Fajrin melajukan mobilnya, setelah kepergian Farhan dan setelah berhasil membujuk Ares, akhirnya mereka pergi ke kebun binatang. Ada setitik tanya di hati Irana, yang membuat Fajrin tiba-tiba ingin pergi ke kebun binatang.
"Pa, apakah papa sengaja mengatakan untuk pergi ke kebun binatang?" tanya Irana.
"Apa maksud mama? Kenapa mama mengatakan seperti itu?" tanya Fajrin tak mengerti.
"Mama merasa sedikit aneh, papa tahu bukan kalau Farhan dan keluarganya baru saja mengalami musibah? Dan papa tau kalau mereka memiliki trauma sejak kejadian itu. Bukan hanya mereka, kita juga pasti memiliki trauma yang sama seperti mereka jika hal itu terjadi kepada keluarga kita. Tapi kenapa papa tiba-tiba mengatakan kalau kita akan pergi ke kebun binatang? Sementara selama ini papa selalu menolak untuk pergi ke sana jika Ares meminta untuk ke sana. Kalau papa memang ingin menghindar dari Farhan, kenapa harus mencari alasan yang melukai hati mereka? Tidak bisakah papa mencari alasan yang tepat tanpa harus melukai?" tanya Irana.
"Ma, papa heran deh sama mama. Kenapa mama justru menaruh kecurigaan sama papa? Selama ini mama begitu percaya kepada papa, tapi kenapa papa merasa kalau sekarang kepercayaan itu serasa hilang dari mama? Papa tidak bermaksud untuk membuat mereka tersinggung, papa tidak bermaksud untuk membuat mereka mengingat kembali kejadian itu. Papa hanya ingin mengabulkan permintaan Are, itu saja, nggak lebih. Untuk apa papa mengungkin kejadian yang juga nenyakiti hati papa? Papa merasa sakit mengingat kejadian itu, papa juga sudah menganggap Sinta seperti putri papa sendiri. Meskipun papa tidak ingin bekerja sama dengan Farhan untuk melanjutkan penelitian, bukan berarti papa akan membenci Sinta. Papa melakukan ini karena papa mengingat ucapan mama, karena papa ingin mrmbuat kesan terbaik kepada Ares" ucap Fajrin panjang lebar.
Seketika Irana terdiam, ia tak menyangka kalau Fajrin melakukan hal itu karena ucapannya malam itu. Ia merasa bersalah karena sudah menuduh suaminya yang tidak-tidak, sementara selama ini ia sangat percaya kepada suaminya itu.
Sementara Fajrin, ia merasa sesikit kecewa terhadap Irana yang telah menuduhnya yang tidak-tidak. Begitu sakit hati Fajrin saat orang yang ia anggap akan selalu mempercayai dirinya kini telah meragukannya dan melemparkan tuduhan-tuduhan yang sama sekali tak pernah terbesit di benaknya. Ia hanya cukup kesal dengan kerjasama yang Farhan katakan, bukan kepada keluarga Farhan apalagi kepada Sinta.
"Sudahlah, Ma, Pa. Kita pergi untuk liburan, bukan untuk menghancurkan keutuhan keluarga. Ares pergi untuk menikmati kebun binatang, bukan untuk melihat kalian bertengkar seperti ini. Kenapa papa dan mama harus ribut hanya karena orang lain? Kenapa om Farhan harus kembali dan masuk lagi dalam kehidupan kita? Sebelum adanya mereka, keluarga kita baik-baik saja. Setelah ada mereka, mama dan papa jadi sering ribut seperti ini. Jangan melakukan sesuatu yang tidak pantas untuk Ares lihat, terutama berdebat di depan Ares seperti ini." kata Ares yang membuat Fajrin dan Irana semakin terdiam.
Selama perjalanan, tak ada yang berani untuk bicara. Yang bisa keduanya lakukan hanyalan curi-curi pandang layaknya orang yang sedang pacaran, sementara Ares masih saja tetap memantau.
Aduh, papa kenapa sih? Biasanya papa akan mulai berbicara jika kami sedang ribut seperti ini, tapi kenapa papa malah ikutan diam? Masa iya sih mama ysng harus bicara duluan? Gendi dong? Ayo dong, Pa. Coba untuk memulai percakapan, malu sama Ares yang memperhatikan kita sejak tadi, batin Irana.
Mama bagainana, sih? Seharusnya mama berbicara atau minta maaf sama papa, tapi kenapa mama memilih untuk diam? Masa iya papa yang harus ngomong duluan? Yang bersalah siapa? Harus memberanikan diri untuk minta maaf dong? Ayong dong, Ma! Bicaralah, masa mama nggak malu sama anak sendiri yang memisahin perdebatan kita?, batin Fajrin.
"Ma-mama minta maaf ya, Pa. Mama nggak seharusnya menuduh papa yang bukan-bukan. Mama minta maaf karena langsung berasumsi tanpa bertanya dulu kepada papa. Seharusnya mama sadar, seharusnya mama ingat apa yang mama ucapkan malam itu. Tapi sauangnya mama lupa karena terlalu terbawa suasana hari ini, mama tidak terima kalau papa sampai menyangkut pautkan tentang penelitian papa dengan hal ini, itu sebabnya otak mama langsung terpikir ke sana. Sekali lagi mama minta maaf, Pa. Mama salah karena sudah meragukan papa" ucap Irana mengalah, ia juga merasa kalau dirinyalah yang seharusnya memulai perbincangan karena dirinyalah yang bersalah.
"Nah gitu, dong! Seharusnya sejak tadi mama bicara dan minta maaf, di tungguin malah diam aja. Papa yakin, mama juga pasti menunggu sampai papa bicara, bukan? Tapi sayangnya, kali ini papa tidak akan mengalah karena mamalah yang bersalah" ucap Fajrin sambil terkekeh, ia merasa menang karena ini kali pertama Irana mengalah meskipun hal ini adalah kesalahannya. Sebab di kejadian-kejadian sebelumnya, walau itu adalah kesalahan Irana, ia tak akan pernah mengalah karena ia tau kalau Fajrin akan tetap mengalah dan membujuknya, karena ia tau Fajrin tidak akan pernah bisa melihat Irana berdiam diri tanpa komunikasi dengslannya.
"Jadi papa sengaja? Papa sengaja untuk diam karena menunggu mama?" tanya Irana yang di jawab dengan anggukan serta kekehan oleh Fajrin. " Ih papa nyebelin banget, sih? Kalau tau begitu seharusnya mama diam sampai papa kembali bicara" rengek Irana, sementara Fajrin hanya bisa tertawa melihat tingkah istrinya itu. Bukan hanya Fajrin, Ares juga tertawa melihat kedua orangtuanya yang menurutnya lupa akan umur.
Di tempat lain, Farhan dengan emosi yang berapi-api melajukan mobilnya. Ia bahkan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia seolah bukan dirinya yang begitu lembut dalam mengemudi jika sedang bersama dengan keluarga kecilnya.
"Pelan-pelan dong, Pa" ucap Susi mengingatkan.
"Sial, sial, sial. Mama tau, papa sangat berharap dengan pertemuan ini, papa sangat berharap bisa menjalin hubungan seperti dulu dengan Fajrin. Papa tak menyangka kalau ternyata Fajrin sudah berubah, dia bukan lagi Fajrin yang dulu yang begitu baik dan selalu menerima ku dan memaafkan kesalahan ku. Kini dia menjadi orang yang menyebalkan, dia menjadi orang yang sangat serakah dan sombong" ucap Farhan kesal sambil membanting stir mobilnya.
"Pa, papa tidak boleh berpikiran seperti itu. Papa tau kan kalaj Fajrin bukan orang yang seperti itu? Mungkin saja apa yang dia katakan benar, papa tidak boleh langsung menyimpulkan yang belum tentu itu adalah kebenarannya. Kalau menang apa yang papa katakan benar, bagaimana kalau tidak? Apa yang akan papa perbuat untuk menebus kesalahan papa? Sudah begitu banyak kesalahan yang papa perbuat di masa lalu kepada Fajrin, di tambah lagi dengan sekarang, papa langsung berpikir yang bukan-bukan sementara jelas-jelas alasan Fajrin melakukan hal itu ada di depan mata kita. Sama hal nya dengan papa, mama yakin papa juga akan melakukan hal yang sama. Papa yakin, kalau yang meminta hal itu adalah Sinta, papa juga pasti akan menolak untuk pergi bersama dengan mereka dan lebih memilih untuk pergi dengan ku bersama Sinta demi kebahagiaan Sinta. Jadi menurut mama ini tak perlu di besar-besarkan, sebaiknya kita temui mereka di lain waktu" ucap Susi menenangkan, ia sebenarnya tak ingin hubungan mereka semakin renggang.
"Kenapa mama malah membela dia? Seharusnya mama mencari tahu bagaimana caranya supaya semua kembali seperti semula, tapi mama seolah-olah memilih untuk memojokkan papa dan membela dia. Papa yakin, Fajrin sengaja untuk memilih kebun binatang sebagai tempat berlibur mereka karena dia tau kalau kita tidak akan pernah mau untuk ikut pergi ke sana. Kalau memang Fajrin tidak sengaja, seharus dia mengusulkan tempat lain supaya kita pergi bersama. Memang dasar b*****h itu, ia bahkan lupa dengan apa yang sudah kami perjuangkan bersama selama bertahun-tahun" ucap Farhan kesal, ia masih saja mengingat kebersamaannya dengan Fajrin namun lupa akan kesalahannya terhadap Fajrin.
"Pa, papa mengingat bagaimana kedekatan papa dengan Fajrin? Kedekatan keluarga kita dengan keluarga mereka? Tapi apakah papa ingat kesalahan terbesar yang sudah papa lakukan terhadap mereka? Apakah papa ingat semuanya itu? Bersyukur mereka masih mau menerima kita kembali, kita hanya perlu memperbaiki dan mengembalikannya seperti semula. Kita yang harus merendah, meminta maaf dan memohon ampun jika di perlukan, bukan malah mendesak mereka dan menuduhkan yang bukan-bukan seperti ini" ucap Susi kesal. Sama hal nya dengan Irana, ia tak ingin ada keretakan antara keluarga mereka.