FLASHBACK

1368 Words
Segalanya terlihat mulai baik-baik saja, rasa cemas mulai tertelan waktu bersama kejadian menakutkan yang pelan mulai menghilang. •||• Bara duduk terpaku di sofa putih yang terletak di ruang keluarga rumahnya. Matanya ia kucek kencang dengan mulut menguap. Tidak tahu berapa lama dia tertidur, tetapi es yang ada dalam segelas anggur di meja, sudah mencair dan nampak kental. Bara melihat jam dinding, jam delapan pagi. Tangannya ia angkat ke atas untuk merenggangkan otot kekarnya. Kakinya dengan lemas berdiri, hendak menaiki tangga namun tertahan begitu mendengar suara bel berbunyi. Dia berbalik, berjalan ke pintu dan membukanya. Bara melihat Bi Asih--asisten rumah tangga lamanya, berdiri di sana dengan tas besar di tangan. "Assalamualaikum, Den. Kata Tuan Salim bibi kerja lagi di sini mulai hari ini," ucap Bi Asih sambil sedikit membungkuk untuk menghormati Bara. Bara memandangi wanita yang sudah membesarkannya dari kelas 4 SD sampai usia 15 tahun tiga tahun lalu. Bara lantas memeluk Bi Asih erat, merasakan kehangatan yang menyebar ke dalam jiwanya dari wanita berkepala 5 itu. Dulu, hidup Bara baik-baik saja ketika Bi Asih mendidiknya dengan baik. Dia hanya asisten, tetapi bagi Bara lebih dari seorang Ibu. Namun saat usia Bara menginjak 15, beliau harus pulang kampung karena suaminya sakit parah. Dan dari situ, Bara selalu merasa kesepian hingga menjerumuskan dia kepada hal-hal yang buruk termasuk mempermainkan perempuan. Dia tidak peduli dengan istilah "hormati wanita seperti kamu menghormati ibumu" karena bagi Bara, dia tidak layak menghormati ibunya sendiri apalagi seorang perempuan lain. Dan hari ini, begitu usianya menginjak 18, Bara kembali dipertemukan dengan Bi Asih dalam keadaan yang sudah berbeda. Namun, rasa sayang yang Bara miliki kepada wanita mulia ini tidak akan pernah berubah. Bara melepaskan pelukan, mengambil tas besar Bi Asih dan memintanya masuk ke rumah. "Syukur bibi ke sini lagi, Bara hampir mati gak ada bibi." Bi Asih tersenyum. "Ah, den dari dulu begitu. Kapan coba mau mulai dewasa?" Bara terkekeh. "Seperti biasa ya, bibi tidur di kamar Tania," ujar Bara menenteng tasnya menaiki tangga, diikuti Bi Asih. "Memangnya nyonya belum pulang, toh? Bukannya dulu bilang hanya 8 tahun?" Bara menghentikan langkah di depan kamar yang menjadi tujuan, berbalik kepada Bi Asih. "Saya gak peduli lagi, Bi. Mungkin di luar negeri Tania sudah mati." Langkahnya berlalu pergi, meninggalkan Bi Asih yang geleng-geleng mendengar perkataan Bara. Dia tetap begitu, menanam kebencian kepada ibu dan ayahnya sendiri. Bukan tanpa alasan, Bara membenci mereka karena pertengkaran hebat semasa dia kelas 4 SD. Ayahnya menampar Tania yang saat itu ketahuan selingkuh sedang berduaan di rumah dengan laki-laki asing. Salim---ayah Bara, bertengkar dengan saling adu jotos bersama selingkuhan Tania. Bara kecil yang baru pulang sekolah meringkuk di pojok pintu dengan tubuh bergetar hebat. "Aku minta cerai, Mas!" Tania melerai perkelahian Salim dengan kekasih barunya. Salim tercengang beberapa detik. "Keterlaluan! Setelah kamu menemukan yang lebih kamu mau cerai begitu saja, hah?!" "Aku bosan sama kamu, Mas! Kamu gak pernah mengerti aku!" "Kamu yang tidak mengerti saya! Pikirkan masa depan Albara, dia butuh ibunya!" "Aku gak peduli, Mas. Aku cuman pengen kita pisah. Aku gak mau membawa darah daging kamu! Aku mau kehidupan baru!" Sejak hari itu, ketika kata-kata menyakitkan Tania lontarkan, Bara sadar kalau ibunya tidak mungkin kembali. Tania tidak ingin memilikinya, Tania tidak menyayanginya, dia hanya mencintai pria asing itu dan pergi ke luar negeri seolah semuanya baik-baik saja. Bara kecil berlari menghampiri Tania kemudian memeluknya erat. Suasana mengerikan kini berubah menjadi lebih tenang. Tania balas memeluk Bara, bersimpuh di depannya agar tinggi mereka sejajar. "Bara, ibu mau ke luar negeri sebentar. Kenalin, dia teman ibu," ucap Tania menunjuk pria asing itu. "Jangan pergi!" cegah Bara dengan air mata bercucuran. "Hanya sebentar, Sayang. Kalau kamu sudah 18 tahun, ibu janji bakalan pulang." Bara menonjok kaca kamarnya dengan kepalan tangan yang berbentuk tinju. Napasnya naik-turun tidak terkendali ketika sepenggal memori itu menghantui pikirannya. Tania telah membohonginya, dan dia sadar itu. Buktinya setelah dia 18 tahun, dia belum kembali juga. Tangan Bara yang berdarah dia lilit pakai syal, berjalan ke ranjang kamar kemudian membuka laci nakas. Di sana ada sebuah foto keluarga lengkap dengan Salim, Tania dan Bara yang berada di tengah-tengah mereka. Mata Bara terarah pada Salim, menatapnya lekat dengan d**a yang tak kalah sesak. "Kenapa, Pa? Kenapa?" Suaranya parau, ada segumpal rasa kecewa yang belum bisa hilang dari dalam relung hatinya kepada Salim yang juga meninggalkan Bara ke luar negeri. "Papa jangan pergi, Pa!" Bara memeluk lutut Salim memohon agar tetap tinggal. Salim yang sudah menyeret koper, menatap Bara dalam rasa bersalah yang besar, "sekarang kan ada Bi Asih, tinggal sama dia sampai Papa kembali, ya." "Nggak mau! Bara maunya sama Papa!" "Bara, Papa janji akan pulang," bujuk Salim, pelan-pelan menghapus air mata Bara yang mengalir deras. Bi Asih menghampiri, memeluk Bara dalam tubuhnya agar dia bisa tenang. "Den gak usah khawatir, Tuan janji bakalan pulang nanti buat Den, jangan takut," ucapnya lembut. Bara menangis dalam pelukan Bi Asih, membiarkan Salim melangkah keluar gerbang dengan koper yang ia seret ke mobil. Sejak masa-masa sulit Bara selama bertahun-tahun, harapannya akan kehadiran orang tua benar-benar terkubur semakin dalam. Dia liar, tidak peduli dengan hak orang lain karena haknya sendiri juga telah hilang sejak lama. Sepi dan sunyi selalu mengepung kehidupan Bara dan menuntunnya ke jalan yang semakin gelap dan sesat. Bara berdiri, membuka jendela kamar lebar-lebar kemudian menghirup udara untuk menyejukkan pikirannya. Matanya yang berwarna cokelat muda, menatap lekat segerombol burung yang terbang bebas di angkasa. Nyalinya menciut, merasa iri kepada kepakan sayap burung di sana. Seseorang menutup kedua matanya, menghalangi sinar alam dan menggantikannya dengan kegelapan. Tangan Bara menyentuh telapak tangan orang yang menutupi matanya, merasakan kelembutan dan dinginnya meresap hingga ke dalam darah. "Ra, gue tahu," katanya. Sahira melepaskan tangannya dari kedua mata Bara, tertawa lepas seolah memecah kepedihan Bara. Dia berdiri di samping Bara, melihat raut wajah gelisah dari cowok itu. "Kamu kenapa? Kenapa chat-ku gak dibalas?" tanya Sahira over. "Gue gak pegang hape. Di mana ya tadi." Bara memeriksa saku jeans yang ia pakai, kepalanya menoleh ke ranjang namun tidak menemukan ponselnya. "Pasti di saku kemeja lagi, kan?" tebak Sahira. Bara mengangkat bahu, sementara Sahira berjalan ke kamar mandi dan memeriksa mesin cuci. Dugaannya benar, ponsel Bara ada di sana, di kemeja biru tua dalam keadaan mati. Sahira menyalakannya, memeriksa ponsel Bara yang sudah sebulan ini tidak dia cek. Tangannya membuka aplikasi chating, menuju ke arsip dan menemukan pesan paling bawah dengan nama Tera. Sahira tersenyum tegar, dia sudah biasa melihat hal ini. Bukan hal aneh yang harus dia masalahkan. Telunjuknya meng-klik pesan, hanya ada dua pesan di dalamnya. Dan dua-duanya dari Tera. Sahira yakin, kalau Bara sudah menghapusnya sebagian. Tera Semoga kamu ngerti dan bisa terima aku Tera Aku sayang kamu, Bar. Always. Aku akan terus menunggumu. I promise Sahira terdiam dalam lamunannya. Sudah sejak bayi dia kenal dengan Bara. Bahkan, dia dan Bara sudah bertunangan setahun lalu. Namun kepada perempuan lain, dia selalu menggila. Kadang dia berpikir, apa pentingnya Sahira dalam hidup Bara? "Ra? Ada gak hape gue?" teriak Bara dari kamar. Sahira tersadar, dia buru-buru menormalkan ekspresinya kemudian mematikan ponsel Bara kembali pura-pura tidak tahu apa pun. Sahira keluar dari kamar mandi, menyerahkan ponselnya kepada Bara. "Lain kali, jangan simpan di saku kemeja lagi! Kalau kecuci gimana?" omel Sahira. "Iya-iya." "Bar, aku mau jalan." Bara kontan menoleh. "Ngapain? Panas." "Kayaknya kita udah lama banget nggak keluar berdua, kamu gak kangen?" Bara men-charge ponselnya, tidak merespons Sahira. Belakangan ini Bara memang malas keluar sejak kasus Tera sebulan lalu. Dia menutup diri dari dunia luar setidaknya untuk sementara. Merasa diabaikan, Sahira berdecak dengan d**a yang sesak. "Sama yang namanya Tera pasti sering jalan, kan? Makanya dia sayang banget sama kamu." Seketika Bara terdiam, membiarkan saja isak Sahira terdengar membelakanginya. Dia tidak hebat mengatakan hal-hal manis yang bisa membuat tenang perempuan, dia hanya bisa membuat perasaan mereka semakin buruk. Satu-satunya cara yang bisa Bara lakukan untuk meminta maaf kepada Sahira adalah memeluknya dari belakang. Tangannya melingkar ke perut Sahira dengan dagu tersimpan di bahu cewek itu. Sahira tahu, kalau Bara sedang meminta maaf tanpa kata padanya, dia sudah hafal apa pun kode yang cowok itu berikan. •||• To be continued. Terima kasih sudah membaca ^^ See you:*
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD