Senyum sinis. Hanya itu yang Irana lihat saat pertama kali melihat pria yang kini sedang berdiri di hadapannya, pria yang sangat ia benci sejak lama, sejak ia mengenal pria itu karena Fajrin, pria yang tak lain dan tak bukan adalah paman Fajrin, Rodo.
Bukan hanya Rodo, Irana juga melihat pria yang ia benci sama seperti Rodo, pria yang hanya melihat tanpa bertindak saat dirinya sedang di lecehkan.
Flashback on
Hari pernikahan yang di tunggu-tunggu telah tiba, hari di mana Irana dan juga Fajrin akan menikah.
Tak banyak yang Irana minta, bahkan ia tak segan-segan untuk meminta pernikahan yang sangat sederhana.
Kebahagiaan Irana semakin lengkap saat keduanya telah sah sepasang suami istri, di mana ia tak perlu khawatir lagi jika harus terpisahkan.
Malam pertama, malam yang di tunggu-tunggu oleh setiap pengantin baru. Meski Irana dan Fajrin malu-malu, namun pada kenyataannya mereka juga sangat menginginkannya. Mereka juga sangat ingin menikmati bagaimana rasanya cinta pertama.
Hal yang tak terdugapun terjadi, saat akan bermalam pertama, Fajrin justru mendapatkan telepon dari seseorang ysng membuat mereka harus menunda untuk melakukannya.
"Sebentar ya sayang, pak Hendrawan menghubungi ku" kata Fajrin.
Fajrin: Hallo! Oh iya baik, Pak.
Sambungan telepon terputus, entah apa yang di katakan oleh bos Fajrin hingga ia memilih untuk embig dewasa sendiri daripada harus bermain dengan anak-anak sepantarannya.
"Maaf sayang, sepertinya aku harus membuat mu kecewa. Maaf karena aku harus membuat mu menunggu lama dan tidak bisa merasakan sentuhan ku untuk saat ini. Aku ada tugas yang harus di selesaikan dan ini sangat penting karena pak Hendrawan membutuhkannya besok pagi saat ia akan melakukan pertemuan dengan salah satu klient untuk menangani sebuah proyek besar, kebetulan akulah yang bertanggung jawab dalam proyek itu" kata Fajrin.
"Baiklah, aku mengerti meski sebenarnya aku sedikit kecewa. Cepatlah kembali, aku akan tetap menunggu mu di sini" Kata Irana.
"Terima kasih atas pengertiannya sayang, aku pergi dulu" kata Fajrin lalu pergi meninggalkan Irana.
Para keluarga masih saja berbincang-bincang, memperbincangkan kebahagiaan mereka setelah melihat pernikahan Fajrin yang kini berjalan dengan lancar. Tak sedikit dari mereka yang sudah terkapar lemah karena lelahnya hingga memutuskan unguk tidur.
Mata tertuju kepada Fajrin saat melihat Fajrin keluar dari kamar, mereka merasa ada yang aneh karena Fajrin keluar dengan raut wajah yang masam. Tidak sedikit yang bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana, namun mereka tetap saja memilih diam karena mereka tidak ingin teelalu ikut campur dengan apa yang sebenarnys terjadi.
Berbeda dengan Alma, ia justru langsung menemui Fajrin. Ia membawa Fajrin untuk berbicara empat mata, meski sebenarnya itu tidak terlalu penting bagi Alma.
"Ada apa, Ma?" Tanya Fajrin tak mengerti saat mereka tiba di ruang kerja Fajrin.
"Seharusnya mama yang bertanya pada mu, sebenarnya apa yang terjadi sampai-sampai kau seperti ini?" tanya Alma.
"Apa yang terjadi? Mengapa seperti ini? Apa yang mama bicarakan? Aku benar-benar tak mengerti apa yang mama ucapkan" kata Fajrin masih bingung.
"Ini malam pertama mu Rian, dan kau malah keluar dari kamar mu dengan raut wajah yang sangat menyedihkan. Melihat raut wajah mu yang seperti itu, tidak sedikit dari sanak saudara mu yang bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian. Beritahu kepada mama, apakah istri mu tidak ingin memberikan jatah kepada mu?" tanya Irana.
Fajrin hanya bisa terdiam dan tersipu malu, sebenarnya ia sangat malu untuk membahas hal ini dengan mamanya. Namum, ia tak bisa mengelak pertanyaan itu, di tambah lagi ia harus segera membuat mamanya pergi dari sana karena ia harus segera melakukan pekerjaannya.
"Apaan sih, Ma? Siapa yang mengataoan kalau dia tidak memberikan ku jatah? Dia bahkan sudah menunggu ku di kamar, hanya saja aku mendapatkan tugas mendadak yang tak bisa untuk aku tolak. Jadi mau tidak mau, aku harus menerimanya dan mengerjakan hal itu sebelum aku bertemu dengan seorang bos" jawab Fajrin.
"Bagaiamana mungkin bos mu memberikan mu pekerjaan saat kau sedang akan menikmati malam pertama mu? Ah benar-benar menyebalkan. Tapi seperti yang kamu katakan, tidak ada yang bisa di perbuat. Sebaiknya kau kerjakan tugas mu itu dan segera kembali ke kamar sebelum istri mu benar-benar menggila, lagipula mama juga ingin mendapatkan cucu lebih cepat" kata Alma sambil tersenyum, lalu ia pergi meninggalkan Fajrin yang langsung mengerjakan tugasnya.
Alma menemui para keluarga yang masih belum tertidur, yang sedari tadi masih bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Ada apa sebenarnya, kak? Kenapa Fajrin turun dan meninggalkan Irana seorang diri?" tanya Devi, sepupu Alma.
"Tidak apa-apa. Mereka hanya akan menundanya sebentar karena Fajrin memiliki sedikit pekerjaan yang harus di selesaikan" jawab Alma.
"Mereka tidak sedang berdebat, bukan?" tanya Devi lagi.
"Tidak, mereka baik-baik saja" kata Alma.
Mendengar hal itu, seorang pria yang tak lain dan tak bukan adalan Rodo, sedang tersenyum devil mendengarnya. Ia langsung pergi ke suatu tempat bersama dengan Kodir, entah apa yangm membuat mereka pergi.
"Kodir, aku ingin merasakan tubuhnya. Bagaimana Bayanaka yanv telah merebut Alma dari ku, aku harus merebut kesucian wanita itu karena dia adalah istri dari anak Bayanaka, aku akan membuat anak Bayanaka itu menderita" kata Rodo yang langsung di pahami.
Keduanya mengendap-endap dan berusaha masuk ke dalam kamar Fajrin, hingga kini mereka sedsng berada di sana saat ini. Dengan trik kuno yaitu mematikan lampu supaya tidak di ketahui oleh Irana, ia mendekati ranjang yang di sana sedang berbaring seksi menunggu kedatangan suaminya itu.
"Sayang, apakah pekerjaan mu sudah selesai?" tanya Alma, namun ia tak nendapat jawaban, ia juga mendapatkan sentuhan di pundaknya, sentuhan dari seseorang yang membuatnya merasa tidak nyaman.
Dengan cepat Irana bangkit dari tidurnya, dengan sabgat cepat pula ia mendekati saklar lampu dan langsung menyalakannya. Betapa terkejutnya Irana saat melihat siapa ysng ada di dakam kamarnya, bukan Fajrin mealinkan rodo dan juga Kodir.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Irana dengan takut-takut, lalu ia langsung meraih pintu dan pergi dari sana tanpa menunggi jawaban dari mereka.
Alma dan yang lainnya melihat Irana sedang berlari ketakutan, hingga ia menghampiri Alma.
"Apa yang terjadi?" tanya Alma.
"Paman dan juga asistenya sedang berada di kamar ku. Dengan sangat kurang ajar paman menyentuh bahu k dan mematikan lampu supaya aku tidak mengetahuinya, tanp ia sadari kalau aku bisa mengetahuinya" kata Irana menjelaskan, sementara Fajrin, ia langsung pergi masuk ke dalam kamarnya namun tak menemukan Rodo di sana.
Dengan tak merasa berdosa, Rododsn Kodir kembal dari pintu depan, setelah mereka bisa kelaur dari sana tanpa ada yang melihat.
Puk...
Satu pukulan mendarat di pipi Rodo, pukulan yang di layangkan oleh Fajrin dengan emosi yang berapi-api.
"Dasar biadap, beraninya kau menyentuh istri ku" teriak Fajrin.
Rodo hanya bisa tersenyum, lalu ia beralih menatap Alma yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan emosi
"Pergi kamu dari sini biadap, aku tidak pernah mengharapkan kedatangan mu di sini" teriak Alma.
"Baik sayang" ucap Rodo tanpa dosa, lalu ia pergi meninggalkan mereka.
Ingin rasanya Fajrin memberikan pukulan lain kepada Rodo, namun Farhan yang masih ada di sana dengan cepat menahan Fajrin untuk tidak melakukannya.
Flashback off