Saling Menyalahkan

1311 Words
Bara menutup rasleting jaketnya rapat-rapat jam delapan ini. Tangannya menyemprotkan beberapa kali parfume cassablanca ke bagian dadanya. Juga pomade yang sudah terpoles rapi di rambutnya yang jambul semakin menonjolkan ketampanannya. Cermin besar di depannya, tampak menunjukkan kesempurnaan Bara pada malam ini. Dering ponselnya berbunyi yang kedua kali, dia buru-buru mengangkatnya sebelum orang yang menelepon marah. "Halo, Atries? Sebentar, gue sekarang jalan ke sana," ucap Bara meminta pengertian Atries yang terdengar tidak sabar bertemu dengannya. Setelah menerima omelan Atries, Bara segera menuruni tangga agar cepat menemui cewek itu. Namun lagi-lagi dia terganggu dengan suara dering ponsel dari orang yang berbeda. Bara berhenti melangkah di tengah-tengah tangga, menerima telepon dengan setengah hati. "Halo, Ra?" "Bar, bisa antar aku ke tempat fotocopy? Aku ada beberapa tugas yang perlu di print," Sahira berkata riang dari seberang sana, bertolak belakang dengan ekspresi Bara yang kini tampak tidak nyaman. "Sekarang? Malam-malam begini?" "Iya. Bisa? Kamu sibuk, ya?" "Em, Ra, sebenarnya gue.... Gue udah janjian ketemu sama Tama buat temani dia maen bowling. Gue gak enak kalau harus batalin," ucap Bara bermaksud menolak. Sahira tidak bicara beberapa detik, sampai akhirnya dia berkata lemas, "Yaudah gapapa, jangan malam-malam ya pulangnya. Aku akan naik grab saja." Panggilan keduanya terputus, membuat Bara bernapas lega karena Sahira akhirnya mengerti. "Maaf, Ra, gue harus bohong sama lo lagi." Bara cepat-cepat melanjutkan langkah yang sempat tertunda, berniat menemui Atries dan dinner bersamanya seperti sepasang kekasih. •||• Sahira membereskan lembaran kertas yang sudah dia print sesuai dengan halaman. Cewek itu duduk di sebuah bangku kayu depan fotocopy sambil menikmati satu gelas cup cappucino. Malam semakin larut, kiranya sekarang tepat pukul sepuluh yang membuat beberapa toko dipinggiran jalan sudah tutup. "Pak, aku akan simpan di sini untuk di jilid soft cover, ya. Besok aku ambil jam empat sore. Apa bisa?" tanya Sahira kepada penjaga fotocopy. "Bisa, saya buatkan nota-nya dulu, ya." Sahira mengangguk, mengambil nota begitu selesai dan berjalan meninggalkan tempat tersebut. Kakinya yang terbalut celana pendek sepaha, berjalan menyusuri gang-gang sempit yang gelap dan sunyi. Suara yang mungkin bisa Sahira dengar hanyalah dengkuran jangkrik dan nyamuk yang berkeliling di sekitar telinganya. Dari ujung gang yang gelap, dua orang pria berpakaian serba hitam sedang berdiri sambil menghisap rokok. Satu diantara mereka memeggang botol minuman keras sambil meneguknya sesekali. Sahira memperlambat langkah, menoleh ke belakang dengan harapan ada orang yang menemaninya di gang sempit ini. Namun yang cewek itu lihat hanya kegelapan dan beberapa tumpukan kresek sampah dengan bau yang tidak sedap. Tangan Sahira tiba-tiba berkeringat tanpa sebab, apalagi ketika dua pria dewasa itu menatap ke arahnya nakal. Sahira meneguk ludah kasar, menunduk dalam-dalam ketika melewati pria menakutkan itu. Kakinya yang gemetaran, terhenti saat merasakan cekalan keras di pergelangan tangannya. Sahira terlonjak kaget, menoleh ke belakang dan melihat salah satu pria memeggang tangannya keras-keras. "Le-lepaskan!" tegas cewek itu dengan suara bergoyang karena takut. "Nona mau ke mana malam-malam begini? Sini ngobrol dulu sama abang," ucap pria yang masih setia meremas pergelangan tangan Sahira, nada bicaranya terdengar seperti godaan. "Nona butuh apa? Rokok? Minuman?" Kali ini temannya yang bicara. Sahira berkaca-kaca, tangannya berusaha berontak tetapi tidak berhasil terlepas. "Bang, lepaskan aku! Jangan berani macam-macam!" "Nona manis gak usah takut, abang ini baik kok, Non." Tangan kasar terasa menyentuh pinggang Sahira dan menariknya agar jatuh ke pelukan pria itu. Tubuh Sahira yang lemas, tertarik begitu saja ke pelukannya. Cewek itu kini menangis, memukul d**a pria itu berkali-kali agar melepaskannya. "Lepasin! Aku mohon biarkan aku pergi!" Sahira terisak, oksigen di sekitarnya terasa habis saat pria-pria itu dengan nakal menyentuh dagu dan pipi Sahira secara paksa. Seseorang tiba-tiba muncul dari kegelapan, berlari ke arah Sahira kemudian menarik keras cewek itu ke dalam pelukannya. Bagai seorang pahlawan, cowok itu mendekap Sahira erat, menatap tajam kedua orang yang barusan berurusan dengan tunangannya dan memperlakukan dia seenaknya. "Jangan berani macam-macam sama pacar gue!" tekannya sebagai peringatan. Kedua orang itu dibuat diam hanya dengan tatapan dan ucapan tajam yang terlontar begitu saja dari cowok ini. Sahira meredakan tangisnya, ia tengadah hanya demi melihat siapa seseorang yang sedang memeluknya sehangat ini. Cewek itu tersenyum, melihat wajah tampan Bara sedang membuang wajah kesalnya kepada para pria itu. "Ayo, Ra, kita pergi." Tatapan Bara berubah jinak saat menatap gadisnya. "Thanks, Bara," lirih Sahira, tangannya digenggam Bara dengan erat kemudian diajak berjalan bergandengan. Kedua pria itu saling lirik, mereka terlihat berbisik-bisik sambil menatap kepergian Bara. "Dia yang namanya Bara, yang kata Julian itu!" "Wajahnya juga mirip sama yang di foto itu." Temannya menyahut. Dia maju menyusul Bara, menarik topi jaket Bara kemudian menonjok pipinya begitu cowok itu menoleh. "Bara!!!" Teriakan Sahira menggema, keterkejutannya yang belum berakhir, kini ditambah dengan kecemasan saat tubuh Bara terhuyung dan membentur tembok kasar gang sempit. Dalam satu pukulan, pria itu mampu membuat hidung Bara berdarah. "Hajar dia!" teriak pria itu kepada temannya yang masih di belakang. Dengan patuh, temannya menghampiri kemudian menyumbangkan tonjokkan di kedua pipi Bara. "Tidak!! Jangan sakiti dia!!" Tak dapat mengelak, Sahira kini panik bukan kepalang. Tubuhnya yang tidak berdaya hanya bisa berdiri di dekat tong sampah tanpa berani menghampiri kekasihnya. Jaket bagian d**a Bara, ditarik dengan kedua tangan pria itu. Bara dipaksa berdiri meskipun cowok itu belum mampu melawan serangan tiba-tiba tersebut. Tanpa alasan yang jelas, tonjokkan kembali mendarat di perut Bara berulang kali hingga cowok itu tersenggal-senggal. Kaki Bara memberikan perlawanan, dia menendang perut pria itu hingga terpental ke tembok. Temannya segera menolong, sementara Bara menuntun Sahira dan berjalan menjauh dengan terpincang-pincang. Air mata Sahira tidak berhenti berurai, dia menoleh ke belakang terus-menerus karena takut mereka mengejar. "Bar...." panggil Sahira terisak. Bara tidak menjawab panggilan Sahira hingga mereka tiba di sebuah toko buku yang sudah tutup. Keduanya menghampiri motor ninja hijau yang terparkir di sana. "Lo ngapain pergi malem-malem? Untung aja gue dateng tepat waktu ke sana. Kalau nggak, lo pasti udah diapa-apain sama mereka." Marah, itulah yang terdengar dari nada bicara Bara, dia menatap tajam bola mata Sahira yang terlapis soflens cokelat. Tadi, Bara sudah selesai bertemu Atries dan pergi ke rumah Sahira. Namun Sintia bilang kalau anaknya tidak di rumah. Bara jadi teringat saat Sahira menelepon dan berniat ke tempat fotocopy untuk print beberapa tugas, akhirnya dia menuju ke tempat fotocopy langganan Sahira dan menyusuri gang-gang sempit yang biasa cewek itu lewati setiap jalan kaki. "Apa nggak bisa besok aja? Apa tugas-tugas ini lebih penting daripada harga diri lo sendiri?!" Bara merebut map biru di tangan Sahira, melemparkannya ke tanah dengan kesal. Sahira tertohok, tatapan matanya berubah kecewa dengan hati yang terasa teriris. "Terus kamu di mana, Bar? Bukannya aku minta kamu temenin aku? Kalau aja kamu antar aku ke sana, pasti aku gak akan digodain sama cowok-cowok itu!" Sahira tak kalah marah, merasa tidak terima Bara hanya menyalahkan dia dalam kejadian ini. Bara mengelap hidungnya yang kembali mengeluarkan darah, tidak mempedulikan rasa sakit di tubuhnya begitu melihat wajah kecewa Sahira. Apalagi, ini memang salahnya juga karena malah menemui perempuan lain dan membiarkan kekasihnya dalam keadaan seperti ini. "Aku takut di sana, Bar. Aku jalan di gang yang gelap, bau, banyak nyamuk, sampai-sampai aku hampir celaka!" Tangan Sahira terkepal, air matanya kini sudah sederas mata air. "Aku bukan bermaksud salahin kamu, Bar, tapi kamu duluan yang nyalahin aku! Tugas ini tuh penting, makanya aku rela pergi malem-malem buat kerjain. Sementara urusan kamu? Apa nemenin Tama main bowling itu penting?" Bara tertegun, dia sama sekali tidak ke rumah Tama dan menemaninya main bowling, itu hanyalah alasan semata agar Sahira tidak melepaskannya. Sekali lagi, Bara telah berhasil membohongi satu hati yang tidak pernah mendustainya. Kata maaf ingin Bara ucapkan, bahkan saat ini dia ingin berkata jujur tentang Atries namun terasa berat. Air mata Sahira sudah sederas ini walaupun belum tahu semuanya. Lalu, bagaimana jika dia sudah tahu kalau hati Bara kini terbagi dengan yang lain? •||• To be continued.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD