Ciuman Sumber Salah Paham

1328 Words
Mendengar tentang mantan Shiren, raut muka Zafran jadi berubah tegang. Dia mengambil air putih dengan tiba-tiba dan tak meneruskan makan. "Eh! Kenapa loe? Kebelet BAB?" Shiren bertanya polos. Zafran yang mendengar pertanyaan Shiren, wajahnya semakin menggelap. Dari semua penilaian murah hati Zafran, attitude Shiren menempati nilai minus sepuluh. Sangat parah dan kritis. Bagaimana bisa Tante Ratna punya anak seperti Shiren? Itu Shiren meskipun gen fisiknya baik, psikisnya perlu dipertanyakan. "Wajah loe nggak enak banget dilihat. Sumpah! Kalau ada orang yang lihat, mereka pasti berpikir gue tante-tante yang suka menyiksa berondong. Sedih banget kan gue. Nikah sama loe bikin gue cepet dapat fitnah!" Shiren menampilkan wajah memelas, yang sayangnya gagal mendapat belas kasih dari Zafran. "Mantan loe lumayan juga. Loe berhubungan lama dengan dia?" Zafran membuka mulutnya. Bukannya menjawab, Shiren justru mengedip-ngedipkan matanya dengan perasaan kacau. Dia mencoba menenangkan gejolak hatinya yang tak teratur. "Jadi, maksud loe, loe berpendapat mantan gue barusan menarik?" tanya Shiren, terkejut. "Cukup menarik!" Zafran tersenyum sinis. Sialan! Tadinya dia pikir Shiren hanya wanita sial yang tak terlalu banyak mengenal lelaki. Sepertinya anggapan Zafran salah. Shiren bukan orang yang introvert dan berkepribadian tertutup terhadap lawan jenis. Seharusnya, bukan hal yang sulit bagi Shiren untuk mencari calon pengantin potensial. Entah kenapa, ada perasaan tak nyaman di hati Zafran mengingat tentang mantan Shiren yang menarik. "Gue nggak nyangka ternyata loe punya kecenderungan suka sama sesama jenis!" Suara Shiren penuh simpati. Zafran yang mendengarnya, hanya bisa memuntahkan kembali minuman yang baru saja ia masukkan ke dalam tenggorokan. Dari mana wanita bodoh itu mengambil hipotesa kacau seperti itu? Apakah otak Shiren terbiasa berpikir di luar jalur normal? "It's oke nggak apa-apa. Gue orang yang terbuka dengan semua kemungkinan. Sayangnya, bukannya gimana-gimana. Ini sebelum loe melangkah lebih jauh, ada baiknya gue kasih tau. Elo itu lelaki normal. Suka sama dia hanya akan sia-sia!" Melihat tampilan wajah Zafran yang kian menggelap, Shiren jadi semakin simpati. Tidak mudah memang memiliki cinta di luar normal. Terlebih lagi Indonesia merupakan negara berbudaya timur yang ketat. Setiap hal saling terkait dengan moralitas yang ada. "Zafran, jangan terlalu tertekan. Suatu hari nanti loe pasti dapetin yang lebih baik. Jika pun orientasi loe memang di luar normal, nggak jaminan hidup loe bakal menderita. Setiap hal ada jalannya sendiri. Oke?" Dengan gayanya yang sok bijak, Shiren mewanti-wanti lelaki yang duduk membeku di hadapannya. Jika benar orientasi Zafran memang di luar normal, pasti tak mudah ke depannya dalam mencari takdir kebahagiaan. Gay bukan sesuatu yang bisa diterima di Indonesia dengan tangan terbuka. "Zafran—" "Sekali lagi loe ngomong, gue beneran mau ngelakuin hubungan suami istri nanti malam sama loe!" ancam Zafran dengan kemarahan baru. Zafran tidak tahu jika Shiren adalah wanita yang suka mengembangkan satu hal kecil ke kesimpulan besar. Entah otak Shiren yang tidak beres, atau daya khayalnya yang luar biasa gila. Bagaimana bisa Zafran dinilai sebagai gay? Seumur-umur, baru kali ini ada yang menuduh Zafran seperti itu. "Wow! Nggak usah malu kali untuk mengakui. Gue orang terbuka lho!" Shiren mengedipkan mata, merasa bahwa kalimat Zafran sebelumnya hanya ditujukan karena ketidakterimaan diri. "Shiren!" "Kenapa? Gue nggak menghakimi orang yang seperti itu kok." Bukannya berhenti membahas topik ini, Shiren justru kian berani memancing kemarahan Zafran. Zafran berdiri dan berjalan memutar ke sisi Shiren. Dia menatap wanita ini lekat-lekat dan mengatakan sesuatu. "Gue bisa buktiin kalo gue bukan gay!" "Oh ya? Masa?" Mata Shiren mengedip nakal, memancing kemarahan Zafran lebih besar lagi. Wanita ini adalah wanita pertama yang berani berkofrontasi langsung dengannya. Tiba-tiba, Zafran menunduk dan meraih bibir Lynelle ke dalam ciuman yang lembut. Mata Shiren terbelalak lebar saat menyadari Zafran berani mencium dirinya. Tetapi terlambat baginya untuk mengelak. Saat Shiren berusaha mendorong lelaki itu, Zafran justru menahan tubuhnya dan memperdalam ciuman mereka. "Zaf—" Kata-kata Shiren terhenti saat Zafran memanfaatkan momen ini untuk mengeksplorasi ke dalam mulutnya lebih dalam. Shiren hanya bisa membiarkan saja momen ini berlangsung dan menunggu Zafran menghentikan tindakan ini sendiri. Setelah beberapa saat berlalu, Zafran menghentikan ciuman mereka. Dia mundur beberapa saat, menatap wajah kemerahan Shiren yang seperti tomat matang. Ada senyum kemenangan di bibirnya. Dia bersiul pelan, merasa berhasil membuktikan diri. Shiren mengerjapkan matanya beberapa kali dengan linglung. Dia memegang bibir bawahnya, merasa lemas seketika. Degup jantungnya berdetak tak normal. Tangannya sedikit gemetar. "Gimana? Hasrat gue masih normal kan?" Zafran menyentil hidung Shiren, mengembalikan Shiren pada dunia nyata lagi. Shiren menatap ke sekelilingnya dengan was-was. Saat itulah ia menyadari banyak pasang mata yang menatap penuh rasa ingin tahu ke arah mereka. Ada salah satu di antara mereka ada yang memegang ponsel, tengah mengabadikan momen ciuman singkat itu melalui video. Ini memalukan. Ini benar-benar memalukan. Shiren mendelik kepada Zafran dan menendang persis di antara s**********n lelaki itu. "Aw!" Zafran mundur dan menghindar persis sebelum Shiren berhasil mengenainya. "Berani-beraninya loe menodai gue? Setelah loe putusin gue dan nikahin adik bungsu gue, sekarang loe berusaha merayu gue untuk jadi istri kedua? Di mana hati loe? Apakah belum cukup loe mempermainkan hati gue dan merobek-robem cinta tulus gue?" Shiren berteriak keras, membuat banyak pengunjung restoran menatap ke arah mereka dengan simpati. Bisik-bisik mulai terdengar dari kaum wanita yang berada tak jauh dari Shiren. "Oh, jadi lelaki itu ninggalin si wanita cuma buat merried ama adiknya. Sekarang dia malah ngerayu lagi dan asal main cium aja di tempat publik!" kata wanita muda berusia sekitar dua puluhan tahun. "Oh gitu ternyata. Gue kirain mereka pasangan yang nggak tau malu dan main cium aja di tempat umum. Ternyata lakinya yang player. Laki begitu harusnya buang aja ke laut!" timpal ibu-ibu muda berbaju biru. "Kok masih ada ya jaman sekarang laki-laki b******k gitu. Udah dapat adiknya. Masih aja mau main sama kakaknya. Kurang aja itu si laki. Apa iya mau digebet semua? Kasihan bener wanitanya ya!" "Iya. Kasihan wanitanya. Sudah ditinggal pergi, eh sekarang mau dimanfaatkan. Ada-ada aja ya! Kudu dikasih pelajaran harusnya si laki!" Pendapat dari banyak orang mulai terdengar semakin gencar. Kini, Zafran berhasil menjadi bahan perhatian dan objek pembicaraan hampir satu restoran. Kejadian kecil ini berubah menjadi besar seperti gelombang tsunami. Banyak tangan-tangan asing menunjuk-nunjuk Zafran dengan kebencian dan kemarahan. Masing-masing dari mereka mengatakan hal-hal buruk. Zafran yang tadinya linglung, kini mulai paham ke arah mana permainan Shiren. Wanita itu berani mempermalukan dirinya sebegitu rupa di hadapan banyak orang asing. "Shiren, sejak kapan loe punya adik perempuan dan sejak kapan gue merried sama adik loe?" Zafran memijat dahinya, merasa kacau oleh omong kosong yang dibuat Shiren. Adik Shiren hanyalah Efim dan Aris. Itu artinya jika Zafran menikah dengan adik Shiren, dia menikah dengan laki-laki. Sejak kapan lembaga hukum Indonesia memperbolehkan pernikahan sesama jenis? Selain itu, sejak kapan juga Zafran membentuk 'romansa belok'? "Jadi bukan hanya loe nggak mengakui karakter loe yang buruk, loe bahkan nggak mengakui pernikahan juga? Benar-benar ya! Lelaki sekarang gampang membelokkan fakta!" Shiren menggelengkan kepala lemah, wajahnya menunjukkan keprihatinan dan perasaan sakit hati. "Shiren, berhenti bersandiwara!" Zafran melirik ke setiap orang yang masih memandangnya dengan penghakiman. Banyak mata penuh kebencian diarahkan padanya. Sebagai lelaki yang tak pernah tahu kekuatan kebencian kaum wanita, saat ini Zafran cukup terpukul. Bagaimana bisa tatapan mata bisa terasa setajam ini? Jika tatapan bisa berubah menjadi senjata, saat ini Zafran pasti sudah mati berdiri karena terbunuh. Shiren membalikkan badan dengan senyum penuh arti. 'Rasakan loe! Siapa suruh cium-cium gue sembarangan!' Saat Shiren sudah hampir tiba di pintu keluar restoran, ia dihentikan oleh seorang remaja dengan ponsel di tangan. Remaja ini sepertinya orang yang sempat mengabadikan momen ciuman Shiren dengan Zafran tadi, lengkap dengan pertengkaran mereka. "Maaf Teh! Ini tadi saya videoin momen teteh sama si aa'. Mau saya publish di akun youtube saya boleh ya Teh? Eh ngomong-ngomong subscriber saya sudah tembus satu juta lho. Kira-kira, enaknya mau dibikin judul apa, Teh? Ciuman dari adik ipar? Atau tante-tante digaet adik ipar? Gimana? Manteb kan?" Mata remaja itu berbinar, merasa telah menemukan ide brilian. Shieren hanya bisa mematung tak berdaya. 'Mampus! Habis ini gue bakal viral!' ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD