"Ada apa dengan mu nak?" tanya Irana.
"Kenapa, Ma? Tidak terjadi apa-apa kepadaku. Kenapa mama bertanya seperti itu?" tanya Ares tak mengerti.
"Kau selalu saja ngotot untuk tidak pergi dengan om Farhan, kau selalu mencari cara supaya kita tidak pergi dengan mereka. Apakah terjadi sesuatu?" tanya Irana.
"Ah tidak, Ma. Apa yang akan terjadi kepada anak kecil seperti Ares dengan orangtua seperti om Farhan? Tidak mungkin terjadi apa-apa, apalagi kami baru bertemu" kata Ares mengelak.
"Tapi..." Irana tak bisa melanjutkan kalimatnya saat Ares kembali memotongnya.
"Sudahlah, Ma! Jangan berpikir yang tidak-tidak, tidak terjadi apa-apa kepada Ares. Apa yang Ares katakan memang benar, bukan? Kita sedang sibuk di rumah, dan kita juga akan pergi makan malam, jadi kita tidak ada waktu untuk pergi dengan mereka. Sebaiknya kita kembali melakukan apa yang sebelumnya kita lakukan, supaya kita bisa pergi lebih cepat malam ini. Aku juga sudah tidak sabar ingin menikmati kue yang akan mama buat. Kalau begitu, Ares kembali ke kamar dulu ya, Ma, Pa. Ares ingin mengerjakan PR" kata Ares.
Irana dan Fajrin hanya bisa mengangguk, namun ia masih bertanya-tanya kenapa Ares terlihat sangat membenci Farhan.
"Pa, sepertinya ada sesuatu antara Ares dan juga Farhan" kata Irana menduga.
"Kenapa mama bertanya begitu?" tanya Fajrin, namun ia tidak begitu terkejut.
"Apakah papa tidak melihat sikap Ares setiap kali kita bertemu? Apakah papa tidak melihat sikap Ares setiap kali Farhan mengajak kita untuk pergi? Sebelum kita memberi alasan, dia sudah terlebih dahulu memberikan alasan kepada kepada Farhan. Apakah papa tidak merasa kalau itu sangat aneh?" tanya Irana.
"Apakah mama lupa kalau anak mama dewasa tidak pada waktunya? Sudah pastinya Ares seperti itu karena dia melihat kita tidak begitu menyukai Farhan, dan dia pasti langsung memahami itu apa yang terjadi mengingat kedewasaannya yang terlalu cepat" kata Fajrin.
"Mama takut terjadi sesuatu, Pa. Mama takut kalau sampai Ares memiliki kebencian yang mendalam kepada Farhan karena kita, mama takut kalau sampai dia memiliki dendam kesumat kepada Farhan, mama takut..." lagi-lagi kalimat Irana tergantung, Fajrin tak ingin Irana melanjutkan dugaan-dugaan yang mengerikan itu.
"Ma, anak kita dewasa, bukan psikopat. Dia tahu apa yang harus dia lakukan, papa percaya kepada Ares. Kalau dia ingin melakukan sesuatu, pasti dia sudah melakukannya jauh-jauh hari, tapi dia tidak melakukannya, bukan? Dia hanya dewasa awal, itu artinya dia langsung memahami masalah orang dewasa dan mendalaminya, dia hanya ingin menghindari kedekatan kita kepada Farhan karena mungkin dia tidak ingin terjadi kejadian yang lampau meski dia tidak tahu kejadian apa yang terjadi itu. Positive thinking aja, Ma. Papa yakin, semua baik-baik saja selagi Farhan tidak bertindak yang bukan-bukan" Kata Fajrin.
"Tapi, Pa..." lagi dan lagi, kalimat itu harus terpotong.
"Sttt, papa sudah bilang, jangan berpikir yang tidak-tidak supaya tidak terjadi yang tidak-tidak. Sebaiknya mama kembali ke dapur untuk melanjutkan apa yang sebelumnya tertunda, papa juga ingin melanjutkan penelitian papa, papa tidak ingin mendapatkan kegagalan kali ini" ucap Fajrin, Irana hanya bisa mengangguk mengiyakan.
Kembali lagi ketiganya melanjutkan aktivitasnya, lebih tepatnya Fajrin dan Irana karena Ares sudah sedari tadi menyelesaikan PR-nya. Apa yang di perbicangkan sepasang suami istri itu tak luput dari pendengaran Ares, ia bahkan tak terkejut mendengarnya karena sedari awal dirinya memang menaruh kecurigaan tentang hubungan orangtuanya dengan Farhan.
Awalnya Ares menaruh dendam, meskipun ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun ia mencoba untuk tidak terlalu ikut campur dan mencoba untuk menghilangkan dendam itu mengingat ucapan Fajrin barusan, ia tak ingin mengecewakan kedua orangtuanya dengan bertindak yang bukan-bukan.
Melupakan semuanya, itulah yang mereka lakukan saat mereka akan pergi menikmati makan malam bersama. Fajrin yang sudah menyelesaikan penelitiannya untuk hari ini, langsung kembali ke kamarnya dan membersihkan diri. Sementara Irana dan Ares, sudah sedari tadi bersiap-siap, mereka hanya menunggu Fajrin yang belum muncul dari ruang bawah tanah.
"Kenapa lama sekali?" tanya Irana yang sedang menunggunya di kamar, Ares juga sudah bersiap di sana.
"Astaga, papa minta maaf, papa pikir kalian belum selesai. Lagipula, kenapa mama tidak memanggil papa? Jika kalian sudah bersiap seperti ini, papa pasti akan langsung ke sini" kata Fajrin.
"Ya, tapi mama tidak enak mengganggu papa, mama takut kalau sampai semuanya berantakan" jawab Irana.
"Yasudah kalau begitu, papa bersiap-siap dulu ya" kata Fajrin lalu ia membersihkan diri.
Tak ada yang bisa Irana dan Ares lakukan, mereka hanya bisa mengangguk mengiyakan apa yang di katakan oleh Fajrin karena mau berbuat apapun, tetap saja mereka harus menunggu Fajrin.
Selama membersihkan diri, Fajrin terus menerus memikirkan apa yang akan ia lakukan untuk penelitiannya itu, siapa yang akan menggantikan dirinya untuk memeriksan dan melanjutkan penelitian itu selama ia melakukan perjalanana bisnis di luar kota.
"Bagaimana ini? Mungkinkah aku meminta Irana untuk melakukannya? Tapi aku takut kalau sampai dia tak mau melakukannya. Lagipula, bagaimana kalau sampai dia salah dalam melakukannya? Bukan hasil yang aku dapatkan, melainkan kegagalan dan juga kehancuran. Argh, aku benar-benar bingung, aku tidak tau harus bagaimana. Sebelum berangkat ke sana, sepertinya aku harus membicarakan hal ini dengan Irana, semoga saja dia mau melanjutkan penelitian ku ini untuk sementara" ucap Fajrin penuh harap.
Setelah ia keluar dari kamar mandi, Irana dan juga Ares menatapnya dengan tatapan kesal.
"Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian menatap ku seperti itu?" tanya Fajrin tak mengerti.
"Kenapa masih bertanya? Kau tidak seperti biasanya saat di kamar mandi, kau begitu lama dan itu membuat kami kesal di saat kita akan pergi seperti ini" kata Irana sedikit kesal.
"Ah maafkan papa, papa benar-benar tidak sengaja. Mau bagaimana lagi, papa harus mandi dengan bersih karena tadi ada beberapa cairan yang mengenai papa, jadi papa tidak mau kalau sampai papa tercium bau atau semacamnya. Sudahlah, jangan menatap papa seperti itu, papa akan bergerak dengan cepat" kata Fajrin berbohong, meski sebenarnya ia juga merasa takut kalau sampai Irana dan Ares tidak percaya.
Ketiganya sudah bersiap, seperti biasanya, Ares akan dengan cepat duduk di kursi belakang, ia akan bersantai di sana sambil mendengarkan perbincangan kedua orangtuanya. Yah, hanya sebagai pendengar saat kedua orangtuanya berbincang, dan sebagai penonton saat kedua orangtuanya sedikit berdebat.
Fajrin melajukan mobilnya menuju tempat di mana mereka akan makan malam, tempat di mana mereka bertemu dengan Farhan untuk pertama kali setelah kembali dari Bali. Dengan sangat tenang Fajrin melajukan mobilnya, tanpa ia sadari sebuah mobil sedang mengikuti mereka dari belakang.