PERTEMUAN

1122 Words
Kami bersama, merangkai luka menjadi bahagia. Menjalin kisah-kasih tanpa pamrih, saling ada penuh canda serta cinta. Ini bukan tentang kapan kita akan saling berakhir, tetapi tentang bagaimana kita berdua menikmati semua kebersamaan. •||• Sahira menata rapi buku novel yang kemarin dia beli bersama Bara. Rak buku berwarna cokelat di kamarnya, kini sudah penuh dengan segala macam daftar bacaan yang ia gemari. Sahira bahkan sudah memesan lemari lain untuk menyimpan buku-bukunya kelak jika dia beli lagi. Pagi ini, Sahira sudah siap dengan seragam putih-abu untuk berangkat ke sekolah. Tinggal beberapa menit lagi, kakaknya pasti akan menyuruh dia berangkat. Sahira mengecek jam di tangan, tepat pukul 6. Langkahnya mengambil sisir di depan cermin kemudian menyisir rambutnya yang berwarna cokelat. "Ra, ayo." Pintu kamar Sahira terketuk tiga kali, gadis yang sudah siap itu akhirnya beranjak dan membuka pintu. "Iya, kak." Langkah Sahira keluar kamar meninggalkan kakaknya, Vero. Vero hendak menyusul, namun ia tertarik dengan sebuah bingkai foto yang ada di atas meja belajar Sahira. Foto Bara bertelanjang d**a dengan sarung tinju, ada di sana. Tubuhnya yang kekar, semakin memperlihatkan kejantanan seorang Bara. Vero menggelengkan kepala, dia menutup pintu kamar Sahira kemudian menyusul adiknya menuju mobil. Vero salim kepada Sintia--mamanya, menaiki mobil yang sudah dihuni oleh Sahira di kursi depan. Mobil melaju, menembus padatnya jalanan di hari Senin dengan cuaca yang kurang mendukung karena awan sedikit mendung. Vero menoleh Sahira yang sedang memakan sebungkus roti di tangan sambil memainkan ponsel. "Ra, kamu gak boleh melakukan hal macem-macem sama Bara. Kakak tahu sifat dia itu gimana," ucap Vero berat hati. Sahira kontan menoleh dengan mulut yang hampir tersedak. "Kakak bicara apa sih, aku belum pernah ngapa-ngapain," elak Sahira. Vero memutar bola mata. "Bara itu bukan cowok baik-baik. Kakak bakalan seneng kalau seandainya kamu cari yang lain. Dia punya banyak musuh gara-gara suka nyakitin perempuan sembarangan. Kakak gak ngerti apa yang kamu suka dari dia." "Kak!" Sahira berkata tegas. "Kakak gak maksud jelek-jelekin. Ini emang kenyataan, Ra. Kakak gak mau kalau sampai kamu rusak di tangan dia...." "Kak hentikan mobilnya!" Vero menghentikan mobil, terkejut dengan teriakan Sahira. Sahira tampak berkaca-kaca, kemudian membuka sabuk pengaman. "Aku gak suka kakak ngomong kayak gitu soal Bara! Dia gak seperti itu!" "Karena kamu gak pernah mau membuka mata." "Cukup, kak!" Sahira keluar dari mobil, hingga sang kakak terkejut dengan tindakannya. "Sahira!" panggil Vero percuma. Karena saat ini, gadis mungil itu sudah berlari menyebrang jalan menuju ke halte bus. Vero membiarkan saja Sahira marah. Gadis itu tidak akan pernah bisa di bujuk dalam waktu yang singkat. Vero akhirnya melajukan mobilnya setelah memastikan Sahira naik ke bus dengan aman. Di dalam bus, Sahira duduk paling belakang. Dia mendengarkan lagu dari earphone untuk menghidupkan suasana hatinya. Lagu Exo-Love Shot, di putar dari ponselnya yang berwarna merah muda. Sahira memandangi wallpaper ponsel, foto Bara dan dirinya ada di sana. Sedang duduk di tepi lautan yang biru sambil berpelukan hangat. Sahira menelan ludahnya yang terasa encer. Air mata sudah hampir keluar mengingat perkataan Vero padanya tadi. Bara tidak pernah macam-macam kepada Sahira. Berciuman pun, mereka belum pernah. Apalagi untuk melakukan sesuatu yang jauh dari hal itu. Sahira kadang tidak mengerti dengan pemikiran Vero, Sintia dan papanya--Ibrahim, sebenarnya mereka tidak pernah menyukai Bara dalam segi apa pun. Pertunangan mereka terjadi, hanya karena keinginan dari Sahira dan Bara sendiri. Mata Sahira terasa berat, alunan musik di telinganya terlalu kuat mengalun hingga