PROLOG
Memulai segala perkara tanpa berpikir panjang.
Menjerat dalam ketakutan, kegelisahan serta celaka teruntuk dia.
Maaf, karenaku, hidupmu akan menderita.
//
"s**t! Meleset!"
Bara mendesis, nyaris ingin menusukkan stick biliar di tangannya ke mata Tama yang tanpa sengaja menyenggolnya ketika dia sedang fokus membidik. Alhasil, bola berwarna merah yang menjadi titik fokusnya tidak mengenai bola yang menjadi target.
"Payah. Gitu doang gak bisa," ejek Tama.
"Ya karena lo senggol gue tadi!" umpat Bara.
"Sori, nih kopi pesanan lo."
Tama dan Bara duduk di sebuah kursi yang terbuat dari semen. Mata mereka memperhatikan sekelompok orang yang sedang bermain biliar tengah malam ini. Bara menyesap kopinya, sementara Tama berdiri ketika pacar barunya datang ke tempat ini dengan pakaian seksi membalut tubuhnya.
"Gue mau seneng-seneng dulu, lo jangan dulu pulang." Tama memperingati, dia berjalan mendekat kepada Atries kemudian mencium kedua pipinya bergantian.
Bara tersenyum simpul menatap Atries, sejak lama dia tertarik padanya. Sayang, Tama-lah yang beruntung mendapatkan hati cewek itu. Bara melihat ponselnya yang tersimpan di sebuah meja, menyala. Dalam mode diam, seseorang meneleponnya dan memaksa Bara untuk meraih benda itu dengan malas.
Nama Tera muncul, seseorang yang sudah beberapa hari ini dia jauhi. Setelah cukup sering digauli, rasanya Bara sudah bosan kepada Tera. Bara mengangkat panggilan, melekatkan ponsel ke telinga dan menyapa Tera malas.
"Apa?"
"Lo yakin gak bakalan berubah pikiran? Lo beneran gak mau tanggung jawab sama anak yang lagi gue kandung?"
Mendengar suara isakan dan putus asa dari seberang sana, Bara berdecih. "Gak."
"Bar, gue mohon. Gue gak mau nyokap sama bokap usir gue dari rumah...."
"Gue gak peduli!"
Bara berkata keras, membuat beberapa pemuda yang sedang asyik bermain biliar, menolehnya sesaat. Dia adalah Tera, yang kebingungan harus mempertanggung jawabkan hidupnya kepada siapa selain Bara. Bara yang telah menikmati dirinya, dia juga yang telah menanamkan seorang bayi dalam rahim Tera. Namun dengan mudahnya, Bara menolak tanggung jawab dengan berbagai alasan.
Tera sudah sering mengemis, dia bahkan sampai bersujud di kaki Bara untuk mengasihani dirinya. Tetapi nihil, Bara sama sekali tidak tersentuh dengan Tera yang terus saja memohon.
"Kalau gitu lo ke sini, lihat gue terakhir kalinya."
"Maksud lo apa?" Bara mulai tidak enak hati.
"Ke sini dalam lima menit kalau lo berubah pikiran. Atau.... Kursi yang lagi gue naikin ini gue tendang."
"Tera lo ngomong apa?!"
"Bar, gue capek. Gue lebih baik mati daripada hidup dengan di benci keluarga gue selamanya. Gue sayang lo, tapi lo gak pernah kan sayang sama gue?"
Bara gelagapan, tangannya meraba-raba jaket yang tersimpan di kursi Tama untuk mencari kunci mobil. Bara mengerti maksud Tera, dia benar-benar sudah sakit jiwa.
"Tera, tunggu! Lo ngapain di sana, hah?"
Telepon terputus. Bara mendapatkan kunci, kali ini dia berlari cepat keluar dari tempat biliar dan menaiki mobilnya. Mobil berwarna merah terang itu, melaju cepat di jalan raya, melewati beberapa kendaraan lainnya karena kecepatan yang ia gunakan di atas 70. Lima menit, dia harus sampai di apartemen Tera. Atau kalau tidak, cewek itu akan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan.
Mobil berhenti di basement apartemen, Bara keluar kemudian berlari masuk. Menaiki lift yang jelas terasa lambat, kemudian sampai di lantai 14 tempat Tera tinggal. Bara menggedor pintu yang terkunci dari dalam, dia ingin menemui resepsionis untuk meminta kunci lain namun terlalu bahaya. Bara akhirnya menjauh, memberikan ancang-ancang kemudian mendobrak pintu dengan tubuh kekarnya.
Bara terhenyak, napasnya terasa pendek dengan jantung nyaris berhenti berfungsi. Darah di tubuhnya seolah berhenti mengalir begitu melihat tubuh Tera menggantung di langit-langit dengan tali tambang yang menahan lehernya. Kursi kayu yang terguling di bawah sana, Bara betulkan menjadi berdiri kembali. Bara naik, menurunkan Tera dari sana dan menepuk-nepuk pipinya yang pucat pasi dan terasa dingin.
"Tera, bangun. Lo jangan bercanda sama gue!"
Tentu tidak ada reaksi, membuat cowok itu menjatuhkan Tera dengan kondisi tubuh yang tiba-tiba lemas luar biasa. Bara menunduk, menatapi jasad Tera yang lehernya membiru berbentuk garis tambang. Malam ini, tepat pukul 01.22 AM, Bara telah menjadi seorang penjahat.
Dia telah menjadi alasan seseorang mengakhiri hidupnya dengan mengerikan. Apa yang akan terjadi setelah ini, Bara tidak tahu. Dia jelas merupakan seorang cowok berengsek yang telah menghilangkan nyawa seseorang secara tidak langsung.
• || •
To be continued.
Terima kasih sudah membaca ^^