Fajrin masih saja sibuk di ruang bawah tanah, ia masih saja berusaha untuk melakukan penelitiannya itu dengan semangat dan dengan keyakinan penuh. Hal yang semakin membuatnya bersemangat yaitu saat Irana memberikan dirinya izin untuk melakukan penelitiannya hari ini, meski sekarang adalah hari weekend, dimana seharusnya ia akan menemani Irana dan juga Ares untuk pergi berlibur.
"Pa, mama memberi papa waktu untuk bertapa di ruang bawah tanah itu, tapi papa harus ingat kalau nanti malam kita akan pergi makan malam di luar" kata Irana saat mereka sedang sarapan.
"Tentu, sayang! Papa tidak akan lupa itu, lagipula waktu ini sudah sangat cukup untuk papa melakukan penelitian, waktu yang seharusnya papa habiskan bersama dengan kalian" jawab Fajrin.
"Tidak apa-apa, Pa. Lagipula Ares juga harus menyelesaikan PR nya, jadi kita tidak bisa pergi sekarang. Sementara kalian sibuk, mama akan membuat beberapa makanan untuk kita" kata Irana yang di jawab dengan anggukan oleh Fajrin dan juga Ares.
Sedikit demi sedikit, Fajrin mencoba penelitiannya itu untuk mencapai tahap berikutnya. Dengan memiliki waktu yang panjang seperti sekarang ini, ia bisa melihat proses yang akan terjadi pada penelitiannya itu. Berbeda dengan waktu-waktu sebelumnya, yang hanya bisa ia perhatikan di malam hari saja.
"Kali ini, waktu ku untuk mu sayang, mari bekerja sama dengan baik, bantu aku mewujudkan mimpiku dan menunjukkan kepada dunia kalau kita bisa merubah dunia dalam hal positif" ucap Fajrin.
Tiba-tiba ponsel Fajrin berdering, sebuah panggilan yang sama sekali tidak ia harapkan, lebih tepatnya karena ia tak ingin di ganggu saat sedang melakukan penelitiannya itu. Namun sayangnya, ia tidak bisa menolak panggilan itu karena itu adalah panggilan dari bosnya sendiri.
Fajrin: Hallo, Pak!
Bramadi: Hallo, Fajrin! Maaf mengganggu waktumu. Saya hanya ingin mengatakan supaya kamu menemani saya menemui client senin depan karena Alisya tidak bisa menemani saya, beliau ada keperluan keluarga yang tidak bisa di tinggalkan. Maaf memberitahukan hal ini mendadak, saya benar-benar lupa.
Fajrin: Baiklah, Pak.
Bramadi: Kita akan bertemu di kantor, tapi saya minta kamu untuk datang lebih awal, dan jangan lupa untuk membawa beberapa pakaian kamu, karena kita akan bertemu client di luar kota, dan kita akan menghabiskan waktu selama dua atau tiga hari di sana.
Fajrin terdiam, ia bahkan tanpa sadar telah mengabaikan bosnya itu. Pikirannya seketika melayang ke serum yang kini ada di hadapannya, ia benar-benar tidak bisa meninggalkannya dalam waktu selama itu, karena ia harus melihat perkembangannya setiap hari. Namun ia tak memiliki pilihan lain, ia harus menerima tawaran bosnya itu karena itu sudah menjadi kewajiban dan tanggungjawabnya.
Bramadi: Fajrin, apakah kamu mendengarkan saya?
Fajrin: Ah, iya Pak. Saya akan ke kantor lebih awal, justru saya berterima kasih kepada Bapak karena memberitahukan saya hari ini. Bagaimana kalau Bapak mengatakannya sat kita sudah di kantor, saya sama sekali tidak memiliki persiapan, bukan? Hehe.
Bramadi: Haha, kamu bisa aja Fajrin. Baiklah kalau begitu, saya tutup teleponnya. Terima kasih atas pengertiannya dan sekali lagi saya minta maaf karena memberitahukan kamu secara mendadak.
Fajrin: Baik, Pak. Tidak masalah untuk itu.
