Di balik rencana yang telah Farhan susun, namun pada akhirnya harus mendapatkan kegagalan, ia tak pernah merasa lengah. Ia terus berjuang untuk bisa mendapatkan yang ia mau. Baginya, gagal kali ini akan menjadi jalan untuk mendapatkan yang ia mau.
Perjuangan keras yang ia lakukan, bahkan ia harus mengorbankan waktunya hari ini. Tak ada yang pikirkan dan ia inginkan saat ini selain berusaha untuk mendekatkan diri dengan keluarga Fajrin.
Setelah keluar dari rumah Fajrin, Farhan melajukan mobilnya kembali ke rumahnya. Tak ada yang mereka lakukan selain untuk berganti pakaian, suatu hal yang membuat Susi bingung dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya di rencanakan suaminya itu.
"Pa, kenapa kita harus berganti pakaian?" tanya Susi tak mengerti.
"Papa yakin kalau mereka akan keluar hari ini, tidak mungkin mereka akan berdiam diri di rumah selama weekend. Kita harus menunggu sampai mereka keluar, dengan begitu kita pasti bisa pergi dengan mereka" kata Farhan.
"Bagaimana bisa papa sangat yakin?" tanya Susi, namun Farhan justru hanya tersenyum seolah rencananya akan berjalan dengan lancar.
"Ayo kita pergi, dan kita akan lihat apa yang akan terjadi selanjutnya" kata Farhan.
Susi hanya bisa pasrah, mengikuti apa yang di katakan oleh suaminya itu karena ia hanya bisa menurut untuk saat ini.
Entah apa yang akan Farhan lakukan, hanya itu pertanyaan yang timbul di hati Susi. Ia bahkan tak habis pikir kenapa mereka harus berada di sana, di pinggir jalan yang tak jauh dari rumah Fajrin.
"Pa, apa yang akan kita lakukan di sini? Sepertinya mereka memang tidak akan keluar, kita sudah menunggu mereka sejak pagi tadi sampai malam hari seperti ini, tapi mereka tak kunjung keluar" kata Susi.
"Sabar, Ma. Di balik sebuah kesabaran, kita pasti akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Aku yakin kalau mereka akan keluar, meski sebenarnya papa tidak tahu jam berapa mereka akan keluar" kata Farhan dengan penuh keyakinan.
"Ini sudah pukul tujuh malam, Pa. Kita akan menunggu mereka sampai kapan lagi?" tanya Susi sedikit kesal, ia benar-benar tidak habis pikir dengan ide konyol suaminya itu.
"Mama, ini sangat menyenangkan. Untuk pertama kalinya Sinta pergi piknik, keluar jauh dari rumah tapi pikniknya di dalam mobil saja" kata Sinta.
Satu kalimat yang lolos dari bibir Sinta, kalimat yang sama sekali tidak di mengerti oleh Susi dan Farhan, kalimat yang terdengar sangat menyinggung namun Farhan berusaha untuk mencairkan suasana.
"Benarkah sayang? Setelah ini, kita akan pergi ke pantai di weekend selanjutnya. Tapi sayang, papa tidak bisa berjanji, kita akan pergi jika papa tidak ada pekerjaan yang mendesak, dan papa harap kamu bisa mengerti akan hal itu" kata Farhan.
"Siap bos".
" Berapa lama lagi kita akan menunggu?" tanya Susi lagi.
Farhan sedikit kesal, ada sedikit sesal di hatinya karena telah membawa Susi dan Sinta, karena sudah pasti hal ini akan terjadi. Namun di satu sisi, ia takut kalau keberadaan Susi dan Sinta di sampingnya justru sangat di harapkan untuk kedepannya, yang membuatnya harus bersabar.
"Kita tunggu setengah jam lagi, kalau mereka tak keluar, kita akan pergi dari sini" kata Farhan pasrah.
Sesuai jam yang Farhan katakan, mereka menunggu selama setengah jam, namun Fajrin tak kunjung keluar.
Kecewa, hanya itu yang ada di hati Farhan. Kecewa karena apa yang ia rencanakan tidak berjalan dengan mulus, kecewa karena ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi mengingat apa yang ia katakan sebelumnya kepada Susi.
"Tidak ada yang muncul, tidak ada yang terjadi. Jadi sebaiknya kita segera pulang daripada harus menghabiskan waktu dengan percuma di sini" kata Susi.
Farhan hanya bisa pasrah, ia hanya bisa mengalah terhadap Susi. Dengan berat hati, ia melajukan mobilnya, namun ia segera menghentikan mobil itu saat melihat mobil Fajrin keluar dari rumahnya.
“tebakan papa benar, bukan? Papa sangat yakin kalau dia akan keluar dari kandangnya. Papa sudah mengenal Fajrin sejak lama, jadi papa sudah tahu dia” kata Farhan begitu percaya diri.
“Kalau papa tahu bagaimana dia, pasti papa akan sangat mudah untuk dekat dengannya, tapi sayangnya apa yang papa katakan tidak sama dengan kenyataan” kata Susi, sementara Farhan hanya bisa terkekeh lalu mengikuti mobil Fajrin.
Di sinilah mereka saat ini, di sebuah café yang dulu pernah mempertemukan mereka kembali. Fajrin masuk bersama dengan Irana dan juga Ares, dengan sangat senang karena bisa makan bersama di luar semenjak Ares selalu menolak untuk makan bersama di luar.
Ares tidak begitu menyukai dunia luar, lebih tepatnya pergi dengan kedua orangtuanya untuk makan bersama di luar karena ia lebih menyukai masakan Irana. Tapi karena sang papa tidak bisa pergi dengan mereka untuk jalan-jalan, di tambah lagi dengan kedatangan Farhan, membuat Ares harus menerima untuk pergi makan malam bersama dengan kedua orangtuanya.
“Mau pesan apa sayang?” tanya Irana.
“Apa saja yang penting seenak masakan mama” jawab Ares asal, sementara Irana hanya bisa terkekeh mendengar ucapan putranya itu.
Makanan terhidang di meja, namun Farhan dan keluarganya tak kunjung muncul, Farhan ingin mencari waktu yang tepat baginya dan juga keluarganya untuk masuk ke dalam supaya Fajrin tidak curiga.
“Apa yang akan kita lakukan, Pa?” tanya Susi tak mengerti, ia bahkan bingung harus melakukan apa dan bahkan harus mengatakan apa kepada Irana dan juga Fajrin.
“Bertindak sewajarnya saja, Ma. Anggap saja mereka tidak ada di sini dan kita memang merencanakan akan datang ke mari, dengan begitu mereka tidak akan curiga kepada kita” kata Farhan yang di jawab dengan anggukan oleh Susi.
Ketiganya berjalan memasuki café, terlihat di sana Fajrin sedang menyantap makanannya bersama dengan Irana dan juga Ares. Sesuai dengan rencana, Farhan akan berjalan seolah tidak melihat mereka di sana.
“Sayang, nanti kalau ka…” Farhan sengaja menggantung kalimatnya, dengan triknya kali ini, ia seolah sedang melihat Fajrin di sana.
“Eh, kalian ada di sini?” tanya Farhan.
Fajrin dan Irana terkejut, tak terkecuali Ares yang menatap Farhan dengan tatapan tidak suka. Bukan hanya tidak suka, ia juga merasa sangat kesal karena usahanya untuk tidak pergi dengan Farhan justru berakhir kegagalan karena mereka pasti akan makan bersama di sana.
“Eh, Farhan. Kalian juga di sini? Sungguh kebetulan yang terencana” ucap Fajrin terkekeh, namun Farhan tidak menanggapi apa yang Fajrin katakan.
“Boleh kami bergabung?” tanya Farhan.
“Tentu boleh, aku merasa tidak enak karena tidak menawarkannya kepada mu, hehe” kata Fajrin.
Apalagi ini Farhan? Apa yang sebenarnya kamu rencanakan? Kebetulan? Kebetulan macam apa ini? mungkin kalau di sebut kebetulan, ini adalah suatu kebetulan yang sebenarnya sudah kamu rencanakan dengan matang. Aku hanya bisa berdoa supaya kamu tidak mengacaukan malam ini, aku tidak ingin makan malam ku dengan keluarga ku yang sangat langka ini mengingat Ares sangat sulit untuk di ajak keluar, menjadi hancur berantakan, batin Fajrin.