Lima

1198 Words
Farhan sedang sibuk dengan laptopnya, hal yang selalu ia lakukan setiap hari jika dirinya sedang berada di rumah. Namun, Farhan selalu berusaha untuk menghabiskan waktu dengan keluarganya, karena ia tak inginn seperti Fajrin yang ia ketahui hanya menghabiskan waktunya dengan penelitiannya itu tanpa ia sadari kalau Fajrin juga melakukan hal yang sama dengan dirinya. “Pa, untuk hari ini sebaiknya jangan memandangi laptop itu. Mama dan Sinta ingin pergi ke kebun binatang, dan mama harap papa juga akan ikut bersama kami” ucap Susi. “Tidak ada alasan bagi ku untuk menolak permintaan para wanita ku” ucap Farhan, lalu ia tersenyum dan mengakhiri aktivitasnya dengan laptop itu. Tidak ada yang pernah Farhan lakukan dengan laptopnya selain memperhatikan foto-foto kebersamaannya dengan Fajrin. Foto kebersamaan saat mereka sedang melakukan penelitian bersama, di mana keduanya sangat bersemangat dan sangat ingin membuktikan kepada dunia kalau mereka bisa mengubah dunia. Hal yang selalu Farhan lakukan, yaitu membaca step demi step yang pernah ia tuliskan bersama dengan Fajrin, step yang masih selesai sampai setengah perjalanan karena apa yang mereka lakukan dengan penelitian mereka masih saja mendapatkan kegagalan. Meskipun Farhan tak meneruskan penelitian yang pernah ia mulai dengan Fajrin, namun rasa penasaran juga tidak bisa ia sembunyikan, ia juga sangat ingin mengetahui masa depan seperti apa yang di inginkan oleh Fajrin. “Apa kau ingin melakukannya kembali?” tanya Susi. “Melakukan apa maksud, mama?” tanya Farhan. “Tidak perlu berpura-pura kepada mama, mama tau papa juga ingin melakukan hal yang sama dengan kak Fajrin. Kenapa harus menutupinya? Jika ingin melakukannya, maka lakukankah, yang terpenting kau tidak melupakan kewajiban mu sebagai suami” ucap Susi. “Apakah aku pernah melupakan kewajiban ku sebagai suami?” tanya Farhan yang di jawab dengan gelengan kepala oleh Susi. “Aku hanya penasaran dengan penelitian kami yang belum tuntas, dan aku sangat penasaran dengan hasilnya. Tapi aku merasa itu bukan sesuatu yang harus untuk saat ini, masih banyak yang harus aku lakukan yang lebih penting dari itu. Aku yakin akan ada waktu yang tepat untuk bisa menggalinya kembali, lagipula aku juga sudah sangat lama tidak melakukannya, jadi aku sudah sedikit lupa tentang hal itu” kata Farhan. “Jangan katakan kalau kau lupa, karena aku tidak akan percaya hal itu.kau selalu memeriksa laptop mu setiap saat, dan aku yakin kau juga mempelajarinya kembali setiap saat walau hanya sedikit, jadi banyak kemungkinan untuk memulai. Atau mungkin, kau ingin bergabung kembali dengan kak Fajrin? Mungkin saja dia sudah hampir sampai di titik puncak, karena dia melakukannya bahkan hampri setiap hari” ucap Susi. “Sudahlah, lupakan saja. Aku sudah bilang, ini bukan waktu yang tepat untuk itu. Kita baru tiba di sini dan aku baru mulai bekerja, jadi aku ingin fokus bekerja dan menghabiskan waktu dengan kalian dari pada harus memikirkan sesuatu yang belum tentu bisa memberikan kepastian” ucap Farhan mengakhiri. Berbeda dengan Irana yang selalu melarang Fajrin untuk melakukan penelitiannya karena takut terjadi sesuatu di masa depan, Susi justru sangat menduku suaminya itu tanpa memikirkan apa yang akan terjadi kepada keluarganya di masa depan. Yang Susi inginkan hanyalah kebahagiaan suaminya, sebab itulah Susi tak pernah melarang Farhan untuk melakukan sesuatu yang Farhan sukai, kecuali bermain wanita. Dengan sangat harmonis, ketiganya pergi ke kebun binatang sesuai dengan permintaan Sinta. Sudah sangat lama Sinta ingin pergi ke kebun binatang, namun Farhan tidak pernah ada waktu karena sibuk dengan pekerjaannya, hal itulah yang membuat Farhan memilih untuk kembali ke ibu kota dan meninggalkan Bali yang menurutnya sangat menyita waktunya dalam bekerja sampai-sampai ia hanya memiliki sedikit waktu dengan keluarganya. Tak lama, mereka tiba di kebun binatang. Dengan sangat bersemangat Sinta masuk ke dalam bersama dengan Susi, mereka bahkan tak menunggu Farhan yang sedang memarkirkan mobilnya. Farhan berjalan sedikit lebih cepat untuk mengimbangi langkah istri dan juga anaknya yang kini sudah semakin menjauh, ia tak ingin kalau sampai mereka berpisah di kebun binatang yang sangat luas ini. “Bagaimana sayang, apa kamu suka?” tanya Farhan kepada putrinya yang di jawab dengan anggukan oleh Sinta. “Nikmati hari ini, kamu bebas mengelilingi tempat ini sepuas mu, tapi harus tetap bersama mama dan juga papa” ucap Farhan yang lagi-lagi di jawab dengan naggukan oleh Sinta. “Kita ke sana, yuk!” ucap Susi sambil menunjuk ke arah beruang yang ada di sana, dengan senang hati Sinta mengangguk. Sinta begitu menikmati pemandangan di sana, anak kecil yang sangat menyukai binatang itu ingin sekali masuk ke dalam sana dan bermain dengan para binatang itu, namun sayangnya ia tidak bisa melakukan itu. “Papa, apakah kita bisa membawa mereka ke rumah kita?” tanya Sinta dengan polosnya. “Tidak bisa sayang, rumah kita terlalu kecil untuk mereka” jawab Farhan lembut. “Tapi Sinta ingin bermain dengan mereka, kalau bisa setiap hari bersama mereka. Mereka itu sangat lucu, tapi Sinta lebih lucu, kan Pa?” ucap Sinta dengan imutnya, membuat Farhan tak kuasa ingin mencubit pipi putri kecilnya itu. Sinta kembali bermain, lalu ia melihat buaya. Binatang yang sering kali ia lihat di sebuah aplikasi yang ia tonton dengan kalimat-kalimat yang menjijikkan, kalimat yang di utarakan kepada pria yang tidak setia, pria yang selalu tebar pesona kepada wanita lain sementara ia sudah memiliki wanita. “Ma, benarkah buaya itu selalu menyakiti perempuan? Benarkah buaya itu selalu membuat perempuan menangis?” tanya Sinta dengan polosnya. Farhan dan Susi terkejut mendengar pertanyaan putrinya, mereka bahkan tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan itu dari Sinta. Bukan hanya mereka, bahkan para mengunjung yang mendengarkan pertanyaan itu terkejut mendengarnya, ada juga di antara mereka yang tertawa sangking gemasnya melihat tingkah Sinta. “Siapa yang mengatakan hal itu kepada mu, nak?” tanya Susi. "Tidak ada yang mengatakan itu kepada Sinta, tapi Sinta sering mendengarnya. Bahkan saat kita liburan ketika kita sedang di pantai Bali, Sinta pernah nendengar kakak-kakak yang ada di sana mengatakan hal itu" ucap Sinta. Ingin rasanya Farhan tertawa, begitu juga dengan Susi. Sementara para pengunjung yang masih memperhatikan mereka, tak mampu lagi untuk menahan tawanya. "Apa yang di katakan kakak-kakak itu?" tanya Farhan tak puas mendengar cerita putrinya. "Kakak itu berdiri di depan seorang pria, lalu kakak itu menampar pria itu, terus dia bilang 'dasar buaya, bisanya hanya menyakiti hati wanita', begitu Pa" kata Sinta. "Berarti buaya jahat dong, Pa. Buaya selalu menyakiti hati wanita, tapi kenapa kakak itu bilang kalau pria itu buaya? Buaya itu kan seperti ini, bukan seperti pria itu" lanjut Sinta sambil menunjuk buaya yang ada di bawah sana. Susi tak mampu menahan tawanya, lalu ia tertawa hingga air matanya keluar membasahi pipinya. Sementara Farhan, ia mendekati Sinta dan menggenggam lengan putrinya itu. “Itu tidak benar sayang, tidak perlu di pikirkan, kakak itu hanya bercanda. Buaya itu adalah binatang seperti yang kamu lihat ini, bukan pria itu. Buaya itu binatang yang berbahaya untuk semua orang, bukan hanya untuk wanita saja” ucap Farhan menjelaskan. “Yasudah, ayo berkeliling lagi” lanjut Farhan yang di jawab dengan anggukan oleh Sinta. Sintah berlari mendahului Susi dan juga Farhan, susi yang masih tertawa mengikuti Sinta dengan perlahan, sementara Farhan menerima telepon di poonselnya. Hanya sepersekian detik, Farhan harus di kejutkan dengan teriakan Susi yang membuatnya langsung melempatkan ponselnya, ia bahkan tidak peduli lagi dengan orang yang sedang berbicara di seberang sana. “Tidakkk…”.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD