Tiga puluh empat

1958 Words
Tiada guna melakukan sesuatu jika tak bisa menentukan apakah akan mendapatkan hasil atau justru mendapatkan kegagalan. Hal yang kini ada dalam benak Fajrin, hingga ia memberanikan diri untuk membuktikan. Meski dengan setitik keraguan, namun ia memiliki banyak keyakinan kalau apa yang ia lakukan akan berhasil. Hanya sedikit, bisa di katakan hanya setetes dari serum itu yang Fajrin teteskan ke dalam mulutnya. Untuk sesaat, ia sama sekali tidak merasakan apa-apa, ia masih saja terus menunggu, bahkan hingga setengah jam. Masih tak ada reaksi yang ia dapatkan, ingin rasanya ia meneguk serum yang kini ada di tangannya, namun di sisi lain rasa takut kembali menghampiri dirinya. Ia takut kalau sampai serum itu tidak berhasil, yang justru akan memberikan efek buruk terhadap dirinya. Ia lebih memilih menunggu, karena jika serum itu tidak memberikan reaksi apa-apa sesuai yang ia harapakan, maka kemungkinan besar dampaklah yang akan ia terima, tapi setidaknya tidak terlalu besar karena ia hanya meminum setetes dari serum itu. Masih saja tak mendapatkan hasil, Fajrin memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Namun saat ia akan menaiki anak tangga, tiba-tiba ia merasakan sakit di kepalanya, seolah sesuatu sedang menggerogoti otaknya. "Argh, ada apa ini? Kenapa aku tiba-tiba merasa pusing? Bahkan aku merasa kalau kepala ku sedang di gerogoti oleh sesuatu" ucap Fajrin, ia masih saja berusaha menahan rasa sakit di kepalanya. "Apakah ini efek dari serum itu? Apakah kali ini aku gagal lagi? Apakah akan terjadi sesuatu kepada ku? Argh, semoga saja tidak, aku tidak tau apa yang akan terjadi kepada Irana dan juga Ares jika terjadi sesuatu kepada ku, argh..." ucap Fajrin lalu mengerang semakin panjang sebelum akhirnya ia ambruk dan tak sadarkan diri. Irana masih saja sibuk membaca novel kesukaannya, novel yang sudah sejak lama ia baca namun tak kunjung selesai-selesai karena ia selalu saja di ganggu oleh Fajrin ataupun Ares. Tanpa sadar, Irana melirik ke arah jam di dinding, jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Ia sedikit terkejut, ia tak menyangka kalau sudah selama itu dirinya membaca novel sambil menunggu kedatangan Fajrin. Ada sedikit rasa aneh, karena tidak biasanya Fajrin di sana selama ini. Fajrin akan selalu naik ke kamar kalau jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Namun ia bahkan belum menunjukkan tanda-tanda kalau dirinya akan naik ke atas. "Kenapa papa belum naik jam segini? Apa yang papa lakukan di bawah sana? Apakah papa lupa kalau besok dia akan bekerja?" tanya Irana pada dirinya sendiri. Irana masih saja tetap menunggu, ia melanjutkan untuk membaca novelnya. Ingin rasanya ia menghampiri Fajrin, namun ia tak ingin mengganggu suaminya itu. Tak terasa sudah hampir satu jam ia membaca novel itu, namun Fajrin masih saja tak kembali. Rasa khawatir mulai menghampiri dirinya, hingga ia memberanikan diri untuk menghampiri Fajrin ke ruang bawah tanah. Langkah demi langkah, akhirnya Irana tiba di sana. Sesuatu yang tak pernah ia bayangkan terjadi, ia melihat Fajrin terkapar lemah tak berdaya di lantai. Irana berlari menghampiri Fajrin, hingga ia tak sadar kalau sesuatu telah merobek celana bagian kirinya hingga menembus kakinya. "Pa, apa yang terjadi pa?" tanya Irana panik, ia berusaha menyadarkan Fajrin namun ia tak bisa. "Ares... Ares..." teriak Irana menanggil Ares, namun tak kunjung ada jawaban. Irana berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya, seolah sedsng kesetanan, ia langsung menerobos ke kamar Ares tanpa peduli kalau kaki dan keningnya sudah berkali-kali terbentur. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah Fajrin, ia bahkan tak sadar kalau jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari, hingga ia terus meneriaki nama Ares. "Ares... Ares..." Panggil Irana sambil menggoyang tubuh Ares. "Ada apa, Ma?" tanya Ares terkejut melihat Irana yang kini sudah berlinang air mata. "Papa, sayang! Papa..." ucap Irana tak mampu melanjutkan kalimatnya, ia masih saja mencoba untuk menenangkan diri. "Ada apa dengan papa, Ma?" tanya Ares, namun Irana masih saja menangis sesenggukan. Dengan cepat Ares berlari menuju kamar orangtuanya, namun ia tak menemukan sang papa di sana. Dengan inisiatif tinggi, Ares langsung menuruni tangga menuju ruang bawah tanah. Betapa terkejutnya Ares saat melihat Fajrin sedang terkapar di lantai. "Papa!" teriak Ares berusaha untuk menyadarkan Fajrin, namun ia tka kunjung mendapatkan jawaban. "Ma, ayo kita bawa papa ke kamar. Setelah itu kita hubungi dokter, kita tidak mungkin menghubungi dokter dsn membawanya ke mari, itu akan membuat papa marah karena kita membawa orang lain masuk ke ruangan ini" kata Ares. "Kenapa harus memikirkan ruangan ini, Ares? Sekarang yang terpenting itu keselamatan papa mu. Untuk apa kita memikirkan ruangan ini jika kita harus kehilangan papamu? Kita bahkan tidak tau apa yang terjadi kepada papa mu sekarang, kita bahkan tidak tau apakah papa mu.." belum selesai Irana berbicara, Ares langsung memotongnya. "Ma, jangan berpikir yang tidak-tidak. Papa masih bernapas, nadinya masih berdenyut, itu artinya papa masih hidup. Sekarang sebaiknya mama tenang, bantu Ares untuk membawa papa ke kamar, setelah itu kita hubungi dokter" kata Ares. Irana hanya bisa mengangguk, ia bahkan tidak tahu dari mana Ares bisa mengetahui semua itu. Yang ia tahu, Ares memiliki kedewasaan yang melebihi batas, ia bahkan tak menyangka kalau Ares bisa lebih tenang menghadapi ini daripada dirinya. Seharusnya, dirinyalah yang menenangkan putra semata wayangnya itu, tapi kali ini berbeda. Ares justru berusaha untuk menenangkan Irana, bukan hanya menenangkan dirinya saja. Dengan sekuat tenaga, mereka membawa Fajrin ke atas dan membaringkannya di ranjang. Melihat suaminya terkapar lemah tanpa taji penyebabnya, Irana seolah seperti orang bodoh yang kehilangan arah, ia bahkan tak tau harus berbuat apa untuk saat ini. "Papa..." hanya itu yang bisa Irana ucapkan, isak tangis masih saja mwmenuhi kamar itu. Sementara Ares, ia langsung merogoh ponsel Fajrin dari dalam kantongnya lalu menghubungi salah satu teman Fajrin yang kebetulan adalah seorang dokter. Semua tak secepat yang di pikirkan, Ares berkali-kali menghubungi Bobi-teman Fajrin, namun tak kunjung ada jawaban. Hingga akhirnya ia mulai menyerah, dengan sangat pasrah ia menghubungi Bobi untuk terakhir kalinya, dan tetap saja tak ada jawaban. Ares mulai kebingungan, ia tidak tahu harus melakukan apa lagi, sementara Irana masih saja menangisi Fajrin yang kini ada di hadapannya. Baru saja ingin meletakkan ponsel Fajrin, tiba-tiba Ares medapatkan panggilan masuk dari Bobi di ponsel Fajrin, dengan cepat Ares langsung mengangkatnya. Ares: Hallo, om Bobi. Bobi: Hallo, Ares. Ares: Om, bisakah om datang ke rumah sekarang? Bobi: Ada apa, Ares? Ares: papa tidak sadarkan diri, om. Kami tidak tahu pasti apa penyebabnya, kami takut terjadi apa-apa kepada papa. Bobi: Baiklah, om akan segera ke sana. Sambungan telepon terputus, Irana masih saja terus terisak, sementara Ares berusaha untuk menenangkan Irana sambil menunggu kedatangan Bobi. Irana dan Ares di kejutkan dengan sadarnya Fajrin, mereka bahkan tak mengira kalau Fajrin bisa seketika sadar tanpa ada apa-apa yang mereka lakukan. Bahkan, Fajrin sadar sebelum Bobi tiba di sana. "Papa, papa sudah sadar?" tanya Irana. "Ma, kenapa mama menangis?" tanya Fajrim tak mengerti. "Seharusnya mama yang bertanya kepada papa, kenapa papa bisa tak sadarkan diri seperti itu di sana?" tanya Irana. "Jam berapa sekarang?" tanya Fajrin tanpa menjawab pertanyaan istrinya itu. "Ada apa dengan papa? Kenapa papa tiba-tiba menanyakan jam?" tanya Irana tak mengerti, ia juga tak menjawab pertanyaan suaminya itu. "Jam tiga pagi, Pa" jawab Ares. "Lima jam" kata Fajrin. "Apanya yang lima jam, Pa?" tanya Irana tak mengerti. "Papa sudah melakukan uji coba terhadap serum penelitian papa, dan itu adalah waktu dimana sejak mencoba serum itu, kita akan tidak sadarkan diri selama lima jam seperti yang papa alami saat ini. Papa mencobanya sekitar jam sembilan malam tadi, tapi selama hampir satu jam papa tidak merasakan efek apa-apa. Dan setelah itu, papa merasa sangat pusing, kepala papa seperti digerogoti oleh listrik yang tibs-tiba menyetrum, dan papa merasa kalau otak papa hampir pecah. Awalnya papa berpikir papa akan gagal, lebih tepatnya papa akan mati karena ini, tapi ternyata itu hanya reaksi dari serum itu" jelas Fajrin. "Lalu bagaimana perasaan papa sekarang? Apakah itu efek dari serum papa? Apakah itu karena kemaren papa tidak melanjutkan serum papa? Mama sudah bilang kan, Pa! Sebaiknya papa ulang serum papa itu, bagaimana kalau sampai terjadi apa-apa sama papa? Bagaimana nasib kami kalau tidak ada papa? Hiks... hiks" ucap Irana sambil terisak. Tiba-tiba Fajrin terdiam, ia menutup matanya untuk sesaat lalu ia terkejut seolah ada yang mengejutkannya. "Ada apa, Pa?" tanya Irana panik. "Bobi! Ke mana Bobi jam segini?" ucap Fajrin bertanya-tanya. "Apa?" tanya Irana, ia bahkan tak menjawab pertanyaan Fajrin. "Ke sini, Pa. Melihat papa seperti ini, kami langsung panik dang menghubungi om Bobi" jelas Ares. "Apa?" tanya Fajrin terkejut. Dengan cepat Fajrin merogoh ponselnya, lalu ia menghubungi Bobi, namun tidak ada jawaban. "Ada apa, Pa? Kenapa papa seperti ini? Jangan membuat kami merasa takut, Pa. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Irana panik, namun Fajrin tak menjawab, ia justru memberi isyarat supaya Irana diam dan tenang. Berkali-kali Fajrin menghubungi Bobi, namun tidak ada jawaban. Sesekali ia melirik jam, dan kepanikan semakin menguasai dirinya. "Ayolah, Bob! Angkat teleponnya" ucap Fajrin sambil terus menghubungi Bobi. Masih dengan kepanikan, masih dengan tanda tanya yang belum terpecahkan, berharap Bobi akan menjawab teleponnya. Dan benar saja, setelah ia merasa lelah dan hampir putus asa, Bobi langsung menerima panggilannya. Bobi: Hallo, Ares. Fajrin: Hallo, Bobi! Ini aku Fajrin, tolong hentikan mobil mu sekarang. Bobi: Apa yang kau bicarakan, Fajrin? Bagaimana bisa kau sudah sadar seperti ini? Sebelumnya Ares menghubungi ku dan meminta ku untuk datang karena kamu sedang tidak sadarkan diri, tapi... Fajrin: Tidak ada waktu untuk menjelaskan, Bobi. Sekarang menepilah, tidak banyak waktu lagi. Tepikan mobil mu dan aku akan ke sana. Sekarang, Bobi! (Berteriak). Bobi sedikit terkejut mendengar teriakan Fajrin, untuk kali pertama ia mendengar Fajrin berteriak seperti itu kepadanya. Fajrin yang ia kenal sangat lembut, Fajrin yang ia kenal sangat membenci kekerasan. Yang paling membuat Bobi bingung, sebelumnya Ares menghubungi dirinya kalau Fajrin sedang tidak sadarkan diri, namun tiba-tiba Fajrin tersadar dan langsung menghubungi dirinya, dan yang paling membingungkan di antaranya, saat Fajrin memintanya untuk segera menepi yang ia bahkan tidak mengerti apa maksud perkataan temannya itu. Meskipun demikian, ia hanya bisa menuruti ucapan Fajrin karena Fajrin sudah menaikkan nada bicaranya meski sebenarnya ia memiliki rasa curiga atas apa yang Fajrin katakan. Bobi: Aku sudah menepi, sekarang katakan apa yang sebenarnya terjadi. Fajrin melirik ke arah jam dinding, ia bernapas lega karena ia masih memiliki waktu lima detik sebelum waktu yang ia pikirkan saat Bobi mengatakan kalau dirinya sudah menepikan mobilnya. Apa yang Fajrin rasakan kali ini,benar-benar sesuatu yang belum pernah ia rasakan, kepanikan yang luar biasa namun pada akhirnya bisa membuatnya lega. Sama halnya saat ia melakukan uji coba, di mana ia berasa kalau ia akan kehilangan nyawanya dan sangat khawatir dengan apa yang akan terjadi kepada Ares dan Irana setelahnya, namun pada kenyataannya ia masih bisa melihat dua orang yang sangat ia cintai itu. Ares dan Irana menatap Fajrin dengan penuh kebingungan, sedari Fajrin tak sadarkan diri hingga ia sadar seperti ini, dan hingga ia menghubungi Bobi dengan kalimat-kalimat yang konyol yang sama sekaki tidak mereka mengerti. "Apa yang sebenarnya terjadi, Pa?" tanya Irana. "Apakah terjadi sesuatu kepada om Bobi?" tanya Ares. Ada setitik rasa bersalah di hati Ares, oa benar-benar tak bisa memaafkan dirinya kalau sampai terjadi sesuatu kepada Bobi. Bagaimana tidak, dirinyalah yang meminta Bobi untuk datang ke rumahnya, itu artinya itu semua karena dirinya. Semoga tidak terjadi apa-apa kepada om Bobi, ya Allah. Aku tidak akan pernah bisa memaafkan diri ku kalau sampai terjadi sesuatu kepada om Bobi. Aku lah yang meminta om Bobi ke mari, jika terjadi sesuatu kepadanya, maka aku lah yang membuatnya seperti itu. Andai saja aku tidak meminta om Bobi kemari, mungkin om Bobi tidak akan dalam maslah seperti ini, batin Ares. Fajrin tak dapat menjawab Ares dan Irana, ia masih saja mencoba untuk menetralkan napasnya, namun setidaknya ia merasa sedikit senang karena Bobi mendengarkan ucapannya dan tidak bersikeras untuk tetap datang ke rumahnya. Sementara Bobi, setelah ia menghentikan mobilnya, tiba-tiba ia di kejutkan dengan sesuatu yang ada di hadapannya, ia bahkan tak pernah menyangka kalau hal itu akan terjadi kepada dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD