Sepuluh

1054 Words
Fajrin nelajukan mobilnya ke rumah sakit, ia mencoba untuk tetap tenang meskipun kepalanya di penuhi dengan pikiran-pikiran yang harus menguras isi kepalanya. Irana menatap suaminya yang sedang terdiam, ia juga bisa merasakan kalau Fajrin sedang memiliki beban pikiran. "Ada apa, Pa?" tanya Irana. Fajrin terkejut, ia juga merasa bingung kenapa Irana bisa bertanya seperti itu kepadanya. "Apa maksud mama?" tanya Fajrin pura-pura tidak tau. "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Irana. "Mama yakin sedang terjadi sesuatu, apakah di kantor sedang ada masalah?" tanya Irana lagi. "Tidak ada masalah apa-apa, Ma. Semua baik-baik saja, kok. Mama tidak peelu khawatir" ucap Fajrin. "Jangan berbohong kepada mama,mama tau sedang terjadi sesuatu. Mama bisa mengetahui kalau sekarang papa sedang memikirkan sesuatu, jadi sebaiknya cerikan apa yang terjadi kepada mama" ucap Irana lagi yang begitu yakin kalau suaminya sedang memiliki masalah. "Mama juga bingung, tidak biasanya papa pulang terlambat, dan papa tiba-tiba mengatakan kalau Farhan menemui papa. Kenapa tiba-tiba Farhan menemui papa? Apakah terjadi sesuatu kepada kalian?" lanjutnya. Fajrin menarik napasnya dalam lalu mrmbuangnya kasar, dengan perlahan pria paruh baya itu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Irana. Ia mulai menceritakan apa yang terjadi kepada Farhan sehingga ia tak pernah menemui dirinya, ia juga menceritakan keadaan Sinta saat ini. Tak lupa Fajrin untuk mengatakan apa yang di inginkan oleh Farhan sehingga Farhan menemui dirinya. "Papa juga bingung, papa tidak yakin" ucap Fajrin. "Kenapa papa tidak yakin?" tanya Irana. "Apa yang harus papa yakini dari Farhan, Ma? Apakah papa harus menerima untuk bekerja sama dengannya lagi?" tanya Fajrin seolah tak suka kalau Irana mendukung ucapan Fajrin. "Kenapa tidak? Bukankah sedari awal kalian bekerja sama? Papa selalu menginginkan keberhasilan, dengan bersama dengan Farhan, akan memungkinkan untuk mempermudah penyelesaian penelitian papa itu" ucap Irana dengan sangat yakin. "Tidak, Ma. Dengan adanya Farhan, hal itu akan merugikan papa" Pungkas Fajrin. "Kenapa papa mengatakan kalau itu akan merugikan papa? Bukankah itu lebih baik? Farhan itu sahabat papa yang sudah kita anggap seperti adik kita sendiri. Rencana Farhan adalah yang terbaik kedepannya, wajar dia menginginkan keberhasilan penelitian ini supaya bisa berjaga-jaga san menghindari terjadinya yang tidak di inginkan kepada keluarganya di kemudian hari. Bukankah itu yang papa inginkan? Papa melakukan semua ini karena ingin membantu orang lain, terutama untuk menjaga mama dan juga Ares. Sama halnya dengan Farhan, karena ia sangat mencintai keluarganya" pungkas Irana. "Sayangnya itu tidak semudah yang mama pikirkan, aku tidak rela berbagi hal itu karena semua sudah selesai. Papa sudah berhasil melakukannya, hanya saja semua telah hilang dalam sekejap. Kalau untuk mengulang kembali, tanpa bantuan Farhan pun papa sudah bisa. Kenapa sekarang dia memikirkan hal itu? Kenapa dia tidak memikirkannya sebelum ia memilih pergi ke Bali dan meninggalkan papa? Kalau memang dia sahabat papa yang benar-benar menganggap papa sahabat, dia pasti akan tetap memilih berjuang dengan papa dari pada memilih uang yang hanya sedikit menggiurkan itu, tapi sekarsng justru membuatnya terbuang dan terombang ambing. Mama tau, dia kembali kepada papa, kembali melanjutkan penelitian dengan papa yang sudah papa teruskan selama bertahun-tahun, bukankah itu sangat menguntungkan baginya yang sama sekali tak pernah melakukan apa-apa terhadap penelitian selama ini? Papa jadi curiga, mungkinkah dia yang mengambil hasil penelitian papa?" tebak Fajrin asal, meski sebenarnya ia juga tak yakin kalau Farhan yang melakukannya. "Apa yang papa katakan, papa tidak boleh suudzon seperti itu. Kalaupun dia sangat menginginkannya, dia tidak mungkin sampai berbuat sekonyol itu. Farhan juga tidak mungkin tau kalau di rumah kita ada CCTV, sementara pencuri itu bisa lewat dan masuk ke rumah kita tanpa meninggalkan jejak di CCTV. Lagipula mama sangat yakin kalau bukan dia pelakunya, bukan karena ingin membela Fajrin, tapi karena jelas itu tidak mungkin. Kalau dia yang mencurinya, tidak mungkin dia mendatangi papa seperti ini untuk bekerja sama sementara dia sudah memilikinya. Bukankah papa mengatakan kalau semuanya sudah berhasil? Kalau hal itu benar, sudah pasti dia bisa nengetahui masa depan, lalu untuk apa dia datang lagi dan meminta kerja sama kepada papa? Dan kalau dia sudah bisa mengetahui masa depan karena sudah nendapatkan serup papa itu, kenapa dia tidak mencegah Sinta masuk ke dalam kandang Gorila itu? Bikankah itu semua sudah membuktikan kalau Farhan tidak melakukannya? Jangan pernah papa berpikir mama membela Farhan, tapi itu adalah logikan yang papa sendiri juga harus mengerti" ucap Irana. Fajrin terdiam, ia juga tak bisa menyangkal ucapan istrinya itu. Daripada berdebat dengan Irana, Fajrin hanya bisa nengangguk pertanda ia setuju dengan apa yang di katakan oleh Irana, namun ia tetap tak setuju jika Irana memintanya untuk menerima Farhan melanjutkan penelitian tersebut. Irana duduk di tepi ranjang Ares ia mengusap puncak kepala putra semata wayangnya itu dengan lembut. Sementara Fajrin, ia mengusap pundak istrinya itu dengan sangat lembut brrusaha menguatkan istrinya. "Sudahlah, Ma. Jangan sedih seperti itu, hal yang wajar jika Ares sakit seperti ini. Bukankah dia termasuk anak yang kuat? Selama ini dia tak pernah sakit, kalau pun pernah itu sangat jarang, bukan? Lagipula, kalau Ares di beri sakit, itu untuk memperkuat daya tahan tubuhnya, jadi mama tidak perlu khawatir karena Ares akan segera sembuh" ucap Fajrin. "Iya, Pa. Tapi mama ingin menemani Ares di sini, Pa. Mama tidak ingin meninggalkan Ares, mama takut kalau sampai panasnya tiba-tiba meninggi dsn tidak ada siapa-siapa di sampingnya" ucap Irana. Ia berusaha untuk membendung air matanya, namun ia tak mampu sehingga air mata lolos membasahi pipinya. "Baiklah, kalau mama ingin menemani Ares, kita akan tidur di sini bersamanya" ucap Fajrin berusaha untuk menenangkan istrinya. "Tapi, Pa. Kita tidak akan muat untuk tidur bertiga di sini" ucap Irana. "Kalau begitu papa akan membawa Ares ke kamar kita, kita akan tidur bertiga di sana" ucap Fajrin memberi solusi, Irana hanya bisa mengangguk mengiyakan. Fajrin masih saja memikirkan apa yang terjadi, berusaha mencari tahu pelaku di balik kejadian yang menimpa dirinya dengan pikiran-pikirannya yang sama sekali tidak memiliki kepastian. Ia mengusap wajahnya kaar, dan mencoba untuk menenangkan dirinya. "Pa, cobalah untuk tetap tenang dan jangan terlalu terobsesi dengan penilitian papa itu. Papa selalu diam dan bahkan sering bicara sendiri karena kehilangan hal itu, dan papa tau, semua itu tak luput dari penglihatan Ares. Mama takut kalau Ares memikirkan hal itu sehingga dia jadi seperti ini, di tambah lagi papa sering mengacuhkan dirinya" ucap Irana. "Benarkah?" tanya Fajrin sedikit tak yakin, namun Irana mengangguk. Fajrin duduk di tepi ranjang, memikirkan apa yang Irana katakan, lalu ia menyesali semuanya dan mencoba untuk mengikhlaskan apa yang telah hilang dan berharap akan mendapatkan gantinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD