Fajrin masih saja sibuk dengan penelitiannya, ia bahkan lupa kalau dirinya belum makan. Sudah berkali-kali Irana meminta dirinya untuk makan malam, namun Fajrin selalu saja memberikan alasan.
“Pa, sebaiknya di lanjut nanti setelah kita selesai makan” ucap Irana.
“Iya, Ma. Sebentar lagi papa nyusul” jawab Fajrin.
Hampir setengah jam Irana dan Ares menunggu di meja makan, namun Fajrin tak kunjung kembali, ia bahkan seolah tak tahu kalau Irana sudah memanggilnya berkali-kali.
Lelah dengan sikap Fajrin yang sedari tadi tak kunjung datang, akhirnya Irana memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu bersama dengan Ares mengingat Ares yang sudah sangat kelaparan.
“Banyak makanan, bahkan semua sangat enak, bagaimana mungkin aku membiarkan anak ku kelaparan. Sudah dari dulu tabiat mu seperti itu, selalu saja sulit untuk di ajak berkompromi jika sudah berhubungan dengan penelitian mu itu. Apa susahnya untuk makan bersama sebentar saja? jika ingin melanjutkannya, kau bahkan bisa melanjutkannya setelah makan malam selesai, tapi kau bahkan seolah-olah tak mendengar ku” gerutu Irana sambil menyiapkan makanan untuk Ares.
“Tidak ada gunanya mama marah-marah seperti ini, sementara orangnya tidak ada di sini, karena semua akan sia-sia tanpa sampai ke telinga orang yang sedang mama rutuki. Sebaiknya kita makan terlebih dahulu, Ma. Jangan terlalu marah kepada papa karena itu akan membuat kalian bertengkar, aku tidak ingin kalau sampai mama dan papa bertengkar hanya karena masalah makan malam” ucap Ares.
“Anak mama sudah dewasa, ternyata kau sudah bisa memperbaiki apa yang salah. Mama minta maaf ya sayang, seharusnya mama tidak seperti itu di hadapan kamu. Mama hanya kesal terhadap papa kamu, bahkan ia lupa untuk sekedar makan yang justru demi kesehatannya. Mama tau kalau penelitian papa itu sangat penting baginya, tapi papa lupa kalau kesehatannya juga penting. Dengan tidak makan seperti ini, bahkan untuk melakukan penelitiannya pun papa pasti tidak akan fokus, dan bahkan akan membuatnya sakit. Lalu untuk apa hasil dari penelitiannya kalau memang ia harus jatuh sakit dan tak bisa merasakan efek atau manfaat dari penelitian itu? Tapi mau bagaimana lagi, bahkan untuk mengatakan hal itu sangat sulit terhadap papa mu, jadi sebaiknya kita lupakan saja papa mu yang sangat menyebalkan itu” canda Irana, lalu mereka menyantap makanannya.
Lelah dengan penelitiannya hari ini, di tambah lagi besok pagi ia harus bekerja, Fajrin memilih untuk berhenti dan keluar dari ruang bawah tanah.
Di dalam kamarnya, ia melihat Irana sedang tertidur pulas. Ia menghampiri Irana dengan senyum yang mengembang di bibirnya, lalu ia kecup puncak kepala Irana dan mencoba untuk membangunkannya.
“Sayang… sayang” ucap Fajrin sambil membelai rambut indah Irana.
Irana terbangun, ia bahkan masih belum sadar saat Fajrin kembali berbicara.
“sayang, kenapa kamu tidur jam segini? Maaf membuat mu dan Ares menunggu, ayo kita makan” ajak Fajrin.
Irana terkejut, ia mencoba untuk mengumpulkan nyawanya meski sebenarnya sangat sulit ia lakukan. Ia bahkan tidak lupa kalau dirinya sudah makan, namun ia bertanya-tanya jam berapa saat ini. dengan sisa tenaga dan nyawa yang ia miliki, Irana mencoba untuk melirik jam dinding, lagi-lagi ia terkejut saat melihat jam sudah menunjukkan pukul datu dini hari.
“Sudah berapa lama kau di sana?” tanya Irana yang langsung membaringkan tubuhnya di ranjang.
“Belum lama, bahkan kau baru saja mengajak ku untuk makan malam, tapi ternyata kau malah tertidur” kata Fajrin.
“Aku tidak tertidur Fajrin Bayanaka, tapi memang sudah waktunya untuk tidur. Coba kau perhatikan jam di dinding itu, apakah itu masih di angka tujuh atau angka delapan? Andai saja aku bisa, ingin rasanya aku membunuh mu, tapi sayangnya aku tidak memiliki keberanian untuk itu. Sebaiknya kau tidur saja Fajrin Bayanaka, atau kau akan terlambat berangkat ke kantor besok pagi” ucap Irana kesal, namun Fajrin hanya tersenyum saat istrinya menyebut namanya dengan sangat lengkap.
Fajrin mengarahkan pandangannya ke dinding, ia bahkan tak sadar kalau tadi ia melihat ke sana. Ternyata ia melihat jarum jam yang salah, ia melihat jarum jam yang menunjukkan menit sedang berada di antara angka tujuh dan delapan, dan ia mengira kalau saat ini masih jam tujuh atau bahkan setengah delapan.
“Ma, papa minta maaf” ucap Fajrin saat mereka sedang duduk di meja makan pagi itu.
“Sebaiknya papa habiskan makanan papa karena papa sudah terlambat. Tidak perlu minta maaf dan memaafkan, karena semua akan kembali terulang sebagaimana sebelum-sebelumnya. Selalu mengucapkan maaf, selalu berjanji tak mengulangi, namun pada kenyataannya semua terulang dan hampir setiap hari” kata Irana kesal.
“Sebaiknya mama utarakan di sini saja mumpung papa ada di ini, jangan suka berbicara sendiri atau keadaan akan tidak baik-baik saja ke depannya” ucap Ares yang membuat Fajrin bingung.
“Apa maksud kamu? Apa yang mama katakan?” tanya Fajrin tak mengerti.
“Ya, kau selalu menghabiskan waktu dengan penelitian mu itu hingga kau tidak ada waktu untuk kami walau hanya sekedar makan malam. Apa salahnya kau bersama kami hanya sekedar saat makan malam, setelah itu kau bisa kembali melanjutkan penelitian mu. tapi kau selalu berkata nanti, nanti dan nanti. Kau selalu meminta maaf setelah melakukannya, namun kau tidak pernah lupa untuk kembali melakukannya. Aku tak pernah melarang mu untuk melakukan penelitian mu itu, tapi kau harus bisa mengatur waktu mu, kau harus memikirkan kesehatan mu supaya kau bisa fokus melakukan apa yang ingin kau lakukan” tandas Irana.
“Mah, papa minta maaf, papa…” kalimat Fajrin menggantung saat Irana kembali berbicara.
“Mama sudah bilang, tidak perlu minta maaf. yang papa harus pikirkan itu hanya satu, papa bisa bersantai di sana dan lupa untuk makan malam, tapi papa harus ingat kalau papa memiliki anak. Bagaimana mungkin papa bisa membuat kami menunggu selama itu dan membairkan kami menahan lapar? Pikirkan anak mu, pikirkan kalau dia juga ingin makan” kata Irana kesal.
“Iya, Ma. Papa minta maaf” ucap Fajrin tulus. “Ares, papa minta maaf ya, Nak. Papa janji, mulai sekarang papa akan menghabiskan waktu dengan kalian, tapi hanya sampai jam delapan atau jam sembilan saja karena aku harus melanjutkan penelitian ku” kata Fajrin yang di jawab dengan anggukan oleh Irana.
“Apapun yang akan kau lakukan, selagi hal itu masih positif, mama tidak akan pernah melarang mu, Pa. Hanya saja, jangan pernah melupakan untuk membagi waktu mu dengan kami” kata Irana yang di jawab dengan anggukan oleh Fajrin, ia benar-benar sangat menyesal karena telah berubah sejak ia kembali ingin membuat serum penelitian itu.
Dengan sangat lembut Fajrin mencium puncak kepala Irana sebelum ia berangkat bekerja sekaligus mengantar Ares ke sekolahnya, ia berharap kalau ia bisa menepati janjinya. Ia ingat betul seperti hari-hari sebelumnya, hari di mana ia berjanji untuk tetap membagi waktunya dengan Ares dan Irana, namun pada kenyataannya ia lupa akan hal itu.