Fajrin melajukan mobilnya meninggalkan rumah Farhan, ia merasa sedikit puas setelah ia mengatakan sesuatu yang membuat hati Farhan tersayat dan membuatnya terkejut, meski pada kenyatannya ia mencoba untuk menenangkan hati itu lagi. Ibarat sebuah layangan, ia menarik ulur hati Farhan sebelum tiba saatnya ia memberikan pelajaran.
"Entah mengapa, mama senang saat Ares meminta untuk pulang, jadi kita tidak perlu berlama-lama di sana" ucap Irana.
"Ya, tapi setidaknya kita tidak boleh sangkut pautkan Ares dalam hal ini. Apapun yang terjadi antara kita dengan mereka, cukup kita saja yang tau, anak-anak tidak perlu tahu itu" kata Fajrin, sementara Ares masih saja mendengarkan di belakang mereka.
"Tidak ada yang menyangkut pautkan, Pa. Apa yang terjadi adalah sesuatu yang kebetulan tapi mama bersyukur, apa yang mama inginkan terwujud" kata Irana.
"Lalu bagaimana sekarang, Ma?" tanya Fajrin.
"Apanya yang bagaimana? Tanpa mama jawabpun mama yakin papa sudah tau jawabannya. Sampai kapanpun, mama tidak akan pernah setuju dengan apa yang akan mereka rencanakan. Jika papa ingin kembali melakukan penelitian papa, jangan pernah mau bekerja sama lagi dengan penghianat, karena sekali berhianat akan selamanya berhianat. Mama tidak ingin mengulang kejadian yang sama, kejadian di mana mama harus melihat papa terkapar lemah seperti beberapa tahun yang lalu, hidup namun seolah tidak hidup" ucap Irana, ia kembali mengingat kejadian menyakitkan itu, kejadian yang tak pernah ia lupakan seumur hidupnya, kejadian di mana ia merasa takut akan kehilangan suaminya.
Fajrin terdiam, ia juga tak ingin mengulang kesalahan yang sama, kesalahan karena telah percaya kepada orang yang salah.
Di balik perbincangan Fajrin dan Irana, Ares masih saja mendengarkan dan mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Bukan hanya itu, ia juga menerka-nerka apa yang telah Farhan lakukan kepada mama dan papanya sehingga memiliki kebencian dan dendam yang amat dalam, hingga kini ia juga memiliki kebencian terhadap keluarga Farhan.
Penelitian ulang Fajrin lakukan. Di balik kesibukannya di kantor, ia masih menyempatkan diri untuk mengulang penelitiannya setelah ia kembali, sama seperti yang ia lakukan sebelum-sebelunnya. Hanya saja kali ini berbeda, semangatnya semakin berkobar-kobar ketika Farhan hadir dalam hidupnya. Ia juga ingin membuktikan kepada Farhan, menunjukan kepada penghianat itu kalau ia bisa melakukannya dan bisa mencapai hasil.
Bukan hanya dalam satu hari atau satu minggu, penelitian di lakukan dalam jangka waktu yang sangat lama. Meskipun Fajrin sudah hapal betul dengan cara pembuatannya, namun setiap langkah-langkah atau stepnya membutuhkan waktu lama, hingga ia baru bisa melihat hasilnya setelah berbulan-bulan.
Tak lekang dari itu, Farhan selalu saja berusaha untuk dekat dengan Fajrin. Farhan tak ingin sampai kehilangan kesempatan untuk kembali membuat penelitian bersama Fajrin, ia bahkan tak ingin membuang-buang waktu karena ia yakin apa yang ia inginkan sudah di depan mata jika ada Fajrin bersamanya.
"Apa kau belum siap untuk memulai penelitian itu?" tanya Farhan saat keduanya hendak pulang.
"Farhan, sebaiknya fokuskan diri mu untuk bekerja di sini saja dulu. Yang paling kita utamakan adalah karir, karena itu bisa membawa kebahagiaan di masa depan dan hidup berkecukupan untuk kita. Bukankah kamu ingin mendapatkan jabatan seperti yang aku miliki saat ini? Kalau untuk penelitian itu, aku tidak begitu tergiur lagi karena aku selalu gagal dan bahkan kehilangan. Kehilangan saat bersama mu dulu membuat ku trauma dan bahkan membuat ku seolah tak ingin hidup, karena itulah impian ku. Aku mencoba untuk bangkit, mencoba untuk bisa menerima apa yang terjadi dan mengikhlaskan apa yang telah hilang, dan aku kembali mencobanya. Beberapa bulan yang lalu aku juga kehilangan hal itu yang entah siapa yang mengambilnya, sesuatu yang menurut ku pasti akan membuahkan hasil setelah melakukan begitu banyak pembaruan dari yang sebelumnya kita buat, namun sayangnya aku belum berhak untuk memilikinya. Trauma beberapa tahun yang lalu kembali menggerogoti diri ku, hingga akhirnya aku lelah dan menganggap itu sebuah kesia-siaan. Kini aku menganggap itu sebuah sampingan, lebih tepatnya sebuah hobi yang hanya mood ku yang bisa memaksa ku untuk melakukannya. Rasa trauma itu masih melekat, dan aku tidak tahu kapan akan menghilangkannya" ucap Fajrin.
"Ayolah Fajrin, jangan seperti ini. Coba untuk bangkit kembali dan mari berjuang kembali, ingat apa yang selama ini menjadi impian mu, impian ku, impian kita. Bukankah dulu kita sudah sepakat untuk mengubah dunia? Memberikan perubahan yang signifikan bagi dunia dan membantu orang banyak. Kenapa kau melupakan impian mu? Kenapa kau melepaskan impian mu begitu saja? Yang harus kau lakukan, yang harus kita lakukan adalah meraihnya, bukan melepaskannya begitu saja" ucap Farhan meyakinkan.
"Rasa trauma itu sangat melekat Farhan, dan aku sangat sulit untuk melepaskannya. Jika kau ingin aku kembali melakukan penelitian itu, maka bersabarlah hingga aku bisa menghilangkan rasa trauma ku. Sama halnya seperti kamu yang memiliki traum ke kebun binatang karena kejadian yang menimpa kalian waktu itu, begitu juga rasa trauma ku terhadap penelitian ini, bahkan rasa trauma ku lebih dari itu" ucap Fajrin. "Sebaiknya kita pulang, keluarga pasti sudah menunggu kepulangan kita" lanjut Fajrin, lalu pergi mendahului Farhan.
Farhan hanya bisa mengepalkan tangannya, ia benar-benar sangat kesal dengan jawaban yang di lontarkan oleh Fajrin, jawaban yang membuatnya tak bisa untuk memaksa dan mendesak Fajrin.
"Sial, dia benar-benar sulit untuk di ajak berkompromi sekarang. Aku yakin, dia sudah bisa membuat serum itu, hanya saja dia berusaha untuk menutupinya dari ku, menutupi semuanya supaya aku tidak mendapatkan apapun. Tunggu saja Fajrin, aku yakin kalau aku bisa melakukannya dengan mu, dan kamu akan menyesal karena selama ini telah menolak ku" ucap Farhan setelah kepergian Fajrin.
Di tempat lain di kediaman Bayanaka, Rodo Rama-paman Fajrin lebih tepatnya sepupu dari Bayanaka, yang kini menjadi ahli waris seluruh kekayaan yang di miliki oleh Bayanaka, sedang duduk di kursi kebesarannya. Pria paruh baya yang begitu santai dan tenang menikmati hasil jerih payah Bayanaka setelah berhasil meyakinkan mama Fajrin dan membuatnya jatuh hati hingga berhasil mendapatkan seluruh kekayaan itu dalam sekejap, lalu mencampakkan mereka tanpa belas kasihan.
"Kodir, aku dengar Fajrin masih saja terus membuat penelitiam konyolnya itu" ucap Rodo.
"Benar, Tuan. Namun sampai saat ini, belum ada hasi yang di dapatkan" jawab Kodir.
"Anak yang gigih, dia benar-benar mirip dengan ku, selalu berusaha untuk mendapatkan apa yang dia mau. Aku tidak yakin kalau dia adalah anak Bayanaka sialan itu, mungkin saja..." Rodo menggantung kalimatnya, namun hatinya melanjutkan kalimat itu dan pikirannya traveling ke mana-mana.
"Apakah ada perintah untuk saya lakukan, Tuan?" tanya Kodir takut-takut, ia takut kalau sampai dirinya salah bicara yang justru akan membuat Rodo menggila.
"Ya, itu sudah pasti. Awasi Fajrin dan orang-orang terdekatnya, teman atau sahabat bahkan musuhnya. Awasi juga perkembangan penelitiannya itu, semoga dia mendapatkan hasil yang dia inginkan seperti aku mendapatkan hasil seperti yang aku inginkan" kata Rodo.
"Baik, Tuan" jawab Kodir, lalu ia membungkuk memberi hormat sebelum pergi meninggalkan Rodo.
Sementara Rodo, ia kembali bersantai dan mengenang masa lalu, kenangan indah yang juga memiliki kenangan pahit.