Tiga puluh tujuh

1183 Words
Fajrin melajukan mobilnya untuk pergi berangkat bekerja, sebelumnya ia sudah terlebih dahulu mengantarkan Ares ke sekolahannya, tak lupa ia mencium kening putra semata wayangnya itu yang juga telah mencium punggung tangannya terlebih dahulu. "Rajinlah belajar maka kamu akan menjadi orang yang sukses, ingat! Orang malas tidak akan pernah mencapai kesuksesan" Kata Fajrin, kalimat yang terus-menerus ia ucapkan kepada Ares hingga Arez sudah sangat hafal dengan kalimat-kalimat itu. "Takkan ku biarkan diri ku menjadi orang yang bodoh, Pa. aku akan menjadi orang yang sukses yang bisa di andalkan di dunia ini, aku akan menjadi kebanggaan dunia dan menjadi kebanggaan Papa dan Mama, tunggu saja sampai Ares benar-benar sukses maka Ares akan membuat papa bangga dan membuat papa memberitakan kepada semua orang kalau Papa sangat bahagia memiliki putra seperti Ares" ucap Ares penuh keyakinan. Fajrin hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia juga sangat yakin kalau putranya itu bisa melakukan apa yang ia katakan, apa yang ia inginkan, dan apa yang terbaik untuk putranya itu. Kembali lagi Fajrin melajukan mobilnya, di tengah perjalanan,ia terhambat oleh kemacetan kota yang membuatnya harus menunggu dan menunggu sambil di kejar-kejar waktu yang sudah semakin mepet. Seketika ia merasakan sedikit sakit di bagian kepalanya, pikirannya mulai meracau membuat ia semakin tidak terkendali. Tak ada yang ada dalam pikirannya saat ini selain sebuah mobil yang berjarak sekitar sepuluh sampai lima belas mobil di depannya. Entah apa yang ada dipikiran Fajrin saat ini, tanpa pikir panjang ia masih saja terus berlari menghampiri mobil yang ada di dalam pikirannya itu. Lelah, panas, itu yang saya rasakan saat ini. Namun ia tak menyerah, ia masih saja terus berjuang, berlari sekuat tenaga hingga ia berhenti di sebuah mobil yang ia tuju. "Hei, keluarlah!" ucap Fajrin berusaha untuk meminta pemilik mobil itu untuk keluar. Pemilik mobil itu terkejut, ia tak mengerti kenapa Fajrin bisa tiba-tiba ada di sana dan meminta untuk keluar. Ia hanya membuka kaca mobilnya sambil menatap Fajrin dengan tatapan bingung. "Hei apa yang kau lakukan? apakah kau ingin mati? kenapa kamu minta aku untuk keluar dari sini? Jika mobil di depan ku maju beberapa meter, apakah aku akan berdiam diri saja dan membiarkan mobil-mobil yang ada di belakang ku tak bisa bergerak sama sekali? sebelum kau memerintah ku, sebaiknya kamu pikirkan dulu apa yang kamu katakan. Apakah itu akan berdampak baik untuk semua orang atau justru akan berdampak buruk? kau bahkan tak mengenal ku, tapi dengan gampangnya kau memerintahkan seenak jidat mu saja. Apakah kau pikir kota ini adalah milik nenek moyang mu? sebaiknya kau pergi dari sana atau aku akan kehabisan kesabaran dan melakukan yang tidak-tidak terhadap mu" ucap pria berbadan kekar itu di mana mereka ada empat orang di dalam mobil itu, memiliki tubuh kekar dan berisi yang bisa disimpulkan kalau mereka adalah para preman. Fajrin masih saja tak menyerah, ia terus berusaha supaya keempat orang yang ada di dalam mobil itu keluar dari mobil itu. bukan hanya mereka, ia meminta para mobil di sekitarnya menepikan mobilnya dan menjauh dari mobil yang ada di harapannya itu. semua orang yang ada di sana berpikir kalau Fajrin adalah orang gila, tapi ia tidak peduli. Ia terus berusaha supaya para preman itu mau keluar dari mobil, namun mereka masih saja tidak mau keluar dari mobil. semua mobil yang ada di belakang mobil milik preman itu memilih tak melajukan mobilnya seperti apa yang diperintahkan oleh Fajrin, sementara yang ada di sebelahnya sudah melaju berapa meter. kini hanya tinggal mobil itu yang ada di sana. Sesaat Fajrin melihat jam di tangannya, waktu yang ia ketahui semakin mepet hingga ia berbuat nekat merusak mobil di depannya itu. ia mencoba untuk mencabut kaca spion itu dan bahkan ia menendang mobil itu sekuat-kuatnya hingga para preman yang ada di dalam mobil itu marah dan mereka keluar dan ingin memberikan pelajaran kepada Fajrin. tidak kehabisan akal, Ia berlari ke arah mobilnya yang di ikuti oleh keempat preman itu yang berlari mengejarnya dan ini memberikan pelajaran kepada Fajrin karena mereka sangat kesal. Waktu yang Fajrin ketahui telah tiba di mana jarak antara mereka dan mobil itu sudah sangat jauh. tiba-tiba saja mobil itu segera meledak yang tidak di ketahui apa penyebabnya. Semua terkejut bukan main melihat apa yang terjadi di tempat itu, bukan hanya orang-orang ada di sana, tetapi juga para preman pemilik mobil itu. Fajrin bernapas lega, ia memilih untuk berhenti dan tak peduli lagi dengan para preman yang ada di hadapannya, sementara para preman itu berjalan mendekati Fajrin dengan hanya setitik kekuatan yang mereka miliki. Bagaimana tidak, mereka tak menyangka kalau semua ini akan terjadi, mereka tak menyangka kalau mereka akan kehilangan mobil yang di kendarai dan bahkan mereka tak menyangka kalau Fajrin ternyata telah menyelamatkan mereka. Dengan rasa bersalah, mereka menghampiri Fajrin dan langsung bersujud di kaki Fajrin. Kami minta maaf karena telah berpikir yang tidak-tidak tentang tentang mu, kami merasa aneh, tindakan itu terlihat sangat aneh dan itu terlihat sangat menjengkelkan. kami harap kamu mengerti karena mungkin kalau kamu berada di posisi kami, kau juga pasti akan melakukan hal yang sama. Dengan tenang duduk di dalam sebuah mobil, tiba-tiba di ganggu oleh orang yang bahkan tidak kamu kenal yang memerintah mu untuk keluar dari mobil mu dan bahkan membuat onar dan menghancurkan mobil mu. Ternyata tanpa kami sadari, apa yang kamu lakukan telah menyelamatkan nyawa kaki. Andai saja kau tak melakukan itu, bisa di pastikan kalau kami sudah tidak ada saat ini dan kami pasti akan hangus terbakar bersama dengan mobil itu. hanya satu yang bisa kami katakan untuk saat ini kepada mu. Kau adalah pahlawan dan penyelamat hidup kami. Kami tak bisa membayangkan bagaimana tangis anak istri dan juga keluarga kami jika mengetahui kami terbakar di dalam mobil itu, berkat diri mu semua bisa di hindari. Kami tidak tahu siapa diri mu, tapi yang jelas kau datang ke sini sebagai penyelamat bagi orang-orang. terima kasih sebanyak-banyaknya atas apa yang sudah kamu lakukan kepada kami. Dan kami berjanji, kami akan dengan senang hati untuk membantu kami jika kami memerlukan bantuan. Kamu bisa mencari kami, atau bahkan jika bertemu dengan kami di luaran sana, tolong hampiri kaki" kata salah seorang preman itu, yang lebih tepatnya adalah pria yang mengendarai mobil itu. "Tidak apa-apa, ini sudah menjadi tanggung jawab aku sebagai manusia jika bisa menyelamatkan orang-orang. Aku mengerti kenapa kau berusaha keras untuk tidak keluar, tapi sekarang aku bisa bernapas lega dan senang karena kalian bisa selamat" Jawab Fajrin. "Tapi tunggu! Dari mana kamu tahu kalau mobil itu akan meledak? Kenapa kau bisa tiba-tiba datang menghampiri kami dan minta kami untuk keluar? itu artinya kamu sudah mengetahui kalau akan terjadi sesuatu kepada kami. Bagaimana kami bisa mengetahuinya? ini sungguh di luar dugaan dan ini bahkan sungguh di luar akal sehat. Bukankah ini termasuk sebuah kemustahilan?" tanya pria itu. Fajrinhanya bisa terdiam, dia juga tak tahu harus menjawab apa, yang ia ketahui hanya satu, ia tak mungkin menceritakan kepada semua orang kenapa dia bisa mengetahui hal itu, karena ia tak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada keluarganya. namun para preman itu masih saja bertanya seolah mengintimidasi membuat Fajrin terdiam. Fajrin sudah tidak tahu harus berbuat apa, yang bisa ia lakukan hanya berdoa supaya mereka memilih untuk pergi dan membiarkan dirinya untuk pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD