“Maafin karena dulu, aku sudah ambil Mas Imam dari kamu. Sekarang aku merasakan sakit yang mungkin dulu kamu rasakan, Mbak. Mas Imam berbuat tak senonoh dengan perempuan lain, Mbak. Dia meniduri perempuan lain, Mbak.” Aku mendengar jelas rasa pedih yang terucap dari setiap kalimat yang Putri ucapkan. Aku termangu, benarkah apa yang aku dengar? Putri meminta maaf? Namun, belum habis pikiranku saling bertali dengan pertanyaan. Putri sudah memelukku dan menangis sejadi-jadinya. Isaknya terdengar pilu seolah memang dia benar-benar tersakiti. Aku membiarkannya menumpahkan air mata. Ya, aku tahu rasanya sesakit apa. Mungkin yang Putri rasakan belum seberapa, karena dia diselingkuhi dengan perempuan lain yang mungkin dia sendiri gak kenal. Berbeda denganku dulu, yang bahkan sakitnya belum men

