Enam

1071 Words
Sesuatu yang tak pernah Farhan duga, begitu juga dengan Susi. Sinta terjatuh ke dalam sebuah aliran air tempat di mana Gorila berada. Tak ada yang bisa Susi lakukan, dengan keterkejutannya ia bahkan tak mampu berbuat apa lagi, kakinya kini tak mampu menopang tubuhnya, pandangannya buram sebelum ia akhirnya terjatuh dan tak sadarkan diri. “Papa, tolong Sinta, hiks… hiks” hanya kalimat itu yang bisa Sinta ucapkan. Sinta hanya bisa mencoba untuk tidak mendekat dengan Gorila, ia tahu betul kalau Gorila adalah binatang yang sangat menakutkan. “Tenang sayang, papa akan berusaha untuk menyelamatkan kamu. Jangan bergerak, diam di sana dan jangan bersuara. Papa akan terus melihat kamu dari sini, jangan pernah berbalik atau melakukan apapun, mengerti?” kata Farhan mengingatkan, ia bahkan tak peduli lagi dengan Susi. Bukan tak peduli, lebih tepatnya ia membiarkan istrinya itu di urus oleh orang-orang berhati mulia yang ada di sana. Tanpa menunggu lama, para petugas keamaan di kebun binatang itu datang dan berusaha menyelamatkan Sinta. Mungkin banyak yang mengira itu tindakan bodoh, tapi tidak ada yang bisa seorang ibu lakukan kecuali berteriak dalam keadaan panik. Saat Susi tersadar, ia langsung berlari menghampiri suaminya. Ia melihat Gorila sedang berjalan mendekati Sinta, bahkan sang Gorila tak memiliki sedikitpun niat jahat kepada Sinta. Sayangnya, karena kepanikan Susi yang melihat Gorila semakin mendekat, ia berteriak yang membuat Gorila terkejut dan marah. “Tidakk…” teriak Susi. Dengan cepat Farhan membungkam mulut Susi dengan tangannya, petugas yang hendak turun untuk membantu Sinta, kini kembali naik ke atas karena ketakutan melihat Gorila yang kini marah. Tak bisa di hindari, dengan cepat Gorila itu menarik tubuh Sinta dan membawanya menjauh dari sana. Gorila menarik tubuh Sinta dengan sangat kasar sehingga tangan dan kaki Sinta tergores ke batu yang ada di air itu. “Papa hiks… hiks. Tolong Sinta, Pa. Sinta takut Pa, Sinta takut hiks… hiks” ucap Sinta. “Sinta sayang, anak pinta papa, jangan bergerak dan tetap di sana, jangan bersuara sedikitpun, okey?” ucap Farhan. “Dengarkan papa, papa akan mengelamatkan kamu, tapi berjanjilah untuk tetap di sana dan jangan pernah berbicara. Tutup mata mu dan jangan pikirkan apapun, bayangkan kalau itu hanyalah boneka” lanjut Farhan yang di jawab dengan anggukan oleh Farhan. Sinta melakukan sesuai dengan apa yang Farhan katakan, ia sangat yakin dengan ucapan papanya. Dia yakin, apapun akan Farhan lakukan untuk menynelamatkan dirinya. “Hei, di mana petugasnya? Tidak bisakah kalian membiusnya atau menembak mati binatang itu? Putri ku sedang ada di bawah sana dan nyawanya sedang terancam, tidak bisakah kalian bertindak lebih cepat?” teriak Farhan. Susi hanya bisa menangis, ia mendekati suaminya yang kini tersulut emosi karena tidak ada petugas yang berani turun ke bawah untuk membantu Sinta. “Papa, anak kita, Pa” ucap Susi, lalu ia beralih melihat Sinta yang ada di bawah sana. “Sinta sayang, hiks… hiks” lanjutnya. Dengan sangat kasar Farhan menggenggam lengan istrinya itu, ia menatapnya dengan tatapan berapi-api. “Diam kamu, diam. Jangan bicara sepatah katapun atau aku akan membunuh mu” ucap Farhan tanpa sadar, ia bahkan tidak tau setan apa yang merasuki dirinya hingga ia mengatakan kalimat itu. Yang ia tau, ia sangat kesal kepada Susi karena telah berteriak yang mengakibatkan Gorila itu marah dan membuat petugas tidak berani untuk turun ke bawah. Begitu banyak petugas yang sedang berada di sana, namun tak ada yang berani turun untuk menyelamatkan Sinta, hingga Farhan tidak punya pilihan lain selain turun ke bawah dan menyelamatkan putrinya. Awalnya, sebelum Susi berteriak, salah seorang petugas sudah di utus ke bawah sana untuk menyelamatkan Sinta, namun dengan cepat ia kembali naik ke atas setelah mendengar teriakan Susi yang membuat Gorilsla itu marah dan tak terkendali. Dengan sedikit pengaman yang di berikan kepada Farhan, ia berusaha untuk menyelamatkan putrinya, meski pada kenyataannya ia juga ragu apakah ia akan berhasil atau tidak. Setibanya di bawah, Farhan berjalan dengan sangat hati-hati untuk mendapatkankan Sinta, ia bahkan sampai terjatuh karena tidak melihat ada batu sedikit besar di hadapannya. Bagi seorang ayah, Farhan tak lagi memikirkan luka di kakinya dan juga yang ada di keningnyna, yang ia pikirkan saat ini hanyalah keselamatan putrinya yang terancam. “Sayang, jangan takut, papa ada di sini. Papa akan membawa kamu pergi dari sini” ucap Farhan yang kini berada di hadapan Sinta, ia membelai pipi putrinya itu dengan sangat lembut. Sinta mencoba untuk membuka matanya, di balik ketakutannya, ia memberanikan diri setelah ia merasakan sentuhan dari sang papa dan mendengar suara sang papa untuk meyakinkan dirinya. “Papa, Sinta takut” ucap Sinta. Wajah mungil yang kini terlihat sangat pucat pasi itu menatap Farhan dengan linangan air mata, ia bahkan tak mampu lagi untuk menopang tubuhnya karena rasa sakit yang ia rasakan. “Papa, Sinta nggak kuat lagi” ucap Sinta dengan suara yang semaki memelan. “Jangan sayang, Sinta harus tahan ya, Nak. Papa akan membawa Sinta keluar dari sini, tapi Sinta janji untuk tetap membuka mata Sinta dan melihat papa menyelamatkan Sinta seperti pahlawan” kata Farhan. “Apakah papa akan berubah menjadi super hero?” tanya Sinta, suaranya berat dan matanya terlihat sangat sayu seolah ia ingin tertidur. “Iya sayang, papa akan berubah menjadi super hero untuk menyelamatkan putri cantik papa” ucap Farhan, ia bahkan tak mampu membendung air matanya saat mengucapkan kalimat itu. “I-iya Pa” ucap Sinta terbata sebelum akhirnya ia ambruk dan tak sadarkan diri, beruntung Farhan dengan cepat menangkapnya hingga ia tidak terjatuh ke dalam air yang berbatu. “Sinta, bangun sayang, Sinta…” ucap Farhan berusaha untuk menyadarkan Sinta, namu semua sia-sia. “Bukan tanpa alasan Farhan melakukannya, meminta Sinta untuk tetap sadar. Ia ingin keluar dari sana dengan bantuan dan kerja sama dari Sinta, karena jika Sinta tak sadarkan diri, hal itu akan mempersulit dirinya untuk bisa naik ke atas sana. “Pa, ayo bawa Sinta keluar sebelum Gorila itu terbangun” teriak Susi, meskipun Farhan memintanya untuk tetap diam sampai ia kembali dari bawah sana, namun Susi tak bisa tinggal diam dan membiarkan Farham berdiam diri di bawah sana yang justru akan membuang-buang waktu. Mendengar ucapan istrinya, Farhan menggedong Sinta, ia bangkit dan berniat untuk pergi dari sana. Seketika langkahnya berhenti, bahkan ia merasa kalau kakinya sulit untuk di gerakkan. Jantungnya berdetak tak karuan, ia sangat ketakutan untuk melangkah dari sana. Bukan hanya Farhan, mereka yang ada di sana juga terkejut dan bahkan menganga melihat apa yang terjadi. Sementara Susi, ia lagi-lagi tak sadarkan diri melihat apa yang saat ini terjadi di hadapannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD