Seperti apa yang mereka duga, semua terlihat dengan jelas. Layar monitor di laptop Fajrin menunjukkan mobil Farhan sedang mengikuti mereka dari belakang. Entah lupa atau tidak tahu, Farhan justru tak menyadari kalau Fajrin juga memberikan CCTV di sekitar rumahnya, bukan hanya di depan rumahnya saja.
"Lihat, dugaan papa benar, bukan. Papa juga tidak yakin kalau mereka bisa secara kebetulan berada di cafe itu dan bertemu dengan kita, papa sangat yakin kalau mereka sengaja mengikuti kita. Dia terlalu bodoh untuk berbohong, siapapun pasti tidak akan yakin kalau mereka memilih untuk pulang terlebih dahulu lalu pergi lagi untuk makan malam, itu sungguh mustahil dan terdengar sangat konyol. Di mana-mana, kalau sudah pergi seperti itu sampai malam, sudah pasti mereka akan makan terlebih dahulu sebelum kembali ke rumah, tapi mereka tidak melakukan itu, bukankah mama curiga?" tanya Fajrin.
"Ya, paoa benar. Dan sepertinya Farhan akan melakukan sesuatu yang lebih parah dari sebelumnya, kita harus bersiap untuk itu. Ditambah lagi, saat papa mengatakan tidak akan mau melakukan penelitian lagi dengannya, dia pasti akan semakin marah dan akan melakukan yang tidak-tidak. Kita harus mengawasi Ares, mama takut kalau sampai Farhan menjadikan Ares sebagai sasarannya. Dan lagi, mama tidak ingin kalau sampai Ares menjadi korban atas masalah yang timbul di antara kita dengan Farhan puluhan tahun yang lalu, sementara dia sama sekali tidak tahu menau maslaah itu" ucap Irana.
"Itulah yang papa takutkan, sepertinya Farhan orang yang sangat nekat, ia bahkan tidak peduli dengan apa yang akan terjadi ke depannya. Dia pasti bahkan akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, sama seperti yang terjadi puluhan tahun yang lalu. Yang paling papa takutkan, mungkin saja dia akan berusaha untuk mendapatkan apa yang sudah papa capai, papa takut dia akan kembali mencuri hasil penelitian papa" kata Fajrin. "Papa harus segera menyelesaikan penelitian ini, kalau tidak, papa tidak akan pernah tau apa yang sebenarnya dia rencakan. Yang paling utama, apa yang telah papa teliti harus benar-benar berhasil, dengan begitu semua bisa di ketahui" lanjut Fajrin.
Fajrin sedang sibuk dengan apa yang sedang ia lakukan, berusaha untuk bisa melakukan kerjasama dengan client yang kini sedang bersama dengan mereka.
Hasil tidak akan menghianati usaha, sama seperti apa yang kini Fajrin lakukan dengan Bramadi, kerjasama yang sedang mereka lakukan berjalan dengan lancar. Hingga semua selesai dan Fajrin kembali ke hotel bersama dengan Bramadi.
Seketika Fajrin terpikirkan sesuatu, sesuatu yang bahkan selama ini menjadi penghuni setia dalam benaknya, yang tak lain dan tak bukan adalah penelitiannya itu. Seketika ia merasa cemas, penelitiannya belum di cek bagaimana perkembangannya. Yang membuat dia semakin panik, dia bahkan lupa untuk memberitahukan hal ini kepada Irana.
Awalnya Fajrin ingin mengatakan hal ini kepada Irana dan meminta Irana untik melanjutkan penelitiannya tiga hari setelah ia pergi melakukan perjalanan bisnis, namun karena kedatangan Rodo dan juga Farhan yang mengusik pikirannya, ia bahkan tidak mengingat hal itu.
"Fajrin, ayo kita makan di luar" kata Bramadi.
"Ah maaf jika saya sangat lancang untuk menolak ajakan, bapak. Tapi saya benar-benar masih kenyang, maaf kalau saya tidak bisa menemani bapak" tolak Fajrin dengan lembut.
"Baiklah kalau begitu, susul saya jika kamu sudah merasa lapar" kata Bramadi sebelum ia pergi meninggalkan Fajrin.
Sepeningggalan Bramadi, Fajrin langsung segera merogoh ponselnya dan langsung menghubungi Irana.
Fajrin: Hallo, Ma.
Irana: Hallo, Pa.
Fajrin: Ma, papa tidak tau harus berbuat apa sekarang, papa lupa untuk memberitahukan hal ini kepada mama. Awalnya papa ingin mengajari mama untuk melanjutkan penelitian itu selama tiga hari ini, tapi sayangnya para pembuat onar itu muncul sehingga papa lupa untuk mengatakannya. Tolong mama pergi ke laboratorium papa, tolong lanjutkan penelitian papa di sana, papa akan memberikan petunjuk dari sini.
Irana: baiklah.
Irana melakukan apa yang di perintahkan oleh suaminya, dengan cepat ia pergi ke ruang bawah tanah dan mencoba untuk melakukan intruksi dari Fajrin.
Sangat sulit, Irana bahkan tidak mengerti apa yang harus ia lakukan, ia bahkan tidak mangerti apa saja yang harus ia campurkan.
Irana: Pa, apa yang harus mama lakukan? Mama bingung harus memulai dari mana, di sini terlalu banyak boto dan banyak cairan, bahkan mama juga tidak tahu yang mana yang harus mama campurkan karena ada beberapa botol yang memiliki warna yang sama. Mama takut kalau sampai mama salah tuang, semua jadi berantakan dan papa akan marah kepada mama.
Fajrin: tidak akan, Ma. Kita mulai secara perlahan. Sekarang, coba mama tunjukkan satu per satu cairan uang ada di sana, dengan begitu papa bisa melihat yang mana yang harus mama tuang.
Lagi-lagi menuruti, Irana mengikuti intruksi yang Fajrin lakukan. Bukan hal yang mudah untuk melakukannya, di tambah lagi Irana sama sekali tak pernah melihat Fajrin melakukan hal itu.
Irana: Ini sulit, mama takut kalau sampai mama salah dan justru menghancurkan semua rencana papa yang berujung kegagalan.
Fajrin: Tidak, Ma. Mari kita lakukan bersama, papa yakin mama pasti akan bisa melakukannya. Jangan pernah menyerah sebelum berjuang, karena setiap perjuangan akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Coba kembali lagi, kita akan mencoba dari awal lagi.
Kembali lagi mereka melakukannya setelah sebelumnya Irana tak bisa menemukan apa yang akan ia campurkan, semua benar-benar sangat sulit, di tambah lagi kerja sama keduanya tidak begitu terjalin dalam mencari cairan berikutnya.
Fajrin: Ma, coba campurkan yang ada di sebelah tangan mama.
Irana: yang mana, Pa? Semua ada di sebelah tangan mama, dan mama tidak tau mana yang papa maksud.
Fajrin: Coba mama pegang satu persatu, nanti papa akan katakan yang mana yang akan mama campurkan.
Irana melakukan seperti apa yang di perintahkan oleh Fajrin, ia menunjuk satu persatu cairan yang ada di hadapannya. Selagi menunjuk, Fajrin mengatkaan tidak jika itu bukan cairan yang ia maksud.
Begitu banyak cairan di sana, Irana benar-benar sangat bingung, namun ia tetap berusaha untuk mencobanya dan terus menerum memegang satu persatu dari boto cairan itu.
Masih belum menemukan apa yang di maksud oleh Fajrin, tiba-tiba saja sambungan telepon terputus. Melihat itu, Irana bahkan lupa sudah sampai di mana ia menunjukkan cairan itu kepada Fajrin. Ia mencoba untuk menghubungi Fajrin, namun Fajrin tak kunjung menjawabnya. Ada setitik rasa khaeatir di hati Irana, namun ia hanya bisa menunggu sampai Fajrin kembali menghubungi dirinya.
Menunggi selama setengah jam namun tak kunjung di hubungi Fajrin, Irana memutuskan untuk naik ke atas dan kembali ke kamarnya. Dengan rasa khawatir ia masih saja menunggu panggilan dari Fajrin, tak henti-hentinya ia berdoa supaya tidak terjadi apa-apa kepada suaminya itu.