Napasnya tak beraturan, semua terjadi begitu cepat, hingga Bobi merasa kalau apa yang terjadi di hadapannya hanyalah sebuah mimpi. Bagaimana tidak, hanya dalam hitungan detik, di sebuah perempatan jalan yang ada di hadapannya, sebuah mobil yang melaju mendahului dirinya karena ia sudah menepikan mobilnya sesuai dengan perintah Fajrin, tiba-tiba saja di tabrak sebuah mobil truk yang datang dari sebelah kiri jalan. Cepat tanpa terkendali, hingga mobil itu terbalik dan akhirnya meledak saat itu juga.
“Allahhu akbar” ucap Bobi sangkin terkejutnya, ia bahkan tak sadar kalau ponselnya terjatuh saat ia sedang menutup wajahnya.
Fajrin: Hallo, Bobi! Apa kau masih di sana?
Tak ada jawaban, Fajrin tiba-tiba kembali panik. Ia langsung bangkit dari duduknya dan merogoh kunci mobilnya, ia harus memastikan kalau Bobi baik-baik saja.
“Papa mau ke mana?” tanya Irana.
“Papa harus menemui Bobi” jawab Fajrin.
“Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi dengan Bobi? Kenapa papa jadi seperti ini? kenapa papa tidak mau menceritakan apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Irana.
“Ceritanya panjang, Ma. Papa akan menceritakan semuanya kepada mama, tapi itu nanti. Papa harus pergi, papa harus memastikan kalau Bobi baik-baik saja” ucap Fajrin.
“Mama ikut, mama juga ingin memastikan apakah Bobi baik-baik saja. mama khawatir dengan keadaannya karena kamilah yang meminta dia untuk datang ke mari. Kalau saja kami tidak memintanya, mungkin saja semua ini tidak akan terjadi” kata Irana.
“Tapi, Ma…” belum selesai Fajrin berbicara, Ares langsung memotongnya.
‘Apa yang mama katakan benar, Pa. kami harus ikut melihat keadaan om Bobi, kami tidak mau kalau sampai terjadi kepada om Bobi, apalagi Areslah yang menghubungi om Bobi dan memintanya untuk datang ke mari” kata Ares.
Tak ada yang dapat Fajrin lakukan selain mengalah dan menuruti apa yang di katakan oleh putra dan juga istrinya itu, ia hanya bisa mengalah dan menuruti apa yang mereka katakan.
“Baiklah” jawabnya pasrah.
Fajrin melajukan mobilnya, ia benar-benar sangat panik dengan apa yang akan terjadi kepada Bobi, meski sebenarnya semu sudah bisa terkendali menurutnya. Namun karena Bobi tiba-tiba tidak menjawabnya, ia merasa sangat khawatir.
Ingin sekali Irana menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, namun ia memilih diam dan menunggu hingga mereka tiba di tujuan, ia tak ingin kalau sampai ia mengganggu konsentrasi Fajrin yang sedang fokus menyetir, yang justru akan mengakibatkan mereka dalam bahaya.
Tak lama, mereka tiba di tempat tujuan. Betapa terkejut nya Irana dan Ares saat melihat begitu banyak orang di sana. Tatap mereka langsung terhenti pada sebuah mobil yang terbakar di sana, seketika Irana merasa sekujur tubuhnya me-lemas, kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya hingga ia hampir saja terjatuh, beruntung Fajrin langsung menangkapnya.
“Allahu akbar” ucap Irana, air matanya langsung membasahi pipinya membayangkan apa yang ada di hadapannya. Tak ada yang ada dalam benaknya saat ini, ia hanya bisa membayangkan Bobi yang kini hangus terbakar di dalam mobil itu.
“Ma, tolong tenangin pikiran mama. Kita tidak tau apakah itu mobil Bobi atau bukan, kita harus mencarinya terlebih dahulu. Papa memintanya untuk berhenti, dan mungkin saja dia ada di depan sana. Sebaiknya kita ke sana dan melihat apakah Bobi ada di sana atau justu mobil Bobi lah yang meledak itu” kata Fajrin, kalimat itu justru membuat Irana semakin melemas.
Dengan sisa kekuatan yang ia miliki, Irana berjalan bersama dengan Fajrin dan Ares, kedau pahlawannya itu membopong dirinya supaya mereka tiba di tempat yang mereka maksud. Dan benar saja, Bobi sedang berada di dalam mobilnya, namun wajahnya terlihat sangat pucat pasi dan bahkan ia seperti tidak sadar.
“Bobi, buka pintunya!” teriak Fajrin sambil mengetuk pintu mobil Bobi.
Mendengar suara Fajrin, seketika Bobi tersadar, ia langsung membuka pintu mobilnya dan keluar dari sana.
“Fajrin” ucap Bobi merasa berterima kasih kepada Fajrin dan langsung memeluk Fajrin. Ia sangat yakin, kalau saja Fajrin tidak memintanya untuk berhenti, mungkin saja dirinya lah yang kini berada dalam sebuah mobil yang terbakar itu.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Fajrin.
“Ya, aku baik-baik saja. hanya saja, aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi, aku sedikit terkejut sehingga aku merasa sekujur tubuh ku melemah. Aku tidak tau kalau saja tidak ada diri mu, mungkin au tidak akan pernah melihat keluarga ku lagi. aku enggak tau kalau sampai aku menganggap ucapan mu sebagai candaan karena kamu tidak pernah demikian, mungkin aku…” belum selesai Bobi berbicara, Fajrin langsung memotongnya.
“Hei, apa yang kau katakan? kau selamat berkat diri mu, kau selamat karena kau bisa melawan ego mu dan mendengarkan ucapan mu. seperti yang kamu katakan, kalau saja kamu tidak mendengar ku dan terus melajukan mobil mu, mungkin saja kau lah yang berada di sana, tapi kau mengalahkan ego mu dan memilih untuk berhenti, bukan kah itu artinya kau telah menyelamatkan diri mu sendiri? Sebelum kamu menganggap kalau diri mu adalah pahlawan untuk diri mu, sebelum kamu menganggap orang lain adalah pahlawan untuk diri mu, sebelum kamu menganggap diri mu adalah pahlawan untuk orang lain, anggaplah terlebih dahulu kalau kamu adalah pahlawan untuk diri mu sendiri” kata Fajrin.
Ingin rasanya Bobi menolak ucapan Fajirn itu, ingin rasanya ia tetap ngotot mengatakan kalau Fajrin lah yang menyelamatkan dirinya, namun ia tau kalau Fajrin tidak akan mengakuinya, sehingga ia tidak punya pilihan lain selain mengangguk dan mengiyakan apa yang di katakan oleh Fajrin.
Fajrin membawa Bobi ke warung kopi terdekat, lalu mereka berbincang-bincang dan Bobi menanyakan bagaimana dirinya bisa tau apa yang akan terjadi ke depannya.
“Fajrin, aku masih penasaran, kenapa kamu bisa tau kalau itu adalah detik-detik kematian ku?” tanya Bobi heran.
“Itu hanya kebetulan saja” jawab Fajrin singkat.
“Jangan mengatakan sesuatu itu adalah kebetulan, karena itu sama sekali tidak kebetulan. Dari cara mu menghentikan ku, dari cara mu membentak ku, terlihat jelas kalau kau tau akan terjadi sesuatu kepada ku, hingga kau membentak ku dan memaksa ku untuk berhenti” kata Bobi tak percaya.
“aku hanya bermimpi buruk, entah apa yang membuat ku tak sadarkan diri. Namun aku seolah-olah bermimpi kalau seseorang sedang di ujung maut, dan aku berusaha mendekati orang itu, seseorang yang hampir hilang dari terangnya sebuah cahaya putih. Aku berusaha untuk menghentikannya, dan aku berhasil meraih tangan itu dan langsung memeluknya. Setelah aku melihat orang itu, ternyata dia adalah kamu. Aku tersadar, tiba-tiba aku terpikirkan oleh mu. di tambah lagi, mereka mengatakan kalau kamu akan ke mari, dan kejadian dalam mimpi ku bertepatan pada pukul empat dini hari dan bertempat di tempat tadi, itu sebabnya aku menunggu mu. aku hanya ingin memastikan mimpi ku, setidaknya aku ingin kau melewati tempat itu setelah pukul empat dini hari, tapi sayangnya semua mimpi ku benar” kata Fajrin sedikit berbohong. Benar ia memiliki firasat, namun pada kenyataannya ia tak bermimpi seperti yang baru saja ia katakan.