PESONA GAUN MERAH

1181 Words
Kamu, seseorang yang telah membuatku lupa bagaimana cara mencintai orang lain. Semua perasaan indah yang aku miliki, didominasi hanya untukmu. *** Setelah seharian menikmati jam kosong, SMA Venus dibubarkan. Meskipun tidak sebanyak biasanya karena sebagian kabur, koridor tetap berdesakan akibat ketidaksabaran murid untuk segera pulang. Sahira dan Kanza mengumpat sebal saat berkali-kali terinjak oleh murid lain. "Sabar jangan dorong-dorong! Udah tahu sempit!" kesal Sahira. Kanza yang ada di samping Sahira malah tertawa, merasa lucu dengan ekspresi marah cewek itu. Setelah penat berdesakan, mereka tiba di gerbang. Kanza yang selalu pulang lewat Gojek, terlihat sedang menunduk memainkan ponselnya. Sementara Sahira, dia selalu di jemput oleh Bara setiap pulang sekolah. Dari belakang mereka, terdengar suara motor besar mendekat hingga akhirnya berhenti tepat di depan Kanza dan Sahira. Julian menoleh Sahira sesaat, kemudian menatap Kanza. "Pulang ke mana?" Kanza yang tadinya sibuk membuka aplikasi Gojek, menoleh Julian. "Eh, gue?" "Iya." "Ke perumahan Permai." "Bareng aja, kebetulan rumah gue juga lewat situ." "Serius boleh?" "Boleh. Ayo buruan naik," ajak Julian. Kanza menoleh Sahira, tersenyum padanya. "Ra, gue duluan sama Juli gapapa, kan?" Sahira mengangguk. "Iya. Hati-hati, ya!" "Oke." Kanza naik ke motor, melaju meninggalkan Sahira yang masih setia menunggu Bara menjemputnya. Langit sudah menggelap, bukan karena hampir menginjak malam, tetapi pertanda bahwa hujan akan segera turun. Sahira tengadah, menatap gumpalan awan hitam yang terasa sangat dekat dengan kepalanya. Suara petir juga mulai bergemuruh, membuat cewek itu semakin takut. Untung saja masih banyak murid yang menunggu jemputan, sehingga dia tidak seratus persen sendirian. Telinganya ia tutup rapat, semakin khawatir ada petir yang lebih keras lagi. Sahira paling takut dengan suara petir, itu bisa membuat jantungnya copot. Mobil Alphard hitam, berhenti di depan cewek itu. Sahira tidak sadar karena sibuk memejamkan mata dan menutup telinga. Bara tersenyum melihat tingkah laku tunangannya itu, dia membuka mobil kemudian merangkul bahu Sahira. "Bara...." Sahira yang yakin itu adalah Bara, langsung membuka mata dan memeluk cowok itu. "Yuk, pulang. Sebentar lagi hujan," ajaknya. Sahira anggukan kepala, berjalan ke mobil dan masuk ke sana. Bara menutup jendela yang asalnya terbuka, melajukan mobil dengan kecepatan sedang menembus jalanan kota. Hujan mulai merintik jatuh, membasahi kota Jakarta dan kian menderas setiap detiknya. Bara yang sudah lulus SMA tahun lalu, tidak lanjut kuliah. Alhasil, dia bisa menjemput Sahira kapan saja tanpa terganggu dengan hal-hal seperti itu. Sebenarnya, Salim selalu kirim banyak uang dari luar negeri dengan harapan Bara kuliah demi masa depannya. Namun bukan Bara namanya jika dia menurut. Bagi Bara, dia tidak perlu kuliah. Karena cita-citanya bukan bekerja di tangan orang, tetapi membuka usaha sendiri. Punya usaha sendiri tidak perlu memiliki ijazah sarjana, bukan? Begitu pikir Bara. "Laper?" tanya Bara. "Iya." "Gue beli makan dulu." Bara menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran. Sebelum turun, dia menoleh Sahira. Tubuhnya tiba-tiba mendekati Sahira, membuat cewek itu menahan napas karena terlalu terkejut. "Ngapain?" gugup Sahira. Tangan Bara menyentuh kancing baju Sahira yang terbuka dua, mengancingkannya satu agar tidak memperlihatkan d**a cewek itu. Sahira menatap tangan Bara yang masih mengancingkan baju, membuat pipinya bersemu merah karena malu. "Ngapain di buka-buka gini? Gak malu?" tanya Bara. Sahira semakin malu. Dia tidak sadar sejak kapan kancingnya terbuka begini. Jika dari sekolahan, pasti banyak laki-laki mendapat rezeki tadi. Sialan. Sahira tersenyum, merasa senang dengan perhatian kecil Bara. Bara balas senyum, mengusap kepala Sahira sekali, kemudian keluar dari mobil. Bara menembus hujan memasuki restoran, membungkus satu makanan hanya untuk perut Sahira yang lapar. Jangan bertanya kenapa Sahira dan Bara tidak makan di restoran dulu, itu karena Bara tahu jika kekasihnya itu takut kepada hujan walaupun hanya menyebrang sebentar saja. •||• Hari telah menyentuh malam. Sambutan bintang-bintang dan sebulat bulan purnama, telah menyapa di atas langit yang gelap. Lampu-lampu yang menyala terang di gedung-gedung tinggi, juga menjadi penghias sang malam. Bara yang niatnya ingin ke rumah Sahira, tiba-tiba urung karena pesan Tama yang masuk ponselnya. Tama Bar, gue di kelab sama Atries. Sini Bara tidak bisa menolak yang namanya kelab. Minuman keras dan rokok, selalu membayanginya untuk segera mencicipi. Akhirnya, Bara meraih kunci motor dan bergegas menuju ke kelab yang Tama maksud. Tama membawa Atries, tetapi Bara tidak mungkin membawa Sahira. Cowok itu tidak setuju kalau Sahira mabuk-mabukan dan merokok seperti dulu. Bara sampai di kelab, dia parkir di belakang kemudian masuk dengan pakaian sederhana. Kaus hitam polos dan celana jeans, yang Bara tambahkan beberapa sprai parfume. Mata Bara menjelajahi sekitar, dia tidak menemukan Tama di sudut mana pun. Langkahnya membawa Bara ke meja minuman, meminta sebotol anggur kemudian duduk di sofa merah tempat andalannya setiap ke tempat ini. Sebatang rokok Bara nyalakan, menghisapnya dengan nikmat sambil melihat gadis-gadis seksi berjoget panas di lantai dansa mengikuti iringan musik DJ. Di bawah lampu-lampu yang gemerlap, seorang perempuan datang memakai gaun merah yang jauh di atas lutut. Pahanya yang putih, terpampang anggun. Kakinya yang jenjang, melangkah mendekati Bara yang terpaku dibuatnya. Perempuan itu duduk di samping Bara, mengibaskan rambutnya yang dibuat curly. "Tama di mana? Kok dia gak ada, ya?" tanya gadis itu. Bibirnya yang terlapis lipstik merah, cemberut. Bara mengedipkan mata tersadar, menatap Atries yang merupakan kekasih Tama. "Gue gak tahu. Tadi dia suruh gue ke sini." "Ngeselin banget, sih. Tadi gue ke toilet bentar, dia udah ilang gitu aja." Atries menuangkan minuman, kemudian meneguknya habis. Dia terus lakukan itu sampai kepalanya terasa berat dan bicaranya melantur ke mana-mana. Tubuh Atries bersandar ke kursi, merasa lemas. Bara menoleh dengan perasaan was-was. Atries mabuk berat, dia buru-buru menelepon Tama untuk memberitahunya. "Halo, Tam? Lo di mana?" Suara musik yang berisik membuat suara Tama tidak terdengar jelas. "Gue lagi di bengkel, Bar. Lo temenin Atries dulu, jangan ke mana-mana...." "Gak kedengeran, Tam! Pesan aja." Bara mematikan panggilan, tak lama kemudian pesan masuk dari Tama. Tama Gue lagi di bengkel. Tadi gue mau ambil jaket buat tutupin d**a Atries ke rumah, malah mogok. Lo tungguin dulu pacar gue, Bar. Gue gak akan lama Bara terdiam cukup lama, tidak menyangka Tama akan memitanya temani Atries. Secara Tama tahu, kalau dulu dia dan Bara saling berebut untuk mendapatkan Atries. Apakah Tama tidak takut Bara akan mencobanya lagi? Bara menoleh Atries, baju gaun merah yang ia kenakan memang terlewat seksi. Belahan dadanya bahkan sangat terlihat jelas dan ketat. Sebisa mungkin Bara menahan nafsunya, dia menyibukkan diri bermain ponsel dan tanpa sengaja menerima pesan dari Sahira. My Lovely Bar, aku di rumah kamu. Aku punya sesuatu nih You Gue lagi di rumah Tama, pulangnya bakalan agak maleman My Lovely Aku bakalan tunggu kamu Bara menyimpan ponselnya ke saku, menoleh Atries yang sedang tertidur dengan posisi tidak nyaman. Bara mendekat, memeggang punggung Atries, kemudian membenarkan posisinya agar lebih nyaman. Wajah mereka saling berdekatan, bahkan aroma lipstik Atries tercium ke hidung Bara. Cowok itu meneguk ludah, menjauhkan diri dari tubuh Atries. Namun, tangan Atries tiba-tiba memeggang lengan Bara. "Gue tahu lo masih suka sama gue. Iya, kan?" Bara terkejut, tangannya dengan sigap menepis lengan Atries. Dia mabuk, Bara tidak perlu memikirkan yang aneh-aneh. Suka katanya? Tapi jika dipikir-pikir, sebenarnya Bara masih memiliki rasa itu kepada Atries. •||• To be continued. Terima kasih sudah membaca^^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD