Keahlian Dapur

1177 Words
Zafran menatap magic com yang berisi nasi. Uap mengepul ke atas, membumbung tinggi. Dia menyipitkan matanya, kemudian menutup wajahnya dengan perasaan kebas. "Shireeenn!!" panggil Zafran, mau tak mau wajah yang biasanya tampak kaku dan dingin menunjukkan ekspresi kesal. "Apa?" tanya Shiren santai. Dia sedang memotong kentang, seukuran setengah tangan. Pandangan Zafran semakin menajam. Kenapa kentang itu harus dipotong sebesar itu? Tunggu-tunggu … Itu kentang juga tidak dikupas. Wajah Zafran jadi kian menggelap. Apa sebenarnya yang coba dilakukan wanita itu? "Ini nasinya dicuci nggak sih? Kotor gini nasinya?" Zafran bertanya dengan curiga. Dia menatap nasi yang masih ada dalam magic com dan mendapati banyak kotoran-kotoran kecil berwarna kocokelatan. "Hah? Itu kan udah matang? Kenapa harus dicuci? Loe punya kebiasaan nyuci nasi dulu sebelum makan?" tanya Shiren bego. "Maksud gue waktu masih jadi beras sebelum loe masak, dicuci dulu nggak?" tanya Zafran, mencoba menerapkan ilmu sabar. Lima huruf itu, ringan diucapkan, tetapi berat dilakukan. "Emang kudu dicuci, ya?" Shiren masih menunjukkan reaksi polos. "Berarti nggak loe cuci?" "Enggak. Gue cuma ikutin panduan aja airnya seberapa!" jelas Shiren tanpa merasa bersalah sama sekali. "Di mana-mana yang namanya menanak nasi, itu berasnya dicuci dulu, oncom! Ya Tuhan. Loe perempuan tulen bukan sih?" Zafran tak habis pikir. Dia membayangkan pagi ini harus makan sarapan dengan bulir-bulir nasi yang kotor. Suasana hatinya jadi kurang baik. "Yaudah besok gue cuci. Makan aja apa yang ada. Beres, kan? Lagian suruh siapa sih rumah segede gini nggak ada asisten sama sekali? Cuma loe dan gue? Gila aja gue harus ngerjain semuanya!" Shiren melototkan matanya, merasa kesal sendiri. Shiren masih ingat betapa terkejutnya dia ketika mendengar Zafran hidup seorang diri. Shiren harus menggaris bawahi ini. 'Hidup seorang diri'. Semua kebutuhan dasar dan t***k bengek rumah, Zafran terjun langsung sendiri. Entah lelaki itu merasa dirinya sebagai super man yang punya ribuan kekuatan, atau memang lelaki yang sangat kurang kerjaan dengan merangkap pekerjaan rumah secara total. Akibatanya, setelah Shiren tinggal di sini, dia secara tragis dilimpahi nasib yang serupa. Alias jadi si inem dadakan. Tugas dapur dengan segera dilimpahkan padanya. Sementara Zafran, dia jatah untuk melakukan hal-hal yang berkaitan bersih-bersih. Sayangya, hanya Tuhan yang tahu secerdas apa Shiren dalam urusan dapur. Shiren memang telah mengatakan sebelumnya dapur adalah salah satu kelemahannya, tetapi ia tak menyangka 'kelemahan' itu artinya kekacauan total. "Itu kentang mau diapain?" tanya Zafran, mulai was-was. "Bikin sop!" Shiren melirik ke salah satu bumbu instan sop yang ada di rak dapur. Sepertinya bikin sop tidak terlalu rumit. Bahanya dimasukkan bersama dengam bumbu instan. Sudah. Selesai. "Loe iris segede gitu?" Zafran mengambil pisau di tangan Shiren dan memperbaiki potongannya menjadi kecil-kecil. Shiren mengangkat bahunya, merasa tak berdaya. Silahkan saja jika Zafran sok mau jadi Mr. Perfect. Shiren akan dengan suka rela menyerahkan pekerjaan itu kepadanya. "Ini apa?" Lagi-lagi, Zafran menatap ngeri pada wortel-wortel yang sudah dimasukkan ke dalam panci dengan irisan yang lebih besar lagi. Mata Zafran sudah menunjukkan kepasrahan total. "Menurut loe apa? Setau gue, itu namanya masih wortel." Lagi-lagi, Shiren menjawabnya tanpa rasa bersalah. Dia menantang Zafran yang menatap dirinya penuh penghakiman. "Apa? Apa lagi yang salah?!" tantang Shiren, menyilangkan kedua tangannya di d**a. Belum sempat Zafran menjawab, bau samar tercium hidungnya. Zafran menoleh ke kompor di sebelahnya, dan menyadari tempe yang digoreng menunjukkan warna kehitaman, alias gosong. Dengan sigap, Zafran mematikan kompor dan meletakkan semua peralatan dapur di meja kitchen set. Dia menarik Shiren, menjauh dari dapur. "Kita mau ke mana?" tanya Shiren, mencoba menyamai langkah Edgar yang terburu-buru. "Makan di luar!" kata Zafran tegas. "Tapi … hei! Gue udah terlanjur masak!" "Itu bukan masak namanya. Loe cuman buang-buang bahan dapur sesukanya!" "Apa loe bilang?!" "Dengan istri yang seperti loe, gue mulai nggak yakin bisa hidup lama! Masuk ke lima puluh tahun aja udah suatu anugerah!" … Zafran menatap Shiren yang saat ini sibuk menghabiskan seporsi makanan pesanannya. Nila bakar dan sambal ati. Wajah Zafran tampak lebih gelap dari pada biasanya. Dia masih tak mengerti bagaimana seorang wanita ada yang benar-benar separah itu tentang urusan dapur. Sepertinya, dengan kondisi ini, Zafran pasti akan mengalami krisis masa depan yang serius. Bagaiamana nasib hidupnya berdampingan dengan seorang istri yang seperti itu? Zafran menutup wajahnya dengan kedua tangan. Mau tak mau dia harus menerima kenyataan ini. "Loe kenapa? Kayak penderita kanker stadium akhir begitu?" Shiren bertanya pada Zafran, menyadari lelaki tersebut tampak lemas. "Loe dapat kutukan apa sih sampai tangan loe nggak bisa diajak kerja sama di dapur?" Zafran bertanya apa adanya. "Tangan gue ini tercipta untuk sesuatu yang lain. Santai aja. Deket rumah loe kan ada yang jualan mie ayam!" Zafran melotot tak percaya. Shiren tidak berpikir akan membuat Zafran makan mie ayam sepanjang sisa hidupnya, kan? Tamat sudah riwayat Zafran. Memiliki istri seperti Shiren adalah bentuk kutukan terpanjang dalam sejarah. Hukuman seumur hidup. Saat Zafran masih tenggelam dalam kepedihannya, tiba-tiba Zafran dikagetkan dengan suara seorang laki-laki asing. Zafran mengerutkan keningnya, mengamati orang yang menyapa Shiren dengan keakraban. "Shiren!" "Eh. Hai. Ello?" Shiren mendongakkan kepala, menatap seorang lelaki berusia tiga puluhan berwajah tampan dengan pakaian kasual. Lelaki ini memiliki tubuh kekar dan berotot. Seperti seorang binaragawan, meskipun tubuhnya masih dalam kategori standar. Tidak terlalu besar sampai otot-ototnya bertonjolan mirip bintang iklan s**u untuk pria. "Lama nggak ketemu. Gimana kabar loe? Baik-baik aja, kan? Oh ini siapa? Adik loe?" Lelaki yang dipanggil Ello bertanya akrab, matanya melirik sekilas ke arah Zafran. Di mata Ello, wajah Zafran masih dalam kategori muda. Mungkin, dia seorang mahasiswa angkatan awal. "Eh iya. Ini, kenalin. Adik sepupu gue, Zafran!" Dengan santai, Shiren menunjuk Zafran tanpa merasa berdosa sama sekali. Sementara Zafran keningnya makin berkerut tak senang. Adik sepupu? Yang bener aja. "Hai, Bro! Gue Ello!" Lelaki tersebut mengangsurkan tangannya, menunjukkan sikap sopan santun. Wajah Ello tampak maskulin dan sempurna. Sekali lirik saja, Zafran yakin banyak wanita yang akan terpikat. "Zafran!" Zafran menjawab dengan sedikit kaku. "Loe sama siapa? Sendirian?" tanya Shiren kemudian. "Iya. Gue baru mau survey tempat baru buat tempat gym. Temen-temen gue belum pada berangkat. Jadi gue mampir ke sini dulu!" Ello adalah salah satu orang yang memiliki minat pada gym. Dia bahkan memiliki beberapa tempat dan berinvestasi dalam bisnis tersebut. "Oh iya." "Shiren, kita lama nggak kontak ya? Ngomong-ngomong nomor kontak loe masih sama dengan yang dulu?" Ello bertanya, wajahnya menyiratkan pengharapan. "Udah ganti sih. Ponsel lama gue bermasalah. Jadi gue perbarui ponsel dan kontak gue!" "Oh pantes. Bisa barter kontak lagi?" tanya Ello, tak merasa bersalah sama sekali. Sementara itu, Zafran menatap kedua orang tersebut dengan mata tajam. Wanita macam apa Shiren? Dia sibuk bertukar kontak dengan lelaki lain di hadapan Zafran. Obrolan mereka bahkan mengalir dengan lancar. Seolah-olah mereka berdua teman lama yang tak dipertemukan karena suatu alasan. Setelah sepuluh menit lebih Ello berbincang dengan Shiren tanpa melibatkan Zafran sama sekali, akhirnya dia pamit pergi dan menjauh dari mereka. Shiren kembali makan, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. "Lelaki itu siapa?" tanya Zafran kemudian. "Mantan gue!" jawab Shiren datar. Tidak ada rasa bersalah dan canggung sama sekali. Dia bahkan dengan santai mengambil nila bakar jatah Zafran dan memakannya tanpa permisi. …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD