Jakarta, Agustus 2019
Seorang siswi bernama Tera Maharani (16) telah ditemukan tewas gantung diri pada Sabtu, 03 Agustus 2019 di apartemen Melati lantai 14. Mayat yang baru ditemukan kemarin malam, sudah dievakuasi oleh pihak yang bersangkutan.
Menurut laporan, kasus ini murni sebagai tindak bunuh diri. Namun, belum diketahui secara pasti alasan korban melakukan tindakan tersebut.
Bara meremas surat kabar abu-abu yang belum sempat ia baca sampai habis. Mentalnya terasa terguncang ketika membaca nama Tera yang dahulu selalu dia nistakan sampai gadis itu memutuskan mengakhiri hidup gara-garanya.
Bara sadar atas kesalahannya, dan jelas dia menyesal. Bara tidak pernah menyangka Tera akan bertindak sampai sejauh itu. Tubuhnya yang lemas terduduk di sofa, meremas semakin kuat koran di tangannya sambil memejamkan mata. Kaus oblong berwarna putih yang ia pakai, tiba-tiba berkeringat tanpa alasan.
"Dor!"
Sahira tiba-tiba datang menindih tubuh Bara hingga cowok itu kaget setengah mati. Pikirannya yang sibuk melayang-layang sedikit teralihkan ketika membuka mata dan melihat senyum Sahira yang manis. Sahira tertawa melihat ekspresi polos Bara yang pucat, dia kemudian mencubit pipi Bara dengan kedua tangannya.
"Lucu banget, sih. Emang lagi mikirin apaan sampai kaget gitu?" gelak Sahira.
"Turun, Ra.... Berat nih," suruh Bara.
Sahira tetap duduk di pangkuan Bara, kini lengannya melingkar ke leher Bara dengan wajah saling berdekatan. "Gak. Jawab dulu kenapa kamu kelihatan lagi mikirin sesuatu?"
Bara diam. Sejatinya, dia tidak mungkin bisa membohongi Sahira dalam hal apa pun. Cewek itu sudah mengenal segala hal tentang Bara karena mereka saling mengenal sejak bayi. Dia menggaruk kepala bingung, tiba-tiba otaknya memiliki ide untuk membungkam mulut Sahira.
"Gue lagi mikirin.... Gimana caranya cium lo biar gak marah?"
"Eh?" Sahira blushing, matanya ia kedipkan berkali-kali kemudian memalingkan wajah salah tingkah.
"Turun, Ra... Nanti gue cium, lho."
"Bara!!!"
"Yaudah turun," kata Bara lembut.
Sahira yang tidak mau kelihatan lebih malu lagi di depan Bara, memutuskan turun dari tubuh Bara. Dia berdiri, melihat koran di tangan Bara yang cukup menarik perhatiannya.
"Tumben baca koran?"
Bara melihat tangannya sendiri, memasukkan koran ke bawah meja dengan wajah syok karena takut ketahuan. "Cari info bola. Lo ngapain pagi-pagi ke sini?"
"Loh? Ini kan hari Minggu, Bar. Aku sekalian mau ajak kamu ke gramedia beli novel," jawab Sahira.
"Yaudah, gue mandi dulu. Lo tunggu di sini," kata Bara kemudian pergi ke kamar.
Sahira menunggu dengan bosan. Sudah sepuluh menit, tetapi tunangannya itu belum menampakkan diri juga. Sahira menoleh ke bawah meja, melihat koran yang tadi Bara remas dan dimasukkan ke sana. Sahira jongkok, mengambil koran tersebut dengan penasaran.
Bara yang melihat hal itu di tangga, langsung kaget bukan kepalang. Dia berlari, namun kakinya terpeleset hingga dia terjatuh berguling di tangga sampai ke bawah. Sahira berdiri, melihat Bara terbaring di lantai sambil memeggangi kepalanya yang sakit.
"Bara!!!"
Sahira mendekat, membantu Bara berdiri dengan perasaan cemas. "Kamu kenapa, sih? Kok bisa sampai jatuh kayak gini?" Sahira meraba-raba kepala Bara.
"Aduh, Ra... Sakit banget nih, Ra... Tadi gara-gara liatin lo jadi gak lihat jalan," ujar Bara modus. Padahal dia terburu-buru karena ketakutan Sahira membaca koran dan menemukan berita tentang Tera.
"Ish! Gimana dong? Mana yang sakit?"
"Ini-ini." Bara menunjuk keningnya.
"Bentar, aku ambil es batu dulu."
Bara menarik tangan Sahira yang hendak pergi hingga kembali ke tempat. "Gak usah."
"Eh?"
"Cium aja, nanti juga sembuh," goda Bara tersenyum.
Sahira malah menjitak kepala Bara dengan keras. Dia tahu kalau Bara tidak merasakan sakit sama sekali jika sudah bercanda begini. Bara mengusap kepalanya yang menerima jitakan maut Sahira, berdiri kemudian mengejar Sahira yang sudah keluar rumah
•||•
Mobil Bara berhenti di depan toko buku, Sahira buru-buru keluar dengan tidak sabar. Dia pamit kepada Bara sebentar untuk masuk, sementara Bara disuruh menunggu di mobil saja. Bara hanya mengangguk singkat, membiarkan gadis mungil itu berlari masuk ke toko sendirian.
Merasa bosan, Bara keluar mobil. Dia berjalan membeli minuman Thai tea yang ada di samping toko buku. Bara mendengarkan musik dari headshet untuk menghilangkan suara berisik jalan raya sekaligus menghilangkan rasa bosan menunggu minumannya siap.
"Baik, Pak. Saya bawa ponsel Tera sekarang," ujar seorang cowok seumuran Bara yang saat ini sedang berbicara di telepon.
Polisi yang sedang pria itu telpon. Sedang membicarakan tentang Tera yang belakangan ini sedang menjadi kasus terhangat. Cowok itu buru-buru, hingga tubuhnya tanpa sengaja menubruk Bara hingga cowok itu hilang keseimbangan dan hampir jatuh kalau saja tidak berhasil kontrol diri. Bara menoleh cowok itu, sedikit kesal.
"Maaf, Mas, lagi buru-buru," katanya bersalah.
Bara mengangguk, tak mempermasalahkan. Setelah bayar minuman, Bara kembali ke mobil dan melihat Sahira selesai dengan membawa banyak kantong. Bara melongo, tidak percaya Sahira akan membeli buku sebanyak itu. Gadis itu memang suka sekali membaca, tidak heran jika banyak buku dari bermacam genre akan dia beli.
"Lama, ya?" tanya Sahira girang.
"Nggak, kok. Beli berapa buku?"
"Cuman sepuluh aja, sih."
Cuman? Ya, bagi Sahira cuman. Tetapi bagi Bara, itu lebih dari kata banyak. Bara membukakan pintu mobil, kemudian Sahira masuk, disusul Bara. Bara menyerahkan satu minuman thai tea yang ia beli.
"Semuanya berapa? Biar gue ganti."
"Eh, gak usah. Aku sengaja pake uang tabungan biar gak ngerepotin kamu."
Bara menatap Sahira lama. "Berapa?"
Sahira tersenyum malu-malu, menyebut harganya lalu Bara mengganti uang Sahira. "Makasih ya, Bar."
"Jangan ada kata terima kasih di antara kita, Ra."
Sahira angguk-anggukan kepala, dia ingat kata-kata itu sejak mereka kecil. Bahwa, tidak ada kata terima kasih di antara Bara dan Sahira. Karena jika sudah terlewat dekat, rasanya begitu canggung dengan perkataan semacam itu.
•||•
Tujuh belas tahun saling mengenal, Bara sangat hafal sesuatu yang disukai Sahira. Dia menyukai bunga dandelion, yang gugur begitu tertiup angin kemudian mengabulkan segala permintaan. Itulah yang Bara tahu tentang dandelion, dan Sahira juga yang memberitahunya.
Untuk itulah, Bara ingin menunjukkan Sahira sesuatu. Dia membelokkan mobilnya ke sebuah lapangan luas yang di penuhi bunga dandelion, Tempat ini sangat sunyi dengan berada di dataran tinggi dan terkenal memiliki tiupan angin yang kencang.
Sahira membuka mulut lebar, keluar dari mobil dan melihat pemandangan luar biasa yang terpampang nyata di depan mata. Sahira melompat girang, merentangkan tangan kemudian berteriak keras. "Bara!!! Ini bagus banget!"
Bara ikut keluar, menatap rambut Sahira yang tertiup-tiup angin dengan bebas. Sahira memetik bunga dandelion, meniupnya, kemudian menyatakan harapan. "Semoga, aku dan Bara bisa selalu bersama."
Ada satu perasaan yang belum pernah Bara ungkapkan kepada Sahira. Yaitu, menjaganya. Meski saat ini Bara selalu menyakiti banyak wanita, tidak akan berlaku untuk Sahira. Dia, hanya ingin gadisnya bahagia dan selalu terjaga.
•||•
To be continued.
Terima kasih sudah membaca ^^