Tiga puluh dua

1035 Words
Fajrin masih saja sibuk mencoba untuk menemukan cairan yang ia maksud, namun tiba-tiba ia di kejutkan dengan kedatangan Bramadi. "Eh, Pak! Sudah kembali?" tanya Fajrin kaget, ia langsung memutuskan sambungan teleponnya. Berkali-kali Irana menghubungi dirinya, namun ia tak menjawab karena ia tak ingin memainkan ponselnya saat ada Bramadi bersamanya. "Iya, Fajrin. Saya ingin berlama-lama di bawah, tapi saya merasa kalau saya ini seperti orang gila saja jika seorang diri". Kalimat itu terdengar seolah menyindir Fajrin, membuat dirinya merasa tidak enak kepada Bramadi. " Saya minta maaf, Pak. Seharusnya saya menemani bapak" kata Fajrin tulus. "Ah tidak, kamu tidak perlu minta maaf. Lagipula ini bukan urusan pekerjaan, kamu berhak untuk menolaknya" kata Bramadi. Merasa semakin tidak enak hati, Fajrin mencoba untuk mencairkan suasana. "Ah, bapak benar. Tapi kalau untuk mencari angin di luar, sepertinya kita bisa melakukannya bersama" kata Fajrin sedikit bercanda. "Sepertinya tidak terlalu buruk" kata Bramadi, lalu keduanya keluar bersama untuk mencari udara segar. Selama pergi dengan Bramadi, pikiran Fajrin melayang-layang, ia masih saja memikirkan Irana yang bahkan sampai sekarsng belum ia hubungi. Ada setitik rasa takut di hatinya, ia takut kalau sampai Irana khawatir kepada dirinya. Namun tak banyak yang bisa ia lakukan, ia merasa tidak enak hati mengingat dirinya kini sedsng bersama dengan bos nya itu. Fajrin bernapas lega, akhirnya Bramadi tertidur pulas di sampingnya. Dengan cepat ia merogoh ponselnya dari atas nakas, lalu ia mengirimkan pesan singkat kepada Irana. Fajrin: Ma, apakah mama sudah tidur? Pessn terkirim, namun belum ada balasan, bahkan belum ada tanda pesan di baca. Kembali lagi Fajrin mengirimkan pesan singkat, berharap Irana akan membalasnya. Fajrin: Ma, papa minta maaf karena papa langsung memutuskan sambungan teleponnya tanpa memberitahukan mama terlebih dahulu. Papa benar-benar panik karena pak Bramadi tiba-tiba datang, papa pikir pak Bramadi akan lama makan malam di luar, tapi ternyata hanya sebentar saja. Maafkan papa karena telah menyusahkan mama hari ini, selamat tidur, Ma! Semoga mama mimpi indah. Fajrin menghela napas dalam lalu membuangnya secara perlahan, sesekali ia melihat Brami yang ada di smapingnya dengan rasa bersalah karena telah menolak ajakan bosnya itu. Andai ia tau kalau apa yang ia lakukan dengan Irana akan gagal seperti ini, mungkin ia tidak akan menolak ajakan itu dengan berbohong kalau dirinya masih kenyang. Bagaimana dengan penelitian ku? Hari ini aku tidak menambahkan apa-apa, dan dengan tahap yang terlewatkan, mungkin saja besok akan semakin berantakan. Apakah serum ini akan berfungsi dengan sempurna nantinya? Argh, semoga saja usaha ku tidak sia-sia, aku ingin membuktikan kepada dunia kalau aku bisa melakukannya, batin Fajrin. Pertemuan dengan client di lakukan kembali hingga pertemua terakhir, dan hari ini Fajrin dan juga Bramadi memutuskan untuk pulang. Fajrin merasa lega, bahkan ia berharap bisa segera tiba di rumahnya saar itu juga. "Akhirnya..." ucap Fajrin lega, senyum terus menerus mengembang di bibirnya. "Kamu hebat Fajrin, tidak percuma kamu menjadi manager di perusahaan saya. Kamu bisa di andalkan dan kamu sangat berpotensi tinggi. Andai ada kesempatan di lain waktu, saya ingin sekali kamu menjadi asisten pribadi saya atau mungkin jadi sekretaris saya, saya yakin kamu bisa saya andalkan" kata Bramadi. "Tapi bapak tidak bisa melakukan hal itu karena bapak masih memiliki sekretaris dan juga asisten, jangan jadikan saya seperti penjilan yang akan mereka benci seumur hidup mereka" ucap Fajrin lalu ia tertawa, karena kalimat yang ia lontarkan ia dasari dengan sedikit candaan, Bramadi juga tak kuat menahan tawa saat mendengar ucapan Fajrin. Setibanya di rumah, dengan cepat Fajrin memasuki rumah, ia langsung mencium puncak kepala Ares dan Irana lalu ia bergegas masuk ke dalam kamar. Melihat suaminya sedikit panik, Irana mengikuti suaminya ke kamar, lalu ia mengikutinya masuk ke ruang bawah tanah. "Apakah terjadi sesuatu, Pa?" tanya Irana sedikit panik melihat Fajrin. "Entahlah ma, papa tidak tahu pasti. 3 hari ini papa mengabaikan penelitian ini, papa takut kalau sampai ada efek samping dari ini" kata Fajrin. "Lalu bagaimana, apakah papa akan mengulanginya lagi? Kalau memang papa tidak yakin, sebaiknya papa mengulanginya daripada kedepannya akan ada efek samping dari semua ini. Mama tidak mau kalau sampai terjadi sesuatu kepada papa karena hal ini" kata Irana memberi saran. "Berdoa saja semoga tidak terjadi apa-apa, Ma. Sebaiknya papa lanjut ini saja dulu, sepertinya tidak akan terjadi apa-apa kalau papa melanjutkan ini" kata Fajrin mencoba untuk menenangkan Irana, meski pada kenyataannya ia tak yakin apakah ia bisa mendapatkan hasil yang maksimal dari penelitiannya ini atau tidak. Fajrin menatap hasil penelitiannya itu setelah beberapa jam, ia sedikit ragu dengan hasil yang ia dapatkan. Warna yang ia hasilkan kali ini sedikit berbeda dari sebelumnya, meski ia belum mencapai hasil yang maksimal. Hasil yang ia dapatkan, hasil yang ia pikir sudah maksimal namun justru hilang entah ke mana, warnanya sedikit lebih bening, namun kali ini warnanya lebih biru dari yang sebelumnya. "Kenapa aku malah justru memiliki keraguan seperti yang Irana katakan? Mungkinkah ini akan memberikan efek yang tidak baik kepada ku? Bagaimana kalau ini justru akan mematikan? Apa yang akan terjadi dengan ku setelah ini?" tanya Fajrin pada dirinya sendiri. "Ah sudahlah, tak perlu memikirkan itu lagi. Kalau harus memikirkan hal itu, sedari awal aku juga harus memikirkan hal itu. Apa yang aku lakukan ini adalah hadlsil dari imajinasi ku sendiri, jadi jika ada dampakpun, aku tidak tau apakah ini apa dampak dari hasil penelitian ku selanjutnya. Bahkan, aku hanya berani melakukan percobaan kepada diri ku sendiri, aku tidak ingin melakukan hal ini kepada orang lain. Aku tidak ingin merugikan orang lain dan aku juga tidak ingin orang lain yang menikmati hasil kerja keras ku jika hal ini berhasil" ucap Fajrin lagi. Semua berjalan dengan sempurna, akhirnya Fajrin mencapai tahap akhir, tahap di mana ia bisa melakukan uji coba dengan hasil penelitiannya itu. Sebelumnya ia gagal, ia kehilangan, karena ia terlalu sibuk dengan dunianya dan ia merasa kalau dirinya tidak memfokuskan diri. Namun kali ini, untuk mencapai hasil dan melihat hasilnya sendiri, ia bahkan meminta izin untuk tidak masuk kerja. Meski sebenarnya pekerjaan itu sangat penting baginya, namun ia juga sangat ingin membuktikan hasil penelitiannya ini, ia tak ingin kalau sampi ia gagal untuk kesekian kalinya. Fajrin duduk di ruang bawah tanah, ia menatap hasil dari serum yang ia kerjakan selama ini. Ada setitik rasa takut dan khawatir untuk mencobanya, hingga ia masih saja duduk di sana dan terus menerus memandangi serum yang ada di tangannya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD