Flashback on
Tak ada lagi yang di inginkan oleh Bayanaka selain menjadikan Alma sebagai istrinya, apa yang ia harapkan sudah tercapai selain memiliki seorang pendamping.
Sukses di berbagai bidang bisnis membuat Bayanaka terkenal di mana-mana, bahkan tak sedikit wanita yang ingin di jadikan istri oleh Bayanaka.
Tak ada yang mampu meluluhkan hati Bayanaka selain Alma yang sudah menjalin hubungan dengannya selama satu tahun terakhir. Sedikit ada keraguan untuknya untuk menjadikan Alma sebagai istri karena ia ingin melihat seperti apa Alma sebenarnya, namun desakan orangtua meminta Bayanaka untuk segera menikah dan Bayanaka tak bisa menolaknya.
“Tidak bisakah kita pergi ke dokter? Sudah satu bulan kita menikah, namun belum ada tanda-tanda kehamilan ku” ucap Alma kesal, ia sudah tak sabar ingin mengandung anak yang akan menjadi penerus Bayanaka.
“Sabar sayang, baru satu bulan. Banyak orang yang menunggu bertahun-tahun bahkan puluhan tahun untuk mendapatkan momongan, dan mereka bersabar untuk itu” kata Bayanaka menenangkan.
“tapi tidak dengan ku, Pa. Aku ingin segera memiliki anak, aku tidak mau seperti mereka yang harus menunggu bertahun-tahun. Atau jangan-jangan papa mandul sampai-sampai kita tidak bisa memiliki anak?” tanya Alma.
“Ma, kenapa mama bicara seperti itu? Kenapa mama berasumsi yang tidak mengenakkan di telinga papa? Bisa-bisanya mama mengatakan kalau papa mandul karena mama beelum hamil. Bagaimana kalau mama yang mandul? Apakah mama bisa membuktikan kalau mama tidak mandu? Apakah mama sudah pernah melahirkann makanya mama begitu yakin kalau mama tidak mandul?” tanya Bayanaka.
“Kenapa papa malah menuduh mama? Bagaimana mungkin mama bisa melahirkan sementara semuannya masih sempit? Apakah papa tidak merasakan hal itu?” tanya Alma tak terima, ia sangat kesal dengan pertanyaan suaminya itu.
“Justru itu, jadi mama tidak bisa memastikan kalau mama itu tidak mandul. Sudahlah, Ma! Jangan membahas sesuatu yang justru membuat kita pusing, jangan membahas sesuatu yang akan membuat hubungan kita tidak baik. Kenapa harus meributkan masalah anak, masalah mandul dan semacamnya? Pernikahan kita baru satu bulan, jadi hal itu masih wajar. Kecuali pernikahan kita sudah bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun, itu baru hal yang wajar mama marah seperti ini” ucap Bayanaka.
Alma hanya bisa mendengus kesal, lalu ia membanting pintu dan pergi meninggalkan Bayanaka yang sedang di dalam kamarnya.
Hanya ada satu hal yang di takutkan oleh Alma, ia tahut kalau sampai ia tak memiliki keturunan yang berujung akan di tinggalkan oleh Bayanaka, ia benar-benar tak rela kalau sampai Bayanaka meninggalkan dirinya, ia tak ingin kehilangan kemewahan yang sudah ia rasakan selama ini dari Bayanaka.
Tak bisa di tinggalkan, Bayanaka harus melakukan perjalanan bisnis, sementara Riska-mama Bayanaka sedang pergi menemui sepupunya ke luar kota. Hal yang sangat membosankan bagi Alma karena ia sama sekali tidak bisa ikut bersama dengan Bayanaka.
“Pa, kenapa tidak mengatakan hal ini jauh-jauh hari? Kalau saja aku tau kalau papa akan pergi ke liar kota, aku pasti akan ikut bersama dengan mama ke rumah om Damar” rengek Alma.
“Maafkan papa, Ma. Papa lupa kalau papa harus pergi untuk perjalanan bisnis, dan maaf kalau papa tidak bisa membawa mama bersama dengan papa” ucap Bayanaka.
Tak ada yang bisa Alma lakukan selalin pergi berbelanja untuk menenangkan diri sambil menunggu mama mertuanya dan juga suaminya pulang ke rumah, namun seketika langkahnya terhenti saat seseorang sedang duduk menunggu di ruang tamu.
“Maaf, Non. Di depan ada tamu, katanya sepupu tuan” kata si mbok.
“Oh iya mbok, tolong buatkan minum, Mbok” ucap Alma, lalu ia berjalan menghampiri tamu yang kini sedang menunggu pemilik rumah itu.
“Hai kak, lama tidak bertemu” ucap Rodo.
“Hei, jangan menanggil ku kakak dan kita baru saja bertemu. Kau datang di pernikahan kami bukan? Dan pernikahan kami baru satu bulan lebih, jangan mengatakan kalau itu waktu yang lama” kata Alma. “Tapi menurut ku itu waktu yang lama karena aku belum memiliki momongan” lanjut Alma.
“Sepertinya Bay harus banyak belajar pada ku” canda Rodo.
“Belajar kepada mu? harusnya kamu yang belajar kepadanya karena dia sudah menikah sementara kamu masih jomblo akut” balas Alma.
Melihat Alma yang merespon bahasanya, Rodo tak mau kalah. Pada kenyataannya, ia juga menginginkan Alma sejak pertama kali di kenalkan oleh Bayanaka setengah tahun yang lalu, sayangnya Alma masih tetap memilih mempertahankan hubungannya dengan Bayanakan meskipun Rodo selalu memberikan perhatian lebih. Di zaman sekarang, perhatian akan kalah dengan harta.
“Belum menikah bukan berarti belum pernah melakukannya, bukan? Di zaman sekarang ini, itu sudah sangat lazim terjadi. Jangan terlalu memandang rendah diri ku kakak ipar, karena aku mungkin lebih jago dari suami mu. coba tanyakan suami mu, sudah berapa banyak wanita yang ia tiduri? Sementara aku? Tak perlu di tanya lagi kaka ipar, wanita yang masih suci, janda, gadis serasa janda dan bahkan istri orang sudah pernah aku cicipi. Kalau saja aku berniat untuk membuat mereka hamil, aku yakin kalau semua yang sudah aku setubuhi akan mengandung anak ku. Tapi sayangnya, aku tak mau melakukannya karena aku tak ingin mereka semua menuntut pertanggung jawaban dari ku. Tidak lucu bukan kalau puluhan wanita datang ke rumah dan meminta pertanggung jawaban ku? Jadi terpaksa aku menggunakan pengaman meskipun pada kenyataannya itu tidak nikmat” kata Rodo seolah memancing, ia sama sekali tak memiliki rasa segan terhadap Alma.
“Sudahlah, jangan membahasnya. Sepertinya kau tidak akan berhenti membahas seperti itu kalau aku terus meladeni mu, sebaiknya kau pikirkan usia mu dan segeralah menikah” kata Alma mengalikan pembicaraan.
“Sayangnya wanita ku sudah menikah, jadi aku harus menunggu sampai dia menjadi janda” jawab Rodo.
“Tragis sekali, haha” keduanya tertawa.
Perbincangan terus berlanjut hingga larut malam, hingga keduanya merasa jenuh karena sedari pagi harus berbicang di sofa tanpa ada pergerakan selain makan dan ke toilet.
“Apakah tante dan Baya tidak akan pulang?” tanya Rodo.
“Ya, mereka akan pulang besok sore atau mungkin malam” jawab Alma. “Sudah larut malam, sebaiknya kita tidur” lanjutnya.
“Apakah kau mengajak ku untuk tidur?” tanya Rodo.
“Ya, aku mengantuk. Kau boleh tidur di kamar tamu yang di sana” tunjuk Alma ke salah satu kamar yang ada di sana.
“Oh, aku mendengar ajakan itu seolah istri ku sedang mengajak ku untuk tidur bersama” kata Rodo sambil terkekeh, sementara Irana hanya bisa tersipu malu.
Rodo merasa gelisah, begitu juga dengan Irana, ia bahkan tak bisa tidur saat membayangkan kalimat yang di lontarkanoleh Rodo, kalimat yang mampu membuat jantungnya berdegup kencang dan ada sesuatu yang berdetak tak karuan di bawah sana.
“Sial, kenapa Rodo berbicara seperti itu? Aku bahkan tidak bisa menahannya, rasanya aku membutuhkan batang malam ini, sementara papa sedang berada di luar kota. Masa aku harus memuaskan diri ku sendiri? Aku masih bersuami dan suami ku masih memperhatikan ku, masa aku harus bertingkah seperti wanita jablai alias jarang di belai sih?” gerutu Alma, ia benar-benar tak bisa menahan gejolak di dalam sana.
Sementara Rodo, ia berusaha mencari supaya ia bisa bertemu lagi dengan Alma. Ia sangat yakin kalau alma sedang kesepian. Di balik Alma yang sangat menginginkan keturunan, ia yakin kalau Bayanaka jarang menyentuhnya karena terlalu sibuk dengan bisnis-bisnisnya sementara Alma sangat membutuhkan belaian.
Rodo: Kakak ipar ku sayang, bolehkah kau datang ke mari? Aku merasa kepanasan di sini, sepertinya AC nya tidak berfungsi dengan baik.
Pesan singkat terkirim, ada setitik harapan kalau Alma akan membalasnya. Dan benar saja, di dalam kamarnya jantung Alma berdetak sangat kencang, ia tahu kalau apa yang di katakan oleh Rodo hanyalah alasan klasik.
“Tidak bisakah Rodo memberikan alasan yang lebih masuk akal? Kenapa harus menjadikan AC sebagai alasan? Kalau di pikirkan secara logika, sudah pasti dia lebih paham tentang AC daripada aku. Argh, haruskah aku ke sana? Kalau aku ke sana, dia pasti berpikir kalau aku adalah w**************n yang sangat mudah di ajak ehem-eheman. Tapi kalau aku tidak ke sana, dia akan berpikir yang tidak-tidak sementara aku sudah membaca pesannya, di tambah lagi si kecil sudah meminta jatah untuk menyantap. Ah persetan dengan semuanya, aku sudah tidak tahan lagi, kedutan di bawah ini sudah semakin menjadi-jadi. Tunggu sayang, aku datang” ucap Alma, lalu ia pergi ke kamar Rodo.
Alma bahkan tak mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam sana, seolah keduanya sudah saling merencakanannya. Sementara Rodo yang sedari tadi sudah stand by di balik pintu dengan hanya menggunakan pakaian dalamnya, langsung menarik alma dan mengunci pintu rapat-rapat. Dengan cepat ia mengangkat Alma ke atas ranjang dan menindihnya. Rodo sama sekali tidak mendapatkan penolakan, sesuatu yang sudah ia duga sebelumnya.
“Rodo, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku” ucap Alma, bukan berteriak, melainkan sedikit berbisik seolah tak ingin ada yang mendengarnya, sesuatu yang bahkan terdengar menggoda di telinga Rodo.
“Tak perlu munafik, Alma. Aku tau kau menginginkannya, aku tau kau butuh belaian, jadi mari bekerja sama dan mari menikmatinya” kata Rodo lalu keduanya melakukan apa yang semestinya tidak mereka lakukan.
Puas melakukannya dengan Rodo, namun Alma juga masih menuntutnya dari Bayanaka. Ia sengaja melakukan hal itu, ia tak ingin kalau sampai Bayanaka curiga kalau sampai sewaktu-waktu dirinya di nyatakan hamil.
Hal yang di takutkan dan juga di harapkan Almapun terjadi, setelah satu dua bulan melakukannya dengan rodo dan Bayanaka secara bergantian, ia di nyatakan hamil oleh sang dokter. Penghianatan yang ia lakukan tertutup rapat, bahkan tidak ada yang mengetahui siapa ayah dari anak yang ia kandung.
Yang ada di benak Alma saat ini hanya satu, ia ingin mendapatkan keturunan yang akan menjadi ahli waris Bayanaka, hanya itu saja. Meski pada kenyataannya ia juga mencintai Bayanaka, namun ia lebih mencintai harta Bayanaka.
Kelahiran sang buah hati-Fajrin Bayanaka, suatu kebahagiaan bagi Alma namun juga kesedihan yang amat berat bagi dirinya. Saat bersamaan, ia harus kehilangan suami tercinta, di mana saat akan menuju ke rumah sakit, ia mengalami kecelakaan dan meniggal di tempat. Sementara riska, mengalami serangan jantung dan meninggal dunia di saat yang bersamaan, sementara Alma harus di rawa di rumah sakit.
Dengan kematian Bayanaka, Rodo merasa kalau tidak ada lagi penghalang baginya untuk mendapatkan Alma. Dengan segala rayu manis yang ia miliki, ia selalu mendekati Alma dan menjalin hubungan dengannya, hubungan yang sama sekali tak memiliki status.
Hubungan keduanya masih tetap baik, namun masih tetap tanpa adanya status. Hingga semua berubah saat Fajrin berusia sepuluh tahun, saat di mana Rodo telah berhasil merayu Alma untuk mengalihkan semua harta kekayaan Bayanaka atas dirinya, lalu dengan sangat kejam ia mendepat Alma dan juga Fajrin keluar dari rumah yang seharusnya milik Fajrin, hingga Alma harus berusaha keras untuk mencukupi kebutuhannya dan juga Fajrin.
Flashback off