Dengan perlahan, Farhan membalikkan badannya. Keringat mulai bercucuran meskipun saat ini ia sedang kedinginan di dalam air, ia bahkan sangat sulit untuk menggerakkan kakinya saat mendengar dengusan napas yang begitu kuat yang sudah ia ketahui milik siapa.
Ia benar-benar gemetar, ia tidak tau harus berbuat apa lagi. di satu sisi, ia ingin pasrah dengan apa yang akan terjadi kepadanya, namun di sisi lain ia tak ingin kalau sampai terjadi sesuatu kepada putrinya.
Susi yang sudah sadarkan diri, kembali memperhatikan suaminya yang ia ketahui sangat ketakutan itu. Ia hannya bisa menangis, ia memcoba untuk membungkam mulutnya karena ia merasa semua itu salahnya. Dengan diam, ia yakin suami dan anaknya bisa di selamatkan.
Susi mendekati petugas dan dokter yang ada di sana, tak peduli seberat apapun kakinya untuk melangkah, namun ia ingin petugas bertindak cepat untuk ini.
“Hei, apa yang kalian lakukan di sini? Gorila itu sudah sangat marah dan dia bisa saja menerkam suami dan juga anak ku dalam hitungan detik. Ayo lakukan sesuatu, tembak dan lumpuhkan dia” ucap Susi sedikit berteriak, ia tak ingin kalau sampai Gorila itu mendengarnya.
"Kami tidak bisa berbuat banyak, dokter masih dalam perjalanan ke mari untuk melumpuhkan Gorila itu" jawabnya.
"Kenapa tidak langsung membawanya? Kenapa tidak memikirkan efek sampai ke sini? Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu kepada suami ku? Hiks... hiks" ucap Susi lagi, namun apa yang ia katakan juga tidak ada gunanya, ia hanya bisa pasrah dan berdoa semoga ada mujizat untuknya dan juga suami serta anaknya yang ada di bawah sana.
Farhan yang tak bisa mendapatkan bantuan untuk saat ini, hanya bisa berusaha keras untuk melindungi diri dan juga putrinya. Ia hanya bisa berusaha untuk menghindar hingga para petugas bisa memberikan bantuan, namun ia sendiri tidak tau apakah ia bisa menghindar atau tidak.
Gorila yang semakin marah saat mendengar teriakan orang-orang yang ada di atas sana, dengan cepat menangkap Farhan yang kini sedang menggedong Sinta. Namun Farhan tak kalah cepat, secepat mungkin ia berlari ke sebuah lubang kecil yang sedari tadi sudah ia lihat. Ia langsung masuk ke dalam lubang itu, sayangnya Gorila berhasil menangkap sepatunya.
Teriakan semakin menggelegar, para pengunjung kini tak lagi ingin melihat binatang yang ada di kebun binatang itu, melainkan melihat aksi Farhan dan juga Gorila yang ada di bawah sana.
Mendengar teriakan para pengunjung yang justru membuat Gorila semakin marah, petugas memberikan peringatan kepada pengunjung.
Di harapkan kepada para pengunjung kami yang terhormat untuk tidak mengeluarkan suara untuk sementara, dengan adanya suara dan teriakan-teriakan dari kalian, hal itu bisa memicu amarah Gorila yang justru akan semakin mengancam keselamatan bapak dan anak yang ada di bawah sana. Jadi kami mohon untuk setiap pengunjung yang ada di sana, untuk tetap diam demi keselamatan mereka, terima kasih.
Mendengar itu,para pengunjung terdiam, mereka hanya bisa menangis dan ada juga yang begitu panik seolah dirinyalah yang ada di dalam sana. Tak sedikit di antara merena yang memanjatkan doa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing, berharap Farhan dan juga Sinta bisa di selamatkan.
Farhan berusaha untuk melepaskan kakinya dari genggaman Gorila itu, ia bahkan harus menahan sakit di pergelangan kakinya demi membebaskan diri dari Gorila.
"Ya Allah, lindungilah suami dan juga anak ku" ucap Susi, air mata masih saja terus membasahi pipinya.
Farhan terus berusaha melepaskan kakinya, hingga ia berhasil meloloskan diri dengan sekuat tenaga melepaskan sepatunya.
Farhan memeluk Sinta dengan erat, menciumi puncak kepala putrinya itu dengan sejuta ketakutan. Dengan perlahan, ia menyentuh pergelangan kakinya, ia bahkan tak tahu apakah kakinya patah atau tidak.
Sebuah kelegaan bagi Farhan dan para pengunjung yang ada di atas sana, meskipun Farhan masih terperangkap di dalam lubang yang tak bisa di jangkau oleh Gorila itu, setidaknya ia bisa menghindar untuk beberapa saat hingga petugas mendapatkan bius untuk melumpuhkan Gorila kembali.
"Papa, bertahanlah. Aku tau papa bisa melewati ini, tetap di sana sampai petugas kembali dan melumpuhkan Gorila itu" teriak Susi, lalu ia kembali menemui petugas.
"Kenapa lama sekali? Sampai kapan kita harus menunggu? Putri ku tak sadarkan diri, dan suami ku sedang terluka. Di mana tanggung jaeab kalian sebagai petugas di sini? Kalian berani membawa binatang itu ke mari, itu artinya kalian harus bisa menakhlukkannya dengan cara apapun. Cepat hubungi petugasnya atau hubungi aparat kepolisian sekalipun, selamatkan suami dan juga anak ku atau aku akan menuntuk kalian hingga kebun binatang ini di tutup" ancam Susi.
Tak ada sedikitpun niat Susi untuk mengancam petugas yang ada di sana, hanya saja ia tidak tahu harus berkata apa-apa lagi. Ia sadar kalau apa yang terjadi saat ini adalah kelalaian dirinya dalam menjaga anak sehingga nyaea suami dan juga putrinya terancam, namun ia harus melakukan itu, mengancam petugas supaya bertindak lebih cepat demi keselamatan dua orang yang sangat ia cintai yang kini sedang dalam bahaya.
"Sinta, bangun sayang. Sinta, ayo kita keluar bersama dari sini. Sintaa.." ucap Farhan, ia berusaha menyadarkan putrinya yang kini masih tak sadarkan diri.
Tidak ada yang bisa Farhan lakukan, setidaknya ia ingin berusaha untuk membuat putrinya sadar sembari menunggu bantuan. Yang ia ketahui, dengsn kesadaran putrinya akan mempermudah mereka untuk bisa keluar dari sana.
Inikah takdir hidup ku? Haruskan aku mati konyol di tempat ini bersama dengan putri ku? Andai saja aku bisa menyelesaikan penelitian itu dengan Fajrin, mungkin saja aku bisa menghindari kejadian ini jika aku bisa mengetahui masa depan. Tapi sekarang, apa yang bisa aku lakukan? Bahkan yang akan terjadi selanjutnya pun aku tidak tahu, apakah aku dan putri ku bisa selamat dan keluar dari sini atau justru mati konyol di tempat ini, batin Farhan.
Tak lama, plsang dokter datang dengan membawa obat bius yang akan mereka tembakkan ke tubuh Gorila yang masih saja berjaga di dekat lubang. Sang dokter tak berani untuk melakukan tembakan, karena hal itu belum di instruksikan.
"Ayo tembak, kenapa masih menunggu?" tanya Susi.
"Kita tidak bisa melakukannya, buk. Kalau kita menembak Gorila itu saat ini, maka ia akan terjatuh dan menutup lubang itu. Apa yang kita lakukan akan percuma, karena mereka juga tidak akan bisa keluar dari sana. Kita tidak tahu apakah di sana ada lubang lain atau tidak, dan itu harus di pertimbangkan. Kalau sampai di sana tidak ada lubang lain atau sekedar lubang kecil, mungkin saja mereka akan kekurangan oksigen jika Gorila itu menutup lubang itu dengan tubuhnya. Pembiusan hanya dalam beberapa menit, kalau sampai Gorila terjatuh menutup lubang dan para petugas belum turun untuk memindahkannya, maka itu akan memakan waktu cukup lama, hal itu justru akan membuat mereka terjebak di bawah sana tanpa adanya oksihen sampai Gorila itu benar-benar di lumpuhkan" jelas petugas itu.
"Lalu apa yang harus di lakukan? Apa kita harus tetap menunggu? Bagaimana kalau Gorila itu masih tetap di sana sampai besok atau bahkan sampai beberapa hari? Apakah kita akan tetap menunggu dan membiarkan suami dan anak ku mati konyol di dalam sana?" tanya Susi.
Pertanyaan yang lolos dari bibir Susi tak mampu di jawab oleh petugas itu, ia juga tak bisa menjamin apakan Gorila akan tetap di sana atau justru berpindah tempat. Untuk berpindah tempat hanyalah ada kemungkinan yang sangat kecil, karena Gorila itu tau kalau Farhan dan Sinta ada di dalam lubang itu.
Sibuk memikirkan jalan keluar, tiba-tiba seorang pengunjung berteriak.
"Hei, lihat ke sana, Gorila itu telah pergi, ayo tembak" teriak salah satu pengunjung.
Dengan cepat sang dokter melakukan tembakan, hingga Gorila terkapar dan terjatuh, namun harus menunggu hingga Gorila itu semakin melemah. Hal itu tak luput dari pendengaran Farhan, ia tahu kalau saat ini Gorila telah di lumpuhkan, namun ia sama sekali tak bisa bergerak untuk keluar dari sana.