhan melajukan mobilnya menuju rumah sakit yang tak jauh dari sana dan langsung membawa Fajrin untuk di tangani oleh sang dokter. "Bagaimana keadaan teman saya, Dok?" tanya Farhan. "Tidak apa-apa, hanya saja teman anda meminum obat pencuci perut yang berlebihan. Untuk sementara teman bapak akan di rawat di sini sampai ada pemberitahuan untuk bisa pulang" ucap sang dokter. "Baik, Dok. Terima kasih" kata Farhan. Lagi-lagi Farhan tersenyum puas, apa yang ia rencanakan bisa berjalan dengan baik. Dengan langkah pasti, ia masuk ke ruang rawat Fajrin. Tak lupa ia memasang wajah sedihnya di depan Fajrin, meski pada kenyataannya ia tersenyum bahagia. "Fajrin, cobalah untuk menjaga kesehatan. Jangan terlalu fokus kepada sesuatu, hal itu akan membuat mu jatuh sakit seperti ini" ucap Farhan. "Apa yang di katakan oleh dokter?" tanya Fajrin penasaran. "Dokter bilang kamu memiliki penyakit maag, dan kamu juga sudah mulai memiliki penyakit lambung, sebab itulah perut mu terasa sakit seperti ini. Kata dokter, kamu akan di rawat untuk sementara sampai ada pemberitahuan untuk mengizinkan mu pulang" jelas Farhan, yang pastinga itu adalah kebohongan. "Benarkah? Tapi aku merasa kalau aku tidak pernah mengalami penyakit itu" ucap Fajrin tak yakin. "Kamu bukan dokter Fajrin, kamu adalah pasien. Dokter yang lebih tahu tentang itu, jadi sebaiknya kamu isitirahat karena aku akan pergi menjemput kak Irana untuk menjaga mu di sini. Aku tidak bisa berlama-lama di sini, pak Hendrawan meminta ku untuk krmbali secepatnya" ucap Farhan. "Baiklah, terima kasih banyak" ucap Fajrin, Farhan hanya mrngangguk untuk itu. Tak lama, Farhan tiba di rumah Fajrin. Ia langsung memberitahukan apa yang terjadi kepada Irana, membuat dirinya tak mengerti kenapa suaminya itu bisa smapai memiliki riwayat penyakit seperti itu sementara ia merawat Fajrin dengan sangat baik. "Bagaimana bisa? Aku..." belum selesai Irana bicara, Farhan langsung memotongnya. "Dokter lebih tahu daripada kita, mereka tidak mungkin salah. Jadi sebaiknya kita pergi menjaga Fajrin, karena ia sedang sendirian di sana" ucap Farhan meyakinkan, lalu keduanya keluar. Setibanya di luar dan hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba Farhan merogoh kantongnya untuk mencari ponselnya, namun ponselnya tak ada di dalam kantongnya. "Kak, sepertinya ponsel ku tertinggal di dalam" ucap Farhan. "Ambillah, aku akan menunggu di sini" ucap Irana yang tak sadar kalau ia tak mengunci pintunya. Dengan sangat cepat Farhan kembali ke rumah itu dan langsung megambil ponselnya yang tertinggal. Dengan sangat manis, Irana melemparkan senyum kepada Farhan yang kini telah kembali, lalu mereka pergi ke rumah sakit. Farhan yang langsung kembali ke kantor dan langsung masuk ke ruangan Hendrawan, langsung tersenyum puas saat mendengar kalau dirinyalah yang akan pergi ke bali. "Kembalilah, bersiap-diaplah untuk menjadi menejer di perusahaan cabang" ucap Hendrawan. "Baik, Pak. Terima kasih atas kepercayaannya. Ucap Farhan tulus, lalu ia keluar dari ruangan Hendrawan dan pergi pulang sesuai dengan apa yang di katakan oleh Hendrawa. Apa yang di katakan oleh sang dokter terjadi, Fajrin perlu rawat selama satu hari dan keesokan harinya sudah di izinkan untuk pulang. Betapa terkejutnya Fajrin saat ia merasa ada yang aneh, penelitian yang sudah mereka kerjakan selama bertahun-tahun, justru menghilang yang entah siapa yang akan mengambilnya. Seketika Fajrin kembali melemah, ia tak menyangka kalau apa yang ia usahakan bertahun-tahun akan hilang. Farhan yang berniat untuk berpamitan kepada Fajrin sedikit terkejut melihat Fajrin yang kini melemah di sofa. "Fajrin, apa yang terjadi?" tanya Farhan. "Kak, apa yang terjadi? Apakah Fajrin telah mencoba hasil penelitian kami? Apakah ini reaksi dari hasil penelitian kami?" tanya Farhan. "Tidak Farhan, semua impian kita telah hilang. Apa yang telah kita mulai telah musnah tanpa jejak" ucap Fajrin pelan, ia bahkan sangat sulit untuk mengatakannya. "Apa maksud kamu, Fajrin? Aku benar-benar tak mengerti" ucap Farhan terkejut. "Penelitian kalian hilang, dan kami tidak tau siapa yang mengambilnya. Ini semua salah ku, aku lupa untuk mengunci pintu saat kita akan pergi ke rumah sakit" kata Irana. "Bohong, kalian pasti bohong. Aku yakin kalian sengaja menutupi hal ini dari ku, bukan? Aku yakin, kalian ingin menikmati semuanya sendiri. Aku tidak menyangka Fajrin, aku tidak menyangka kalau kau sepicik itu. Dengan sangat bersemangat aku datang ke mari untuk membuktikannya, namun ternyata aku hanya membuktikan kalau aku telah di tipu oleh sahabat ku sendiri, untik membuktikan kalau sahabat ku adalah seorang penipu. Sekarang aku sadar, kau hanya memanfaatkan ku saja. Beruntung aku mendapatkan kesempatan untik kerja di Bali, dengan begitu aku tidak harus melihat eajah mu yang penipu itu" ucap Farhan. "Bali? Apa maksud kamu?" tanya Fajrin. "Sudahlah, tidak ada gunanya membahas apapun dengan penipu seperti kamu" ucap Farhan, lalu ia pergi dari sana. "Maaf kak kalau kami ada salah, kami akan pindah ke Bali hari ini karena mas Farhan di pindahkan ke sana" ucap Susi. "Tidak, ini tidak mungkin" ucap Fajrin lalu ia berlari menghampiri Farhan. "Farhan, kau tidak boleh pergi. Jangan melupakan janji kita, tidak akan ada yang akan pergi di antara kita dan tidak akan ada yang di tinggalkan. Mungkin hari ini belum rezeki kita, kita masih bisa mencobanya kembali" ucap Fajrin memohon. "Tidak, masa depan ku di sana lebih cerah. Aku yakin kau sengaja melakukan ini untuk menjadikan ku menjadi pesuruh mu dan pembantu mu, di mana kau akan mencari alasan sebanyak mungkin seperti saat ini. Aku kecewa pada mu, ternyata kau adalah orang yang paling jahat yang pernah aku kenal" ucap Farhan, lalu ia pergi bersama dengan Susi meninggalkan Fajrin. Hamcur sudah harapan Fajrin, rasanya tubuhnya semakin lemas mendapatkan dua kenyataan yang sangat pahit. Kenyataan yang mampu membuatnya terkapar lemah di kamarnya sampai berhari-hari, hingga ia harus kehilangan pekerjaannya. Flashback off
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD