Dua puluh satu

1073 Words
Fajrin kembali melakukan penelitiannya, ia bahkan tidak sadar kalau ia sudah melakukan penelitian selama satu bulan. Besar harapan Fajrin untuk bisa mendapatkan hasilnya dalam waktu dekat dan membuktikan kepada dunia bahwa ia bisa melakukannya. Tidak lupa Fajrin untuk menepati janjinya, ia tetap membagi waktunya untuk Ares dan juga Irana. Ia tetap ikut serta setiap kali mereka makan malam, ia juga tidak lupa untuk menghabiskan waktu weekendnya dengan Ares dan juga Irana. "Pa, weekend nanti kita akan pergi berlibur dan papa tidak boleh menolak itu" ucap Irana. "Papa sudah berjanji untuk tidak menolak permintaan kalian, papa sudah berjanji untuk tetap meluangkan waktu untuk kalian. tidak ada alasan papa untuk tidak ikut bersama kalian, karena papa ingin membuat kalian bahagia. Bukankah itu sudah menjadi tanggung jawab ku sebagai suami untuk mama dan juga papa untuk Ares. Membuat kalian bahagia sama saja dengan mencari kebahagiaan untuk diri ku sendiri, karena kalian adalah sumber kebahagiaan ku "jawab Fajrin. "Bagus kalau papa ingat akan hal itu. Oh iya pah, bagaimana dengan Farhan? apakah dia masih menanyakan penelitian itu? entah benar atau tidak, firasat mama mengatakan kalau dia akan terus menerus mengganggu papa sampai dia bisa mendapatkan kerja sama dengan papa "kata Irana. "Itu membuktikan kalau Farhan bukan seorang pebisnis yang profesional karena ia bahkan tidak terima akan kegagalan. Kita anggap hal ini adalah sebuah bisnis sangat tidak baik jika dia terus mendesak client, seharusnya dia harus siap untuk menerima sebuah kegagalan dan juga penolakan, tetapi sayangnya ia terus memaksa dan memaksa hingga membuat clientnya merasa tidak nyaman dan ilfil sehingga menolak untuk bekerja sama. Sama halnya dengan papa, papa juga justru semakin malas untuk kembali melakukan penelitian dengannya mengingat sifatnya yang egois dan bahkan memiliki emosional yang tinggi" kata Fajrin. Fajrin melangkah keluar saat ia sudah menyelesaikan pekerjaannya. Tanpa diduga seperti biasanya Fahran telah menunggnya di luar, tetapi Fajrin bisa menebak kalau Farhan akan melakukan hal yang sama yaitu itu untuk melakukan penelitian bersama. Dan sebelum Farhan mengutarakan maksudnya untuk menunggu Fajrin, Fajrin sudah terlebih dahulu tau akan menjawab apa yaitu lagi-lagi memberikan penolakan seperti biasanya. "Fajrin, aku ingin bicara dengan mu" kata Fahran. "Apa yang ingin kamu bicarakan Farhan? kalau hanya ingin untuk sekedar membahas penelitian, aku tidak punya waktu untuk itu sama seperti biasanya aku akan tetap memberikan jawaban yang sama" jawab Fajrin tegas. "Kenapa kamu seperti ini terhadapku? kenapa kamu tidak mau melakukanya lagi dengan ku? Sesibuk itukah diri mu? Aku pikir, kamu dan aku memiliki kesibukan yang sama, kau dan aku juga memiliki waktu luang yang sama tetapi kenapa kau seperti ini? Dari yang aku lihat,kau selalu menghindar dari ku. Sebenarnya apa salah ku? Jika kau tidak ingin melakukanya dengan ku, setidaknya berterus terang saja terhadap ku, dari pada kamu seperti ini, dan membuat ku seolah pengemis" kata Farhan kesal. Fajrin tidak menjawab, ia justru menatap Farhan dengan tatapan yang sulit diartikan. Ingin rasanya Fajrin menjawab, namun iya takut amarahnya memuncak saat itu juga. Ia lebih memilih diam dan menunggu apa yang ingin Farhan katakan selanjutnya. Melihat Fajrin terdiam, Farhan juga ikut diam ia merasa kalau tatapan Fajrin sudah memberikan sebuah jawaban kepada dirinya, jawaban yang benar-benar menyakitkan yang bahkan bisa dikatakan bisa membuat dirinya bergidik ngeri. Melihat Farhan tidak memberi jawaban, Fajrin memilih pergi dari sana. Ia tidak ingin berlama-lama di sana yang justru akan membuang buang waktunya saja, waktu yang seharusnya bisa ia gunakan untuk bersama Ares dan juga Irana. Farhan melajukan mobilnya dengan emosi yang berapi-api, ia bahkan hampir hilang kendali. Dengan menaikkan kecepatannya ia hampir saja kehilangan nyawanya kalau saja ponselnya tidak berderingg. Dengan cepat Farhan menginjak rem dan melihat siapa yang menghubungi dirinya. Nama yang tertera di layar ponselnya membuat dirinya semakin serba salah. Nama seseorang yang seharusnya menjadi penyejuk hatinya, yang tak lain dan tak bukan adalah Susi. Ia merasa kesal terhadap istrinya itu, karena baginya istrinya itu sangat tidak bisa diandalkan. Untuk kali pertama semenjak Farhan menikah dengan Susi, ia memberanikan diri untuk pergi ke clup malam. Bukan untuk bermain dengan para wanita yang ada di sana, namun untuk menenangkan diri dengan sebotol fotka yang akam menemani malamnya. Farhan berusaha untuk tidak mabuk, ia tidak ingin kalau sampai Susi curiga terhadanya. Namun sayangnya ia hilang kendali, ia bahkan menghabiskan lebih dari satu botol vodka. "Tunggu saja Fajrin, tunggu sampai kamu membutuhkan ku. Mungkin saat ini kau bisa berdiri sendiri tanpa aku, tapi aku yakin suatu saat nanti kau akan mencari ku dan memohon kepada ku" ucap Farhan sebelum ia meninggalkan clup itu. Farhan berjalan dengan sempoyongan memasuki rumahnya, ia bahkan tak sadar kalau ia sudah berada didepan pintu hingga ia langsung menabrak pintu. Bukan hanya itu saja, bahkan dalam perjalanan saat akan pulang ke rumah, Farhan hampir saja menabrak trotoar sebanyak 3 kali, beruntung nasip baik masih berpihak kepadanya hingga ia bisa tiba di rumahnya dengan selamat. "Astaghfirullah, apa yang papa lakukan di sana?" tanya Susi saat ia membuka pintu karena ia mendengar sesuatu di balik pintu. Farhan tidak menjawab, ia justru menatap Susi dengan tatapan bingung. Sementara Susi, ia terkejut saat melihat suaminya sedang di pengaruhi alkohol. Untuk kali pertama, Susi melihat Farhan seperti ini. Tak ada yang bisa Susi lakukan selain membantu Farhan untuk masuk kedalam karena ia tau akan percuma berbicara dengan Farhan dengan keadaan seperti ini. Keesokan paginya, Susi sibuk seperti biasanya yaitu sibuk untuk menyiapkan sarapan. Berhubung karena hari ini adalah hari weekend, ia memilih diam dan tidak membangun Farhan. Ada setitik rasa kesal dihatinya saat mengingat apa yang terjadi malam itu, saat dimana Farhan pulang dalam keadaan mabuk. Pikiran kotor Susi mulai meronta-ronta untuk memikirkan yang tidak-tidak dan berpikir kali Farhan sedang bermain dengan wanita di luar sana. Sementara Farhan ia baru saja terbangun dari tidurnya. Pengaruh alkohol membuat kepalanya serasa sakit, dan bahkan seluruh tubuhnya. Ia melihat bahwa Susi tidak ada disampingnya, tapi ia tau kalau Susi pasti sedang menyiapkan sarapan. Seketika pandanganya tertuju pada jam dinding yang ada di hadapannya yang mampu membuatnya terkejut bukan main. Ia mengkucek kucek kedua bola matanya lalu kembali menatap kearah jam dinding. Ia berharap apa yang dia lihat hanyalah sebuah mimpi namun pada kenyataannya apa yang ia lihat adalah kenyataan bahkan jam sudah menunjukkan pukul 09:00. Keterkejutan semakin bertambah, Farhan bertanya-tanya kenapa Susi tidak membangunkannya. Ada setitik rasa takut di hatinya, di tambah lagi ia mengingat kejadian dimalam itu membuatnya bergidik ngeri untuk turun kebawah menemui Susi. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya setelah bertemu dengan Susi, yang pasti ia hanya bisa berdoa dan berharap semoga Susi tidak mencincangnya hidup-hidup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD