Irana sedang sibuk membenahi rumahnya, untuk kali pertama ia harus mencari kesibukan lain meskipun Fajrin sedang berada di rumah. Tak ada yang bisa ia lakukan, bahkan Fajrin tidak pergi bekerja karena ia ingin menuntaskan penelitiannya itu.
Baru saja Irana selesai berbenah, baru saja Irana ingin beristirahat, tiba-tiba ia mendengar bel berbunyi. Rasanya sangat malas untuk bangkit berdiri dan membukakan pintu untuk tamu yang tak di undang, karena Irana bisa menebak siapa yang datang, sebab tidak akan pernah ada orang yang datang ke rumah itu kecuali Rodo atau Farhan.
Untuk tetangga sekitar, mereka pasti akan selalu menghubungi Irana atau Fajrin terlebih dahulu jika mereka akan ke rumahnya, sebab itulah Irana berani mengatakan kalau orang yang datang ini adalah tamu tak di undang.
Dengan wajah yang malas, Irana membuka pintu, dan benar saja, tamu tak di undang itu kini tengah berdiri di hadapannya bersama dengan seorang pria yang Irana anggap anjing peliharaannya.
Lagi-lagi, Irana sangat tidak ingin meresponnya, namun Irana harus tetap hormat kepada pria itu meskipun dia sangat menjijikkan karena dia adalah paman dari Fajrin.
"Hai cantik, lama tak bertemu, sepertinya kau sedang menunggu seseorang" ucap Rodo sambil tersenyum devil.
"Ada perlu apa kamu datang ke rumah ku? Kalau ada hal penting yang ingin kamu bicarakan, bicarakan saja. tapi kalau kau datang ke sini hanya untuk membuat onar, sebaiknya kau pergi dari sini karena aku tidak ingin bertemu dengan mu" kata Irana kesal.
"Hei, jangan begitu dong cantik. Kalau kau tidak ingin bertemu dengan ku, tapi sayangnya aku masih ingin bertemu dengan mu. dan jika kau tak ingin bertemu dengan ku, tapi sayangnya aku masih ingin bertemu dengan keponakan ku. Jadi jangan bertingkah seolah kau sombong seperti itu, sebaiknya kau segera menyingkir dari sana karena aku ingin masuk atau aku akan menabrak mu hingga terjatuh, dengan begitu aku bisa menindih mu dan merasakan betapa hangatnya tubuh mu" kata Rodo yang semakin membuat Irana kesal.
Belum juga Irana menjawab, belum juga Irana mempersilakan Rodo untuk masuk ke dalam rumahnya, ia langsung menerobos masuk. Beruntung Irana langsung menepi, kalau tidak, Rodo pasti akan menabrak dan menindihnya seperti yang ia katakan sebelumnya.
"Apakah kau tidak memiliki sopan santun?" tanya Irana semakin kesal.
"Apakah kau memiliki sopan santun?" Rodo balik bertanya. "Bahkan kau tidak memiliki etika saat bicara dengan paman mu. Bagaimana mungkin kamu menanyakan sopan santun kepada ku sementara kamu tidak memiliki sopan santun? Attitude mu sama sekali tidak baik, aku tidak mengerti bagaimana Fajrin selaku kepala rumah tangga mendidik mu sebagai istri seperti ini, benar-benar tak berpendidikan" lanjut Rodo.
"Maaf, kalau untuk membicarakan attitude, sepertinya tanya dulu kepada diri anda sendiri. Tidak perlu mempermasalahkan attitude saya, karena anda tidak akan mengerti itu. Anda harus tau, orang lain akan sopan kepada anda jika anda bersikap sopan, orang lain akan menghargai anda jika anda juga menghargainya. Tapi sayangnya, orang itu akan memandang rendah anda, menganggap anda seperti sampah jika anda bertingkah sampah seperti ini. Untuk apa saya harus berlaku sopan kepada anda? Anda bahkan tidak pantas untuk di perlakukan secara sopan, anda bahkan tidak pantas untik di hargai dan di hormati setelah anda berusaha melecehkan saya" kata Irana, matanya mulai berkaca-kaca, namun kedua bola mata itu memerah menahan amarah.
"Eh, jangan berpikir buruk tentang saya, Irana. Saya hanya ingin memberikan kamu kepuasan, saya hanya berbuat baik kepada kamu. Saya mengerti, kamu sangat ingin di sentuh setelah pernikahan selesai, tapi sayangnya suami mu justru sibuk dengan pekerjaannya. Jadi saya berpikir, sebaiknya saya menyenangkan kamu, memberi kamu kenikmatan dan kepuasan, dan saya juga mendapatkan hal itu sama seperti kamu. Jadi menurut saya, kamu tidak pantas mengatakan kalau saya melecehkan kamu" kata Rodo sambil tersenyum nakal.
Rodo mulai mendekati Irana, apa yang pernah tertunda, ingin kembali ia lakukan. Kekesalan yang ia terima saat mendapatkan perlakuan tak menyenangkan hatinya ketika bertamu di rumah itu, membuat Rodo semakin ingin untuk mendapatkan Irana dan membuat Fajrin marah.
Semua telah di rencanakan Rodo, ia sengaja datang bertamu ke rumah itu saat Fajrin dan Ares sedang tidak ada di rumah, sayangnya ia tidak tahu kalau Fajrin tidak bekerja hari ini.
"Jika aku perhatikan,kau semakin cantik saja, Irana. Melihat mu seperti ini, semakin galak terhadap diri ku, membuat ku semakin sangat ingin untuk menyentuh mu. Aku tidak tahu kenapa, kau begitu menggoda bagi ku. Sama halnya seperti Alma, kau begitu mempesona. Selama hidup ku, hanya kalian berdualah yang mampu membuat hati ku bergejolak. Selama hidup ku, hanya kalian berdualah yang mampu membuat ku merasakan getaran cinta. Dan yang paling penting, selama hidup ku, hanya kalian berdualah yang mampu membuat ku b*******h, terutama dalam hubungan intim. Tapi sayangnya itu tak membuat ku bahagia, aku tak bisa memiliki kalian seutuhnya karena kalian sudah terlebih dahulu di miliki oleh orang lain. Dan yang paling menyakitkan, kalian adalah milik orang-orang terdekat ku. Aku tidak tau apa yang kalian lihat dari Bayanaka dan juga Fajrin, kalian justri memilih para pria berengsek itu. Tapi setidaknya aku sedikit bahagia, aku masih bisa menyetubuhi Alma tanpa sepengetahuan Bayanaka, hingga akhirnya Bayanaka meninggal dunia, dia bahkan tidak tau kalau kami pernah berhubungan. Bukan hanya pernah, tapi kami sering berhubungan, dan aku merasa saat itu akulah yang menjadi suaminya karena akulah yang lebih sering menyetubuhinya. Tapi aku tidak mengerti dengan mu, kenapa kamu tidak seperti Alma si bodoh itu? Ah bukan bodoh, tapi dialah yang lebih pintar dari mu, dia tahu apa yang membuatnya bahagia. Tidak seperti kamu, kamu terus menerus bertahan dengan Fajrin yang bahkan bisa di ketahui tidak begitu sering menyetubuhi kamu karena dia terlalu sibuk" kata Rodo dengan tenang, tanpa ia sadari satu pukulan mendarat di pipinya.
"Berengsek" ucap Fajrin dengan amarah berapi-api.
Fajrin yang masih memiliki sedikit keraguan untuk mencoba serum itu, tiba-tiba mendapatkan pesan singkat dari Irana.
Irana: Turunlah, paman datang ke mari, aku, takut dia akan berbuat yang tidak-tidak.
Pesan itulah yang membawa Fajrin hingga ia bisa berada di sini, memberikan pukulan terbaiknya kepada Rodo karena sedati tadi dia sudah memperhatikan mereka dari jauh.
"Apakah kau bangga dengan apa yang kamu lakukan? Apakah kamu bangga dengan semua kegilaan mu? Sadarlah pak tua, ingatlah diri mu yang bahkan sangat menyedihkan ini. Aku sudah sabar menghadapi mu selama ini, sabar melihat perlakuan mu kepada keluarga ku. Kalau saja mama ku tidak meminta ku untuk tidak menyakiti mu, aku sudah membunuh mu sejak lama" ucap Fajrin.
"Ya, karena mama mu sangat mencintai ku. Itulah cinta sejati, tapi sayangnya papa mu datang sebagai penghalang. Aku tidak yakin kalau kau adalah anak kandung Bayanaka, mungkim saja kau adalah anak kandung ku" ucap Rodo dengan percaya diri.
"Anak kandung mu? Cuih, bahkan untuk mendengarnya sajapun aku tidak sudi. Andai kau itu benar, andai kau berpikir demikian, aku tidak tau lagi seberapa jahatnya diri mu ini. Jika itu benar, bagaimana mungkin kau tega melakukan hal ini kepada anak mu? Bagaimana mungkin kau melakukan hal itu kepada menantu mu? Bukankah kelakuan mi itu lebih buruk dari binatang?" ucap Fajrin penuh amarah.
Seketika Rodo terdiam, ia bahkan tak mampu untuk berkata apa-apa. Ia sedikit mencerna apa yang Fajrin ucapkan, hingga ia benar-benar tak bisa untuk nenjawabnya lagi.
"Sebaiknya kau pergi dari sini sebelum aku membunuh mu" ucap Fajrin, sorot matanya menunjukkan amarat yang teramat dalam.
"Sayangnya kau tidak akan pernah bisa membunuh ku" ucap Rodo,lalu ia pergi dari sama bersama dengan Kodir. Sementara Fajrin, ia hanya bisa berusaha untuk menetralkan napasnya yang tak beraturan, dan Irana hanya bisa menenangkan suaminya yang kini telah di kuasai amarah itu.