Sembilan

1192 Words
Sudah hampir dua minggu, Fajrin tak kunjung menemukan siapa pelaku di balik hilangnya serup penelitiannya itu. Ia merasa kepalanya hampir pecah saat memikirkannya, bahkan saat di kantorpun ia masih saja tetpa memikirkan hal itu sampai saat ini. Namun, sebagai seorang pekerja yang profesional, meskipun Fajrin terus menerus memikirkan tentang hasil penelitiannya itu, ia masih tetap fokus dalam pekerjaannya. Ia tak pernah mengabaikan pekerjaannya atau bahkan mengacaukannya karena ia tahu untuk membagi-bagi porsi untuk setiap yang berhubangan dengan dirinya. Fajrin yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan memilih untuk pulang, tiba-tiba melihat seseorang yang tak asing baginya sedang menunggu dirinya di lobi. Seseorang yang tak pernah ia pikirkan akan menunggunya karena sudah dua minggu sejak dia bekerja di sana, dia sama sekali tidak pernah menemui Fajrin. "Lama tak bertemu" ucap Fajrin meledek. "Ck, benarkah itu sudah terhitung lama? Bahkan menurut ku itu masih dalam jangka waktu yang singkat. Maaf kalau aku tidak pernah menemui mu, kak. Ketahuilah posisi ku saat ini, aku masih karyawan baru dan aku tidak sebebas diri mu. Lagipula, selama aku bekerja di sini, kau selalu sibuk dan aku tidak pernah melihat mu" kata Farhan. "Ya, tak melihat ku karena kamu sama sekali tak ingin melihat ku" canda Fajrin, namun dari nada bicaranya terdengar seolah sedang serius. Farhan hanya terkekeh, ia tau kalau Fajrin sedang meledek dirinya. "Ada waktu untuk nongkrong sejenak?" tanya Farhan. "Sepertinya tidak, maksud ku tidak bisa menolak hehe" ucap Fajrin yang lagi-lagi membuat Farhan tertawa kecil. Tapi aku harus memberi tahu kepada Irana dulu, aku takut mereka akan khawatir jika aku tak kembali tepat waktu" ucap Fajrin lagi, Farhan hanya bisa mengangguk mengiyakan. "Apakah kau membawa mobil mu?" Tanya Fajrin. "Tidak, Susi sedang memakainya membawa Sinta ke rumah sakit untuk kontrol" kata Farhan. "Membawa Sinta? Putri mu? Sakit apa?" tanya Fajrin sedikit terkejut. "Ceritanya sangat panjang, sepertinya akan lebih enak berbincangnya jika kita sudah duduk di tempat yang nyaman untuk membahasnya" kata Farhan yang di jawab dengan anggukan oleh Fajrin. Fajrin melajukan mobilnya menuju sebuah restoran terdekat, tempat di mana ia bisa berbincang dengan santai bersama Farhan. "Apa yang sebenarnya terjadi kepada kepada Sinta, Han?" tanya Fajrin, ia juga sangat penasaran. "Hal itu jugalahcyang meminta ku untuk menemui mu. Bukan karena ada sesutu yang aku inginkan, tapi karena sesuatu yang kita inginkan" kata Farhan. "Apa maksud mu? Aku tidak mengerti apa yang kami bicarakan" ucap Fajrin. Farhan mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana keadaan Sinta saat ini, putri yang sangat Farhan cintai yang saat ini harus menjalani pengobatan untuk bisa kembali menggerakkan tangan dan juga kakinya yang tak bisa ia gerakkan akibat benturan di kandang Gorila kala itu. Fajrin yang mendengar hal itu terkejut sekaligus merasa prihatin, di rambah lagi ia sudah menganggap putri Farhan sebagai putrinya sendiri. "Apapun itu, meskipun itu sebuah musibah dan sebuah kejadian yang hampir merenggut nyawa mu, tapi tetaplah bersyukur karena Tuhan masih melindungi kalian. Aku turut berduka atas kejadian yang menimpa keluarga mu terutama Sinta, aku berdoa semoga dia lekas di sembuhkan" kata Fajrin tulus. "Terima kasih, Fajrin. Hal itulah yang mendorong ku datang ke mari seperti yang aku katakan sebelumnya, aku ke mari karena aku ingin mengatakan sesuatu" kata Farhan. "Katakan saja, aku siap mendengarkannya. Jika kau ingin meminta bantuan ku, maka aku akan berusaha semampu ku." kata Fajrin. Berat hati Farhan untuk mengatakannya, ia takut kalau Fajrin akan menolaknya karena ia telah meninggalkan dan memutuskan untuk tidak melanjutkan penelitian mereka yang membuat Fajrin murka. Ia juga takut kalau sampai Fajrin tidak ingin bekerja sama lagi dengannya karena Fajrin sudah pasti memiliki pengetahuan lebih daripada dirinya. Farhan masih saja bergelayut dengan pemikirannya, ia bahkan tanpa sadar telah di perhatikan oleh Fajrin sejak tadi. "Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau melamun seperti itu?" tanya Fajrin yang membuat Farhan seketika tersadar, ia bahkan tak sadar kalau ia sedang bersama denga Fajrin. "Begini, setelah kejadian yang menimpa Sinta, putri ku yang bahkan kau anggap seperti putri mu. Aku tidak ingin kejadian itu terulang kembali, aku tidak ingin melihat putri ku di ambang kematian untuk kedua kalinya, jadi maksud ku, aku ingin kembali bersama dengan mu untuk melakukan penelitian" kata Marco. Fajrin terkejut, kembali lagi kekesalan di hatinya memanas mengingat kalau serum yang telah ia buat seketika menghilang. Ia meneguk minumannya, ia tak menyangka kalau dia akan mendapat berita itu. "Kenapa diam saja? Apa kau tidak ingin melakukannya? Bahkan sejak kita masih kuliah, kau sangat menginginkan hal itu. Tapi, kenapa kau diam saja mendengarnya?" tanya Farhan. "Aku sangat ingin, aku ingin membuktikan ke dunia kalau aku bisa melihat masa depan. Namun semuanya telah sirna, apa yang aku impikan telah hancur berkeping-keping. Semuanya musnah, musnah tak bersisa." ucap Fajrin. "Tak bersisa? Hancur berkeping-kenping? Apa maksud kamu?" tanyanya Farhan tak mengerti. "Ya, semuanya telah hancur. Penelitian yang telah aku lakukan selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun, penelitian yang aku yakini pasti akan mendapatkan hasil, justru lenyap dalam seketika. Semua hilang saat kita bertemu malam itu, aku tidak tahu siapa yang telah mengetahui rencana ku sehingga ia memberanikan diri untuk mengambilnya. Yang paling membuat ku kesal dan sangat marah, aku bahkan tak bisa melihat siapa pelakunya meskipun aku memiliki CCTV. Sepertinya dia sudah mengetahui seluk beluk rumah ku dan dia tahu kalau di rumah ku ada CCTV" jelas Fajrin. "Lalu, apakah kau akan tinggal diam dan melupakan semua keinginan mu waktu itu? Keinginan mu yang sangat besar, impian mu sedari kecil? Kalau memang ada orang yang berani mencurinya, maka sudah sangat sulit untuk mendapatkannya kembali. Bukankah lebih baik kita membuatnya kembali? Kau sudah pernah melakukannya, pasti sudah lebih mudah untuk membuatnya sekarang" ucap Darhan meyakinkan Fajrin. Fajrin sedikit berpikir, meskipun Farhan adalah sahabatnya sejak lama, namun kini ia sudah mulai kehilangsn kepercayaan kepada Farhan dan bahkan ia juga sudah tak memiliki rasa persahabatan sehebat dulu terhadap Farhan mengingat Farhan yang telah meninggalkan dirinya berjuang untuk penilitian itu seorang diri dan memilih untuk pindah ke Bali karena mendapatkan pekerjaan dengan upah yang lebih besar. "Bagaimana?" tanya Farhan lagi, ia sudah tak sabar untuk mendapatkan jawaban dari Fajrin, ia sangat berharap Fajrin akan menyetujuinya dan mereka akan melakukannya seperti dulu. Namun semua tak seperti yang ia harapkan, untuk kali pertama ia merasa keceea terhadap Fajrin. "Sudahlah Farhan, lupakan saja. Bertahun-tahun aku melakukannya, namun selalu saja mendapatkan kegagalan, sepertinya aku tidak memiliki kecocokan untuk itu" kata Fajrin, namun hati kecilnya berkata lain. Baru saja Farhan ingin kembali meyakinkan Fajrin, tiba-tiba ponsel Fajrin berdering. "Sebentar, Han. Kakak ipar mu sepertinya sudah kebakaran jenggot" ucap Fajrin bercanda. Fajrin: Hallo, Ma. Irana: Pa, Area demam. Fajrin: Apa? Yasudah, kalau begitu mama tunggu papa, papa akan segera pulang. Irana: Baik, Pa. Sambungan telepon terputus, dengan tergesa-gesa Fajrin bangkit dari duduknya. "Maaf, Han. Sepertinya kita lanjutkan di lain hari saja. Ares sedang sakit, kami harus membawanya ke rumah sakit" ucap Fajrin. "Baiklah, hati-hati. Titip salam untuk kakak ipar dan juga Ares, semoga Ares lekas sembuh" ucap Farhan sambil tersenyum yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Fajrin. Seteoah kepergian Fajrin, Farhan mengepalkan tangannya, ada amarah yang tersembunyi di dalam sana. Aku harus bisa meyakinkan Fajrin untuk kembali melakukannya bagaimanpun caranya, pokoknya kami harus bisa menciptakan serum itu dan mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan demi menghindari bahaya yang akan terjadi, batin Farhan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD