Sebelas

1139 Words
Tak ada yang bisa di lakukan selain bangkit dari kegagalan, Fajrin mencoba untuk bangkit dan melupakan apa yang telah hilang darinya. Dengan usaha dan keyakinan, Fajrin hanya mengingat kalau ia akan mendapatkan hasil yang lebih dari yang ia dapatkan sebelumnya. Ia tak ingin melakukan sesuatu yang konyol seperti yang Irana katakan, membuat Arestertekan karena tingkah dirinya yang pada kenyataannya bukan hal itulah penyebabnya. Fajrin masuk ke ruang bawah tanah, dengan segala yang ia miliki, ia memulai kembali penelitiannya itu. Bukan hal yang mudah untuk bisa sampai ke tahap akhir, Fajrin harus memulai step by step untuk mendapatkan hasil yang sempurna seperti yang ia lakukan sebelumnya. Dengan otak cersdasnya, ia yakin bisa melakukannya dengan lebih mudah dari sebelumnya. Dengan ketekunan dan kerajinannya, ia selalu melakukan penelitian setiap kalia ia pulang kerja. Namun, meskipun Fajrin sangat menginginkan hasil dari penelitian itu, ia tak melupakan tanggung jawabnya sebagai suami untuk membagi waktunya dengan sdang istri dan juga anak, ia tak ingin menjadikan pekerjaan dan penelitian sebagai alasan kesibukkannya sehingga tak memiliki waktu dengan keluarga. Ting… tong… Terdengar suara bel di rumah Fajrin, sesuatu yang tak pernah mereka duga akan kedatangan tamu karena mereka akan pergi untuk liburan di weekend ini. Mereka juga tak bisa menebak siapa yang akan datang, karena untuk bertemu dengan keluargapun mereka jarang melakukannya di rumah mereka, dan mereka yakin tidak akan ada yang akan mertamu ke sana kecuali RT setempat dan sanak saudaranya. Fajrin terkejut saat melihat siapa yang ada di balik pintu, ia tak menyangka kalau orang yang sama sekali tak ia harapkan untuk datang, kini sedang berdiri di hadapannya. “Siapa, Pa?” tanya Irana yang sedang menuruni anak tanga hendak menghampiri Fajrin. “Assalamu’alaikum” ucap Farhan dan Susi bersamaan, begitu juga dengan Sinta yang mengucapkannya sedikit terlambat dari mereka. “Eh ada kalian, ayo masuk” ucap Irana dengan lembut, sementara Fajrin hanya bisa tersenyum pahit. Mereka duduk bersama di ruang tamu, di sana hanya ada keheningan dan kecanggungan, berbeda saat sebelum Farhan mengutarakan maksudnya malam itu. “Oh iya, kalian mau pergi?” tanya Susi. “Iya, Sus. Kebetulan ini hari libur kakak mu, jadi kami berencana untuk pergi jalan-jalan. Mengenang masa muda, setiap weekend selalu keliling-keliling untuk mencari udara segar, hehe” ucap Irana sambil terkekeh. “kebetulan juga kakak dan kakak ipar berencana untuk pergi jalan-jalan, kami juga ingin mengajak kalian jalan-jalan. Rasanya sudah sangat lama kita tidak pergi bersama semenjak kami pindah kembali, mungkin kita bisa membali menjalin hubungan kekeluargaan seperti dahulu” ucap Susi, sementarafajrin dan Irana hanya bisa terkekeh. “Benarkah? Kebetulan sekali kalau begitu. Kami berencana untuk pergi ke kebun binatang karena Ares sangat ingin pergi ke sana” ucap Fajrin. Irana menatap Fajrin, namun ia mengerti kenapa suaminya mengatakan hal itu, karena memang Ares sangat menyukai kebun binatang. “Benarkah, Pa? kita akan pergi ke kebun binatang? Papa nggak bohong kan?” tanyaAres. “Iya dong, sayang. Kita akan pergi ke kebun binatang dan melihat binatang-binatang kesukaan kamu. Binatang apa yang paling kamu sukai dan ingin kamu lihat di sana?” tanya Fajrin. “Ares ingin melihat Gorila, Pa. Papa tau kan Gorila? Badannya yang besar, tubuhnya yang kuat, Ares ingin memiliki tubuh seperti itu, tapi yang Ares inginkan tubuh yang kekar dan kuar supaya suatu saat bisa melindungi papa dan juga mama di hari tua kalian nanti” ucap Ares dengan polosnya, lalu ia tetawa yang di balas dengan tawa kecil oleh Fajrin dan juga Irana. Tanpa mereka sadari atau dengan sangat mereka sadari, Susi dan juga Farhan serta Sitna terkejut mendengarnya, mereka kembali mengingat kejadian yang pernah menimpa mereka di sebuah kebun binatang. Susi menatap Farhan, seolah ia meminta suaminya itu untuk meminta Fajrin mengganti tujuannya. Ia tak ingin mengambil resiko kalau sampai mereka pergi ke sana, bukan takut terjadi hal yang sama, tapi rasa traumanya yang tinggi membuatnya tak mampu walau hanya untuk membayangkan kebun binatang. “Kak, apakah tidak ada tujuan lain? Maksud ku, setelah kejadian itu, Sinta sangat takut pergi ke sana. Benarkan sayang?” tanya Farhan yang di jawab dengan anggukan oleh Sinta. “Sinta nggak mau lagi pergi ke sana, Sinta takut sama binatang-binantang itu, Sinta takut Gorila” ucap Sinta dengan sangat imutnya. Mereka terdiam, berharap Fajrin mau menuruti permintaan mereka. “Bagaimana, Ares?” tanya Fajrin. “Bagaimana apanya, Pa? Apakah kita tidak akan pergi ke kebun binatang? Bukankah Papa sudah berjanji sebelumnya? Kenapa papa mengingkari janji papa?” ucap Ares. “Tapi sayang, Sinta tidak bisa pergi ke kebun binatang, dia takut sama binatang” ucap Irana. “Kalau dia takut binatang, kenapa bukan dia saja yang tinggal? Kenapa kita harus pergi bersama dengan om Farhan? Kalau ingin pergi liburan bersama bisa di lain waktu kan, Ma. Hari ini kita akan ke kebun binatang karena papa sudah menyetujuinya dan berjanji, akan sangat sulit untuk meminta papa pergi ke kebun binatang lain waktu” ucap Ares sedikit kesal, ia menatap Sinta yang membuatnya harus berdebat dengan kedua orangtuanya. “Ares sayang, kebetulan kan om dan tante ada di sini, kita pergi bareng-bareng saja. Apa kamu tidak rindu pergi jalan-jalan bersama kami? Tenang saja, om akan meminta papa untuk membawa mu pergi ke kebun binatang lain hari, om janji” ucap Farhan meyakinkan Ares. “Tidak, aku tidak mau. Aku ingin pergi ke kebun binatang karena papa sudah berjanji dan mengizinkannya. Kalau tidak pergi ke kebun binatang, sebaiknya Ares tinggal di rumah saja” ucap Ares. Mereka terdiam, ada setitik hati yang kecewa dengan apa yang sudah di rencanakan sebelum, namun hati itu harus tetap bersabar karena tak ingin mendapatkan kekecewaan yang lebih dalam. Tak ada yang angkat bicara, Ares pergi meninggalkan mereka dan masuk ke dalam kamarnya. Irana dan Fajrin yang melihat hal itu tak bisa berbuat banyak, mereka juga tak ingin mengecewakan Ares yang tak begitu banyak permintaan. Ares selalu mengalah dan bersabar setiap kali mereka menolak permintaannya, namun Ares tidak akan pernah lupa dengan apa yang sudah di janjikan dan akan terus menagihnya. “Maaf, Farhan. Sepertinya kita tidak bisa pergi liburan bersama, sepertinya kita tak sejalan untuk saat ini. mengingat kalian yang begitu trauma dengan kebun binatang, sementara Ares sangat menginginkan hal itu. Sekali lagi aku benar-benar minta maaf, mungkin kita akan liburan bersama di lain waktu” ucap Fajrin. “Ah tidak apa-apa, kita juga tak bisa memaksakan kehendak terhadap Ares, bukan. Kalau begitu kami permisi dulu, Kak. Seperti apa yang kakak katakan, mungkin kita bisa pergi liburan di lain waktu” ucap Farhan dengan berat hati, ia memaksakan senyumnya meski sebenarnya ia sangat berat untuk mengatakannya. Aku yakin kau sengaja melakukannya, Fajrin. Sudah sejak lama Ares meminta untuk pergi ke kebun binatang, tapi kau mengabulkan permintaannya hari ini saat di mana kami ingin liburan bersama dengan kalian, dan saat di mana kami memiliki trauma ke kebun binatang. Tapi tidak apa, mungkin ini belum waktu yang tepat untuk kita bisa membicarakannya, batin Farhan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD