Lampu kamar yang ada di tengah dari kontrakan petakan pun pada akhirnya dipadamkan. Hanya pendar dari lampu teras dan kamar mandi yang menemani kami dalam remang. Udara panas dari ruangan sempit ini terasa semakin panas. Bahkan keringat membersamai aktivitas beribadah di malam yang panjang ini. Hanya putaran kipas angin yang berusaha menyejukkan, meski tak berguna sama sekali. Hingga pada akhirnya lelap menjemput bersama tubuh polos yang terbalut selimut. Adzan shubuh berkumandang. Aku mengerjap dan mendapati wajah dengan pahatan nyaris sempurna itu masih terpejam. Seperti biasa, aku betah memandangnya lama-lama. Sepertinya aku sudah semakin sayang. Puas memandangnya, aku segera bangkit dan meraih handuk yang masih menumpuk di dalam keranjang. Ya, di kontrakan ini tak ada lemari, bar