Sambungan telepon terputus, Fajrin benar-benar bingung harus berbuat apa. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada serumnya itu jika ia tak memperhatikannya selama dua atau tiga hari. Setiap hari, ia selalu menambahkan sedikit demi sedikit serbuk pada serumnya itu, serbuk yang ia dapatkan dari rempah-rempah langka yang ia cari di hutan dan ia olah sendiri.
"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana kalau sampai serum ini meiliki efek samping jika tidak menambahkan setiap serbuknya di hari berikutnya? Bahkan aku belum pernah meninggalkan penelitian ini, kenapa harus sekarang? Kenapa harus di saat aku akan mencapai tahap akhir? Kalau hal itu menjadikan penelitian ini menjadi gagal, maka akan sangat di ssyangkan kalau aku harus mengulangnya dari awal. Andai saja masih di tahap awal, mungkin tidak apa-apa jika harus mengulangnya lagi. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak bisa menolak permintaan bos ku sendiri. Kalau sampai aku menolaknya, maka pekerjaanku yang akan menjadi taruhannya, dan resikonya istri dan anakku yang akan menanggungnya karena aku tidak bisa memenuhi kebutuhan mereka. Argh sial, sungguh pilihan yang sangat sulit" ucap Fajrin kesal.
Di dalam kamarnya, meskipun Ares sudah menyelesaikan PR-nya, ia masih saja tetap di kamar. Tak ada yang Ares lakukan selain memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak menjadi beban pikirannya. Ditambah lagi, ia masih saja terus memikirkan tentang rasa dendam kedua orangtuanya terhadap Farhan.
"Apa yang sebenarnya om Farhan lakukan terhadap kami? Kenapa aku sama sekali tidak mengetahui hal itu? Mungkinkan kejadian itu terjadi sebelum aku di lahirkan? Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Aku tahu betul kalau mama dan papa bukan orang yang pendendam, bahkan mereka adalah orang yang sangat baik, tidak sedikit orang yang mengakui hal itu. Lalu, kenapa sampai sedendam ini? Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dari yang aku lihat, sepertinya om Farhan masih ingin melakukan sesuati terhadap kami" ucap Ares menerka-nerka seolah ia bisa membaca pikiran Farhan, namun pada kenyataannya ia hanya melihat dari sikap Farhan dan juga kedua orangtuannya.
Sebuah kesalahan di masa lalu, harus melibatkan seorang anak remaja yang bahkan tidak tahu apa-apa, yang pada kenyataannya memiliki sifat lebih dewasa dari seharusnya dan rasa ingin tahu yang lebih tinggi. Suatu hal yang sangat di takutkan oleh Irana dan juga Fajrin, dimana Ares yang bersikap lebih dewasa dari anak sepantarannya, yang mungkin saja akan ikut campur atas apa yang terjadi pada mereka nantinya di usianya yang masih terbilang sangat muda itu.
Sibuk dengan aktivitas masing-masing, tiba-tiba saja keluarga Fajrin kedatangan tamu tak di undang, tamu yang sama sekali tak mereka harapkan untuk datang ke sana.
Ting tong...
Irana yang sedang sibuk di dapur, terpaksa harus menghentikan aktivitasnya dan bergegas membuka pintu, ia bahkan bertanya-tanya siapa yang bertamu di pagi seperti ini.
Siapa yang bertamu jam segini? Di tambah lagi, sangat jarang orang datang bertamu ke rumah ini. Tidak akan ada yang akan bermain ke sini selain keluarga, dan mereka datang saat hari besar dan itu juga bisa di katakan sepuluh tahun sekali, kecuali..., batin Irana menggantung kalimatnya ia berharap tebakannya tidak benar, karena ia sama sekali tidak mengharapkan kedatang orang yang kini ada dalam pikirannya itu.
Dengan perlahan Irana menggenggam gagang pintu, lalu membukanya dan melihat siapa tamu yang ada di balik pintu. Ya, tebakannya benar-benar salah, orang yang ada di balik pintu bukan orang yang ada di dalam pikirannya yang sama sekali tak ia harapkan datang, melainkan orang lain. Namun Irana juga sangat terkejut melihatnya, melihat orang yang kini tengah berdiri di hadapannya. Ia bahkan tak bisa membuka mulutnya, tubuhnya gemetar seolah kali ini ia sedang melihat setan.