terasa menghipnotisnya untuk tidur. Mata Sahira terpejam, semakin lama semakin dia terlelap dan terjun ke dalam dunia mimpinya. Sekitar dua puluh menit, Sahira membuka mata. Dia terkesiap dan langsung melihat jam yang menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Sahira berjingkat dari kursi, berjalan menuju pintu dengan kaki sempoyongan karena baru bangun tidur. "Pak berhenti, Pak!" teriak Sahira. Bus berhenti di halte berikutnya. Sahira cepat-cepat keluar dengan kelimpungan karena dia berada jauh sekali dari sekolah Venus. Tangannya garuk-garuk kepala seperti orang bingung, bukannya berusaha mencari bantuan, Sahira malah jongkok kemudian menangis keras seperti anak kecil. "Aduh... Sekarang gimana coba?!" Sahira mengumpat. Dia berdiri, mengelap air mata kemudian mondar-mandir tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tersesat, adalah sesuatu yang baru bagi gadis itu. •||• Cowok berjaket denim warna biru agak luntur, menyalakan ponsel berwarna pink pastel yang ada di tangan kanannya. Matanya menyipit akibat sorotan sinar matahari dari langit bagian timur. Dia sedang duduk di bangku taman kota, memakai seragam putih-abu dengan rambut gondrong agak berantakan. Tangannya bergerak membuka aplikasi chatting, mengklik ruang obrolan bersama seseorang bernama Albara. Cowok itu membacanya, hanya ada beberapa slide obrolan singkat, dan kebanyakan berupa hinaan dari Bara yang ditujukan untuk si pemilik ponsel. Baraalbara? Sorry, Ra. Tapi gue udah tunangan. Gue gak mungkin tanggung jawab sama lo. You Bar, gue butuh lo banget. Bayi ini juga... Baraalbara? Gue belum siap nikah. Ya salah lo juga mau-maunya gue apa-apain. Gak usah nuntut kayak gitu dong! You Lo tega banget sih, Bar. Gue lakuin semuanya karena sayang sama lo... Baraalbara? Lupain aja, Ra... Gue gak bisa. Gue bosen sama lo, gak usah baper cuman gara-gara kita berhubungan s*ks sekali. You Bar.... You Gue mohon.... You Gue sayang banget sama lo. You Kalau bukan buat gue, seenggaknya buat bayi ini You Gue bakalan menunggu You Gue yakin lo masih peduli sama gue :') "Kurang ajar, Bara. Apa maksudnya ini?!" Cowok itu emosi, mengepalkan tangan kemudian berdiri dari tempatnya. "Tera, gue gak akan pernah membiarkan semua ini." Setelah Tera mengemis seperti itu kepada Bara, cowok itu dengan tega memblokir nomer w******p milik Tera. Hal itu menyulitkan kakak Tera, yang saat ini sedang mencari sosok Bara, tidak bisa berkutik. Dia sangat penasaran siapa itu Bara, tidak sabar ingin memberinya perhitungan yang lebih dari setimpal. Langkahnya menuju ke motor ninja merah yang tampak mengilat. Memakai helm full face, kemudian menggas motornya menyusuri jalan raya dengan kecepatan ekstra. Tin-tiinnnnnn Cowok itu menyalakan klakson panjang, melihat seorang gadis yang berdiri menghalangi motornya dengan sengaja di jalanan perumahan yang cukup sepi. Dia mengerem motor mendadak, membuka helm kemudian menatap Sahira emosi. "Lo ngapain berdiri di situ, hah?!" Sahira mendekat walaupun merasa malu. "Kamu Julian, kan?" tanya Sahira cukup familiar dengan motor kencang milik cowok ini. "Ada apa? Lo siapa?" "Aku Sahira, aku sekolah di SMA Venus juga. Kalau gak keberatan, aku nebeng ke sekolah, boleh?" Julian cukup tercengang melihat keberanian Sahira yang tidak pernah dilakukan cewek manapun. Meskipun motornya cukup bagus, belum ada perempuan yang pernah mencoba duduk di motornya. "Plis, ini udah siang banget. Aku kasih kamu ongkos deh," bujuk Sahira terlanjur bingung dia harus melakukan apa. "Naik aja." Sahira tersenyum lebar, merasa senang. Dia akhirnya naik ke motor Julian dan motor pun melaju. Menyelamatkan nyawa Sahira yang sudah hampir gila tersesat di jalanan yang entah di mana. •||• To be Continued. Thx udah baca!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD