Pov Diva Aku bergegas mendorong daun pintu dan hendak mengeluarkan sepeda motorku, tetapi alangkah kagetnya ketika di luar sana ternyata seseorang sudah duduk manis di atas sepeda motornya dengan rambut diikat ke belakang. Dia tengah bersedekap dan diam menatap ke arahku yang baru muncul dari pintu. “Kenzo?” Aku menautkan alis dan menatapnya dengan sinis. Huh, padahal tadi malem gak mimpi apa-apa? Kenapa kekacauan mendatangiku bahkan sejak pagi buta? Bertemu Kenzo, sama saja dengan bertemu dengan masalah. Semoga saja, kali ini pradugaku salah. “Bang Iqbal nyuruh gue jemput ke sini! Dia bilang, khawatir kalau lo bawa motor sendiri, habis perjalanan jauh, capek.” Aku belum melontarkan pertanyaan ketika Kenzo sudah menjelaskan dengan sendirinya. “Saya mau nganter ini dulu ke Bu Fa

