Tujuh belas

1075 Words
Fajrin hanya tersenyum setelah melontarkan kalimatnya, ia tahu kalau saat ini Farhan sedang memikirkan kalimatnya. Kalau Farhan orang bijak, ia pasti akan mengerti dari maksud perkataannya itu dan apa sebab dari perkataannya itu. Namun ia juga sangat yakin kalau Farhan bukan orang bodoh yang tak bisa mengartikan kalimat sesimpel itu. “Kenapa bicara seperti itu? Tidak ada yang ingin hidup saling sungakan bukan? Orang yang tidak mengenal satu sama lain pasti ingin saling mengenal dan lebih dekat, bagaimana mungkin aku menginginkan hubungan yang sebelumnya sudah dekat menjadi renggang? Jika aku melakukannya, mungkin aku adalah orang terbodoh di dunia” ucap Farhan sambil tertawa kecil. “Ya, tapi sepertinya kau melakukannya” jawab Fajrin datar. Deg… Kembali lagi Farhan merasa kalau jantungnya seolah berhenti berdetak. Kalimat yang tak pernah ia bayangkan kembali lagi terlontarkan dari bibir Fajrin membuat ia bergidik ngeri, meski pada kenyataannya ia belum tahu apakah yang ia takutkan benr-benar terjadi. Kenapa dia seperti ini? tidak biasanya dia seperti ini. mungkinkah dia sudah mengetahui semuanya? Tapi tidak mungkin, tidak mungkin dia mengetahui semuanya. Kalau benar Fajrin mengetahui semuanya, sudah pasti dia tidak akan pernah menerima ku sejak awal. Mungkinkah dia marah karena aku telah meninggalkannya sementara kami sudah berjanji untuk tetap bersama seolah kami adalah pasangan sijoli? Ah mungkin saja, sepertinya aku harus berusaha keras untuk memperbaiki keretakan itu, batin Farhan. “Haha, jangan seperti itu. Aku tau kau marah pada ku karena kejadian beberapa tahun yang lalu, aku minta maaf untuk itu. Aku benar-benar khilaf, jadi aku mohon berikan maaf mu kepada ku dan mari mengulang semuanya kembali. Seperti pada kata orang-orang, mari membuka lembaran baru. Sungguh aku benar-benar minta maaf, aku tahu kalau aku salah. Sebenarnya aku ingin menghubungi mu dan minta maaf saat itu juga, tapi sayangnya aku tidak memiliki keberanian untuk itu” ucap Farhan. Maaf, apa kau pikir segampang itu untuk memaafkan perbuatan mu? Kau pikir dengan minta maaf semua masalah bisa kembali normal? Kau melakukan kejahatan yang sulit untuk di maafkan Farhan, kau bahkan berusaha menghancurkan hidup keluarga ku. Bukan hanya merampas jabatan yang harusnya menjadi milik suami ku, kau juga membuatnya di tendang dari perusahaan karena mulut mu yang sangat pandai bersilat lidah, bahkan kau juga melakukan tindakan kriminal dengan mencuri hasil penelitian suami ku. Andai ini di laporkan ke polisi, mungkin kamu sudah mendekam di penjara. Oh iya satu lagi, kau bahkan memberikan obat pencuci perut kepada suami ku. Beruntung suami ku masih kuat, bagaimana kalau sampai suami ku mati? Tindakan kejahatan yang kau lakukan di saat yang sama bukan hanya satu saja, tapi sudah banyak. Aku bisa saja menuntuk mu atas kasus pencurian dan juga pembunuhan yang lebih dominan, tapi nasib baik berpihak kepada mu karena suami ku tidak memberitahukan semuanya.tindakan mu tidak termaafkan Farhan, kalau kejahatan seperti yang kamu lakukan di maafkan, makan penghuni penjara akan berkurang atau bahkan tidak ada lagi, batin Irana. “Sudahlah, tidak ada gunanya untuk membahas masa lalu. Yang perlu di pikirkan saat ini adalah masa depan, bukan masa lalu. Baik di hari ini dan bisa mendapatkan hal yang baik juga di masa depan, itulah yang terpenting” ucap Fajrin. Farhan dan Susi bernapas lega, apa yang mereka takutkan ternyata tidak terjadi. Ya, menurut mereka, meski pada kenyataannya Fajrin dan Irana berusaha menutupi amarah yang kini berkobar di dalam hati mereka. “Ya, tapi aku benar-benar merasa bersalah. Aku telah melakukan kesalahan karena telah memilih pangkat daripada persahabatan kita, aku lebih memilih untuk naik jabatan dan meninggalkan mu daripada meneruskan penelitian kita, salah ku karena tidak berpikir panjang waktu itu” kata Farhan. Naik jabatan? Memilih pangkat? Kau tidak naik jabatan Farhan, tapi kau mencuri jabatan suami ku. Kau bahkan belum mengenal suami ku ya, Farhan. Kau sanggu pergi meninggalkan kami dan mengambil posisi yang seharusnya milik suami ku demi kesuksesan mu, rasa egois mu sangat tinggi sampai-sampai kau hanya memikirkan diri mu sendiri bahkan dengan menghalalkan segala cara. Kau tau, andai saja suami ku mengetahui hal itu kalau dia akan di pindahkan ke Bali dengan jabatan yang lebih tinggi, suami ku pasti akan menolaknya demi terus bisa bersama mu dan melanjutkan penelitian, tapi sayangnya kamu sangat berbeda, batin Irana lagi. “Aku sadar atas apa yang aku perbuat, Fajrin. Sebab itulah aku selalu meminta mu untuk kembali melakukan penelitian bersama ku, aku yakin jika kita melakukannya kembali, kita pasti akan mendapatkan hasil yang memuaskan” kata Farhan lagi. “Itukah tujuan mu meminta ku ke mari, Farhan? Jika untuk itu, maaf aku tidak bisa. Aku sama sekali tidak memikirkan penelitian untuk saat ini, setelah kecolongan dua kali, itu membuat ku merasa trauma untuk melakukannya. Tapi kamu nggap perlu khawatir, aku akan menghubungi mu jika aku sudah siap untuk kembali melakukan penelitian, tapi tidak untuk saat ini” ucap Fajrin. Ada sedikit rasa kecewa, namun Farhan hanya bisa bersabar. Meskipun ia tak bisa meyakinkan Fajirn saat ini, setidaknya ia masih memiliki harapan untuk bisa melakukan penelitian lagi dengan Fajrin, penelitian yang ia yakini akan berhasil karena Fajrin sudah berusaha untuk membuatnya selama ini, jadi dia tidak perlu lelah dan menunggu lebih lama lagi untuk keberhasilan itu. Di balik rasa tenang yang di miliki oleh Farhan dan juga Susi atas ucapan Fajrin, Irana justru menatap Fajrin dengan tatapan kesal, namun Fajrin hanya tertawa kecil seolah ia tak melihat tatapan yang membunuh itu. Melihat mamanya terlihat sangat kesal, Ares yang mengetahui hal itu langsung angkat bicara, ia langsung meminta Fajrin dan Irana supaya mereka segera pulang, ia juga tak ingin berlama-lama di sana karena I tahu kalau Farhan bukanlah orang yang baik untuk keluarga mereka. “Ma, Ares mengantuk, tidak bisakah kita pulang?” tanya Ares. “Ah iya sayang, kita akan pulang” jawab Irana. Anak pintar, beruntung kamu ada di sini sayang, mama juga sudah sangat malas untuk berlama-lama di sini, batin Irana. “Maaf, Han. Kami harus kembali karena Ares ingin istirahan, mungkin dia sangat kelelahan saat di kebun binatang tadi” kata Fajrin pamit. “Yasudah kalau begitu, terima kasih karena sudah meluangkan waktu mu untuk menemui kami di sini. Oh iya, jangan lupa untuk segera mengabari ku, dan aku harap kamu tidak lama-lama dalam memikirkannya” kata Farhan sambil tersenyum penuh kemenangan, namun Fajrin dan Irana justru hanya bisa tersenyum kecut yang di penuhi dengan rasa kekesalan. Bagaimana tidak, Farhan selalu saja membahas tentang serum itu tanpa henti, ia bahkan tidak memiliki rasa bersalah sedikitpun yang membuat Fajrin dan Irana tersulut emosi, namun mereka hanya bisa diam dan langsung pergi dari sana setelaH Fajrin mengangguk pelan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD